"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran di Ambang Perpisahan
“Kalung ... Ini kalungku?”
Diandra menatap benda berkilauan di tangan Bastian. Ada secercah harapan di matanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya kalung yang sangat berarti baginya seolah kembali ke hadapannya.
Namun, ketika Diandra memperhatikan liontinnya lebih teliti, senyum di wajahnya perlahan menghilang.
“Bukan,” gumamnya.
Diandra mengambil kalung itu, lalu membalikkan tubuh menghadap Bastian.
“Ini bukan kalungku, Mas.”
Kening Bastian berkerut. “Kamu yakin?”
“Aku sangat yakin.”
“Aku sudah meminta Bu Liliana bekerja sama dengan desainer khusus untuk membuatnya semirip mungkin. Aku juga pernah melihat kalung itu ketika Ola memakainya. Aku bahkan menjelaskan detailnya.”
“Justru karena aku tahu detailnya, aku bisa membedakannya.”
Diandra menunjuk liontin berlian biru tersebut.
“Di dalam liontin kalungku ada mutiara kecil berwarna putih. Ini tidak ada. Bentuknya juga berbeda.”
Bastian terdiam sejenak, kemudian menghela napas.
“Bukan berarti kalung ini palsu. Berlian di dalamnya asli. Hanya desainnya saja yang berbeda.”
“Aku tidak membutuhkannya.”
“Nanti Mas carikan yang lain. Anggap saja yang ini hadiah dari Mas untuk kamu.”
“Aku bilang aku tidak mau.”
Nada suara Diandra terdengar semakin tegas.
Bastian yang sejak tadi berusaha menahan kesabarannya akhirnya mendekat.
“Kamu memang harus dipaksa dulu, ya?”
Ia mengambil kalung tersebut dan hendak memasangkannya ke leher Diandra.
“Sini. Mas pakaikan. Jangan marah terus. Mas sedang berusaha memperbaiki semuanya.”
Diandra langsung mundur.
“Aku nggak mau.”
“Diandra, kamu akan terlihat cantik memakai ini.”
Bastian tetap mencoba mendekat.
Namun Diandra menepis tangannya.
“Aku sudah bilang tidak mau!”
Suara Diandra meninggi. Tatapannya yang biasanya tenang kini dipenuhi kekecewaan.
Bastian terdiam.
Diandra menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya.
“Kenapa, sih, Mas? Kenapa kamu selalu memaksakan keinginanmu?”
“Aku cuma ingin memberikan sesuatu untukmu.”
“Tapi kamu tidak pernah bertanya apakah aku menginginkannya atau tidak.”
Bastian tidak menjawab.
“Menurutmu, karena harganya mahal, aku harus langsung bahagia?” lanjut Diandra. “Kamu selalu berpikir kalau semua masalah bisa selesai dengan uang, hadiah, atau sesuatu yang mahal.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
Pertanyaan itu membuat Diandra tertawa hambar.
“Untuk sekali ini, dengarkan aku.”
Bastian menatapnya.
“Jangan memaksaku menerima sesuatu yang tidak aku inginkan. Jangan menganggap hadiah mahal bisa menggantikan semua luka yang pernah kamu buat.”
Setelah mengatakan itu, Diandra berbalik.
“Aku mau ke kamar.”
Bastian hendak mengejarnya, tetapi Diandra langsung menghentikan langkah.
“Jangan ikut.”
Bastian akhirnya berdiri diam.
Pintu kamar tertutup di belakang Diandra.
Bastian mengusap wajahnya kasar. Pandangannya kemudian jatuh pada kalung berlian yang masih berada di tangannya.
“Gue benar-benar nggak ngerti perempuan.”
Ia mengambil kalung itu dan menatapnya cukup lama.
Berlian tersebut berkilauan di bawah cahaya lampu. Harganya hampir satu miliar, tetapi benda semahal itu ternyata sama sekali tidak mampu membuat Diandra luluh.
Bastian mengembuskan napas panjang.
“Percuma.”
Ia menggenggam kalung itu sebelum meletakkannya kembali ke dalam kotak.
Untuk pertama kalinya, Bastian mulai menyadari bahwa yang dibutuhkan Diandra bukanlah berlian mahal.
Yang dia butuhkan adalah sesuatu yang selama ini tidak pernah Bastian berikan dengan sungguh-sungguh: pengertian.
“Mungkin suatu hari nanti dia berubah pikiran.”
Bastian akhirnya memasukkan kotak beludru berisi kalung berlian itu ke dalam tas Diandra. Ia tidak memaksa lagi. Untuk sementara, ia memilih mundur dan berharap waktu bisa membuat istrinya menerima pemberian tersebut.
Keesokan paginya.
“Mama! SERLY PULANG!”
Suara riang terdengar begitu pintu rumah terbuka.
Aretha segera keluar dari ruang tengah. Begitu melihat putrinya, wajahnya langsung berbinar.
“Sayang!”
Serly berlari kecil menghampiri ibunya. Mereka saling memeluk sebelum Serly mencium kedua pipi Aretha.
“Gimana liburanmu? Menyenangkan?”
“Banget, Ma!”
Serly tersenyum lebar.
“Tiga hari di Bali benar-benar seru. Tapi aku tetap kangen rumah.”
Aretha mengusap rambut putrinya.
“Cuma rumah?”
Serly terkekeh.
“Ya... aku juga kangen Mas Bastian.”
Kemudian ekspresinya berubah menjadi usil.
“Dan aku kangen Diandra.”
Aretha mengangkat alis.
“Kangen Diandra?”
“Bukan kangen dalam arti baik-baik, dong.”
Serly tertawa kecil.
“Aku sudah punya hobi baru, Ma.”
“Hobi apa?”
“Mengusik Diandra.
Aretha menggeleng geli.
“Kamu ini memang ada-ada saja.”
Serly duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.
“Dulu aku ingin Diandra segera pergi dari rumah Mas Bastian. Kupikir kalau mereka bercerai, semuanya selesai.”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum miring.
“Ternyata melihat dia tetap bertahan di sana jauh lebih menarik.”
Aretha menatap putrinya dengan ekspresi penasaran.
“Kamu mau melakukan apa lagi?”
“Aku cuma ingin melihat sampai kapan dia bisa bertahan.”
Serly memainkan ujung rambutnya.
“Dia selalu terlihat kuat. Seolah-olah tidak ada yang bisa menghancurkannya.”
“Serly.”
“Aku tahu, Ma.”
Serly terkekeh pelan.
“Aku cuma penasaran. Kalau terus mendapat tekanan, apakah dia masih bisa mempertahankan sikap tenangnya?”
Aretha tersenyum tipis.
“Orang yang terlalu lama berada dalam tekanan memang bisa kehilangan kendali.”
Serly mengangguk puas.
“Itu yang ingin aku lihat.”
Ia kemudian bangkit dan mengambil beberapa paperbag yang dibawanya.
“Tapi sudahlah. Aku nggak mau membicarakan Diandra terus.”
Serly tersenyum.
“Aku mau ke rumah Mas Bastian. Aku juga membawa hadiah untuk Azzam dan Azzura.”
Ia mengangkat satu paperbag.
“Dan ini buat Mama.”
Aretha menerimanya dengan penasaran.
Ketika paperbag dibuka, terlihat sepasang sepatu baru di dalamnya.
“Wah, cantik sekali!”
Aretha tersenyum senang.
“Serly, kamu masih ingat membelikan Mama hadiah?”
“Tentu saja. Aku juga membawa sesuatu untuk Papa.”
Serly mencium pipi ibunya sekali lagi.
“Sudah, Ma. Aku pergi dulu. Ada seseorang yang harus aku temui.”
Senyum di wajah Serly tetap manis.
Namun di balik senyum itu, tersimpan niat yang sama sekali berbeda.
Hari itu, Serly kembali ke rumah Bastian bukan sekadar untuk memberikan hadiah.
Ia ingin kembali mengusik ketenangan Diandra.
“Terima kasih, Sayang.”
“Sama-sama, Ma.”
Serly meletakkan paperbag di atas meja, lalu matanya berkeliling mencari seseorang.
“Papa di mana? Aku juga membawa hadiah untuk Papa.”
“Papa masih di kantor. Jam segini biasanya beliau sedang bersama Sean.”
Serly mengerutkan kening.
“Sean? Dia ngapain di kantor?”
“Bekerja.”
Jawaban Aretha terdengar santai, tetapi kalimat berikutnya langsung membuat Serly terdiam.
“Kamu belum tahu? Papa sedang mempersiapkan Sean untuk menjadi penerusnya.”
Mata Serly seketika membesar.
“Serius?”
Aretha mengangguk.
“Jadi Papa benar-benar mau menjadikan Sean CEO?”
“Sepertinya begitu.”
“Kenapa Sean?”
Nada suara Serly berubah kesal.
“Kenapa bukan aku, Ma? Aku anak pertama!”
Ia mendengkus, lalu menyilangkan tangan di depan dada.
Selama ini Serly selalu berusaha membuat ayahnya menjauh dari Sean. Ia sering membesar-besarkan kesalahan adiknya dan membuat seolah-olah Sean tidak pantas mendapatkan kepercayaan keluarga.
Namun usaha itu ternyata tidak pernah benar-benar berhasil.
Justru sekarang, ayahnya sedang mempersiapkan Sean untuk mengambil alih perusahaan.
Serly merasa posisinya semakin terancam.
Aretha tersenyum kecil melihat ekspresi putrinya.
“Sebenarnya Mama pernah berusaha membujuk Papa agar memberikan posisi itu kepadamu.”
Serly langsung menoleh.
“Benarkah?”
“Tentu. Tapi siapa yang memilih berpura-pura sakit supaya bisa kembali mengejar Bastian?”
Aretha mencubit pipi Serly dengan gemas.
“Papa mana tega menyuruh putrinya bekerja kalau sedang sakit?”
Serly terdiam beberapa detik.
“Iya juga, sih.”
“Jadi jangan terlalu memikirkan jabatan itu.”
Aretha duduk di samping putrinya.
“Biarkan Sean menjadi CEO. Kalau hubunganmu dengan Bastian berhasil diperbaiki, kamu akan menjadi Nyonya di keluarga itu. Kamu tidak perlu khawatir soal kehidupanmu lagi.”
Serly tersenyum tipis.
Namun Aretha segera melanjutkan dengan nada lebih serius.
“Dan satu lagi, jangan terlalu memusuhi Sean.”
Serly mengerucutkan bibir.
“Dia adikmu. Mama mengandungnya sembilan bulan dan membesarkannya sama seperti Mama membesarkanmu.”
“Aku sebenarnya nggak membencinya, Ma.”
Serly memainkan ujung bajunya.
“Sean saja yang sering mencari masalah denganku.”
Aretha mengangkat alis.
“Masalah apa?”
“Dia selalu membela Diandra.”
Senyum Serly langsung menghilang.
“Setiap kali aku mencoba membuat Diandra menjauh dari Bastian, Sean selalu ikut campur.”
Aretha menghela napas.
“Karena dia merasa Diandra tidak pantas diperlakukan seperti itu.”
Serly mendengkus.
“Ya, itu yang bikin aku kesal.”
Aretha kemudian menepuk bahu putrinya.
“Sudahlah. Tadi kamu bilang mau ke rumah Bastian, kan?”
Serly mengangguk.
“Pergilah. Nikmati waktumu di sana.”
Aretha tersenyum tipis.
“Kalau membuat Diandra merasa tertekan membuatmu puas, setidaknya jangan sampai kamu kehilangan kendali. Kamu datang ke sana untuk mendapatkan Bastian kembali, bukan untuk menghancurkan dirimu sendiri.”
Serly terdiam, lalu perlahan tersenyum.
“Oke, Ma.”
Ia mengambil tasnya dan bersiap pergi.
Namun sebelum melangkah, Serly tiba-tiba berhenti.
“Ma, aku mau tanya.”
“Apa?”
“Kenapa Mama kelihatannya lebih menyayangiku daripada Sean?”
Aretha menatap putrinya dengan heran.
“Biasanya orang tua lebih memanjakan anak laki-laki, kan?”
Serly benar-benar penasaran.
Aretha tersenyum kecil, lalu mengusap kepala putrinya.
“Siapa bilang Mama lebih menyayangimu?”
“Kelihatan kok.”
Serly tersenyum manja.
“Kalau aku melakukan kesalahan, Mama selalu membelaku. Tapi kalau Sean yang salah sedikit saja, Mama langsung memarahinya.”
Aretha menghela napas.
“Karena kamu anak pertama, Serly. Bukan berarti Mama tidak menyayangi Sean.”
Serly hanya tersenyum.
Namun jauh di dalam hatinya, pertanyaan tentang Sean dan kedudukan di keluarganya justru semakin membuat rasa iri itu tumbuh.
Aretha tersenyum lembut. Kedua tangannya terangkat, menangkup pipi Serly dengan penuh kasih.
“Karena kamu mengingatkan Mama pada diri Mama ketika masih muda.”
Serly menatap ibunya.
“Sifatmu hampir sama persis dengan Mama. Kamu punya ambisi besar, tekad yang kuat, dan kecerdasan yang membuatmu tidak mudah menyerah.”
Aretha mengusap pipi putrinya.
“Kalau kamu sudah menginginkan sesuatu, kamu akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Mama tidak selalu membenarkan caramu, tapi Mama memahami sifatmu.”
Mata Aretha memancarkan kebanggaan.
“Mama ingin kamu mendapatkan kehidupan yang kamu impikan. Apa yang kamu cita-citakan, Mama juga ingin melihatnya terwujud.”
Serly mulai berkaca-kaca.
“Kalau kamu berhasil, Mama juga akan merasa berhasil sebagai seorang ibu.”
Air mata haru menggenang di sudut mata Serly.
Ia langsung memeluk Aretha erat.
“Aku sayang banget sama Mama.”
Aretha membalas pelukan itu.
“Mama juga sangat menyayangimu, Sayang.”
Aretha mengecup puncak kepala putrinya.
Untuk sesaat, keduanya hanya berpelukan dalam keheningan.
Namun kemudian Aretha menarik tubuh Serly sedikit menjauh.
“Ada satu hal yang harus kamu ingat.”
“Apa, Ma?”
“Jangan sampai Papa tahu kalau sakitmu waktu itu hanya pura-pura.”
Senyum Serly perlahan menghilang.
“Papa memang jarang menunjukkan emosinya. Tapi sekali merasa dibohongi, dia bisa sangat keras.”
Serly mengangguk pelan.
“Aku mengerti, Ma.”
“Jangan ceroboh. Kalau rencanamu sampai terbongkar, bukan hanya posisi kamu di mata Papa yang bisa berubah. Kepercayaan beliau juga akan sulit kamu dapatkan kembali.”
Serly menarik napas dalam-dalam.
“Iya, Ma. Aku akan hati-hati.”
Aretha tersenyum, lalu kembali mengusap rambut putrinya.
“Pergilah. Kalau memang kamu ingin mendapatkan kembali apa yang kamu anggap penting, pikirkan baik-baik setiap langkahmu.”
Serly mengangguk.
“Doakan aku, Ma.”
“Selalu.”
Serly kemudian melangkah pergi.
Sementara Aretha hanya bisa menatap kepergian putrinya dengan perasaan campur aduk.
Ia tahu Serly memiliki ambisi besar.
Yang tidak ia ketahui adalah seberapa jauh putrinya akan melangkah demi mendapatkan apa yang diinginkannya
Ponsel Diandra bergetar di atas meja.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Nomor Tidak Dikenal: Kamu ke mana? Pagi-pagi rumah kosong. Pengangguran banget, sih.
Diandra menatap layar beberapa detik. Ia tidak perlu bertanya siapa pengirimnya.
Serly.
Nomornya sudah berkali-kali diblokir, tetapi perempuan itu selalu menemukan cara untuk menghubunginya menggunakan nomor baru.
Pesan berikutnya masuk.
Nomor Tidak Dikenal: Kasihan banget hidup kamu. Suami cuek, anak-anak belum tentu sayang sama kamu, orang tua juga sudah nggak ada. Kalau sedih mau mengadu ke siapa?
Diandra menghela napas.
Pesan lain kembali muncul.
Nomor Tidak Dikenal: Sudahlah, Diandra. Jangan terlalu lama bertahan kalau hidupmu cuma penuh penderitaan.
Kemudian:
Nomor Tidak Dikenal: Aku malah penasaran, sampai kapan kamu bisa bertahan seperti sekarang?
Diandra tidak membalas.
Pesan terakhir justru membuatnya semakin muak.
Nomor Tidak Dikenal: Aku sudah di rumahmu. Baru pulang dari Bali. Aku bawakan oleh-oleh. Tisu, banyak banget. Siapa tahu kamu butuh buat menghapus air mata.
Diandra mengembuskan napas panjang.
Serly memang selalu berhasil menemukan cara untuk mengganggu ketenangannya.
Nomor Tidak Dikenal: Jangan cepat menyerah, ya. Kamu itu hiburanku. Kalau aku sedang bosan, melihat kamu kesulitan selalu membuatku merasa lebih baik.
Diandra langsung memblokir nomor tersebut.
“Cukup.”
Ia meletakkan ponselnya.
Pagi yang sebenarnya ingin ia jalani dengan tenang kembali dirusak oleh ulah Serly.
Dulu, Diandra pernah menunjukkan pesan-pesan seperti itu kepada Bastian. Namun Bastian tidak mempercayainya.
Serly dengan mudah meyakinkan Bastian bahwa pesan tersebut berasal dari orang tidak dikenal yang sengaja ingin mengadu domba mereka.
Sejak saat itu, Diandra berhenti bercerita kepada Bastian.
Percuma.
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Diandra kembali melajukan mobilnya menuju panti asuhan.
Ada seseorang yang ingin ditemuinya.
Bu Liliana.
Di tengah persoalan rumah tangganya yang semakin rumit dan rencana perceraian yang sedang ia pikirkan, Diandra merasa perlu menceritakan semuanya kepada perempuan yang selama ini sudah ia anggap seperti ibu sendiri.
Ia membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Tak lama kemudian, mobil Diandra berhenti di depan panti asuhan.
Begitu turun dari mobil, beberapa anak langsung berlari menghampirinya.
“Tante Diandra!”
“Bunda!”
“Mommy Diandra!”
Diandra langsung tersenyum.
“Halo, Sayang!”
Ia memeluk mereka satu per satu.
Di panti itu, Diandra memiliki banyak panggilan. Ada yang memanggilnya Bunda, Mama, Mommy, Tante, bahkan Mimi. Ia tidak pernah mempermasalahkannya.
Baginya, semua panggilan itu adalah bentuk kasih sayang.
“Bunda, hari ini main sama kami, ya!”
“Boleh. Tapi jangan curang.”
Anak-anak langsung tertawa.
Diandra ikut tertawa.
Untuk beberapa saat, semua masalahnya menghilang.
Namun tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang.
“Bu Diandra?”
Diandra menghentikan langkah dan menoleh.
Matanya sedikit membesar.
“Pak Victor?”
Victor tersenyum.
“Saya tidak menyangka akan bertemu anda di sini.”
“Saya juga.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, seorang anak menarik tangan Diandra.
“Bunda, ayo main!”
Diandra terkekeh.
“Iya, Sayang. Kita main dulu.”
Ia menoleh kepada Victor.
“Permisi sebentar, Pak.”
“Tentu.”
Victor memperhatikan Diandra yang kemudian berlari kecil mengikuti anak-anak.
Tidak lama kemudian, suara tawa mereka memenuhi halaman panti.
Diandra bermain kejar-kejaran, bercanda, bahkan sesekali berpura-pura kalah agar anak-anak merasa senang.
Tidak ada wajah murung.
Tidak ada air mata.
Tidak ada perempuan yang sedang memikirkan perceraian.
Di sini, Diandra benar-benar bahagia.
Karena itu, ketika Bu Liliana melihat Victor berdiri cukup lama memperhatikan Diandra, ia ikut tersenyum.
“Pak Victor.”
Victor tersadar.
“Iya, Bu Liliana?”
“Dari tadi memperhatikan Diandra?”
Victor terdiam.
Tatapannya kembali tertuju pada perempuan yang sedang tertawa bersama anak-anak.
“Dia terlihat sangat bahagia.”
“Memang begitu kalau sudah bersama anak-anak.”
Victor tersenyum tipis.
“Tapi entah kenapa...”
Ia berhenti sebentar.
“Melihat tawanya justru membuat hati saya terasa sakit.”
Bu Liliana mengernyit.
“Sakit?”
Victor mengangguk pelan.
“Karena saya merasa tawa itu menyembunyikan sesuatu.”
Tatapannya tidak beranjak dari Diandra.
“Entah kenapa saya merasa perempuan yang terlihat sebahagia itu justru sedang berusaha keras melupakan sesuatu yang membuatnya terluka.”
Bu Liliana hanya diam.
Sementara di halaman, Diandra masih tertawa bersama anak-anak.
Namun tak seorang pun tahu, di balik tawa itu tersimpan hati yang sedang berusaha bertahan.
Bu Liliana ikut memandang ke arah Diandra.
Perempuan yang dulu ia kenal sebagai gadis kecil yang sering datang mencari pelukan, kini telah tumbuh menjadi perempuan dewasa.
Diandra memang pandai tersenyum.
Terlalu pandai, bahkan.
Ia bisa tertawa seolah tidak memiliki beban, bisa bercanda bersama anak-anak seakan hidupnya baik-baik saja. Namun bagi Liliana, ada satu hal yang tidak pernah bisa dibohongi oleh Diandra.
Matanya.
Dari sorot mata itu, Liliana tahu bahwa Diandra sedang tidak baik-baik saja.
“Dia perempuan yang kuat,” ucap Liliana pelan.
Victor mengangguk.
“Ya. Saya juga melihatnya sebagai perempuan yang luar biasa.”
Liliana menoleh kepadanya.
“Dari mana Pak Victor tahu? Apa sebelumnya Bapak sudah mengenal Diandra?”
Victor hendak menjawab, tetapi langkah kaki terdengar mendekat.
Diandra berlari kecil menghampiri mereka.
“Bu Liliana!”
Senyumnya langsung merekah.
Tanpa ragu, Diandra memeluk Liliana erat seperti seorang anak yang akhirnya bertemu kembali dengan ibunya setelah lama berpisah.
“Kangen, Bu.”
Liliana tersenyum haru dan membalas pelukannya.
“Ibu juga kangen sama kamu.”
Diandra melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Liliana dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf ya, Bu. Aku baru sempat datang lagi.”
“Tidak perlu minta maaf. Kamu datang saja, Ibu sudah senang.”
Liliana mengusap rambut Diandra dengan lembut.
“Oh iya, Diandra.”
“Hmm?”
“Bastian datang ke sini sekitar seminggu yang lalu.”
Senyum Diandra sedikit memudar.
“Bastian?”
Liliana mengangguk.
“Dia menanyakan detail desain kalungmu yang hilang. Katanya ingin memastikan bentuk dan detailnya sebelum membuat pengganti.”
Diandra terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.
“Iya, Bu. Mas Bastian sudah memberikanku kalung itu.”
“Sudah?”
“Sudah.”
Diandra menundukkan pandangan.
“Sayangnya, kalung itu bukan yang asli.”
Liliana mengernyit.
“Bukan?”
Diandra menggeleng pelan.
“Tapi tidak apa-apa.”
Ia mencoba tersenyum.
“Lagipula, sepertinya kalung itu akan menjadi hadiah terakhir dari Mas Bastian untukku.”
Liliana langsung menangkap sesuatu yang berbeda dari nada suara Diandra.
“Kenapa kamu bilang hadiah terakhir?”
Diandra terdiam.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang.
“Aku dan Mas Bastian akan bercerai, Bu.”
Liliana membeku.
“Bercerai?”
Diandra mengangguk.
“Iya.”
Kemudian Diandra melirik Victor yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka.
“Bu, kenalkan. Ini Pak Victor.”
Liliana menatap pria tersebut.
“Beliau yang membantu aku mengurus proses perceraian dengan Mas Bastian.”
Mata Liliana langsung berpindah kepada Victor.
Kini ia mengerti.
Jadi inilah alasan Victor bisa mengenal Diandra.
Victor bukan sekadar seseorang yang kebetulan ditemuinya di panti.
Dia adalah orang yang sedang membantu Diandra melewati salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya.
Liliana kembali menatap Diandra.
Ada kesedihan mendalam di matanya.
“Kenapa kamu tidak cerita dari awal, Nak?”
Diandra tersenyum kecil.
“Aku ingin cerita, Bu.”
Ia menggenggam tangan Liliana.
“Aku cuma belum menemukan keberanian untuk mengatakannya.”
Liliana menggenggam tangannya lebih erat.
“Kalau begitu, sekarang ceritakan semuanya kepada Ibu.”
“Bu Liliana pasti kecewa sama aku.”
Suara Diandra bergetar.
“Aku sudah berusaha semampuku untuk mempertahankan pernikahan itu, Bu. Aku sudah mencoba bertahan berkali-kali. Tapi ternyata aku benar-benar nggak sanggup lagi.”
Liliana tersenyum lembut. Tangannya mengusap pipi Diandra penuh kasih.
“Ibu tidak pernah kecewa sama kamu.”
Diandra menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Apapun keputusanmu, Ibu akan tetap mendukungmu. Kamu tidak perlu merasa harus menjelaskan pilihanmu kepada Ibu.”
Liliana menggenggam kedua tangan Diandra.
“Ibu tahu kamu sudah berusaha mempertahankan rumah tanggamu selama ini. Kalau pergi adalah jalan yang membuat hatimu lebih tenang, pergilah, Nak.”
Ia tersenyum hangat.
“Pintu panti ini akan selalu terbuka untukmu. Ibu, anak-anak, dan semua orang di sini akan selalu menyambutmu. Kamu tidak pernah sendirian.”
Bibir Diandra bergetar.
“Aku nggak mau nangis, Bu.”
Ia mengusap sudut matanya.
“Tapi kenapa air mataku keluar sendiri?”
Liliana ikut berkaca-kaca.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka kedua tangannya.
Diandra langsung masuk ke dalam pelukan itu.
Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
Liliana mengusap punggungnya perlahan.
“Kamu kuat, Diandra. Kamu putri Ibu yang kuat.”
Namun semakin Liliana menenangkannya, semakin deras tangis Diandra.
“Pak Victor...” Diandra berbicara di sela isakannya. “Saya sebenarnya nggak nangis. Jangan ledek saya.”
Victor tersenyum tipis.
“Tenang saja. Anggap saya pohon.”
Diandra mengangkat wajahnya sedikit.
“Pohon?”
“Iya. Pohon tidak bisa mendengar.”
Diandra hampir tertawa di tengah tangisnya.
Victor sendiri sebenarnya merasa canggung.
Ia ingin memberikan sapu tangan, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya, ia hanya berdiri diam dan memberikan ruang kepada Diandra untuk meluapkan emosinya.
“Sudah, ya. Sekarang kita makan bersama anak-anak.”
Liliana merangkul pundak Diandra dan mengajaknya masuk.
Begitu berada di tengah anak-anak, suasana hati Diandra perlahan berubah.
Anak-anak mengajaknya berbicara, meminta ditemani makan, bahkan berebut menceritakan berbagai hal kepadanya.
Untuk sementara, masalah rumah tangga yang sedang dihadapinya seakan menjauh.
Diandra kembali tersenyum.
Setelah mondar-mandir menemani anak-anak, ia akhirnya duduk untuk makan.
Namun selera makannya belum kembali.
Ia hanya mengambil dua risol dari meja.
“Boleh saya duduk di sini?”
Diandra mengerjapkan mata lalu menoleh.
“Pak Victor? Bapak belum pulang?”
“Belum.”
Victor menunjuk seorang anak di seberang ruangan.
“Tadi saya menemani Yoga.”
“Oh, Yoga.”
“Anak yang baru masuk hari ini.”
“Iya.”
Diandra menggeser kursinya.
“Silakan duduk, Pak. Saya nggak enak kalau Bapak berdiri terus.”
Victor kemudian duduk di sampingnya.
Ia mengambil sebuah kue dari meja dan menyodorkannya kepada Diandra.
“Mau?”
“Nggak usah, Pak. Terima kasih. Saya makan risol saja.”
“Kamu harus makan.”
Victor menatap dua risol di piringnya.
“Masalah boleh banyak, tapi tubuh tetap butuh tenaga.”
Diandra tersenyum kecil.
“Iya, Pak.”
Ia kemudian menatap Victor dengan penasaran.
“Ngomong-ngomong, Bapak datang ke sini karena Yoga?”
Victor mengangguk.
“Bagaimana Bapak bisa mengenal dia?”
Wajah Victor berubah serius.
“Yoga mengalami masalah keluarga yang cukup berat.”
Diandra menghentikan gerakannya.
“Ibunya menikah lagi dan sejak itu keberadaannya tidak jelas. Yoga tinggal bersama ayahnya.”
Victor terdiam sejenak.
“Sayangnya, dia juga mengalami kekerasan di rumah. Sekarang ayahnya melarikan diri dan Yoga tidak memiliki keluarga yang bisa menjaganya.”
Victor menatap ke arah anak tersebut.
“Karena itu saya meminta Bu Liliana menerimanya di sini.”
Diandra terdiam.
Cerita tentang Yoga membuat pikirannya langsung tertuju pada Azzam dan Azzura.
Bagaimana keadaan mereka jika ia benar-benar berpisah dari Bastian?
Azzura mungkin masih terlalu kecil untuk memahami semuanya.
Tetapi Azzam?
Diandra mengenal sifat anak itu. Azzam sangat protektif dan sering membela orang yang disayanginya.
Ia takut suatu hari Azzam membela dirinya di hadapan Bastian, lalu emosi Bastian tidak terkendali.
“Kenapa?” tanya Victor.
Diandra menggeleng.
“Nggak apa-apa.”
Namun beberapa detik kemudian, ia memberanikan diri bertanya.
“Saya dan Mas Bastian memang belum punya anak bersama. Azzam dan Azzura adalah anak Bastian dengan Serly.”
Victor mengangguk pelan.
“Kalau kami benar-benar bercerai... apakah saya bisa membawa Azzam?”
Victor tidak langsung menjawab.
“Masalah hak asuh tidak sesederhana itu. Pengadilan akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk kondisi anak, hubungan dengan masing-masing pihak, kemampuan memberikan pengasuhan, dan keadaan keluarga.”
Diandra menundukkan kepala.
“Saya tidak punya pekerjaan tetap.”
“Jangan langsung menyimpulkan hasilnya.”
Victor berbicara dengan tenang.
“Tidak bekerja bukan satu-satunya pertimbangan dalam perkara hak asuh.”
Diandra tetap terlihat murung.
Victor memperhatikannya.
“Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan?”
Diandra menggigit bibirnya.
“Kamu takut Azzam dan Azzura mengalami hal seperti Yoga?”
Diandra mengangguk perlahan.
“Saya cuma takut keputusan saya membuat mereka ikut terluka.”
Tatapannya kosong.
“Semoga saja semua yang saya takutkan tidak pernah terjadi.”
Diandra menarik napas panjang.
Seandainya Serly tidak kembali hadir di tengah rumah tangganya, mungkin ia masih akan berusaha mempertahankan pernikahan itu.
Bukan karena ia masih bahagia.
Bukan pula karena luka yang diberikan Bastian sudah sembuh.
Melainkan karena ia sudah terlanjur menyayangi Azzam dan Azzura seperti anaknya sendiri.
Namun kehadiran Serly membuat semuanya berubah.
Diandra akhirnya sadar bahwa ia tidak mungkin terus bertahan dalam pernikahan yang setiap harinya semakin mengikis dirinya.
Kini ia hanya bisa berharap.
Semoga perceraian yang dipilihnya bukan akhir dari segalanya.
Semoga keputusan itu justru menjadi awal kehidupan yang lebih tenang bagi dirinya dan orang-orang yang ia sayangi.
Diandra baru tiba di rumah setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akibat kemacetan.
Setelah makan siang dan bermain bersama anak-anak di panti, ia ternyata tertidur cukup lama. Ketika terbangun, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
Azzam juga sempat mengirim pesan bahwa Serly yang menjemput mereka dari sekolah.
Setidaknya anak-anak baik-baik saja.
Diandra mematikan mesin mobil, mengambil tasnya, lalu masuk ke dalam rumah.
Namun baru beberapa langkah, suara tawa Azzura terdengar dari arah samping rumah.
“Hahaha! Daddy lucu! Mama Serly juga lucu!”
Langkah Diandra berhenti.
Ia mengikuti suara tersebut hingga sampai di dekat pintu menuju halaman belakang.
Pemandangan di hadapannya membuat tubuhnya seketika kaku.
Di dekat kolam renang, Bastian, Serly, Azzam, dan Azzura sedang duduk mengelilingi meja.
Berbagai makanan tersaji di atasnya.
Serly tertawa lepas sambil menepuk lengan Bastian. Pria itu juga terlihat santai, bahkan sempat mengacak rambut Serly dengan akrab.
Azzam dan Azzura ikut tertawa.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Namun dari wajah mereka, jelas terlihat bahwa mereka menikmati kebersamaan itu.
Diandra hanya berdiri dari kejauhan.
Senyum tipis muncul di bibirnya, tetapi terasa begitu pahit.
“Mereka memang terlihat seperti keluarga yang bahagia.”
Diandra menundukkan kepala.
Mungkin sejak awal ia yang salah karena masuk ke dalam kehidupan seorang pria yang sebenarnya belum selesai dengan masa lalunya.
Ia pernah berpikir bisa menjadi bagian terpenting dalam hidup Bastian.
Ternyata tidak.
“Kamu bodoh, Diandra.”
Tangannya mengepal.
“Kamu terlalu berharap.”
Padahal sebentar lagi ia akan pergi dari kehidupan mereka.
Lalu kenapa melihat pemandangan sederhana seperti ini membuat dadanya terasa sesak?
Diandra menekan telapak tangannya ke dada.
“Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Seharusnya aku tidak boleh merasa seperti ini.”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Kamu kuat, Diandra.”
Diandra membalikkan tubuh.
“Jangan menangis.”
Namun pertahanannya runtuh.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir.
Pandangan matanya mulai kabur.
Ia melangkah tanpa benar-benar memperhatikan jalan di depannya hingga bahunya membentur sisi sofa.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
“Diandra!”
Suara Bastian membuatnya tersentak.
Ia segera mengusap wajah dan menghapus air matanya.
Ketika Bastian menghampirinya, Diandra sudah memasang senyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Bastian membantunya berdiri.
“Kamu nggak apa-apa?”
Diandra mengangguk.
“Aku nggak apa-apa, Mas.”
Ia berusaha menghindari tatapan Bastian.
“Maaf tadi aku nggak menjemput anak-anak. Aku dari panti dan ketiduran.”
“Aku tahu.”
Bastian menatapnya.
“Aku sudah bertanya kepada Bu Liliana. Katanya kamu memang di sana.”
Diandra hanya mengangguk.
“Kamu sudah makan?”
“Sudah.”
Bastian tidak percaya begitu saja.
“Ayo makan bersama. Azzam dari tadi mencarimu.”
Diandra tanpa sadar menoleh ke arah halaman.
Azzam langsung melambaikan tangannya.
“Mommy!”
Diandra membalas lambaian itu dengan senyum kecil.
Namun kemudian ia kembali menatap Bastian.
“Aku masih mengantuk, Mas.”
“Tidur saja setelah makan.”
“Aku nggak enak badan.”
Ekspresi Bastian berubah khawatir.
“Kamu sakit?”
Tangannya terangkat dan menyentuh kening Diandra.
Diandra langsung mundur sedikit.
“Aku nggak apa-apa.”
Ia memaksakan senyum.
“Aku cuma capek. Aku mau ke kamar.”
“Diandra—”
“Aku benar-benar ingin istirahat.”
Tanpa menunggu jawaban, Diandra berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Langkahnya tetap tenang.
Namun begitu punggungnya membelakangi Bastian, senyum di wajahnya menghilang.
Ia kembali menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh lagi.
Karena kali ini, Diandra tahu.
Ia tidak boleh berharap lagi.
Tidak pada Bastian.
Tidak pada keluarga yang bukan lagi tempatnya.
Dan tidak pada kehidupan yang sejak awal memang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
“Kamu kelihatan lemas. Mungkin karena belum makan. Ayo, kita makan bersama.”
“Aku nggak mau, Mas. Aku mau tidur.”
“Diandra, makan dulu.”
“Aku bilang nggak mau!”
Diandra mendorong dada Bastian hingga pria itu mundur selangkah.
“Kenapa kamu malah membentakku?” Bastian menatapnya tak percaya. “Aku cuma ingin memperhatikanmu.”
“Perhatian?”
Diandra tertawa getir.
“Kamu menyebut itu perhatian? Kamu mengajakku makan satu meja dengan Serly. Setelah itu kamu tertawa dan bercanda dengannya, sementara aku seperti orang asing di rumah sendiri.”
Bastian mengusap rambutnya frustrasi.
“Jadi sebenarnya apa yang kamu inginkan? Apa salahnya Serly berada di sini? Dia cuma ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak.”
Diandra menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Ia benar-benar tidak mengerti.
Bagaimana mungkin Bastian begitu mudah mengabaikan perasaannya?
“Serly tidak salah.”
Diandra menarik napas panjang.
“Aku yang salah.”
Bastian mengerutkan kening.
“Diandra?”
“Seharusnya sejak awal aku tidak pernah masuk di antara kamu dan Serly.”
“Apa maksudmu?”
“Aku sedang mengatakan kenyataan!”
Suara Diandra bergetar.
“Kamu tidak pernah benar-benar melepaskan masa lalumu. Aku sudah mencoba bertahan, mencoba memahami, bahkan mencoba menerima semuanya.”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Tapi aku lelah, Mas.”
Bastian terdiam.
“Lebih baik kita akhiri saja.”
Diandra menatapnya untuk terakhir kali.
“Selamat berbahagia dengan pilihanmu.”
Ia berbalik dan berlari meninggalkan rumah.
“Diandra!”
Bastian langsung mengejarnya.
“Kamu mau ke mana?”
Diandra tidak menjawab.
Ia terus berlari melewati halaman hingga mendekati gerbang.
“Pak, jangan buka gerbang!”
Teriakan Bastian terdengar dari belakang.
Namun Diandra sudah lebih dulu melewati gerbang.
Saat itulah sebuah mobil melaju dari arah jalan.
“DIANDRA!”
Bastian merasa jantungnya berhenti.
Mobil itu mengerem mendadak tepat di depan Diandra.
Hanya beberapa sentimeter.
Diandra membeku.
Pengemudi mobil segera turun.
“Diandra?”
Diandra mengenali suara itu.
“Sean.”
Dengan tangan gemetar, Diandra langsung menghampirinya.
“Sean, aku mau pergi.”
Sean menatap wajahnya yang penuh air mata.
“Tolong bawa aku pergi dari sini.”
Bastian sudah tiba di depan gerbang.
“DIANDRA! KEMBALI!”
Sean menoleh ke arahnya.
“Sudah, Mbak. Masuk dulu.”
Diandra mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Namun ketika hendak menutup pintu, tasnya terjatuh.
Beberapa barang berhamburan ke jalan.
Sean segera membungkuk untuk mengambilnya.
Namun tangannya berhenti ketika melihat sebuah kotak kecil terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin berlian biru.
Sean tertegun.
“Kalung ini...”
Ia belum sempat mengambilnya ketika suara Bastian terdengar keras.
“Berani sekali kamu mencoba membawa istriku pergi!”
Bastian menarik kerah kemeja Sean dan melayangkan pukulan.
Sean yang tidak sempat bersiap terhuyung ke samping.
“Sean!”
Diandra berteriak panik.
“Jangan keluar!”
Sean mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Diandra tetap berada di dalam mobil.
Bastian kemudian menghampiri pintu mobil.
“Sayang, jangan pergi.”
Tangannya menarik gagang pintu.
“Buka pintunya, Diandra.”
Namun pintu sudah terkunci.
Bastian semakin emosi.
Sean bangkit dan mencengkeram bahu Bastian, lalu menariknya menjauh dari mobil.
“Jangan sentuh dia.”
Bastian berbalik.
“Ini urusan rumah tanggaku.”
“Kalau begitu jangan paksa dia kembali.”
Sean mengepalkan tangan.
“Dia sudah bilang ingin pergi.”
Bastian tertawa sinis.
“Anak kemarin sore berani mengajariku?”
Sean menatapnya tajam.
“Saya memang lebih muda dari Anda.”
Ia maju selangkah.
“Tapi itu bukan alasan saya membiarkan seorang perempuan dipaksa kembali ke tempat yang tidak lagi ingin dia tinggali.”
BUGH.
Bastian menyeka sudut bibirnya yang terluka.
“Berani sekali kamu.”
Sean membalas tatapannya.
“Kalau perlu, saya akan berdiri di depan kamu sampai Diandra aman.”
Suasana di depan gerbang mendadak menegang.
Di dalam mobil, Diandra hanya bisa menatap keduanya dengan dada berdebar.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa keputusan untuk pergi dari rumah itu mungkin adalah keputusan yang tepat.