NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGAWAL YANG MENYIMPAN DUA KESETIAAN

“Yang Mulia?”

Suara Lù Shān terdengar sekali lagi dari balik pintu.

Yuán Zhēn masih berdiri di dekat meja, memegang halaman tua yang mencantumkan nama pengawalnya. Ia tidak segera menjawab. Pandangannya beralih dari tulisan itu ke pintu yang tertutup rapat.

Selama bertahun-tahun, Lù Shān telah berdiri di sisinya. Lelaki itu pernah menyelamatkannya dari penyergapan di luar ibu kota, pernah menjaga rahasia pribadinya, dan berkali-kali mempertaruhkan keselamatan demi melaksanakan perintahnya.

Namun, kesetiaan yang panjang tidak selalu berarti seseorang tidak menyimpan rahasia.

“Masuklah,” kata Yuán Zhēn akhirnya.

Pintu terbuka.

Lù Shān masuk dan berlutut seperti biasa.

“Yang Mulia, saya telah menemukan tempat persembunyian Putri Yǎn. Ia diduga tinggal di sebuah kediaman lama di sebelah barat kota.”

Yuán Zhēn meletakkan halaman itu di atas meja, lalu menutupinya dengan dokumen lain.

“Bagaimana kau menemukannya?”

“Seorang mantan pelayan kerajaan memberikan petunjuk kepada saya.”

“Siapa nama pelayan itu?”

Lù Shān terdiam sesaat.

“Namanya tidak tercatat dalam daftar istana.”

Jawaban tersebut terdengar sederhana, tetapi Yuán Zhēn menangkap keraguan kecil sebelum Lù Shān mengucapkannya.

“Apakah kau pernah bertemu Putri Yǎn sebelumnya?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Apakah kau mengetahui alasan namanya dihapus dari silsilah kerajaan?”

“Tidak sepenuhnya.”

Yuán Zhēn menatapnya.

“Tidak sepenuhnya?”

Lù Shān menundukkan kepala.

“Saya hanya mengetahui bahwa Putri Yǎn pernah terlibat dalam sebuah perselisihan mengenai pewarisan takhta. Setelah itu, semua catatan tentang dirinya ditutup.”

Yuán Zhēn bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela.

“Lù Shān, jika kau mengetahui sesuatu tentang malam kelahiranku, aku ingin mendengarnya langsung darimu. Jangan menunggu sampai orang lain mengungkapkannya.”

Lù Shān tetap berlutut.

“Saya tidak pernah berniat mengkhianati Yang Mulia.”

“Aku belum menuduhmu berkhianat.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa semakin sunyi.

Yuán Zhēn berbalik.

“Namun, mulai hari ini, setiap informasi tentang Putri Yǎn harus diperiksa sebelum ditindaklanjuti. Aku tidak ingin ada seorang pun yang bergerak sendirian.”

Lù Shān membungkuk.

“Baik, Yang Mulia.”

Ia kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan.

Yuán Zhēn menunggu sampai suara langkah itu menjauh. Setelah itu, ia membuka kembali halaman tua di atas meja.

Nama Lù Shān masih tertera di sana.

Di sampingnya, terdapat satu kalimat yang belum sempat ia baca dengan teliti karena kedatangan pengawalnya.

Orang yang menjaga rahasia tidak selalu orang yang menciptakannya.

Yuán Zhēn menghela napas.

Mungkin Lù Shān menyembunyikan sesuatu. Namun, mungkin juga seseorang sengaja menuliskan namanya untuk menghancurkan kepercayaan di antara mereka.

Ia harus menemukan jawabannya tanpa membiarkan musuh menentukan siapa yang patut dicurigai.

---

Di Paviliun Han Mei, Liān Huā duduk bersama ibunya di dekat jendela.

Sejak menerima halaman catatan kelahiran, ia terus memikirkan dua baris yang tertulis di sana.

Bayi pertama diberi nama Zhēn.

Bayi kedua diberi nama Huā.

Namun, keterangan di bawahnya menegaskan bahwa urutan kelahiran tidak menentukan urutan pewarisan.

“Jika catatan itu asli,” ujar Liān Huā, “berarti seseorang telah mengetahui sejak awal bahwa urutan kelahiran kami akan menjadi persoalan.”

Putri Ning memandangi liontin giok yang dikenakan putrinya.

“Bukan hanya urutan kelahiran. Ada kemungkinan seseorang berusaha memisahkan identitas kedua bayi itu dari hak mereka masing-masing.”

“Apakah hak itu selalu berkaitan dengan takhta?”

“Tidak selalu. Dalam keluarga kerajaan, ada hak atas nama, kedudukan, tanah, dan perlindungan. Takhta hanyalah salah satunya.”

Liān Huā menunduk.

“Aku tidak pernah menginginkan takhta.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, mengapa begitu banyak orang menganggap keberadaanku sebagai ancaman?”

Putri Ning menggenggam tangan putrinya.

“Karena mereka tidak tahu apa yang akan kau pilih ketika mengetahui kebenaran. Orang yang takut kehilangan kekuasaan sering kali menganggap kemungkinan sebagai ancaman, bahkan sebelum seseorang melakukan apa pun.”

Liān Huā terdiam.

Kemudian, tanpa sengaja, jari-jarinya menyentuh bagian belakang liontin giok yang telah dikenakannya sejak kecil.

Ada bagian kecil yang terasa tidak rata.

Ia melepaskan liontin itu dan memeriksanya di bawah cahaya.

“Ibu, lihat ini.”

Di bagian belakang liontin, tersembunyi sebuah garis tipis yang membentuk lingkaran. Liān Huā mencoba menekannya, tetapi tidak terjadi apa-apa.

Putri Ning segera mengenali ukiran tersebut.

“Dari mana kau mendapatkan liontin itu?”

“Sejak kecil, liontin ini selalu bersamaku. Lù Shān mengatakan bahwa Paviliun Yún memberikannya untuk melindungiku.”

Putri Ning mengambilnya dengan hati-hati.

“Paviliun Yún tidak hanya melindungimu. Mungkin mereka juga menyimpan sesuatu yang tidak boleh ditemukan oleh orang yang salah.”

Ia memanggil seorang pelayan tua yang pernah bekerja di Paviliun Yún. Setelah memeriksa liontin itu, pelayan tersebut mengambil sebuah alat kecil untuk membuka penutup tersembunyi di bagian belakangnya.

Terdengar bunyi klik yang sangat pelan.

Sebuah rongga kecil terbuka.

Di dalamnya tersimpan secarik kain tipis yang dilipat berkali-kali.

Liān Huā menahan napas ketika ibunya membuka kain tersebut.

Tulisan di dalamnya telah memudar, tetapi masih dapat dibaca.

Untuk anak yang membawa nama Huā.

Jika suatu hari kau menemukan catatan tentang kelahiranmu, jangan mencari siapa yang lebih berhak atas takhta. Carilah siapa yang pertama kali memutuskan bahwa salah satu dari kalian harus disembunyikan.

Di bagian bawah, terdapat sebuah lambang awan milik Paviliun Yún.

Dan di sampingnya tertulis satu nama:

Guān Shí.

Liān Huā menatap ibunya.

“Jadi, Guān Shí sengaja meninggalkan pesan ini untukku?”

“Sepertinya begitu.”

“Apakah ia tahu siapa aku sejak awal?”

Putri Ning melipat kembali kain itu dengan hati-hati.

“Mungkin. Tetapi yang lebih penting adalah alasan ia menyembunyikannya di dalam liontinmu.”

Liān Huā kembali membaca kalimat tersebut.

Bukan siapa yang lebih berhak atas takhta.

Melainkan siapa yang pertama kali memutuskan bahwa salah satu dari mereka harus disembunyikan.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa penyelidikan mereka mungkin dimulai dari pertanyaan yang keliru.

Mereka selama ini berusaha mencari tahu siapa pewaris yang sebenarnya.

Padahal, sebelum pertanyaan itu dijawab, mereka harus menemukan siapa yang mengubah hidup mereka sejak hari pertama.

---

Sore itu, Yuán Zhēn datang ke Paviliun Han Mei.

Liān Huā segera menunjukkan pesan yang ditemukan di dalam liontinnya. Kaisar membacanya dengan saksama, lalu membandingkan tulisan tersebut dengan halaman catatan kelahiran.

“Pesan ini mungkin ditulis sebelum catatan kelahiran diubah,” katanya.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Lihat bentuk hurufnya. Tulisan ini lebih tua daripada tinta pada catatan kelahiran. Jika kita dapat memastikan usianya, kita mungkin bisa mengetahui urutan kejadian.”

Liān Huā mengangguk.

“Aku juga menemukan sesuatu yang menggangguku. Catatan itu mengatakan aku adalah bayi kedua, tetapi seseorang sengaja menambahkan bahwa urutan kelahiran tidak menentukan pewarisan.”

Yuán Zhēn duduk di hadapannya.

“Aku sudah memikirkan hal yang sama. Jika seseorang ingin mengubah urutan pewarisan, ia tidak perlu mengubah urutan kelahiran. Ia hanya perlu mengubah aturan atau bukti yang menentukan siapa yang berhak.”

“Jadi, mungkin tidak pernah ada pertukaran bayi?”

“Mungkin. Atau mungkin ada pertukaran yang dilakukan untuk tujuan berbeda. Kita belum memiliki cukup bukti.”

Liān Huā memandangnya dengan serius.

“Yuán Zhēn, jika suatu hari terbukti bahwa aku memiliki hak tertentu yang selama ini disembunyikan, aku tidak ingin kau menganggapku sebagai musuh.”

Yuán Zhēn menatapnya lama.

“Aku tidak akan menganggapmu musuh hanya karena seseorang menuliskan namamu dalam sebuah dokumen.”

“Bagaimana jika dokumen itu menyangkut takhta?”

“Takhta tidak memberiku hak untuk menentukan nilai dirimu.”

Jawaban itu membuat Liān Huā terdiam.

Yuán Zhēn melanjutkan, “Aku ingin mengetahui kebenaran karena kerajaan tidak bisa terus berdiri di atas catatan yang mungkin telah dipalsukan. Apa pun hasilnya, kita harus memastikan bahwa tidak ada orang yang dirugikan hanya karena identitasnya disembunyikan.”

Liān Huā mengangguk perlahan.

Namun, sebelum mereka sempat membahas lebih jauh, seorang pengawal datang membawa laporan dari Lù Shān.

Pengawal itu menyerahkan sebuah amplop kepada Yuán Zhēn.

“Yang Mulia, Tuan Lù Shān meminta agar surat ini segera disampaikan. Ia mengatakan bahwa isi surat tersebut berkaitan dengan Putri Yǎn.”

Yuán Zhēn membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat sebuah peta kecil menuju kediaman tua di sebelah barat ibu kota. Pada bagian belakangnya tertulis:

Putri Yǎn bersedia bertemu dengan Kaisar. Namun, ia hanya akan berbicara jika Liān Huā datang bersamanya.

Yuán Zhēn mengangkat pandangan.

“Siapa yang menyerahkan surat ini?”

“Seorang utusan yang mengaku berasal dari kediaman Lù Shān, Yang Mulia.”

Yuán Zhēn memandang Liān Huā.

“Aku tidak menyukai cara pesan ini disampaikan. Kita belum tahu apakah Putri Yǎn benar-benar berada di sana.”

“Kalau begitu, kita harus memeriksanya,” jawab Liān Huā. “Jika kita terus menghindari setiap petunjuk karena takut akan jebakan, kita tidak akan pernah menemukan kebenaran.”

Yuán Zhēn mengangguk.

“Kita akan pergi, tetapi dengan persiapan yang cukup. Aku juga akan mengirim orang ke tempat lain untuk memastikan Lù Shān benar-benar berada di istana.”

Ia melipat peta itu dan menyimpannya.

Untuk pertama kalinya, Yuán Zhēn memilih untuk tidak langsung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pengawalnya sendiri.

Ia akan menguji kebenaran informasi itu terlebih dahulu.

---

Malam tiba ketika dua rombongan meninggalkan istana melalui gerbang yang berbeda.

Rombongan pertama bergerak menuju kediaman tua di sebelah barat ibu kota. Yuán Zhēn dan Liān Huā berada di dalam kereta yang sama, ditemani beberapa pengawal pilihan.

Rombongan kedua bergerak menuju kediaman Lù Shān.

Namun, ketika mereka tiba, rumah itu kosong.

Tidak ada tanda bahwa Lù Shān berada di sana sejak sore.

Di atas mejanya, seorang pengawal menemukan sebuah kotak kayu yang berisi beberapa surat lama. Salah satunya memiliki lambang Paviliun Yún.

Sementara itu, di kediaman tua, Yuán Zhēn dan Liān Huā disambut oleh seorang perempuan berkerudung.

“Yang Mulia,” katanya sambil membungkuk. “Aku telah menunggu kalian.”

Yuán Zhēn tidak segera turun dari tangga batu.

“Apakah kau Putri Yǎn?”

Perempuan itu mengangkat kerudungnya.

Wajahnya menunjukkan usia dan kelelahan, tetapi matanya tajam dan penuh kewaspadaan.

“Benar. Aku adalah Yǎn, adik perempuan mendiang Kaisar.”

Liān Huā melangkah maju.

“Apakah Anda mengenal ibu saya?”

Putri Yǎn menatap Putri Ning yang tidak ikut dalam perjalanan itu, lalu kembali menatap Liān Huā.

“Aku mengenal malam kelahiranmu. Aku juga mengenal orang yang memutuskan bahwa namamu harus disembunyikan.”

“Siapa orang itu?” tanya Yuán Zhēn.

Putri Yǎn tidak menjawab. Ia justru memandang Liān Huā.

“Anak yang membawa nama Huā,” katanya pelan, “apakah kau masih menyimpan liontin dari Paviliun Yún?”

Liān Huā mengangguk.

Putri Yǎn menutup matanya sejenak.

“Kalau begitu, Guān Shí benar-benar berhasil melindungimu.”

Yuán Zhēn maju satu langkah.

“Jelaskan semuanya.”

Putri Yǎn membuka mata dan menatapnya.

“Aku akan menjelaskan apa yang kuketahui. Namun, sebelum itu, ada satu hal yang harus kalian pahami.”

Ia membawa mereka masuk ke dalam kediaman dan membuka sebuah peti tua. Di dalamnya terdapat salinan perjanjian kerajaan yang terikat dengan pita merah.

“Pada malam dua bayi dilahirkan, mendiang Kaisar tidak memerintahkan agar salah satu anak kehilangan haknya. Ia memerintahkan agar kedua anak itu dilindungi sampai kebenaran tentang sebuah persekongkolan terungkap.”

Yuán Zhēn menatap dokumen tersebut.

“Persekongkolan apa?”

Putri Yǎn mengangkat wajah.

“Persekongkolan untuk menentukan pewaris takhta sebelum Kaisar sendiri membuat keputusan.”

Ia menarik napas panjang.

“Dan orang yang pertama kali mengusulkan agar nama Liān Huā disembunyikan bukanlah Paman Agung Zhāng.”

Liān Huā merasakan jantungnya berdegup semakin cepat.

“Lalu siapa?”

Putri Yǎn hendak menjawab ketika terdengar suara langkah kaki dari luar.

Seorang pengawal berlari masuk.

“Yang Mulia! Ada seseorang yang datang membawa surat dengan stempel pribadi mendiang Kaisar!”

Yuán Zhēn menerima surat itu dan segera membuka segelnya.

Di dalamnya terdapat sebuah pernyataan singkat yang ditulis dengan tangan yang dikenalnya.

Tulisan ayahnya.

Jika anak bernama Huā telah ditemukan, jangan biarkan ia membaca perjanjian terakhir sebelum mengetahui siapa yang memilih nama Zhēn.

Yuán Zhēn mengangkat pandangan kepada Putri Yǎn.

“Siapa yang memilih namaku?”

Putri Yǎn menatapnya dengan kesedihan yang dalam.

“Kau belum siap mendengar jawabannya.”

“Akulah Kaisar. Aku berhak mengetahui kebenaran.”

“Dan justru karena itulah kau harus mendengarnya dengan hati-hati.”

Putri Yǎn menutup peti tersebut.

“Orang yang memilih nama Zhēn masih hidup. Ia berada di dalam istana, memiliki akses ke semua dokumen kerajaan, dan selama bertahun-tahun telah berdiri di dekatmu.”

Yuán Zhēn terdiam.

Liān Huā segera teringat nama yang muncul pada halaman misterius itu.

Lù Shān.

Namun, sebelum mereka sempat menyelidiki lebih jauh, Putri Yǎn menambahkan satu kalimat yang membuat keduanya saling pandang.

“Bukan Lù Shān,” katanya. “Ia hanya menyimpan sebagian rahasia.”

Putri Yǎn menatap langsung ke mata Yuán Zhēn.

“Orang yang memilih namamu adalah seseorang yang telah kau panggil Ayah sepanjang hidupmu.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Yuán Zhēn memandang tulisan mendiang Kaisar di tangannya.

Jika ayahnya sendiri yang memilih nama Zhēn, mengapa keputusan itu harus disembunyikan?

Dan jika nama tersebut berkaitan dengan pewarisan takhta, apakah mendiang Kaisar sedang melindungi putranya—

atau berusaha menutupi sebuah keputusan yang bahkan tidak pernah sempat ia jelaskan?

Malam itu, untuk pertama kalinya, Yuán Zhēn tidak lagi hanya menyelidiki siapa yang mengubah sejarah kerajaan.

Ia mulai menyelidiki alasan ayahnya sendiri menulis sejarah tersebut dengan cara yang berbeda dari kenyataan.

1
🙈
Semangat nulisnya kak🤭. Yuk mampir di novel akuuhhh🤭
AZKA DINARA: iya terimakasih saling support ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!