NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

"Bunuh mereka sekarang juga!" teriak Walikota sambil melangkah mundur mencari perlindungan.

Dor. Dor. Dor.

Suara tembakan langsung memenuhi ruang kaca yang luas itu.

Prang. Trang.

Kaca-kaca tebal yang menjadi dinding ruangan hancur berhamburan terkena peluru nyasar.

Kenji menekan kepala Anya ke bawah dan membawanya berlindung di balik meja marmer yang tebal.

"Bima, tahan posisi depan!" perintah Kenji sambil terus menembak ke arah pintu masuk.

"Baik, Tuan Muda, pasukan kita di luar sedang mencoba mendobrak masuk!" balas Bima di sela-sela desingan peluru.

Anya menutup kedua telinganya sambil meringkuk di lantai marmer yang dingin.

Jantungnya berdetak sangat cepat hingga rasanya mau meledak.

"Kenji, jumlah mereka terlalu banyak, kita akan kehabisan peluru," ucap Anya dengan suara gemetar.

"Aku tahu, kita butuh celah untuk keluar dari ruangan ini," jawab Kenji sambil mengganti magasin pistolnya.

Klak.

Walikota tertawa keras dari balik pilar besar di luar ruangan.

"Kalian tidak akan bisa keluar dari sana, Kenji Bratadikara."

"Bahkan jika kalian punya dokumen LunaraMode itu, kalian akan mati malam ini juga."

Mendengar nama dokumen itu disebut, Anya kembali mengingat tugas utamanya.

Dia mengaktifkan kemampuan Mata Elangnya untuk memindai seluruh ruangan.

Pandangannya menembus asap mesiu dan debu kaca yang berterbangan.

[Peringatan: Panel listrik utama berada di dinding sebelah kanan, jarak lima meter.]

Anya melihat sebuah kotak besi berwarna abu-abu yang menempel di dinding.

Di dalam kotak itu terdapat kabel-kabel besar yang mengalirkan listrik ke seluruh rumah.

"Kenji, aku melihat panel listrik utama rumah ini," lapor Anya cepat.

"Bisa kau menembaknya dari posisimu?" tanya Kenji tanpa menoleh.

Anya mengintip sedikit dari balik meja marmer dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak bisa, terhalang oleh rak buku, aku harus bergerak ke kiri sekitar dua meter," jawab Anya.

"Itu terlalu berbahaya, kau bisa tertembak," tolak Kenji tegas.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan panik dari arah pintu masuk.

"Suamiku, ada apa ini, kenapa banyak tembakan?!"

Itu adalah suara Nyonya Ratna.

Wanita paruh baya itu tiba-tiba berlari masuk ke arah ruang kaca karena kebingungan.

"Ratna, jangan ke sana, menyingkir!" teriak Walikota panik.

Namun Nyonya Ratna sudah terlanjur masuk ke tengah area baku tembak.

Dor. Dor.

Dua buah peluru nyasar nyaris saja mengenai lengan wanita itu.

"Kyaaa!" jerit Nyonya Ratna sambil berjongkok dan menutupi kepalanya.

Para penjaga Walikota langsung menghentikan tembakan mereka karena takut melukai istri bos mereka.

"Tahan tembakan, jangan sampai Nyonya terkena peluru!" teriak salah satu kepala penjaga.

Keheningan sesaat itu menjadi satu-satunya kesempatan yang dimiliki Anya.

Tanpa menunggu perintah Kenji, Anya langsung melompat keluar dari balik meja marmer.

"Anya, jangan bodoh!" teriak Kenji kaget melihat aksi nekat gadis itu.

Anya tidak mempedulikan teriakan Kenji.

Dia berguling cepat ke arah kiri dan langsung mengangkat pistol peraknya.

Matanya menatap fokus ke arah kotak panel listrik di dinding.

Tarik napas, tahan, dan tembak.

Dor.

Peluru perak itu melesat lurus dan menghantam tepat di tengah panel listrik tersebut.

Bum.

Suara ledakan kecil terdengar diiringi percikan api yang menyala terang sesaat.

Setelah itu, seluruh lampu di kediaman Walikota langsung padam total.

Gelap gulita.

"Sialan, nyalakan senter kalian!" teriak Walikota dalam kegelapan.

Namun sebelum para penjaga itu sempat menyalakan senter senjata mereka, Kenji sudah bergerak.

Bagi seorang Kenji Bratadikara, kegelapan adalah arena bermainnya yang paling mematikan.

Sring.

Suara pisau ditarik dari sarungnya terdengar samar di telinga Anya.

"Arghhh!"

Terdengar suara jeritan kesakitan dari arah pintu masuk secara bertubi-tubi.

Cras. Bruk.

Tubuh-tubuh para penjaga itu berjatuhan ke lantai tanpa ampun.

Anya menggunakan pandangan termalnya untuk melihat pergerakan Kenji.

Pria itu bergerak seperti bayangan, menebas leher dan dada musuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Kenji untuk membersihkan jalan keluar mereka.

"Ayo kita pergi sekarang," ucap Kenji tiba-tiba sudah berada di samping Anya.

Tangan besar Kenji langsung mencengkeram tangan Anya dan menariknya berdiri.

Grep.

Mereka berlari menerobos pecahan kaca dan mayat-mayat penjaga yang berserakan.

"Suamiku, tolong aku!" tangis Nyonya Ratna terdengar sangat memilukan di sudut ruangan.

Walikota tidak mempedulikan istrinya sama sekali.

Pria gempal itu sudah berlari kabur lebih dulu saat kegelapan turun.

"Pengecut," gumam Anya pelan melihat Walikota meninggalkan istrinya begitu saja.

"Bima, kita mundur lewat jendela belakang!" perintah Kenji melalui alat komunikasi.

"Siap, Tuan Muda, saya di belakang Anda," jawab Bima.

Kenji mengangkat kursi besi di dekatnya dan melemparkannya ke arah dinding kaca yang masih utuh.

Prang.

Kaca itu hancur berkeping-keping membuka jalan keluar langsung menuju taman belakang.

Wusss.

Angin malam dan hujan deras langsung menerpa wajah Anya saat mereka melompat keluar.

Tap. Tap.

Kaki mereka mendarat di atas rumput taman yang basah dan berlumpur.

Mereka berlari sekuat tenaga menembus hujan deras menuju arah mobil van yang sudah menunggu.

Sesampainya di mobil, Bima langsung melompat ke kursi kemudi dan menyalakan mesin.

Vrooom.

Kenji mendorong tubuh Anya masuk ke bagian belakang mobil lalu ikut menyusul ke dalam.

Blam.

Pintu mobil van ditutup rapat saat mobil itu melesat pergi meninggalkan kediaman Walikota.

Anya menyandarkan punggungnya di kursi mobil sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

Hah. Hah.

Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh air hujan, tapi dia masih menggenggam senjatanya erat-erat.

Kenji duduk di sebelahnya dan langsung membuka tas anti air yang dia bawa.

Pria itu mengeluarkan map berisi dokumen LunaraMode dan memeriksanya sebentar.

"Dokumennya aman, tidak basah sama sekali," ucap Kenji dengan nada lega.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!