Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Penjemputan Sang Waris
Suara pintu mobil yang ditutup secara bersamaan bergema membelah heningnya malam. Pintu-pintu sedan hitam Rolls-Royce itu terbuka, dan dari dalamnya keluar belasan pria berbadan tegap yang mengenakan setelan jas hitam rapi.
Mereka bergerak cepat, membentuk barisan panjang di sepanjang gang sempit yang kotor itu, sama sekali tidak peduli pada genangan air hujan yang mengotori sepatu kulit mahal mereka.
Pak RT dan kedua preman suruhan Danang melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. Mata mereka membelalak melihat kemewahan yang sangat tidak masuk akal di area pemukiman kumuh ini.
Seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas abu-abu buatan Italia melangkah paling depan. Wajahnya tegas dan penuh karisma. Pria itu adalah Pak Irwan, sekretaris pribadi sekaligus tangan kanan dari Kakek Rendy—pemilik Adhitama Group.
Pak Irwan berjalan lurus menembus barisan pengawal, tidak memedulikan tatapan syok warga sekitar yang mulai mengintip dari balik jendela. Begitu berdiri tepat di depan Rendy yang masih merengkuh ibunya di tanah, Pak Irwan langsung membungkukkan badannya 90 derajat secara hormat.
"Selamat malam, Tuan Muda Rendy Adhitama," ucap Pak Irwan dengan suara berat yang penuh penyesalan.
"Maafkan keterlambatan kami. Masa penyamaran Anda telah resmi berakhir. Kami datang untuk menjemput Anda dan Ibu Agung kembali ke kediaman."
Tuan Muda?!
Kata-kata itu menghantam telinga Pak RT dan kedua preman bagaikan petir di siang bolong. Preman yang tadinya menendang kardus pakaian ibu Rendy kini gemetar hebat. Lututnya terasa lemas hingga ia hampir roboh ke tanah.
"P-Pak Irwan?" bisik preman itu dengan bibir berguncang.
Ia mengenali wajah Pak Irwan—pria yang sering muncul di berita televisi sebagai petinggi konglomerat nomor satu di negara ini.
"T-Tuan Muda... Rendy?!"
Pak Irwan perlahan menoleh, menatap kedua preman dan Pak RT dengan pandangan dingin yang mematikan. Aura penindas dari seorang petinggi konglomerat langsung membuat ketiga orang itu tak berani bernapas.
"Tuan Muda," ujar Pak Irwan kembali menatap Rendy.
"Apa yang harus saya lakukan pada tiga orang yang telah mengusik Anda dan Ibu Agung?"
Rendy berdiri perlahan. Pakaian seragam pelayannya masih basah oleh anggur merah dan air hujan, namun tatapan matanya telah berubah total. Tidak ada lagi kelemahan atau rasa minder dari seorang pelayan miskin. Yang ada hanyalah aura dingin nan dominan dari satu-satunya pewaris Adhitama Group.
"Ibu saya butuh perawatan medis terbaik sekarang juga," suara Rendy terdengar sangat tenang, namun sarat akan ancaman.
"Bawa Ibu ke rumah sakit milik Adhitama."
"Baik, Tuan Muda. Tim medis terbaik dan helikopter medis sudah menunggu di helipad terdekat," sahut Pak Irwan sigap.
Dua orang pengawal wanita berseragam medis segera maju dengan sangat hati-hati mengangkat Bu Asnah ke atas tandu khusus dan membawanya ke mobil utama yang paling nyaman.
Setelah ibunya aman di dalam mobil, Rendy membalikkan badan, melangkah mendekati Pak RT dan dua preman yang kini sudah jatuh terduduk di tanah yang kotor.
"T-Tuan Muda... mohon ampun! K-kami tidak tahu kalau Anda..." Pak RT merapatkan kedua tangannya, menangis ketakutan.
"Kamu," Rendy menunjuk preman yang tadi meludahi tanah dan menendang barang-barang ibunya. "Siapa yang menyuruhmu ke sini?"
"T-Tuan Danang! Tuan Danang yang bayar kami, Tuan! Kami cuma menjalankan perintah!" teriak preman itu panik, membongkar semuanya tanpa sisa.
Rendy tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
"Pak Irwan," panggil Rendy tanpa menoleh.
"Saya, Tuan Muda?"
"Beli seluruh tanah di kawasan ini besok pagi. Ratakan rumah orang ini," Rendy menunjuk rumah Pak RT.
"Dan untuk dua preman ini... pastikan mereka menghabiskan sisa hidup mereka di balik jeruji besi atas tuduhan percobaan pembunuhan dan tindakan kriminal."
"Sesuai perintah Anda, Tuan Muda. Semuanya akan diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam," jawab Pak Irwan tegas.
Kedua preman itu meraung-raung memohon ampun saat para pengawal berbadan tegap langsung menyeret mereka seperti sampah. Pak RT hanya bisa menangis histeris meratapi rumahnya yang akan segera dihancurkan.
Rendy melangkah menuju mobil Rolls-Royce tempat ibunya berada. Sebelum masuk, ia melepaskan sepatu kerja murahnya yang basah dan bernoda anggur, lalu membuangnya begitu saja ke dalam tempat sampah di tepi jalan.
Ia melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu, duduk di kursi kulit yang hangat.
"Pak Irwan," ujar Rendy sambil menatap keluar jendela saat mobil mulai melaju meninggalkan tempat kumuh itu.
"Besok pagi, jadwalkan rapat darurat dengan seluruh direksi Adhitama Group. Dan siapkan berkas seluruh perusahaan yang memiliki hubungan bisnis dengan kita."
Pak Irwan membungkuk dari kursi depan. "Apakah ada perusahaan tertentu yang ingin Anda periksa, Tuan Muda?"
Rendy mengepalkan tangannya, memikirkan Siska dan Danang yang tadi malam tertawa puas di atas penderitaannya.
"Perusahaan keluarga Danang... dan perusahaan tekstil milik keluarga Siska," bisik Rendy dingin.
"Mulai besok, permainan mereka selesai."