Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31 — Hak Cipta, Paten, dan Cap Anti-Palsu
Pecahan cangkir di lantai Nexora tidak menghentikan orang meniru Studio Nusa Karya.
Satu minggu setelah siaran besar, Beni menemukan tiga puluh empat akun yang menjual "relief ala Mas Kalem". Sebelas memakai ulang foto TK Bintang Cemerlang. Enam memasang nama Nusa Karya tanpa izin. Tiga bahkan mengirim panel datar dengan iklan yang menjanjikan relief timbul aman untuk anak.
"Kita bikin video bongkar lagi?" tanya Beni.
"Tidak setiap pencuri perlu panggung."
Raka meletakkan tiga panel uji di meja Pengacara Wisnu. Masing-masing dibeli melalui transaksi tercatat. Di sampingnya ada tangkapan layar, faktur, tanggal unggah desain asli, file kerja berlapis, dokumentasi proyek, dan surat dari Bu Rina tentang kepemilikan foto sekolah.
Wisnu memeriksa daftar.
"Hak cipta timbul ketika karya diwujudkan, bukan setelah sertifikat turun," katanya. "Pencatatan di DJKI memperkuat administrasi pembuktian. Untuk nama dan tanda, kita ajukan merek. Bentuk panel tertentu mungkin masuk desain industri. Metode pemasangan modular yang baru bisa dikaji untuk paten sederhana, tetapi tidak ada jaminan dikabulkan."
"Berapa lama?"
"Pemeriksaan tidak selesai seminggu. Kita hanya bisa mengajukan dengan benar, lalu menyebut statusnya masih permohonan."
"Tulis begitu di semua materi."
Mereka menyusun empat lapis perlindungan.
Pertama, pencatatan hak cipta untuk dua belas desain visual, dokumentasi pola, dan modul pelatihan.
Kedua, permohonan merek Studio Nusa Karya beserta logo.
Ketiga, permohonan desain industri untuk tampilan panel modular tertentu.
Keempat, konsultasi paten dan pengajuan paten sederhana hanya untuk metode sambungan aman yang benar-benar memiliki unsur teknis, bukan untuk menguasai semua teknik relief di Indonesia.
"Kalau kita menulis seolah semua relief milik kita, kita sama saja dengan peniru," kata Raka.
Wisnu mengangguk. "Yang dilindungi adalah karya dan unsur spesifik yang bisa dibuktikan."
Di loket layanan kekayaan intelektual, berkas mereka menerima nomor permohonan. Raka menyimpan bukti pembayaran dan tanda terima digital. Petugas tidak menjanjikan keputusan cepat; semua permohonan tetap melewati pemeriksaan yang berlaku.
Perlindungan berikutnya justru dibuat di Studio.
Raka menggambar seekor naga dalam satu garis melingkar. Bentuknya berbeda dari liontin yang tersimpan di rumah; ini hanya lambang gerak tangan dan ketelitian yang berulang dalam karya ukirnya. Beni mengubahnya menjadi cap hologram kecil dengan nomor seri dan kode verifikasi.
Setiap karya resmi akan mendapat satu cap.
Nomor proyek, nama mitra pembuat, batch material, tanggal pemeriksaan, dan status garansi tercatat pada basis data. Kode publik hanya menunjukkan keaslian dan spesifikasi aman, bukan alamat atau data pribadi klien.
"Stiker bisa disalin," kata Beni.
"Karena itu cap bukan satu-satunya bukti. Nomor harus cocok dengan foto tahap kerja dan register."
"Jadi ini tidak membuat barang palsu mustahil."
"Tidak. Ini membuat kebohongan lebih mahal dan lebih mudah diperiksa."
Mereka mengirim somasi kepada enam akun yang memakai nama atau foto Studio. Lima menghapus materi dalam dua hari. Satu bengkel menolak dan mengirim wakil ke kantor Wisnu.
Pria itu meletakkan panel tiruan di meja.
"Motif hutan tidak mungkin dimiliki satu orang," katanya.
"Benar," jawab Raka. "Saya tidak menuntut hutan."
Ia membuka perbandingan.
Burung rangkong memiliki jumlah garis sayap yang sama. Urutan biji-tunas-daun-pohon identik. Empat wajah tersembunyi dalam kawung disalin sampai satu kesalahan grid kecil pada file pratinjau. Foto iklan mereka bahkan masih menyimpan bayangan papan nama TK yang sudah dipotong.
"Yang kami tuntut adalah penggunaan karya, foto, dan merek spesifik," kata Wisnu. "Transaksi uji, iklan, serta file pembanding telah diamankan. Jika tidak ada penyelesaian, gugatan perdata dan permintaan penurunan konten berjalan."
Wakil bengkel itu menelan ludah. "Biaya pengacara kalian akan lebih besar daripada kerugian."
"Bisa jadi," kata Raka. "Karena itu saya menawarkan dua jalur. Hentikan penggunaan materi saya dan jual desain Anda sendiri. Atau masuk program kemitraan resmi setelah lulus pelatihan serta pemeriksaan."
"Jadi saya harus membayar Anda?"
"Untuk memakai merek, modul, sistem verifikasi, dan jalur pesanan kami, ya. Untuk membuat karya Anda sendiri tanpa memakai semua itu, tidak."
Tidak ada ancaman kosong. Tidak ada tuntutan agar seluruh perajin tunduk.
Wakil tersebut meminta waktu mempelajari rancangan penyelesaian. Gugatan disiapkan, tetapi pintu menjadi mitra tetap terbuka selama pelanggaran dihentikan dan kerugian diselesaikan.
Malamnya, Studio mengadakan penjelasan daring.
Raka tidak menyebutnya waralaba instan. Program itu adalah kemitraan lisensi dengan badan usaha masing-masing. Peserta wajib mengikuti pelatihan keselamatan, memakai material yang dapat dilacak, menerima audit acak, menjaga hak pekerja, serta tidak menjanjikan laba.
Dari seratus delapan puluh pendaftar, dua puluh tiga lolos pemeriksaan dokumen. Delapan lolos tes sampel. Empat menandatangani perjanjian tahap awal dengan biaya lisensi, jaminan mutu terpisah, dan royalti berdasarkan proyek yang benar-benar selesai.
Uang tidak langsung disebut laba. Sebagian masuk dana pelatihan, pemeriksaan, teknologi verifikasi, dan cadangan klaim.
"Mengapa membuka teknik kalau orang bisa mencurinya?" tanya satu peserta.
"Bagian dasar harus bisa diajarkan," jawab Raka. "Standar keselamatan tidak boleh menjadi rahasia. Yang tetap terbatas adalah formula teruji, modul detail, daftar pemasok, serta data klien. Mitra mendapat akses sesuai tahap dan tugas."
Komentar lain muncul.
Bukankah lebih untung semua proyek dikerjakan sendiri?
"Jadwal Studio sudah penuh hampir tiga bulan. Jika kami memonopoli tenaga, klien menunggu dan peniru tumbuh. Kemitraan memberi perajin jujur cara memakai sistem secara legal. Kami mendapat royalti, mereka mendapat pasar dan pelatihan, klien mendapat jalur verifikasi."
Beni menampilkan cap hologram naga pertama.
Ketika dipindai, layar menunjukkan PROYEK DEMONSTRASI—BUKAN PRODUK KOMERSIAL. Nomor itu tidak dapat dipakai untuk mengesahkan barang lain.
Peserta bertepuk tangan melalui ikon layar.
Setelah sesi, Beni menunjuk papan organisasi baru.
"Empat mitra baru berarti kita perlu koordinator pelatihan dan kontrol dokumen."
Seorang pria yang sejak tadi membantu merapikan panel berdiri di dekat pintu. Galih adalah pemain bas dari kelompok musik lama Raka, jauh sebelum pernikahan dan Studio. Beberapa tahun terakhir ia berpindah pekerjaan di pemasok bahan bangunan.
"Galih paham material dan pernah mengatur kru," kata Beni. "Referensi kerjanya masuk."
Raka tidak langsung memberikan kunci.
"Masa percobaan tiga bulan," katanya. "Akses berdasarkan tugas. Perjanjian kerahasiaan. Tidak ada unduhan daftar klien atau formula lengkap."
Galih tersenyum. "Masih sama. Semua harus pakai aturan."
"Justru sekarang aturannya lebih banyak."
Ia menandatangani kontrak percobaan setelah membaca tiap halaman. Saat Beni membuka diagram akses, satu folder bertuliskan FORMULA INTI tampak sepersekian detik sebelum layar dikunci.
Pandangan Galih berhenti terlalu lama.
Beni menurunkan suara. "Ban, kalau formula itu bocor dari orang dalam?"
Raka menatap papan akses baru.
"Kita pastikan tidak ada satu orang pun memegang seluruh kunci."
Galih tersenyum dari sisi ruangan, tetapi matanya masih tertinggal pada folder yang sudah tertutup.