Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.
——Di dunia bernama Cardinal.
Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.
Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26—BAYANGAN MALAM
Malam pun tiba. Serena telah berkumpul bersama Haruya dan anggota regu lainnya di guild petualang.
Mereka berada di sebuah ruangan khusus yang disediakan oleh kepala guild sebagai tempat rapat agar tidak terganggu oleh keramaian para petualang di luar.
Ada tiga sofa yang mengelilingi sebuah meja persegi. Haruya duduk sendirian di sofa kecil.
"Baiklah, sebelum kita mulai, mari perkenalan dulu," kata Haruya sambil meletakkan cangkirnya.
"Karena Haruya sudah, sekarang giliranku."
Serena menoleh ke arah sumber suara. Suara tersebut berasal dari seorang pria berambut hitam yang mengenakan zirah kelabu dengan kerah berbulu cokelat.
"Namaku Dariel Arth. Aku seorang tahan badan di regu ini, jadi mohon kerja samanya," lanjutnya dengan kedua tangan tetap bersilang di depan dada.
"Dan aku Aliya. Salam kenal," celetuk seorang wanita berambut biru yang duduk di sampingnya.
Ia mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan jubah hitam dan rok hitam selutut. Penampilannya tidak asing bagi Serena. Aliya adalah seorang penyihir dengan pangkat yang sama dengannya.
Bros emas yang terpasang pada topi kerucutnya sudah cukup membuktikan hal itu.
Terakhir, ada seorang pria berambut putih yang duduk bersama Arth. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan jaket merah yang dibiarkan terbuka. Setelah diam sejak tadi, pria itu akhirnya ikut berbicara.
"Aku Acheron. Sekian," ucapnya singkat.
Serena hanya menyebutkan namanya sebagai balasan atas perkenalan mereka. Setelah itu, Haruya langsung mengeluarkan setumpuk dokumen berisi laporan warga mengenai kasus pembunuhan yang belakangan ini terjadi, yang dikenal dengan sebutan Shadow Death.
"Oke, kita mulai dari laporan pertama. Menurut laporan dari kepala desa, pembunuh itu paling sering muncul sekitar pukul sepuluh malam hingga pukul empat pagi," jelas Haruya.
"Hanya itu? Kita sudah beberapa kali gagal menangkapnya, Bung." Acheron menghela napas sebelum melanjutkan, "Kita memang membutuhkan waktu untuk menyusun strategi, tapi kita juga harus menyiapkan sesuatu untuk menutup jalan kaburnya."
Sambil berbicara, ia mengeluarkan selembar laporan yang dipenuhi tulisan dalam bahasa tradisional Dinasti Shen.
Karena Serena tidak memahami bahasa tersebut, Haruya merangkum isi laporan itu untuknya.
Target mereka adalah Shadow. Nama itu digunakan karena, menurut Haruya, pria tersebut memperkenalkan dirinya sendiri dengan nama itu.
Shadow memiliki kemampuan manipulasi bayangan tingkat tinggi. Bukan sekadar mengendalikan bayangan, ia bahkan bisa berinteraksi langsung dengannya, seperti memasuki bayangan untuk bermanuver atau melarikan diri. Ia juga mampu menciptakan hewan-hewan dari bayangan.
Meskipun menurut mereka makhluk-makhluk bayangan itu sangat lemah dan mudah dihancurkan, keberadaannya tetap mengganggu.
"Untuk kemampuan lainnya, kita belum tahu. Sejauh ini, dia hanya mengandalkan pedang dan bayangannya tanpa memperlihatkan kemampuan lain," imbuh Haruya sambil menghela napas.
"Lagi pula, pedangnya itu sepertinya bukan katana. Bentuknya lebih mirip pedang bajak laut yang ramping dan panjang," ujar Aliya sambil menyandarkan dagunya pada kedua lengan. "Dan yang paling buruk, pedang tersebut mampu menangkis segala jenis sihir."
"Menangkis? Apa benar mekanismenya memang seperti itu? Bisa saja senjata tersebut menggunakan konsep lain yang belum kita ketahui," kata Serena, mencoba mempertanyakan kesimpulan Aliya.
"Kalau soal itu, sih... kita masih belum tahu. Tapi, dari yang terlihat, memang begitu," jawab Aliya sambil mengangkat bahu.
"Gitu, ya..."
Serena terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.
"Kita langsung susun strategi saja. Aku tidak ingin berlama-lama di sini," ucapnya tegas.
"Baiklah, aku setuju," jawab Haruya. "Jadi, rencananya adalah..."
Semua orang terdiam dan mendengarkan penjelasan Haruya selaku kapten regu.
Rencananya cukup sederhana. Haruya akan bertugas sebagai petarung utama, sementara Serena dan Aliya memberikan dukungan dari belakang. Adapun Acheron dan Arth bertugas mengawasi serta menutup jalur pelarian Shadow.
---
Beberapa saat kemudian, mereka telah menempati posisi masing-masing.
Di jalanan yang sepi, Haruya berjalan paling depan, diikuti Serena dan Aliya. Sementara itu, Acheron dan Arth mengawasi keadaan dari sebuah menara.
"Kapan dia akan keluar?" tanya Serena pelan sambil memandang Aliya yang berjalan di depannya.
Tanpa menoleh sedikit pun, Aliya menjawab, "Tidak ada yang tahu. Tapi, seharusnya orang itu tidak akan lama lagi."
Serena tidak membalasnya. Ia hanya bergumam pelan.
"Oh..."
Cukup aneh rasanya jika seseorang menjadi pembunuh tanpa alasan. Serena menggenggam tongkatnya erat-erat sambil memikirkan hal tersebut.
Jalanan malam itu begitu sepi hingga suara langkah mereka sendiri terdengar menggema. Udara dingin menyelimuti kota, sementara lampu-lampu jalan memancarkan cahaya hangat yang menerangi jalanan.
Semenjak teror Shadow dimulai, malam menjadi waktu paling berbahaya bagi warga. Kebanyakan orang memilih menutup toko dan mengunci rumah mereka rapat-rapat demi menghindari sang pembunuh.
Apa orang itu psikopat? Atau... dia seorang pemimpin kudeta?
Serena mengerutkan kening.
Tidak mungkin juga, sih. Kalau tujuannya melakukan kudeta, kenapa harus membunuh warga sipil?
Tap.
Haruya mendadak menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Aliya.
Serena ikut berhenti, lalu mengikuti arah pandangan Haruya.
"Ada seseorang di depan..."
Haruya segera menghunuskan pedangnya.
Aliya terbelalak ketika melihat sosok misterius yang berdiri di tengah kegelapan.
"Bersiaplah! Dia target kita!"
Setelah memberikan instruksi, Haruya melapisi pedangnya dengan cahaya keemasan sebelum melesat maju dan menerjang sosok di hadapannya.
Shirk!
Tebasan Haruya menghancurkan sosok tersebut. Namun, itu hanyalah klona bayangan.
Sementara Haruya masih berada di depan, Shadow yang asli telah bergerak melewatinya. Ia melompat dengan gesit dan mengarahkan pedangnya kepada Aliya.
Sebelum bilah pedang itu mengenai Aliya, Serena segera memelintir ruang di sekitar mereka, lalu melepaskannya kembali. Perubahan ruang tersebut menghasilkan gelombang kejut yang cukup kuat untuk mendorong Aliya dan Shadow menjauh satu sama lain.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Serena mengarahkan senter magi ke sosok tersebut.
Kini, penampilan pria itu terlihat jelas. Ia mengenakan pakaian hitam yang dilapisi zirah baja gelap, dengan sebuah mantel panjang berwarna hitam menutupi tubuhnya. Wajahnya tersembunyi di balik masker dan kupluk, membuat identitasnya sulit dikenali.
"Sial!"
Shadow segera menenggelamkan tubuhnya ke dalam bayangan.
Tunggu dulu!
Serena terdiam sesaat.
Apa manipulasi bayangannya bisa dibatalkan menggunakan sihir cahaya?
Sambil memasukkan kembali senter maginya ke dalam magic bag, Serena mulai bersiap membidik. Sementara itu, Haruya mengamati sekeliling, berusaha menemukan posisi Shadow.
Dari balik bayangan sebuah rumah, terlihat sesuatu bergerak dengan cepat.
Untuk membuktikan teorinya, Serena segera menerangi area tersebut menggunakan puluhan bola cahaya.
Dan benar saja, sosok Shadow kembali terlihat di permukaan ketika cahaya menyinari bayangan yang menjadi tempatnya bersembunyi.
"Apa!? Jadi, kelemahan orang itu adalah cahaya?" gumam Haruya sebelum menerjang maju.
Shadow segera mengangkat pedangnya untuk menangkis tebasan Haruya.
Clank!
Benturan kedua pedang menggema di jalanan yang sunyi. Shadow mulai terdorong mundur oleh gaya bertarung Haruya yang agresif dan presisi.
Sink!
Haruya menusukkan pedangnya lurus ke depan, mengarah tepat ke kepala Shadow. Ujung bilahnya melintas begitu dekat dengan telinga pria itu hingga merobek kupluk yang dikenakannya.
Shadow berhasil menghindar, tetapi penyamarannya kini sedikit terbuka. Rambut cokelatnya yang terbelah di tengah terlihat jelas.
"Kau... sudah berkembang sejauh ini. Cepat juga," ujar Shadow sebelum melompat mundur.
Karena area di sekitarnya telah diterangi oleh Serena, Shadow tidak lagi leluasa menggunakan bayangan untuk berpindah tempat. Ia terpaksa mengandalkan kecepatan murninya untuk menghindari serangan.
"Bagaimana? Malam ini akan menjadi malam terakhirmu di kota ini!"
Sambil tersenyum sinis, Haruya kembali melompat mendekati Shadow.
Clank!
Pertarungan sengit kembali terjadi di atas bangunan. Berkat pencahayaan yang disediakan Serena, Acheron dapat melihat pergerakan Shadow dengan lebih jelas dan membidiknya dari kejauhan.
Sambil mengikuti pergerakan Haruya dan Shadow, Acheron menembakkan panah-panah sihir ke arah jalur yang hendak digunakan Shadow untuk bermanuver. Setiap kali pria itu mencoba mengubah posisi, serangan Acheron segera menghalangi jalannya.
Menyadari betapa buruk posisinya, Shadow segera memunculkan puluhan belati dari bayangan di bawah kakinya. Belati-belati itu melesat cepat ke arah Acheron.
Meski begitu, Acheron tidak bergerak sedikit pun. Arth telah mengantisipasi serangan tersebut dan segera menciptakan sebuah barrier magi untuk melindunginya.
Di sisi lain, Haruya terus menekan Shadow dengan ilmu pedangnya yang jauh lebih unggul. Setiap kali kedua pedang mereka berbenturan, Shadow terpaksa mundur selangkah demi selangkah.
"Gawat..." gumam Shadow sambil mengertakkan gigi.
Tekanan yang diterimanya tidak berhenti sampai di situ. Serena dan Aliya juga terus menghujaninya dengan serangan sihir dari bawah, membuat ruang geraknya semakin terbatas.
Melihat Shadow yang kian terpojok, Haruya memutuskan untuk mengakhiri pertarungan menggunakan salah satu teknik andalannya.
"Light Knock!"
Haruya menusukkan pedangnya lurus ke depan. Shadow segera memiringkan artefaknya untuk menangkis serangan tersebut.
Namun, benturan itu menghasilkan dorongan yang begitu kuat hingga tubuh Shadow terpental dan menghantam papan nama sebuah toko.
Melihat lawannya kehilangan keseimbangan, Haruya langsung melompat mengejarnya hingga melayang di udara.
Ia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan. Cahaya yang menyelimuti bilahnya semakin terang, memancarkan kilau yang menyilaukan.
"Divine Seal!"
BLOWW!!
Cahaya dari pedang Haruya menjalar ke segala arah, membentuk untaian menyerupai rantai yang berusaha membelenggu targetnya.
Namun, teknik pamungkas Haruya itu berhasil digagalkan hanya dengan satu ayunan pedang Shadow.
Tanpa membuang waktu, Shadow memanfaatkan bayangannya untuk menciptakan beberapa tentakel yang langsung menyerang Haruya di udara.
Namun, ada sesuatu yang luput dari perhatiannya.
Serena telah bergerak ke belakang Shadow dan melancarkan serangan mendadak. Puluhan pedang yang terbentuk dari Magi melesat ke arah tentakel-tentakel tersebut.
Shink! Shink! Shink!
Satu demi satu tentakel terpotong. Beberapa pedang berhasil ditangkis Shadow, tetapi serangan Serena tidak hanya datang dari arah depan.
Dari sisi lain, Serena juga telah menyiapkan sejumlah peluru cahaya.
Terjepit oleh serangan dari dua arah yang datang hampir bersamaan, Shadow tidak mampu menangkis semuanya. Ia hanya bisa memiringkan tubuhnya ke belakang, membiarkan peluru-peluru cahaya melesat tepat di atas lehernya.
Menyadari bahwa dirinya semakin terdesak, Shadow segera menciptakan beberapa tentakel yang mengitari tubuhnya, sesaat kemudian.
BHOSSHH!
Delapan tentakel itu berputar bagaikan gangsing yang dengan cepat langsung menyapu semua yang berada dalam jangkauannya.
Haruya terpental jauh, sementara Serena terdorong mundur. Di sisi lain, pipi Aliya tergores akibat hempasan angin yang dihasilkan serangan tersebut.
Namun, bukan hanya mereka yang terkena dampaknya.
Dari kejauhan, tanpa seorang pun menyadarinya, sebuah belati telah menancap di lengan kiri Acheron.
Ia baru menyadari luka tersebut ketika Shadow sudah menghilang di kejauhan.
Haruya yang baru saja mendarat di tanah langsung berdecak kesal.
"Sial, dia berhasil kabur lagi," keluhnya.
Aliya menghampirinya dari belakang. "Tidak apa-apa. Yang penting, saat ini tidak ada korban jiwa."
"Jangan bodoh. Saat dia kabur, bisa saja dia pergi ke rumah seseorang dan membunuhnya," balas Haruya sambil menyarungkan pedangnya.
Serena ikut menghampiri mereka sembari menyingkirkan sisa salju yang menempel pada mantel dan rambutnya.
"Ya, Haruya benar soal itu. Tapi, bagaimana cara mencegahnya kabur?" ujar Serena sambil mengumpulkan bola-bola cahaya dan memasukkannya kembali ke dalam kristal ungu pada tongkatnya.
Dari kejauhan, Arth berlari menghampiri mereka sambil menggendong Acheron di pundaknya.
"Aliya!" teriaknya.
"Eh!? Kenapa?" Aliya segera menoleh ke arah Arth.
Setelah tiba di dekat mereka, Arth menurunkan Acheron yang sudah tidak sadarkan diri. Ia kemudian menjelaskan bahwa Acheron terkena racun dari belati yang menusuk lengan kirinya.
Dengan sigap, Aliya langsung menggunakan sihir penyembuhan pada luka Acheron. Cahaya hijau menerangi area di sekitar mereka.
Sementara itu, Serena hanya diam mengamati dari belakang. Tanpa sepengetahuan anggota regu lainnya, ia melakukan analisis terhadap kondisi tubuh Acheron.
Sesaat kemudian, mata Serena terbelalak.
Bohong, kan? Apa-apaan!? Racun di tubuhnya jauh lebih kuat daripada racun Poison Slime!
Racun Poison Slime dikenal mampu melumpuhkan atau bahkan membunuh naga berukuran sedang hanya dalam hitungan detik. Namun, racun yang menyerang tubuh Acheron ternyata jauh lebih kuat dari itu, meskipun masih belum sekuat racun Hydra yang pernah digunakan Serena saat melawan Vorax.
"Sihir penyembuhan biasa tidak akan bisa menyelamatkannya. Kita bawa dia ke markas sekarang!" seru Serena.
"Kenapa memangnya?" tanya Haruya sambil menoleh ke arahnya.
"Racunnya jauh lebih berbahaya daripada racun Poison Slime!" jawab Serena tegas.
Mendengar penjelasan itu, semua anggota regu terkejut. Mereka tidak menyangka racun yang digunakan Shadow bisa begitu berbahaya.
Karena tidak memiliki pilihan lain, mereka memercayai perkataan Serena dan segera membawa Acheron ke markas regu.
---
Setibanya di markas, mereka langsung membaringkan Acheron di atas ranjang.
Aliya terus mengalirkan sihir penyembuhan untuk mempertahankan kondisinya, sementara Serena sibuk meracik obat penawar racun.
"Berapa lama lagi? Sudah lima menit sejak tadi. Apa dia masih bisa bertahan?" tanya Aliya dengan panik.
"Sudah jadi!"
Serena segera menghampiri ranjang dan membantu Acheron meminum obat yang baru saja selesai diraciknya.
Setelah memastikan obat itu tertelan, Serena mendekatkan telapak tangannya ke luka di lengan kiri Acheron.
"Angelic Healing."
Kling...
Cahaya keemasan memancar dari telapak tangan Serena, kemudian meresap ke dalam luka tersebut. Perlahan, luka itu menutup hingga tidak lagi terlihat.
"Hufh... Untuk sementara, dia sudah aman. Sekarang tinggal menunggu dia siuman. Kemungkinan besok pagi baru akan sadar," jelas Serena sambil membereskan peralatannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu," ucap Haruya.
"Oh, ya. Tadi aku menemukan ini di jalan."
Serena mengeluarkan sebuah pecahan kalung dari sakunya dan memperlihatkannya kepada anggota regu lainnya.
Benda itu terbuat dari emas, dengan hiasan berbentuk bintang.
"Kalung ini... Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat," ujar Aliya sembari mengambilnya dari tangan Serena.
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Arth yang sedang bersandar di kursi di samping ranjang.
"Aku menemukannya setelah Shadow terkena tembakan peluru cahaya dariku," jawab Serena.
Ia kemudian berbalik menuju pintu.
"Baiklah, kalau begitu, benda ini kuserahkan kepada kalian. Aku mau kembali ke penginapan."
"Oh, baiklah. Selamat malam," balas Aliya sambil menyimpan pecahan kalung tersebut.
"Jangan lupa, besok kita akan pergi ke istana Dinasti untuk menyampaikan laporan," ujar Haruya sambil tersenyum kecil.
"Ya, aku pasti datang, kok."
Serena melambaikan tangan sebelum perlahan menjauh dari markas.
◆◆◆
Setibanya di kamar penginapan, Serena mendapati Mao sedang tertidur di atas ranjang.
Serena hanya tersenyum tipis melihatnya. Ia kemudian membereskan peralatannya dan mengganti pakaiannya dengan piyama putih panjang.
Setelah semuanya selesai, Serena berbaring di samping Mao.
Tak butuh waktu lama sebelum ia ikut terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.