NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HUJAN YANG MENAHAN LANGKAH

# PELET LAKNAT 2

## Bab 26: Hujan yang Menahan Langkah

Keesokan harinya, sinar matahari sore yang mulai merunduk merambat masuk, menyebar licin di celah-celah jendela. Cahayanya yang berwarna jingga keemasan jatuh memanjang di lantai kayu, berpadu dengan suara rintik hujan yang mengetuk atap, menciptakan melodi tenang yang seolah ingin menidurkan dunia.

Namun, di sudut ruangan itu, Jaka duduk bersandar di tepian tempat tidur dengan muka yang sedikit gelisah. Sesekali ia menyeruput kopi hitam yang sudah mulai dingin. Pandangannya kosong, menembus kaca jendela seolah mencari jawaban di balik kabut tipis di luar sana.

Jaka menghela napas panjang, desahan berat yang seolah membawa seluruh beban dunia keluar dari dadanya. "Hah... kenapa harus hujan di saat penting begini! Aku bisa kemalaman di jalan nanti!" keluh Jaka. Seakan alam pun tak mengizinkan niat buruk itu terjadi.

Detik telah berganti menit, begitu pun menit yang telah berganti jam. Sudah hampir dua jam Jaka menunggu hujan reda dengan rasa gelisah yang membuncah. Namun, rintik air di luar tak henti-hentinya, mengikis batas kesabarannya. Jarinya mengetuk-ngetuk tepi cangkir kopi tanpa henti, mengikuti irama hujan yang tak kunjung reda.

"Buset deh ini hujan! Kapan berhentinya? Tidak tahu apa aku ada misi penting!" keluh Jaka sambil menatap gusar ke arah luar.

"Kalau aku cuma diam, bisa kemalaman nanti! Kalau terus menunggu, entah sampai kapan!" gerutu Jaka menjeda kalimatnya. "Kalau dibiarkan sampai besok... tidak, ini kan hari terakhir! Jadi harus sekarang. Mending aku berangkat hari ini juga!" lanjut Jaka seraya mengenakan jaket dan menyambar kunci motornya.

Namun, tepat saat Jaka hendak membuka pintu utama, sang ibu keluar dari kamar. "Jak! Mau ke mana hujan-hujan begini?" tegur sang ibu seraya menarik daun pintu kamarnya.

Mendengar teguran itu, Jaka sempat kaget dan hampir menjatuhkan kunci motor di tangannya. "Hah! Ibu mengagetkan saja! Jaka mau keluar sebentar, Bu, ada urusan penting," sahut Jaka.

"Apa tidak bisa besok saja, Jak? Di luar hujan loh, nanti kamu sakit lagi," saran sang ibu penuh kekhawatiran.

"Enggak bisa, Bu. Ya sudah, Jaka pergi dulu! Assalamu'alaikum," sahut Jaka tergesa-gesa seraya melangkah melewati ambang pintu, tak sempat menoleh lagi ke belakang.

Sang ibu hanya bisa mematung menatap punggung anaknya yang menghilang di balik pintu. "Wa'alaikumsalam..."

Setelah pintu utama tertutup rapat dan mengenakan jas hujan, Jaka segera berlari ke belakang rumah untuk mengambil ayam cemani yang ia sembunyikan kemarin malam.

"Bagus, masih hidup! Kuat juga kamu, ya!" gerutu Jaka seraya mengambil kardus berisi ayam cemani tersebut. Kemudian, ia kembali ke halaman rumah untuk menyalakan motornya.

Sementara jauh di tempat yang berbeda, Kiki kini harus mengungsi dan tinggal di pesantren bersama Ustaz Ahmad untuk sementara waktu. Di sana, ia mendapat pertolongan langsung dari Kiai—guru besar Ustaz Ahmad.

Ustaz Ahmad sadar betul bahwa makhluk gaib yang menyerang Kiki bukanlah tandingannya. Kekuatannya jauh melebihi pengalaman spiritual yang dimilikinya, apalagi setelah makhluk itu berani melakukan serangan fisik secara terang-terangan.

Rasa khawatir yang mendalam membuat orang tua Kiki pasrah dan merelakan anak mereka diboyong ke pesantren demi perlindungan yang lebih aman.

Sore itu, Kiki bersama Ustaz Ahmad tengah berjalan menuju kediaman sang Kiai, sisa gerimis masih menetes dari genting-genting rumah yang mereka lewati.

"Nak Kiki, nanti di sana kamu ceritakan saja semuanya sama Kiai, jangan takut. Rahasia kamu aman di tangan kami," seru Ustaz Ahmad sambil terus melangkah.

Kiki tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, sebuah isyarat bahwa ia setuju dan pasrah dengan keputusan yang diambil Ustaz Ahmad, kedua tangannya menyembunyikan diri di balik lengan jaket yang kebesaran.

Namun, tinggal beberapa meter lagi mencapai kediaman sang Kiai, langkah kaki Kiki tiba-tiba terasa begitu berat. Dadanya seperti dihantam gelombang panas yang membara, dan seketika seluruh tubuhnya lemas seperti seluruh tulangnya lepas dari tubuhnya.

Bahkan sekadar berteriak memanggil sang ustaz pun ia tak mampu. Tenggorokannya terasa terkunci rapat. Kiki hanya bisa menganga dengan mata melotot, jemarinya menggapai-gapai ke udara berusaha meminta bantuan sebelum kesadarannya runtuh.

Sementara itu, Ustaz Ahmad sama sekali tidak menyadari petaka yang sedang menimpa Kiki di belakangnya. Ia terus melangkah tanpa melirik sedikit pun, memfokuskan pandangannya penuh pada rumah sederhana yang dihuni oleh sang guru.

Beberapa menit kemudian...

"Nah, Nak Kiki! Ini—" Belum sempat Ustaz Ahmad menyelesaikan kalimatnya, ia keheranan karena Kiki sudah tidak ada di sampingnya. "Lah, ke mana anak itu?" lanjut Ustaz Ahmad sembari celingukan memutar badan.

Dan betapa terkejutnya ia saat matanya menangkap sosok Kiki yang sudah ambruk di atas tanah, memegangi dadanya dengan tangan lemas yang terulur melambai.

"Astaghfirullahaladzim, Nak Kiki!" teriak Ustaz Ahmad panik, langsung berlari sekencang mungkin menghampiri Kiki.

"Nak Kiki! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?!" tanya Ustaz Ahmad panik seraya menopang tubuh Kiki yang kian terkulai.

Namun, Kiki sama sekali tidak bisa menjawab. Mulutnya seperti terkunci rapat, tak sanggup ia kendalikan. Rasa panas membakar tenggorokannya, dan tiap kali ia mencoba bersuara, yang keluar dari mulutnya hanyalah rintihan dan raungan samar yang mengerikan.

Tanpa membuang waktu, Ustaz Ahmad segera membopong tubuh Kiki dan membawanya menuju rumah sang Kiai. Namun, anehnya, tubuh remaja itu terasa luar biasa berat—seolah Ustaz Ahmad sedang menggendong dua orang dewasa sekaligus, kedua lengannya sampai gemetar menahan beban yang sama sekali tak masuk akal itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!