Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Apakah Semuanya Terlambat?
Hari-hari telah berlalu. Perubahan sikap Yudha membuat beberapa orang yang mengenalnya hanya bisa geleng-geleng kepala, seolah masih sulit mempercayai perubahan besar yang terjadi pada pria itu.
Banyak yang bersyukur karena Yudha kini memperlakukan istrinya dengan baik, lembut, dan penuh perhatian. Namun, tak sedikit pula yang menganggap perubahan itu hanyalah pencitraan demi menjaga nama baiknya di hadapan keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Sudah dua bulan berlalu sejak Yudha kehilangan ingatannya. Meski kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih, dia tetap menjalankan pekerjaannya dari rumah.
Sebagai seorang CEO, Yudha tidak ingin perusahaan yang telah dibangun dan dirintisnya dari nol mengalami kendala hanya karena dirinya belum bisa kembali bekerja secara langsung di kantor.
Perusahaan yang bergerak di bidang perabot rumah tangga itu merupakan salah satu hal yang paling dia perjuangkan selama bertahun-tahun. Karena itu, meskipun masih dalam masa pemulihan, Yudha tetap rutin mengawasi pekerjaan para karyawannya dan mengikuti berbagai rapat penting secara daring.
Seperti pagi ini. Yudha sedang mengikuti rapat bersama beberapa orang kepercayaannya melalui laptop yang berada di atas meja kerja.
Wajahnya terlihat serius. Tatapannya fokus pada layar, sementara sesekali dia memberikan arahan kepada para bawahannya.
“Sudah waktunya Mas Yudha minum obat,” ucapnya sebelum memutar kenop pintu.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Kinanti masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika melihat Yudha yang sedang sibuk bekerja.
Kinanti tanpa sadar berdiri mematung di ambang pintu. Matanya terpaku pada sosok suaminya.
Rambut Yudha yang tertata rapi, wajah tegasnya, sorot mata serius, serta sikapnya yang terlihat begitu berwibawa membuat jantung Kinanti berdebar lebih cepat.
“Masya Allah...” gumam Kinanti pelan.
Dia kesulitan menelan ludahnya sendiri, lalu tersenyum kecil.
“Kalau lagi serius begini, Mas Yudha ganteng banget, ya. Gantengnya poll banget. Bahkan bisa ngalahin artis dracin Zhang Ling He ataupun aktor drakor Lee Min Ho.” pujinya.
Kinanti terus memandangi suaminya dengan tatapan penuh kekaguman. Baru kali ini dia berani menatap Yudha secara terang-terangan tanpa merasa takut, minder, ataupun khawatir akan dimarahi.
“Mumpung Mas Yudha lagi dalam mode baik, aku nikmatin saja kegantengannya,” cicitnya seraya terkekeh geli dengan ucapannya
Bahkan, semakin lama memandang, semakin sulit pula dia mengalihkan pandangannya.
“Kenapa wajahnya Mas Yudha malah kelihatan berkali-kali lipat lebih ganteng selama amnesia dibandingkan sebelum kehilangan ingatan yang selalu judes dan tak pernah tersenyum kayak senyum itu pakai pajak?” cicitnya sambil tersenyum sendiri.
Kinanti kemudian menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan senyumnya.
“Ya ampun... aku kok jadi seperti anak gadis yang baru jatuh cinta yah?” ucapnya seraya cekikikan.
Tatapannya kembali tertuju kepada Yudha.
Dia benar-benar tidak bosan memuja dan memuji kegantengan suaminya.
“Pantas saja anakku Naufal sama Naura ganteng dan cantik. Ternyata turunan dari papanya,” ceplos Kinanti tanpa sadar.
Suaranya ternyata cukup nyaring hingga terdengar oleh Yudha yang sedang berbicara dalam rapat. Bahkan pujiannya itu terdengar hingga ke panca indera anak buah Yudha.
Yudha sontak menghentikan ucapannya.
Kepalanya menoleh ke arah sumber suara.
Tatapan mata mereka saling bertemu. Kinanti langsung membeku. Wajahnya seketika memerah karena sadar telah ketahuan sedang mengagumi suaminya.
“Eh...”
Yudha justru tersenyum simpul. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya melihat tingkah Kinanti yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
Kinanti buru-buru menundukkan wajahnya. “Maaf, Mas. Aku nggak sengaja.”
Setelah mengucapkan itu, Kinanti langsung berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Bahkan, hampir saja dia berlari meninggalkan ruangan.
Yudha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Pandangan matanya terus mengikuti kepergian Kinanti hingga perempuan itu menghilang di balik pintu.
Sudut bibir Yudha kembali terangkat. “Kenapa kamu kalau semakin salah tingkah justru semakin lucu dan semakin cantik?” batinnya.
Belum sempat Yudha kembali fokus pada rapat, terdengar suara Omar dari balik layar laptop.
“Kayaknya ada orang yang mulai jatuh cinta sama istri sendiri, nih.” ejek Omar.
Senyum Yudha seketika menghilang. Dia kembali memasang wajah serius dan dingin seperti seorang CEO yang sedang memimpin rapat.
“Omar.”
“Hm?” balas Omar santai.
“Kalau kamu punya banyak waktu senggang untuk mengurusi kehidupan pribadi saya, sepertinya kamu sudah layak mengawasi cabang perusahaan kita yang ada di Papua.”
Omar langsung terdiam namun terlihat bibirnya ingin tertawa.
Wajahnya seketika berubah tegang. “Lho, kok saya yang kena sih Big Bos?”
Yudha menatapnya datar. “Bukankah kamu sendiri yang bilang punya banyak waktu senggang?”
Omar langsung kicep. “Eh... saya bercanda, Bos.”
“Kalau begitu, jangan terlalu banyak bercanda.” ketus Yudha.
Omar menghela nafas lega. Namun, beberapa detik kemudian dia kembali terkekeh.
“CEO satu ini kayaknya baperan sejak puber kedua.” sindir Omar yang semakin menggoda sahabatnya.
Yudha langsung menatap layar dengan tatapan mengerikan.
“Omar.”
“Hahaha! Iya, iya, saya diam.” balasnya sambil menutup mulutnya mengunakan telapak tangannya.
Omar tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Yudha. Menurutnya, perubahan sikap sahabat sekaligus atasannya itu memang sangat aneh.
“Semoga kamu akan seperti ini terus, jangan sampai Mbak Kinanti pergi meninggalkan kamu barulah kau menyesal,” batinnya Omar.
Dulu, Yudha terkenal dingin, tegas, dan
nyaris tidak pernah menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan rumah tangganya.
Namun, sejak kehilangan ingatan, pria itu justru berubah menjadi seseorang yang jauh lebih perhatian kepada Kinanti.
Bahkan, hanya mendengar nama istrinya saja sudah cukup membuat ekspresinya langsung berubah drastis.
Sementara itu, di luar ruangan, Kinanti ternyata belum benar-benar pergi.
Dia bersandar di balik daun pintu ruang kerja Yudha sambil menekan telapak tangannya ke dada.
Jantungnya berdegup begitu kencang.
Wajahnya masih terasa panas. “Ya Allah...” bisiknya.
Kinanti memejamkan mata sejenak.
“Kenapa aku semakin mencintai suamiku?”
Tangannya kembali menekan dadanya yang belum berhenti berdegup kencang.
“Kenapa aku bisa sampai segila ini kepada pria yang usianya lebih dewasa dariku? Pria yang sudah memberiku dua buah hati yang sangat kami sayangi... Naura dan Naufal tapi pria itu juga yang seringkali menancapkan duri di hatiku dengan kata-kata kasar dan pukulannya.”
Senyum tipis muncul di wajah Kinanti, tetapi perlahan menghilang ketika sebuah ketakutan kembali menyelinap ke dalam pikirannya.
“Ya Allah... apakah ini benar-benar nyata?”
Kinanti membuka matanya.
“Apakah semua yang terjadi padaku sekarang bukan sekadar ilusi? Bukan mimpi yang suatu saat akan berakhir?”
Dia menundukkan wajahnya. Air matanya hampir saja menetes. Selama bertahun-tahun, Kinanti terbiasa hidup dengan sikap Yudha yang dingin dan keras.
Dia bahkan sudah terbiasa meyakini bahwa dirinya tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang dari suaminya.
Namun, dua bulan terakhir ini telah mengubah semuanya. Yudha yang sekarang berbeda.
Pria itu lebih lembut, lebih perhatian, bahkan terkadang membuat Kinanti merasa seperti seorang perempuan yang baru pertama kali mengenal cinta.
Dan justru perubahan itulah yang membuat Kinanti takut.
“Sebaiknya aku sadar diri dan menjaga jarak dari Mas Yudha, kalaupun suatu saat nanti mas Yudha kembali seperti sedia kala, aku akan meminta cerai,” gumamnya lirih.
“Aku nggak ingin terlalu berharap. Aku nggak ingin terlalu bahagia hanya karena perubahan Mas Yudha sekarang.”
Kinanti menggigit bibirnya, berusaha menahan perasaan yang semakin memenuhi dadanya.
“Aku takut suatu hari nanti ingatannya kembali pulih... lalu Mas Yudha kembali menjadi seperti dulu.”
Dia mengusap sudut matanya yang basah karena air mata.
“Bagaimana kalau setelah ingatannya kembali, Mas Yudha kembali kasar kepadaku? Bagaimana kalau semua perhatian dan kelembutan yang dia berikan sekarang tiba-tiba menghilang?”
Kinanti menghela nafas panjang dan menatap plafon rumahnya yang delapan tahun terakhir.l menjadi saksi bisu sikap kasar Yudha kepadanya.
“Kalau itu terjadi, mungkin aku yang akan paling terluka.”
Dia menatap pintu ruang kerja Yudha.
Dari balik pintu itu, masih terdengar samar suara Yudha yang sedang berbicara dalam rapat.
Suara yang selama dua bulan terakhir justru terasa begitu menenangkan baginya.
Kinanti tersenyum getir. “Jadi, lebih baik aku jangan terlalu berharap.”
Namun, jauh di dalam hatinya, Kinanti tahu bahwa perasaannya sudah terlanjur tumbuh dan kuat.
Bukan sekadar rasa kagum atau rasa nyaman. Melainkan cinta yang selama ini mungkin diam-diam terkubur, tetapi kini perlahan tumbuh kembali. Kinanti mengusap dadanya yang masih berdebar.
“Ya Allah... kalau memang semua ini hanya sementara, tolong jangan biarkan aku terlalu dalam mencintainya.”
Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya beranjak pergi.
Namun, sebelum benar-benar melangkah jauh dari ruangan itu, Kinanti kembali menoleh ke arah pintu.
Ada senyum kecil di wajahnya.
“Mas Yudha... kenapa harus berubah sekarang? Saat aku sudah terlalu takut untuk berharap, disaat aku akan meninggalkanmu?”
Setelah itu, Kinanti berjalan meninggalkan ruangan dengan perasaan yang campur aduk.
Tanpa dia sadari, dari dalam ruang kerja, Yudha sempat melirik ke arah pintu.
Entah mengapa, sejak beberapa hari terakhir, dia merasa ada sesuatu yang berubah dalam diri istrinya.
Kinanti terlihat semakin dekat, tetapi di saat yang sama seperti sedang berusaha menjauh.
Dan untuk pertama kalinya, Yudha merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya dipahami.
“Ada apa denganmu, Kinanti? Mas mohon bertahanlah jangan berfikir untuk meninggalkanku” batinnya.