Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Mencekam
Malam
Alex dan James sudah lebih dahulu tidur dengan lelap.
Ayah dan anak itu kelelahan setelah bermain bersama seharian.
Perempuan kesayangan mereka berdua yang bernama Sintia masih terjaga di ruang depan yang menghadap ke jendela kaca besar.
Istri Alex itu sedikit kecewa dengan tempat tinggal suaminya bekerja.
Karena tempat ini sungguh sunyi.
"Dimana yang lain?",
"Malam ini mereka bermalam di kota",
Sintia mengira tempat ini akan ramai dengan teman-teman kerja Alex yang sudah ia kenal.
"Kalau sudah gelap, pintu dan jendela saya kunci rapat",
"Supaya tidak ada ular atau binatang berbahaya lain yang masuk ke dalam rumah",
"Sebaiknya kalau sudah malam Bu Sintia tidak usah keluar rumah",
"Di sini sepi tidak ada apa-apa",
Sintia berkenalan dengan seorang pekerja lokal yang ditugaskan untuk merawat rumah yang bernama Unang.
Unang sendiri tidur di kamar samping yang terpisah bangunan.
Hampir lewat tengah malam akhirnya Sintia mengantuk.
Sedari tadi ia menonton film drama sambil nyemil roti manis.
Tanpa sadar karena sudah kebiasaan. Sintia membuang sampah roti manis itu ke tempat sampah yang ada di luar rumah.
Ia tidak mau bungkus roti yang belepotan cokelat, keju, wijen dan susu kental manis itu memanggil barisan semut.
Sintia membuka pintu depan yang terkunci lalu membuang sampah di tempat sampah yang ada di sebelah tangga rumah yang meninggi.
Setelah selesai buang sampah. Sintia melihat ke arah hutan yang gelap.
Di antara pohon-pohon besar itu sekilas Sintia melihat ada yang berpindah.
Seperti melompat. Atau juga seperti terbang.
Itu pasti salah satu hewan malam yang sedang bermain atau mencari makan. Pikir Sintia.
Kemudian ibu dari James itu kembali masuk ke dalam rumah untuk tidur bersama dua laki-laki favoritnya.
Jam satu pagi
James terbangun.
Anak berumur enam tahun itu keluar kamar menuju ke ruang depan dimana ada lemari pendingin di sana.
Rupanya James dahaga.
Setelah minum segelas air dingin yang menyiram tenggorokan.
Hausnya hilang.
Perhatian James teralihkan.
Di luar sana anak kecil itu melihat ada cahaya merah yang beterbangan.
Karena penasaran dan terpikat James mau melihat dari lebih dekat.
Kebetulan pintu depan tidak dikunci.
James pergi keluar rumah.
Sementara itu di dalam kamar Sintia yang baru terbangun.
"James... ",
Menyadari anaknya sudah tidak ada di atas tempat tidur.
Sintia menyusul James keluar kamar.
Di ruang depan sang ibu melihat kulkas yang tidak tertutup rapat.
"James?",
Lalu ia terkejut ketika melihat anaknya yang sudah berada di luar rumah.
Berdiri di halaman depan sambil mendongak ke atas.
"Apa yang James lihat?",
"Ya Tuhan... ",
"James...!",
Sintia berlari ke luar demi menyelamatkan James.
"Lihat ibu, ada cahaya merah yang terbang-terbang",
"Apa yang kamu lakukan disini nak?",
"Ayo masuk ke dalam",
Sintia langsung mendekap anaknya.
Membawanya masuk ke dalam rumah untuk berlindung.
Sintia tahu betul apa cahaya merah yang terbang-terbang itu.
Itu adalah kuyang.
"Ah... Tolong... ",
"James... ",
"Alex... ",
"Alex... ",
Alex terbangun mendengar suara teriakan istrinya.
Jeritan Sintia meminta tolong.
"Ada apa?",
"Kenapa?",
Alex mendapati Sintia bersimpuh lesu di atas tanah di depan anak tangga depan pintu rumah yang terbuka.
"Mana James?",
Sintia malah menangis ketakutan.
"Dimana anak kita?",
Masih dalam keadaan syok dan histeris Sintia menjawab.
"Anak kita diculik... ",
"James diambil... ",
"Diambil siapa?",
"Diculik siapa?",
Ketegangan itu belum sampai pada puncaknya.
Tiba-tiba.
"Woi... Siapa kamu?",
"Jangan ambil istriku... ",
Di depan mata kepala Alex.
Muncul makhluk berwarna hitam legam yang datang dari langit.
Mengambil Sintia. Membawanya terbang dan pergi.
Emosi Alex campur aduk.
Percaya tidak percaya tapi benar-benar terjadi.
"Unang... Unang... ",
Alex memanggil Unang yang tidur di kamar samping.
Dengan mata sayu dan masih mengantuk.
Unang menghampiri Alex yang mondar-mandir di halaman rumah.
"Ada apa pak Alex?",
"Anak dan istriku diculik",
"Diculik pak?",
"Siapa?",
"Suwanggi",