Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN TAK TERDUGA DI NIKMATNYA TAKDIR
Pagi hari di pasar tradisional Jakarta Selatan menyajikan riuk-pikuk kehidupan yang khas. Bau rempah-rempah yang menyengat, aroma ikan segar, serta sahut-menyahut suara pedagang yang menjajakan barang dagangan memenuhi udara.
Aisyah melangkah menyusuri lorong pasar yang agak becek. Pagi ini, ia sengaja keluar sendiri untuk berbelanja kebutuhan dapur serta membeli susu kotak kesukaan Awan. Tampilannya sederhana namun memancarkan aura anggun yang sulit diabaikan. Ia mengenakan dress kain katun elegan berwarna biru pastel sepanjang selutut dengan potongan rapi yang melapisi tubuh rampingnya. Rambut hitam panjangnya diikat gaya pony tail sederhana, memperlihatkan leher jenjang dan paras polosnya tanpa polesan makeup tebal.
"Mas, susu kotaknya dua dus ya, sama sayur bayamnya dua ikat," ucap Aisyah ramah pada seorang pedagang kelontong.
Usai membayar belanjaan dan memasukkannya ke dalam kantong kain, Aisyah berbalik hendak berjalan keluar dari area pasar. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti ketika matanya menangkap kegaduhan di lorong sebelah.
"COPET! TOLONG! DOMPET SAYA DICOPET!"
Seorang gadis berpenampilan sangat tertutup mengenakan gamis longgar berwarna krem dan hijab syar'i lebar yang menutup dada terlihat panik setengah mati. Gadis itu menunjuk seorang pria bertopi hitam yang berjalan cepat menerobos kerumunan warga seraya menggenggam erat sebuah dompet kulit kecil.
Melihat kepanikan gadis itu dan kelakuan si pencopet, darah muda Aisyah mendadak bergolak. Jiwa pemberani yang terlatih di kerasnya jalanan Jakarta seketika bangkit.
"Hei! Berhenti kamu!" teriak Aisyah nyaring.
Tanpa membuang waktu, Aisyah melempar kantong belanjaannya ke atas meja pedagang terdekat, lalu berlari kencang mengejar si pencopet. Langkah kaki Aisyah yang gesit menyalip beberapa pembeli. Tepat di dekat tiang listrik ujung gang pasar, Aisyah melompat dan menarik paksa jaket si pencopet dari belakang.
BRUK!
Pria pencopet itu tersungkur ke tanah. Namun, ia dengan cepat bangkit dan menarik sebuah pisau lipat kecil dari saku celananya, mengarahkannya secara liar ke arah Aisyah.
"Jangan ikut campur, Cewek! Mau mati kamu?!" gertak si pencopet.
Aisyah tidak gentar sedikit pun. Sebelum pria itu sempat mengayunkan pisaunya, Aisyah menendang pergelangan tangan si pencopet dengan cepat. Pisau itu terlempar ke selokan, namun sabetan tipis dari ujung pisau sempat menggores lengan bawah Aisyah, meninggalkan luka sayat kecil yang mengeluarkan darah segar.
"Aww!" Aisyah meringis pelan, menepuk tangannya yang terasa perih.
Di saat bersamaan, warga pasar yang mendengar teriakan langsung berdatangan dan menyergap si pencopet hingga tak berkutik.
Gadis berhijab syar'i tadi berlari terengah-engah menghampiri Aisyah. Wajahnya yang cantik dan bersih memancarkan kepanikan luar biasa ketika melihat luka berdarah di lengan Aisyah.
"Mbak! Ya Allah, lengan Mbak berdarah!" seru gadis itu dengan suara bergetar panik. Ia meraih dompetnya yang dijatuhkan warga, lalu menahan lengan Aisyah menggunakan sapu tangan kain bersih miliknya. "Maafkan saya, Mbak! Mbak terluka gara-gara menolong saya!"
Aisyah mengibaskan tangannya pelan seraya tersenyum tipis. "Gak apa-apa, cuma tergores dikit kok. Yang penting dompet kamu selamat."
"Tapi lukanya harus segera diobati dan dibersihkan pakai antiseptik!" tegas gadis itu tak mau dibantah. Binar matanya yang teduh menunjukkan rasa khawatir dan bersalah yang mendalam. Gadis itu menatap Aisyah dari ujung rambut hingga ujung dress selututnya.
"Rumah saya tidak jauh dari daerah sini, Mbak. Di Ndalem kompleks pesantren. Mari ikut saya ke rumah, biar luka Mbak dibersihkan dan diobati dengan benar," bujuknya lembut.
Aisyah ragu sejenak. Namun, melihat kesungguhan dan tatapan penuh kepedulian dari gadis di hadapannya, hati Aisyah melunak. "Beneran gak merepotkan?"
"Sama sekali tidak! Justru saya yang berutang nyawa dan harta sama Mbak," senyum gadis itu mekar indah. Ia mengulurkan tangannya yang halus. "Kenalkan, nama saya Nabila. Umur saya sembilan belas tahun."
Aisyah tersentak pelan seraya membalas uluran tangan itu. "Nama aku Aisyah. Umurku juga sembilan belas tahun!"
"Masya Allah! Beneran?!" mata Nabila berbinar antusias, tawa renyahnya membahana. "Kita seumuran! Mulai hari ini, Aisyah harus jadi teman Nabila, ya? Gak boleh nolak!"
Aisyah tertawa kecil melihat keramahan Nabila yang begitu meledak-ledak namun terasa sangat tulus. Kebersihan jiwanya begitu mirip dengan Syarifah Zahra, namun Nabila jauh lebih ceria dan ceplas-ceplos.
Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil rental yang dipesan Nabila memasuki sebuah kawasan gerbang kayu raksasa berukir kaligrafi indah.
Aisyah yang duduk di kursi belakang menatap luar jendela dengan kening berkerut. Kompleks pesantren ini sangat luas, dikelilingi pepohonan rindang dan bangunan-bangunan hijau bergaya timur tengah. Di tengah kompleks tersebut, berdiri sebuah rumah panggung besar bergaya arsitektur Jawa-Arab yang sangat megah dan asri Pondok Ndalem.
Jantung Aisyah mendadak berdegup kencang. Tunggu... kompleks pesantren? Rumah Ndalem? Jangan-jangan...
"Ayo masuk, Aisyah! Jangan malu-malu," panggil Nabila riang seraya menuntun tangan Aisyah melintasi teras luas Ndalem.
Begitu melangkah melewati pintu kayu tebal Ndalem, aroma wangi terapi kayu cendana dan minyak zaitun langsung menyapa indra penciuman Aisyah aroma yang sangat dihafalnya! Aroma khas keluarga Habib Ammarullah!
"Ummi! Abah! Nabila pulang!" teriak Nabila nyaring mengisi kesunyian rumah panggung tersebut.
Dari arah koridor dalam, muncul seorang wanita paruh baya berwajah sangat anggun dan teduh, mengenakan baju gamis hijau tua dan jilbab syar'i senada. Wajahnya begitu mirip dengan Ammar—Ummi Khadijah, ibu kandung Ammar.
"Astaghfirullah, Nabila... kamu ini anak perempuan kok teriak-teriak di dalam Ndalem," tegur Ummi Khadijah dengan suara lembut namun berwibawa.
"Afwan, Ummi... tapi Nabila tadi habis kena musibah di pasar!" ceritanya antusias seraya menarik lengan Aisyah untuk maju ke depan. "Nabila hampir kemalingan dompet! Tapi untungnya Nabila ditolongin sama teman baru Nabila ini! Namanya Aisyah, umurnya seumuran sama Nabila!"
Ummi Khadijah mengalihkan pandangannya pada Aisyah. Mata tua nan teduh itu sempat terpaku sejenak mengamati penampilan Aisyah yang mengenakan dress selutut berwarna biru pastel tanpa penutup kepala. Namun, bukannya menatap risih atau merendahkan, Ummi Khadijah justru tersenyum hangat dan melangkah mendekati Aisyah.
"Masya Allah... Terima kasih banyak ya, Nak Aisyah, sudah menolong putri Ummi," ucap Ummi Khadijah sangat lembut. Tapi begitu matanya menangkap luka tergores di lengan Aisyah, raut wajahnya berubah cemas. "Ya Allah, lenganmu terluka, Nak!"
"Gak apa-apa, Ummi, cuma tergores pisau dikit kok," senyum Aisyah canggung.
"Harus diobati segera! Nabila, ambilkan kotak P3K di kamar!" perintah Ummi Khadijah cepat.
"Siap, Ummi!" Nabila berlari kecil menuju lantai atas.
Tepat di saat yang bersamaan, langkah kaki dengan tongkat kayu terdengar bergema dari arah ruang tamu utama.
Abah Syekh Ali melangkah keluar dengan jubah putihnya. "Ada apa ini ramai-ramai, Ummi...?"
Kalimat Abah terputus di udara.
Mata tua Abah membelalak lebar begitu menangkap sosok wanita muda ber-dress selutut yang sedang berdiri di tengah Ndalem-nya.
Aisyah! Sang menantu rahasia!
Aisyah ikut membeku di tempatnya. Matanya beradu dengan pandangan mata Abah. Napas Aisyah tertahan di tenggorokan. Situasi ini benar-benar di luar kendalinya! Bagimana bisa ia berada di rumah mertua resminya tanpa ada rencana sedikit pun?!
Abah mencengkeram tongkat kayunya lebih erat, matanya mengisyaratkan terkejut yang luar biasa. Rahasia besar tentang pernikahan siri Ammar dan Aisyah sejauh ini hanya diketahui oleh Abah, Ammar, dan Aisyah sendiri. Ummi Khadijah serta Nabila sama sekali tidak tahu bahwa wanita ber-dress pendek di hadapan mereka ini adalah istri sah dari putra sulung sekaligus kakak laki-laki di rumah ini!
"A-Abah..." panggil Aisyah lirih, menundukkan kepalanya canggung.
Ummi Khadijah menoleh heran menatap suaminya. "Lho, Abah sudah kenal sama Nak Aisyah?"
Abah berdeham keras, mencoba menguasai keterkejutannya dengan cepat demi menjaga rahasia besar tersebut. "A-Ehem! Iya, Ummi... Aisyah ini... anak dari kenalan Abah. Abah pernah bertemu dengannya sekali di luar."
"Masya Allah, ternyata dunia sempit ya, Bah!" kekeh Ummi Khadijah tanpa rasa curiga sedikit pun.
Nabila kembali dengan membawa kotak obat perak. "Ini kotaknya, Ummi! Biar Nabila yang obatin lukanya Aisyah."
Nabila mendudukkan Aisyah di atas sofa ukir Ndalem dengan sangat telaten. Gadis berhijab syar'i itu membersihkan luka di lengan Aisyah menggunakan alkohol dan mengoleskan salep antibiotik, lalu menutupnya dengan kasa steril secara perlahan.
"Tahan sikit ya, Aisyah," bisik Nabila ramah. "Kamu berani banget sih, pakai acara nendang pisau copet segala. Kayak pahlawan di film-film!"
Aisyah tersenyum kaku. "Udah biasa di jalanan, Nab."
Di saat atmosfer di dalam ruang tamu Ndalem mulai sedikit rileks, suara deru langkah kaki yang sangat familiar mendadak terdengar dari arah pintu depan.
Sesosok pria tegap melangkah masuk dengan mengucap salam. Pria itu mengenakan baju koko putih bersih, celana kain gelap, dan peci hitam yang terpasang rapi. Bawaan kitab tebal ada di dalam pelukannya Habib Ammarullah. Ia baru saja selesai mengajar jam pagi di pesantren.
"Assalamu'alaikum, Abah, Ummi..." sapa Ammar dengan suara baritonnya yang tenang.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Ammar," jawab Ummi Khadijah.
Ammar melangkah masuk seraya menundukkan pandangannya secara santun. Namun, saat ia mendongak hendak meletakkan kitabnya di atas meja... matanya menyapu sosok wanita yang sedang duduk di sofanya.
DEG!
Langkah kaki Ammar mendadak terkunci di atas lantai marmer. Kitab tebal di pelukannya hampir saja merosot jatuh dari tangannya!
Mata cokelat terang milik Ammar membelalak hebat! Wajahnya yang tampan seketika berubah pucat pasi, lalu memerah padam dalam hitungan detik. Jakun di tenggorokannya naik-turun saat ia menelan ludah secara refleks.
Di sana... di tengah-tengah rumah suci keluarganya, di hadapan Abah, Ummi, dan adiknya... Aisyah—istri siri rahasianya sedang duduk santai! Dan yang membuat jantung Ammar serasa mau copot dari dadanya adalah penampilan Aisyah: istrinya itu hanya mengenakan dress selutut berwarna biru pastel yang memperlihatkan sepasang kaki jenjangnya yang mulus serta rambut hitam panjangnya yang terurai tanpa penutup kepala!
Aisyah menatap Ammar dengan mata bulatnya yang menyiratkan kepanikan yang sama besarnya.
Ammar langsung memalingkan wajahnya 90 derajat ke arah dinding, memejamkan matanya erat-erat seraya menyebut nama Allah di dalam hati.
"A-Astaghfirullahal'adzim..." gumam Ammar dengan suara bergetar tertahan.
Nabila yang tidak menyadari kepanikan hebat di dalam dada kakaknya, justru bangkit dari sofa dengan senyuman lebar, menghampiri Ammar dan menarik pelan ujung lengan baju kokonya.
"Mas Ammar! Sini deh!" panggil Nabila dengan nada sangat ceria. "Lihat, Nabila bawa siapa ke Ndalem!"
Ammar tetap mengunci pandangannya pada ujung karpet, menolak menatap lurus ke arah Aisyah. "Nabila... siapa wanita ini? Dan kenapa dia berpakaian seperti itu di dalam rumah kita?" tegur Ammar dengan nada kaku yang dibuat-buat, mencoba menutupi badai ketakutan di dadanya.
"Ih, Mas Ammar jangan galak-galak napa!" celetuk Nabila memprotes sifat kaku kakaknya. Nabila merangkul bahu Aisyah dan mengarahkannya berdiri di sampingnya.
"Kenalin, Mas! Ini namanya Aisyah! Dia ini pahlawannya Nabila pagi ini di pasar! Aisyah tadi berhasil menangkap copet yang nyuri dompet Nabila, sampai-sampai lengannya tergores pisau gara-gara menolong Nabila!" cerita Nabila dengan penuh kebanggaan.
Nabila menatap kakaknya dan Aisyah bergantian dengan binar gembira. "Aisyah ini seumuran sama Nabila, Mas! Umurnya sembilan belas tahun! Mulai hari ini Aisyah jadi sahabat barunya Nabila. Cantik dan berani banget kan, Mas Ammar?"
Sahabat baru... adik kandung... dan istri rahasia.
Suasana di dalam ruang tamu Ndalem mendadak mencekam dan sarat akan ketegangan yang tersembunyi.
Ammar perlahan memberanikan diri mendongak. Matanya yang cokelat tajam beradu pandang secara lurus dengan mata Aisyah. Di dalam pendar mata Ammar, terhampar campuran emosi yang luar biasa rumit: rasa terkejut, kepanikan atas rahasia besar mereka yang terancam membongkar, kecemburuan terselubung melihat adiknya begitu akrab dengan istrinya, serta desiran aneh saat melihat kecantikan polos Aisyah dalam balutan dress selutut di bawah pendar lampu rumahnya sendiri.
Aisyah menatap Ammar tanpa berkedip, menahan napas seraya menunggu kata apa yang akan keluar dari mulut Habib muda yang kini berstatus sebagai suaminya itu.