Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
“Kak Aiden?” panggilnya pelan.
Aidoneus terlihat berdiri sembari tersenyum. Di tangannya terdapat sesuatu, tapi Ophelia tidak bisa menebak apa itu.
Matanya terasa berat, tubuhnya menggigil dan—hm? Wangi.
Wangi apa ini? Teh? Bukan. Pohon atau… padang rumput?
“Kamu demam,” ucap Kak Aiden di telinganya. Kenapa suara dia terdengar dekat sekali? Kenapa—oh.
Ophelia ada di pelukannya? Kapan ia terjatuh?
Ophelia mesti berdiri.
Bersandar pada seseorang begini—
“...menyedihkan.”
...****************...
Aidoneus memandang datar pada gadis yang sepenuhnya lemas di pelukannya. Dia memejamkan mata, entah tak sadarkan diri karena rasa sakit atau tubuhnya sudah tidak kuat untuk tetap terbangun.
Mungkin keduanya.
Terlebih kata terakhir yang dia sebutkan itu—
“Hidupmu terdengar berat sekali ya?”
“Lia!” Airin yang datang langsung berteriak. “Lia kenapa? Dia pingsan?”
“Dia demam,” jawab Aidoneus singkat. Dia mengangkat Ophelia dengan kedua tangannya—berusaha menghindari punggung gadis itu.
“Kita bawa dia ke kamar tamu.”
“Oke,” angguk Airin.
Aidoneus dengan hati-hati membaringkan Ophelia di atas kasur. Dia juga dengan perlahan mengatur posisi gadis itu agar berbaring menyamping.
“Kenapa dibaringkan begitu?” tanya Airin pelan.
“Ada luka di punggungnya.” Aidoneus melihat salep yang ada di tangannya. Hanya ini tidak cukup. “Bisa kamu ganti bajunya ke sesuatu yang lebih longgar? Sesuatu yang tidak akan mudah menyentuh punggungnya kalau bisa.”
“Aku punya itu.”
Airin langsung berlari ke kamarnya dan kembali membawa gaun tidur panjang berwarna biru.
“Lihat lukanya,” ucap Aidoneus pelan. “Kakak akan menunggu diluar, beritahu seberapa parah nanti.”
Airin langsung terdiam.
Ketika pintunya ditutup, ia memandang Ophelia yang masih tak sadarkan diri dengan tatapan dalam.
Ia takut.
Apa yang akan dilihatnya? Apa yang sedang dilalui Ophelia?
Dengan perlahan, Airin membuka resleting jaket itu dan kaus dalam yang dipakai temannya. Dia langsung mundur sembari menutup mulut ketika melihat bekas cambukan berdarah yang terlihat benar-benar bengkak di sana.
Bukan cuma beberapa, tapi ada banyak.
Airin langsung terduduk lemas dengan air mata yang mulai menetes ke lantai.
“Airin.” Ketukan di pintu menyadarkannya. “Bagaimana?”
Gadis itu mengusap air matanya dan dengan hati-hati mengganti baju Ophelia. Setelah selesai, dia keluar dari kamar itu dengan langkah lemas.
“Ada—ada banyak bekas cambukan di punggungnya.” Airin terisak. “Bengkaknya terlihat parah, ada beberapa yang berdarah juga.”
Aidoneus mengangguk. Prediksinya tepat sasaran.
Ia memberikan dua salep pada Airin. “Pakai yang ini untuk lukanya. Ini antibiotik, rasanya mungkin akan sakit tapi harus tetap dipakai. Yang ini untuk memar.”
Airin menerima dua obat itu.
“Ini untuk demamnya.” Kali ini Aidoneus memberi obat berbentuk tablet. “Berikan padanya waktu dia bangun. Tadi dia sudah makan ‘kan?”
Gadis itu mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar, meninggalkan Aidoneus yang masih berdiri walau pintu di depannya sudah tertutup rapat.
Untung saja Arga, si maniak petarung itu punya banyak obat khusus lebam dan luka jadi Aidoneus tidak perlu repot-repot pergi ke apotek untuk urusan ini.
Tapi jauh lebih baik membawanya ke rumah sakit.
Hanya saja, jika lukanya memang benar bekas cambukan berarti yang melakukan itu adalah seseorang yang dekat dengan Ophelia. Dan dari pengamatannya selama di pesta—
“Randi Pratama ya?”
Aidoneus ingat tatapan pria itu seperti seseorang yang tidak punya emosi, seperti manusia tanpa empati yang hanya peduli dengan tujuannya sendiri.
Kalau dia yang memberi cambukan itu, membawa Ophelia ke rumah sakit atau memberitahukan lukanya pada orang lain hanya akan membuat posisi gadis itu semakin buruk.
Dia bisa saja disiksa lebih parah.
Aidoneus tersenyum kecil, ia melihat tangannya yang masih merasakan suhu hangat gadis itu.
“Nah,” gumamnya. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”
...****************...
Perih.
“Ow.”
“Oh, maaf.” seseorang langsung tersentak. “Sakit ya? Aku bakal lebih hati-hati.”
“Airin?” panggilnya.
Gadis itu terlihat berdiri di samping Ophelia yang tertelungkup, mengoleskan sesuatu yang membuat lukanya semakin sakit.
Oh, Lukanya?
“Ketahuan ya?” gumam Ophelia.
“Maaf,” gadis itu terisak. “Aku harusnya sadar sesuatu. Aku harusnya bisa membantu lebih awal.”
Memangnya apa yang bisa dia lakukan?
“Bukan salahmu,” ujar Ophelia pelan. “Bahkan aku tidak bisa melakukan apa-apa soal ini.”
Jika disiksa begini adalah takdirnya, mau dunia jungkir balik pun mungkin hal ini akan tetap terjadi. Tapi setidaknya Ophelia masih hidup. Itu yang paling penting.
“Lukaku dilihat siapa saja?”
“Kak Aiden. Bundaku bahkan tidak tau.”
Oh.
Mengingat Ophelia tak sadarkan diri di pelukannya pastilah dia sadar.
“Aku bakalan ganti ke obat lain. Yang ini harusnya tidak sakit.”
Dan itu benar.
Ketika salep itu menyentuh lebam di punggung Ophelia rasanya dingin dan nyaman.
“Kata Kak Aiden kamu juga harus minum obat,” gadis itu masih terisak. “Kamu demam sampai pingsan tadi.”
Ophelia hanya berdehem. Rasa nyeri di punggungnya menurun drastis sampai ia rasa bisa tertidur sekarang. Tapi—
“Jam berapa ini?” tanyanya. “Aku mesti pulang.”
“Kamu bisa menginap. Aku bisa minta Bunda buat bilang ke Ayahmu soal itu,” ujar Airin cepat.
Ophelia rasa Randi tidak akan mau mengambil resiko.
“Keajaiban kalau dia mengizinkan,” gumamnya.
Airin langsung terdiam. Ia kembali fokus mengoleskan salep ke punggung Ophelia dan duduk di sampingnya ketika selesai.
Ophelia tersenyum kecil, “Terima kasih.”
Gadis itu hanya mengangguk dan memeluk lutut—tidak berbicara apa-apa.
Punggungnya terasa jauh lebih baik, Ophelia rasa ia akan meminta merk obat yang dipakai Airin barusan. Efeknya jauh lebih baik dari yang disediakan di kediaman Pratama.
Jika kembali ke sana pun sepertinya tidak akan menjadi masalah asalkan ia bisa meyakinkan Airin dan Kak Aiden untuk tutup mulut—
Airin kembali terisak.
Gadis itu terlihat menahan tangisnya tapi tidak berhasil karena air mata itu terus mengalir.
“Hey.” Ophelia mencoba untuk duduk perlahan. Ia mengulurkan tangan dan mengusap pipi Airin beberapa kali. “Kenapa malah kamu yang menangis?”
Tangisannya semakin menjadi.
Ophelia hanya tersenyum kecil dan menarik Airin ke dalam sebuah pelukan. Ia mengelus pelan belakang kepala gadis itu—berniat menenangkannya.
Dia menanggapi ini lebih dalam dari Ophelia ya?
Ia tidak tahu siapa yang paling terluka sekarang.
“...kenapa?” tanyanya ketika mulai tenang. “Apa ini karena kamu anak adopsi? Apa mereka membencimu karena itu?”
Ophelia menggeleng. “Kalau itu alasannya Chelsea tidak akan bernasib sama sepertiku.”
Airin langsung membulatkan mata.
“Aku saja,” Ophelia memperbaiki poni Airin yang terlihat berantakan. “Yang baru setahun tinggal di kediaman Pratama sudah merasa benar-benar muak. Apalagi Chelsea yang lahir dan dibesarkan di sana.”
Gadis itu langsung berkata cepat. “Kamu bisa tinggal di sini, keluargaku nggak bakal keberatan. Kak Chelsea juga. Kalau nggak di sini kami punya rumah lain—”
Ophelia kembali tersenyum, membuat Airin kembali terdiam.
Yah, tidak akan semudah itu.
Mental Chelsea sudah ditempa sedemikian rupa oleh Randi dan Yelena untuk tetap patuh pada mereka. Sedangkan bagi Ophelia, kabur dan menghindari masalah bukan tujuannya kembali ke kediaman Pratama.
Kalau dia ingin hidup damai dan tentram, dia tidak akan membuat keputusan untuk kembali diadopsi oleh mereka.
“Maaf aku tidak bilang apa-apa,” ucapnya pelan. “Harusnya aku langsung meminta bantuan sesampainya di sini.”
Airin langsung menunduk. “...tidak ada yang bisa kulakukan?”
“Kamu mengobatiku lho.” Ophelia tersenyum. “Itu lebih dari membantu. Luka di punggung sangat sulit untuk diobati sendiri.”
Perkataan itu sepertinya tidak cukup untuk membuat Airin berhenti murung.
Tapi—
Ophelia melirik ponselnya yang ada di atas nakas. Bagaimana kabar Chelsea sekarang?