Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Cek Kosong, Angka Penuh
Empat hari setelah pemakaman, Bella akhirnya menelepon.
Arya baru saja menaruh bunga terakhir di makam Nenek Ratna. Tanah merah di hadapannya masih basah, dan payung-payung para pelayat sudah menghilang di tikungan jalan desa.
"Nenek di rumah mana?" tanya Bella tanpa salam. "Mama bilang rumahnya kosong."
Arya menatap nisan sederhana itu. "Sudah dimakamkan."
Sunyi di seberang.
"Kapan?"
"Pagi setelah beliau meninggal."
"Kenapa kamu enggak bilang?"
Untuk pertama kalinya, suara Bella kehilangan nada kesalnya. Ada rasa bersalah yang nyata. Dulu Arya mungkin akan memegang rasa bersalah itu, merawatnya seperti sisa harapan.
Sekarang ia hanya berkata, "Saya menelepon delapan belas kali."
Bella menarik napas. "Ponselku mati. Reno baru pulang dan..."
"Tidak perlu menjelaskan."
"Arya, dengarkan dulu."
"Saya akan ke apartemen besok pagi. Ada barang yang harus saya ambil."
Ia memutus panggilan sebelum Bella sempat bertanya lebih jauh.
Keesokan harinya, matahari Surabaya menembus sela gedung ketika Toyota Kijang tua berhenti di basement apartemen. Arya naik membawa satu koper kosong. Tidak ada pengawal, tidak ada lelaki besar dari malam di rumah Nenek, dan tidak ada tanda bahwa hidupnya telah bergeser.
Pintu apartemen masih mengenali sidik jarinya.
Di ruang tamu, semua benda berada di tempat lama. Foto pernikahan tergantung di dinding. Cangkir biru kesukaannya terbalik di rak. Sandal rumahnya masih berada di bawah meja seolah pemiliknya hanya pergi membeli makan.
Arya membuka lemari dan mengisi koper dengan dua pasang pakaian, sebuah jam murah pemberian Nenek Ratna, serta map berisi dokumen pribadinya. Barang lain ia tinggalkan.
Tujuh tahun pernikahan ternyata muat dalam satu koper kabin.
Di atas meja, ia meletakkan sebuah map cokelat. Di dalamnya terdapat surat pernyataan pelepasan hak atas harta bersama yang telah diperiksa notaris. Apartemen, mobil, tabungan rumah tangga, dan perabot akan ditinggalkan untuk Bella. Bukan karena Bu Wulan berhak menyebutnya benalu, melainkan karena Arya tak ingin satu rupiah pun menjadi tali yang menariknya kembali.
Ia menandatangani halaman terakhir.
Klik.
Pintu terbuka sebelum tintanya kering.
Bella masuk lebih dulu, diikuti Bu Wulan dan Reno. Ketiganya berhenti ketika melihat koper di dekat kaki Arya.
"Jadi kamu benar-benar mau pergi?" Bella bertanya.
"Bukankah itu yang kalian inginkan?"
Bu Wulan menaruh tasnya dengan keras. "Jangan bicara seolah kami mengusirmu. Tujuh tahun kamu makan dari penghasilan Bella. Sekarang Reno kembali, setidaknya tahu diri dan jangan bikin keributan."
Arya mendorong map cokelat ke tengah meja. "Saya sudah tahu diri."
Bella mengambil dokumen itu. Matanya bergerak cepat dari satu paragraf ke paragraf berikutnya.
"Kamu melepaskan semuanya?"
"Secara sukarela. Notaris sudah membubuhkan legalisasi. Dokumen itu bisa dipakai pengacaramu sebagai dasar pembagian harta ketika proses perceraian diajukan."
"Jangan sok bermartabat," potong Bu Wulan. "Memangnya ada yang bisa kamu tuntut? Semua ini hasil kerja anak saya."
Arya tidak menanggapi. Ia mengangkat koper.
Reno menghalangi jalan menuju pintu.
Jas mahalnya rapi, jam di pergelangan tangannya sengaja terlihat. Ia mengeluarkan buku cek dari saku dalam dan menulis sesuatu sambil tersenyum.
"Tunggu dulu. Gue enggak suka punya utang."
Selembar cek dijepit di antara dua jarinya.
"Dua puluh juta rupiah," katanya. "Cukup buat sewa kamar murah dan beli tiket keluar Surabaya. Anggap saja kompensasi karena lo akhirnya sadar posisi."
Bella menatap Reno. "Enggak perlu begini."
"Perlu." Reno mengulurkan cek lebih dekat ke wajah Arya. "Orang seperti dia biasanya pergi hari ini, besok balik lagi minta uang. Gue mau semuanya bersih."
Arya memandang angka di cek, lalu wajah Reno.
"Kamu yakin ingin membayar saya?"
Reno tertawa. "Ambil saja. Jangan pura-pura punya harga diri."
Arya menaruh koper. Ia mengambil cek itu.
Bu Wulan mendengus puas. Reno tersenyum lebih lebar. Di wajah Bella muncul sesuatu yang mirip kecewa, meskipun ia sendiri tak berhak atas kekecewaan itu.
"Nah," ujar Reno, "ternyata gampang."
Arya mengulurkan tangan. "Bolpoinmu."
"Buat apa?"
"Tanda tangan penerimaan. Bukankah kamu ingin semuanya bersih?"
Reno menyerahkan bolpoin berlapis emas. Arya menjepit cek di atas map perceraian. Dengan satu garis, ia mencoret angka dua puluh juta.
Lalu ia menulis angka baru.
Rp15.000.000.000.
Lima belas miliar rupiah.
Ruangan itu seketika sunyi.
Arya menambahkan namanya di bawah angka tersebut. Bukan tanda tangan untuk mencairkan cek, melainkan tanda yang tenang, lurus, dan terlalu percaya diri untuk disebut lelucon.
Reno menatap angka itu beberapa detik sebelum wajahnya memerah. "Lo gila?"
"Kamu bilang tidak suka berutang." Arya mengangkat cek itu. "Kalau suatu hari ingin membeli harga diri saya, mulai dari angka ini."
Ia meremas kertas tersebut menjadi bola kecil.
"Tapi sayangnya, cekmu tetap tidak cukup."
Bola kertas itu memantul tepat di dada Reno dan jatuh di ujung sepatunya.
Bu Wulan ternganga. Bella tidak berkata apa-apa. Pandangannya tertahan pada wajah Arya, seolah baru sadar kacamata hitam berbingkai tebal yang dipakai suaminya selama bertahun-tahun tak mampu menyembunyikan ketenangan di baliknya.
Reno mencengkeram kerah Arya.
"Berani sekali lo mempermainkan gue!"
Arya menunduk menatap tangan itu. "Lepaskan."
Hanya satu kata.
Senyum Reno membeku. Ada sesuatu pada suara Arya yang tak pernah ia dengar dari lelaki yang selalu digambarkan Bella sebagai suami lemah. Bukan kemarahan. Bukan gertakan. Sebuah kepastian dingin bahwa tangan itu bisa dipatahkan jika tetap berada di sana.
Reno melepaskannya, lalu menutup rasa gentar dengan tawa mengejek. "Pergi sana. Dasar kodok buduk."
Arya mengambil koper.
Di depan Bella, ia berhenti. "Dokumen itu pilihan saya. Jangan pernah bilang ibumu atau Reno mengambil semuanya. Saya yang meninggalkannya."
Bella memeluk map cokelat. "Apa selama ini kamu memang ingin pergi?"
"Tidak." Arya menatapnya lurus. "Itulah kebodohan saya."
Ia berjalan keluar.
Di koridor, pantulan dirinya muncul pada dinding lift yang mengilap. Rambut agak berantakan, kemeja sederhana, dan kacamata hitam tanpa lensa resep yang membuat wajahnya tampak selalu lesu.
Arya melepas kacamata itu.
Nenek Ratna pernah memintanya menyembunyikan tatapan, kekuatan, dan masa lalunya agar hidup tenang. Selama tujuh tahun, ia menurut. Ia menundukkan kepala, membiarkan orang mengira dirinya tidak mampu, dan mencoba menjadi suami biasa.
Kehidupan biasa itu berakhir di depan sebuah makam.
Pintu lift terbuka. Arya melempar kacamata palsu ke tempat sampah di samping tombol panggil.
Kacamata itu membentur kaleng, lalu tenggelam di antara gelas kopi dan tisu kotor.
Saat pintu lift menutup, Bella berlari keluar apartemen.
"Arya!"
Yang dilihatnya hanya celah terakhir sebelum dua daun pintu bertemu. Tanpa kacamata, tatapan Arya tampak asing, tajam, hidup, dan sama sekali tidak menyerupai lelaki yang selama ini ia kasihani.
Di basement, sebuah mobil hitam telah menunggu di samping Kijang tua. Lelaki besar dari malam pemakaman berdiri di dekat pintu belakang, tetapi Arya menggeleng.
"Saya bawa mobil sendiri."
Lelaki itu tidak memaksa. "Rute ke timur sudah bersih."
Ponsel hitam Arya menerima pesan dari R.
Kendaraan siap. Semua jejak lama telah ditutup.
Arya memasukkan koper ke belakang Kijang, lalu duduk di kursi pengemudi. Melalui kaca spion, ia melihat pintu lift basement terbuka dan Bella muncul dengan napas terengah. Reno berdiri jauh di belakangnya, masih menggenggam cek kusut senilai lima belas miliar.
Arya merapikan kerah kemeja.
Cahaya pagi menembus kaca depan dan jatuh tepat pada matanya yang kini tidak lagi bersembunyi.
"Pulang," katanya pelan.