Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekat Tipis di Antara Kami
"Sera! Sorry ya nunggu lama," suara renyah Naura mendadak memecah lamunanku.
Sahabatku itu melempar tas sekolahnya di atas kursi kayu kosong di hadapanku, lalu mendudukkan dirinya seraya mengibaskan kerah seragamnya yang sedikit berpeluh. Naura menatapku tenang. Binar matanya yang tajam mengamati raut wajahku yang muram sebelum akhirnya ia menyandarkan punggung di kursi kedai.
"Kenapa, Ser? Kelihatannya beban di kepala lo berat banget," tanya Naura lembut, melipat kedua tangannya di atas meja, siap menjadi pendengar terbaikku.
Aku menghela napas panjang yang teramat berat, meremas sedotan di tanganku hingga bengkok.
"Soal kakaknya Kania, Ra... Mas Adrian."
"Kenapa sama dia?"
"Kemarin sore dia datang ke rumah gue. Dia bilang kalau dia sayang sama gue. Tapi pas gue di rumah Kania... gue baru tahu kalau dia sebenarnya udah punya pacar. Namanya Sabrina, baru pulang dari Solo," bisikku dengan suara bergetar, berusaha keras menahan rasa panas yang mendesak di sudut mata. "Gue sampai cek Facebook ceweknya, Ra... dan emang ada foto-foto mesra mereka berdua."
Naura menyimak setiap patah kata yang meluncur dari bibirku tanpa memotong sedikit pun. Ia mengambil sepotong kentang goreng, mengunyahnya pelan, lalu menatapku dengan sorot mata yang teramat teduh dan rasional.
"Tapi, Sera..." ucapan Naura mengalir tenang. "Kenapa lo harus semarah ini? Lagian Mas Adrian kan enggak nuntut lo buat langsung jadi pacarnya. Dia juga bukan pacar lo sekarang, kan?"
Aku tertegun, menatap Naura dengan dada yang masih bergemuruh sesak. "Tapi gue enggak terima dibohongi, Ra! Dia pernah bilang sendiri kalau dia enggak punya pacar. Kalau emang ada cewek lain, kenapa harus bohong?"
Naura tersenyum tipis yang menenangkan. "Rasa sayang itu kan bentuknya luas, Sera. Enggak cuma sebatas ikatan pacaran. Bisa ke sahabat, adik, atau seseorang yang pengen dia lindungi... Siapa tahu rasa sayang yang Mas Adrian maksud ke lo itu punya bentuk yang beda. Jangan buru-buru menyimpulkan sebelum lo dengar penjelasan langsung dari dia."
Kata-kata Naura menembus tepat ke dalam dinding prasangka yang kubangun rapat-rapat sejak pagi. Aku menundukkan kepala, memikirkan kembali setiap kata yang terucap dari bibir Mas Adrian kemarin sore saat kami duduk di dapurku.
"Oiya, Ra..." celetukku pelan, mencoba mengalihkan fikiran sejenak dari himpitan rasa sesak. "Tadi sebelum lo dateng, gue liat Indah dibonceng cowok lain dari sekolah lain. Mereka beneran udah putus?"
Naura mengangguk santai, mengibaskan tangannya pelan. "Iya, mereka emang udah putus beberapa minggu lalu. Indah udah dapat gebetan baru. Tapi udah lah, biarin itu jadi urusan mereka, enggak usah lo pusingin."
Baru saja aku hendak menyedot es cokelatku lagi, ponselku di atas meja bergetar hebat. Layar sentuhnya menyala terang menampilkan nama pemanggil yang seketika membuat jantungku berdesir hebat:
Mas Adrian Calling...
Aku menatap layar yang berkedip itu dengan keraguan yang membuncah. Naura yang melihatnya memberikan anggukan kepala pelan padaku, "Angkat aja, Ser. Beresin."
Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel dingin itu di telingaku. "Halo, Mas?"
"Sera? Kamu lagi di mana?" suara berat Mas Adrian terdengar agak terengah-engah di seberang telepon. "Mas lagi di depan rumah kamu nih, tapi kok sepi banget ya? Pintu digembok, enggak ada siapa-siapa."
Duniaku serasa berputar sejenak. Dia ada di rumahku?
"Mas di rumah Sera?" tanyaku memastikan dengan napas tertahan.
"Iya, Mas sengaja ke sini mau ketemu kamu. Kamu lagi di mana, Ser?" tanyanya penuh perhatian.
"Sera... Sera lagi di luar sama temen, Mas. Bentar lagi Sera pulang," jawabku terbata-bata.
"Ya udah, Mas tunggu di teras rumah kamu ya."
Panggilan terputus. Aku langsung merapikan tas dan beranjak berdiri dari kursi kayu. Rasa cemas, penasaran, dan deburan dada yang tak karuan mendadak menyatu menjadi satu pusaran emosi.
"Ra, gue harus pulang sekarang. Mas Adrian udah di rumah gue," ucapku terburu-buru.
Naura tersenyum menenangkan seraya menepuk bahuku hangat. "Iya, pergi sana. Bicarain baik-baik."
"Makasih banyak ya, Ra. Gue duluan!"
Aku bergegas menuju motor Scoopy merahku, menyalakan mesin, dan langsung melaju cepat membelah padatnya jalanan kota sore itu menuju rumah.
Suara deru mesin motorku menyapa halaman rumah yang lengang. Begitu memutar stang motor memasuki pagar besi yang sedikit terbuka, mataku langsung menangkap sosok Adrian yang sedang duduk menungguku di atas bangku kayu teras depan.
Melihat kedatanganku, Adrian segera berdiri. Ia menyunggingkan senyum tipis, senyum hangat yang selalu sanggup membuat hatiku terenyak, meski kini ada serpihan keraguan yang diam-diam menyela di antara kami.
Aku mematikan mesin motor, lalu melangkah menghampirinya. "Mas Adrian udah lama nunggu?" tanyaku mencoba mencairkan kekakuan udara di antara kami.
"Enggak kok, baru sebentar," sahut Adrian lembut. Binar matanya menatapku dengan raut lega yang begitu nyata. "Maaf ya, Mas mendadak ke sini enggak bilang-bilang dulu."
"Enggak apa-apa, Mas. Masuk dulu yuk," ajakku seraya membuka kunci pintu depan. "Sera ganti baju sebentar ya."
Adrian mengangguk pasrah seraya melangkah masuk dan mendudukkan dirinya secara santai di sofa ruang tamu. Aku bergegas menuju kamar, melepaskan seragam sekolah, lalu berganti pakaian santai. Di depan cermin kamar, aku sempat menatap pantulan diriku sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dada. Tenang, Sera... tenang, bisikku pada diri sendiri.
Begitu keluar dari kamar, aku mendapati Adrian sedang duduk menungguku. Aku menyuguhkan segelas air dingin di atas meja untuknya, lalu mengambil tempat duduk di sofa yang berseberangan.
"Makasih ya, Ser," ucap Adrian menyambut gelas itu, lalu meminumnya beberapa teguk. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, menatapku dengan raut wajah yang tampak sedikit lelah namun menenangkan.
Tanpa kuminta, Adrian mulai bercerita. Ia menjelaskan alasan kenapa kemarin seharian ia begitu sibuk dan sulit dihubungi lewat pesan singkat. Ternyata, seharian kemarin Adrian menghabiskan waktunya untuk membantu salah satu teman dekatnya melakukan pindahan kost. Mulai dari mengangkut barang-barang berat, merapikan kamar baru, hingga mengurus kendaraan angkut barang yang menyita waktunya dari pagi hingga larut malam.
Aku mendengarkan setiap tutur katanya dengan saksama. Suaranya mengalir tenang dan jujur, mengisi keheningan ruang tamu kami. Namun di balik penjelasannya tentang teman kostnya itu, ada satu nama yang terus menggantung dan menari-nari di dalam benakku, tetapi tak pernah sekalipun terucap dari bibirnya.
Sabrina.
Aku memilih untuk bungkam. Aku tidak menanyakan tentang keberadaan wanita itu, tentang kedatangannya ke rumahnya, atau tentang foto-foto mesra mereka yang terpampang di halaman Facebook. Begitu pula Adrian; ia tak sekalipun menyebut nama Sabrina atau membahas hal yang berkaitan dengannya.
Ada sekat tipis tak kasat mata yang mendadak terbentang di antara cerita terbuka yang ia sampaikan dan rasa ingin tahuku yang kupendam rapat-rapat. Kami duduk berhadapan dalam kehangatan obrolan sore itu, namun jauh di dalam lubuk hatiku, ada rahasia dan prasangka yang sengaja kubiarkan tetap membisu.
Adrian menghembuskan napas pelan, menatapku lurus dengan pandangan yang penuh tanda tanya. Suasana ruang tamu mendadak menghening sejenak sebelum ia kembali membuka suara.
"Mas bingung ngeliat kamu tadi pagi," ucapnya lirih. "Kenapa Sera acuh banget sama Mas di depan gerbang? Sampe dibilang enggak kenal segala."
Jantungku sempat berdesir pelan mendengarnya. Aku menundukkan kepala sebentar, memainkan jemari di atas pangkuanku, mencari alasan yang paling aman agar tak menelanjangi kegelisahan hatiku yang sebenarnya tentang Sabrina.
"Itu... Sera cuma canggung aja, Mas," sahutku pelan, lalu mendongak menatap matanya. "Soalnya tadi pagi di kelas, temen-temen Sera pada heboh. Celine nemu video pas kita perform bareng di kafenya Bang Bram, terus ditunjukin ke Dea, Dini, Irma, sama Kania."
Adrian menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terkejut namun senyum tipis perlahan terukir kembali di bibirnya. "Oh ya? Mereka nonton video kita?"
"Iya," jawabku mengangguk pelan. "Mereka pada kaget dan nanya-nanya kok Sera bisa main gitar bareng kakaknya Kania. Makanya pas Mas tiba-tiba manggil di depan gerbang sekolah, Sera bingung harus gimana. Sera cuma enggak mau temen-temen makin heboh atau mikir yang enggak-enggak."
Adrian terkekeh pelan. Ketegangan di raut wajahnya yang sempat terlihat bingung perlahan luntur, digantikan oleh binar jenaka yang biasanya.
"Alah, dibilang enggak kenal itu yang bikin Mas kaget banget," godanya halus seraya menyandarkan kembali punggungnya ke sofa. "Mas kira Mas ada bikin salah apa sampe didiemin gitu dari pagi."
Aku hanya melempar senyum tipis yang tak sepenuhnya sampai ke mata. Penjelasan tentang video perform itu berhasil menjadi tameng yang sempurna untuk menyembunyikan rasa penasaran dan kecewa yang sebenarnya berkecamuk di dalam dadaku. Adrian tampak percaya sepenuhnya, tanpa tahu bahwa alasan terbesarku menjauh bukanlah godaan teman-teman di sekolah, melainkan bayang-bayang nama Sabrina yang kini meretas raguku.