NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Lamaran di Malam Tahun Baru

Empat puluh menit sebelum konser malam tahun baru dimulai, ruang rias Laras dipenuhi aroma hairspray, teh melati, dan kegugupan.

Gaun rancangan Kirana melekat indah di tubuhnya. Warna emas sampanye membuat sulaman halus pada rok panjangnya berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya disanggul rendah, menyisakan beberapa helai lembut di dekat telinga. Di cermin, ia tampak seperti perempuan yang hidupnya sempurna.

Hanya Kirana yang tahu map berisi bukti kehamilan disimpan di bawah meja rias.

"Tanganmu dingin," kata Kirana.

"Karena pendingin ruangan."

"Bohong."

Sebelum Laras membalas, Gita mengetuk pintu. Di belakang asistennya berdiri Tiara dengan dua kotak camilan dan beberapa gelas minuman.

"Mbak Tiara dari kantor Mas Radit," kata Gita. "Katanya mau mengucapkan semoga sukses."

Tiara tersenyum manis. Wajahnya sudah kembali segar setelah keluar dari rumah sakit, meski alas bedak tidak sepenuhnya menyembunyikan pucat di sekitar bibir.

"Mas Radit sibuk menerima tamu keluarga," katanya. "Saya diminta memastikan Mbak Laras makan sebelum tampil."

Laras menerima gelas teh susu tanpa meminumnya. "Terima kasih."

Tatapan Tiara turun sekilas ke gaun dan cincin di jari Laras. Gerakannya singkat, tetapi cukup untuk memperlihatkan rasa iri yang sedang berusaha dibungkus kesopanan.

Laras memberi isyarat kecil kepada Kirana.

"Git, tolong cek ke koordinator apakah urutan encore berubah," kata Kirana. "Aku dengar konduktor minta tambahan."

Setelah Gita pergi, Laras membuka kotak minuman. "Kopinya tertukar. Saya pesan tanpa gula."

"Saya bisa menukarnya," Tiara langsung menawarkan.

"Kedai di lobi masih buka. Terima kasih."

Begitu Tiara keluar, Kirana mengunci layar ponsel pada tampilan kamera koridor yang sudah mereka pasang melalui sistem ruang persiapan. Mereka menunggu sampai sosok Tiara muncul kembali membawa kopi. Tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, Kirana meninggikan suara.

"Dokter bilang kamu seumur hidup nggak bisa hamil?"

Bayangan di layar berhenti.

Laras menundukkan kepala, mengikuti naskah yang mereka latih. "Jangan keras-keras."

"Radit tahu?"

"Tidak. Saya menyukai dia bertahun-tahun. Saya tidak mau dia menikahi saya karena kasihan."

"Tapi Eyang terus menagih cicit. Kalau perempuan lain hamil duluan, bagaimana?"

Laras memutar cincin di jarinya. "Justru itu yang saya takutkan. Saya dengar kalau ada cucu pertama sebelum akad, pembagian aset keluarga bisa dibuat terpisah. Ibunya juga pasti diterima demi nama Adiwangsa."

Di layar, tangan Tiara naik menutup perut. Lalu sudut bibirnya melengkung.

Senyum kemenangan.

Kirana menahan napas sampai Tiara mengetuk pintu. Ketika perempuan itu masuk, ia sudah kembali memasang wajah sopan dan menyerahkan kopi kepada Laras.

"Semoga konsernya sukses, Mbak."

"Terima kasih, Tiara."

Pandangan mereka bertemu. Tiara mengira ia baru menemukan kelemahan Laras. Laras melihat seseorang yang telah memilih sendiri untuk menggigit umpan.

Setelah Tiara pergi, Kirana memperbesar rekaman dan menyimpan salinannya. "Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan senyum."

"Jangan kirim apa pun malam ini," kata Laras. "Biarkan dia berpikir keputusan berikutnya sepenuhnya miliknya."

"Kalau dia langsung menemui Radit?"

"Lebih baik."

"Kalau dia menunggu sampai akad?"

Laras memandang dirinya di cermin. "Kita beri dorongan kedua setelah konser. Informasi tentang pembagian aset harus terasa mendesak, tapi tidak boleh datang dari nomor kita."

Kirana merapikan ujung gaunnya. Di balik nada bercandanya, wajahnya serius. "Ras, kalau rencana ini meledak, keluargamu mungkin tetap menyalahkan kamu."

"Mereka sudah menyalahkan saya saat saya hanya menunjukkan bukti. Setidaknya kali ini saya memilih ledakannya sendiri."

Lima menit kemudian, panggilan panggung terdengar.

Gedung konser malam itu penuh. Lampu kristal memantulkan kilau pakaian formal, kamera media bergerak di antara tamu sponsor, dan kursi depan diisi dua keluarga yang paling ingin Laras hindari. Pak Broto duduk di samping Bu Widuri. Pak Kusumo dan Bu Ratna berada beberapa kursi dari Radit.

Eyang tidak hadir dengan alasan pemulihan.

Di sisi lain baris depan, Bimo dan Gilang duduk bersama Bram.

"Kursi ini harusnya sudah habis tiga minggu lalu," bisik Bimo. "Kamu beli dari calo?"

"Kenal panitia."

"Panitia yang mana?"

Bram menatap panggung. "Yang bisa kasih kursi."

Gilang tertawa kecil. "Dia belajar jawab dari politisi."

Ketika Laras muncul, ruangan tenggelam dalam tepuk tangan. Bram tidak ikut berdiri. Ia hanya menatap, wajahnya tenang dan kedua tangannya bertaut terlalu kuat di pangkuan.

"Cantik banget," ujar Bimo. "Mas Radit beruntung."

"Kalau mau, aku minta abangku melamar kamu juga," jawab Bram dingin.

Bimo menoleh. "Aku cuma memuji. Kenapa kamu yang tersinggung?"

Gilang mengamati profil Bram, tetapi tidak berkata apa-apa.

Musik dimulai.

Di atas panggung, Laras tidak punya ruang untuk memikirkan apa pun selain nada. Jemarinya bergerak melalui program yang sudah disusun selama berbulan-bulan. Ketegangan di pundaknya larut sedikit demi sedikit. Musik mengambil kembali tubuhnya dari keluarga, proyek, dan cincin yang terasa seperti borgol.

Pada bagian lambat, aula menjadi begitu hening hingga bunyi napas penonton seolah berhenti bersama gerak tangannya. Laras membangun setiap kalimat musik dengan disiplin yang sama seperti ia menata jalan keluar dari pertunangan. Satu nada tidak boleh tiba terlalu cepat. Satu jeda tidak boleh terlalu lama. Kebebasan, seperti musik, membutuhkan waktu yang tepat.

Dari kursinya, Bram mengenali kebiasaan kecil Laras sebelum memasuki bagian sulit. Ibu jarinya mengusap sisi telunjuk sekali, lalu pergelangan tangannya turun. Ia pernah melihat gerakan itu dari jarak yang jauh, jauh sebelum Laras tahu namanya. Malam ini ia harus menahan keinginan untuk bangkit dan membawa perempuan itu pergi dari tatapan semua orang.

Bimo menyenggol lengannya ketika tepuk tangan pertama pecah. "Kamu datang buat musik atau buat pianisnya?"

"Buat kursinya," jawab Bram.

"Kursimu bahkan nggak nyaman."

"Makanya diam."

Bagian utama ditutup dengan energi besar dari Uvertur 1812. Bunyi perkusi terakhir meledak, dan seluruh gedung berdiri. Laras membungkuk bersama konduktor, meninggalkan panggung, lalu kembali ketika tepuk tangan tidak berhenti.

Encore pertama telah direncanakan. Encore kedua juga.

Saat panggilan ketiga datang, seorang koordinator menghampirinya dengan senyum aneh.

"Liebestraum," katanya. "Permintaan sponsor utama."

Laras menatapnya. Karya itu tidak ada dalam urutan final yang ia setujui. Namun ribuan orang masih menunggu. Menolak di balik tirai akan menciptakan masalah sebelum ia tahu siapa yang mengaturnya.

Ia kembali ke piano.

Nada awal Liebestraum mengalir lembut, romantis, hampir terlalu sempurna untuk malam pergantian tahun. Penonton menyalakan kamera. Di layar besar, wajah Laras tampak bercahaya. Ia memainkan setiap frasa tanpa cacat, sementara firasat buruk perlahan naik ke tenggorokan.

Begitu nada terakhir menghilang, seharusnya ia berdiri.

Orkestra justru mulai memainkan Salut d'Amour.

Sejumlah pemain tersenyum kepadanya. Lampu utama meredup. Satu jalur cahaya muncul dari sisi panggung, mengarah pada tangga kecil menuju panggung tambahan.

Laras tidak perlu menoleh untuk tahu.

Radit berjalan masuk mengenakan setelan putih gading. Ia membawa buket mawar merah dan mikrofon kecil terpasang di kerah. Tepuk tangan berubah menjadi jeritan gembira.

Di baris depan, Bu Widuri menutup mulut seolah terkejut. Mata Pak Broto justru tertuju pada kamera media. Bu Ratna sudah menangis bahagia.

Bram tidak bergerak.

Radit berhenti di depan Laras dan menyerahkan mawar. "Malam ini semua orang merayakan awal yang baru. Buat saya, awal terbaik selalu kamu."

Kata-katanya mengalir lancar, terlalu lancar untuk spontan.

Ia berbicara tentang bagaimana Laras membuatnya ingin menjadi lelaki lebih baik, tentang jadwal padat yang tetap mereka jalani bersama, tentang keluarga yang sudah lama menantikan penyatuan mereka. Tidak ada satu kalimat pun mengenai apa yang Laras sukai, apa yang ia takutkan, atau luka apa yang baru diberikan Radit kepadanya.

Seluruh pidato itu adalah kisah tentang Radit sendiri.

"Dua puluh empat hari lagi adalah peringatan pertunangan kita," lanjutnya. "Dan enam belas hari lagi, kita akan mengucapkan akad yang sudah ditunggu keluarga. Tapi saya tidak mau menuju hari itu tanpa bertanya sekali lagi di depan semua orang yang mencintai kita."

Dada Laras sesak.

Ini bukan pertanyaan. Ini jebakan dengan lampu, musik, keluarga, sponsor, dan kamera. Jika ia menolak, berita pertama tahun baru akan menghancurkan nama kedua keluarga serta menyeret konsernya menjadi skandal. Jika ia tersenyum, dunia akan menganggap jawabannya sudah diberikan.

Radit turun dengan satu lutut.

Kotak beludru di tangannya terbuka. Sebuah cincin berlian berbentuk tetesan air memantulkan sorot lampu ke wajah Laras.

Di belakang panggung, Tiara berdiri di antara staf. Satu tangan menekan perutnya, sementara wajahnya kehilangan warna.

Beberapa meter darinya, Kirana menangkap perubahan itu. Umpan tentang warisan telah bekerja, tetapi tak satu pun dari mereka memperkirakan Radit akan menambah tekanan sebesar ini malam yang sama. Kirana meraih ponsel, siap menyimpan apa pun yang terjadi berikutnya sebagai bukti baru.

Di baris depan, Bram perlahan melepaskan tautan jemarinya. Tatapannya jatuh pada cincin itu, lalu naik ke mata Laras.

Radit tersenyum seolah kemenangan sudah menjadi miliknya.

"Maukah kamu menikah denganku?"

Ribuan orang menahan napas, menunggu akhir romantis yang telah dijanjikan panggung.

Laras mencengkeram buket dengan satu tangan dan menusukkan kuku tangan lainnya ke telapak sampai terasa perih. Ia membutuhkan air mata untuk kamera, tetapi rasa muak telah mengeringkan matanya.

Sorot lampu menguncinya di tempat. Kotak cincin tetap terbuka. Tepuk tangan menunggu satu gerakan kepala.

Namun selama beberapa detik yang terasa seperti satu tahun penuh, Laras tidak menjawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!