NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Setelah Badai, Ada Tangan Tua

Graha Bintang lantai lima belas terlalu sunyi untuk orang yang baru saja membuat 1.317 akun belajar membaca surat hukum.

Bima berdiri di tengah apartemen barunya dengan satu koper, dua kardus pakaian, dan kunci akses yang masih terasa asing di tangan. Dari jendela besar, Naga Kota tampak seperti peta hidup: jalan layang, gedung kaca, atap rumah padat, dan deretan lampu yang belum menyala penuh.

Pak Parman, manajer Graha Bintang, berdiri di dekat pintu dengan senyum yang terlalu hati-hati.

"Kalau ada kebutuhan apa pun, Pak Bima tinggal hubungi saya. Air galon, cleaning service, parkir tambahan, teknisi AC, semua bisa saya bantu."

"Terima kasih, Pak Parman. Untuk sekarang cukup kunci dan aturan gedung."

Pak Parman segera menyerahkan map. "Ini kartu akses, daftar kontak keamanan, tata tertib penghuni, dan slot parkir privat. Untuk kendaraan... eh, yang hitam itu, sudah saya pastikan tidak ada yang sembarang foto."

Yang hitam itu berarti Rolls-Royce Spectre di garasi sewaan privat, bukan di basement umum. Bima memperhatikan wajah Pak Parman. Ada rasa ingin tahu, rasa takut, dan sedikit keinginan menjilat.

[Pembaca Mikro-ekspresi aktif.]

[Niat: mencari kedekatan dengan penghuni beraset tinggi. Risiko rendah.]

Bima menandatangani berita acara serah terima. "Pak Parman, saya suka tempat yang tenang. Kalau ada orang tanya soal saya, jawab saja sesuai administrasi: penghuni biasa."

"Siap, Pak. Sangat siap. Penghuni biasa." Pak Parman mengangguk terlalu cepat, lalu keluar.

Begitu pintu tertutup, Bima membuka panel SBE.

[Status Tuan Rumah]

[Level: 12]

[Poin tersedia: 25.700+]

[Skill aktif: Pembaca Mikro-ekspresi, Drone Bayangan, Peretas Tingkat Tinggi, Ensiklopedia Hukum Hidup, Perisai Reputasi Tingkat 1]

[Aset tersembunyi: Saldo legal terstruktur Rp18.000.000.000; Rolls-Royce Spectre - Hitam Safir; dana terpisah aktif]

[Catatan: kekayaan belum disarankan untuk publik keluarga/lingkungan.]

"Kau sekarang cerewet soal keuangan," gumam Bima.

[Pengalaman Tuan Rumah menunjukkan manusia lebih sering kalah oleh saudara jauh daripada musuh jauh.]

Bima tertawa pendek. Sistem tidak salah.

Ia baru membuka kardus pertama ketika Ratna menelepon video. Wajah adiknya muncul terlalu dekat ke kamera.

"Mas! Apartemennya lihat!"

"Salam dulu."

"Assalamualaikum, investor rahasia. Sekarang lihat apartemen."

Bima memutar kamera. Ratna bersiul. Di belakangnya, Bu Sri langsung muncul.

"Bima, itu bersih sekali. Kamu jangan makan mi terus di sana. Dapur sebagus itu dipakai."

Pak Harto ikut menengok dari belakang. "Kuncinya sudah aman? Jangan kasih sembarang orang."

"Aman, Pak. Pak Parman sudah serah terima."

Ratna menyipit. "Pak Parman itu siapa? Jangan-jangan calon mertua?"

"Manajer apartemen, Dik. Laki-laki."

"Oh. Sayang."

Tawa kecil itu membuat apartemen terasa kurang asing. Setelah panggilan selesai, Bima mengambil dompet dan keluar. Ia belum makan siang. Ia memilih warung sederhana di belakang gedung, bukan restoran mahal.

Di dekat warung, seorang pemulung tua duduk di bawah pohon, memegang kantong plastik berisi botol bekas. Wajahnya cekung, tetapi pakaiannya rapi sebisanya. Ia menghitung uang receh, lalu memisahkan dua lembar sepuluh ribuan ke amplop kecil.

Seorang anak SMA berseragam putih abu-abu datang tergesa. "Mbah Warno, Ibu bilang uang daftar ulang kurang. Kalau hari ini enggak bayar, saya bisa dicoret."

Mbah Warno langsung menyerahkan amplop itu. "Ambil, Agung. Sekolah jangan putus. Mbah masih bisa cari botol lagi."

Bima berhenti.

Anak itu tidak menatap mata Mbah Warno saat menerima uang. Sepatunya bersih. Jam di tangannya sederhana, namun terlalu bagus untuk anak yang katanya hampir dicoret karena dua puluh ribu.

[Pembaca Mikro-ekspresi aktif.]

[Agung: rasa bersalah tinggi, tekanan eksternal.]

Dari seberang jalan, seorang perempuan paruh baya memperhatikan dari balik motor matic. Begitu Agung mendapat amplop, perempuan itu memberi isyarat cepat. Agung menyembunyikan uang dan berjalan ke arahnya.

Bima mengaktifkan Drone Bayangan.

Feed kecil muncul. Perempuan itu berkata pelan, tetapi cukup jelas.

"Dapat berapa?"

"Dua puluh ribu, Bu."

"Cuma segitu? Bilang besok ada biaya praktik. Orang tua itu gampang kasihan."

Agung menunduk. "Bu, Mbah Warno baik."

"Baik itu rezeki. Jangan banyak mikir."

[Sumber pemerasan moral/penipuan terdeteksi.]

[Target rentan: Mbah Warno]

Bima menutup panel dan berjalan mendekati lelaki tua itu.

"Mbah," katanya sopan, "boleh saya duduk?"

Mbah Warno mendongak, bingung, lalu mengangguk. "Silakan, Nak. Kursi warung ini bukan punya Mbah."

Bima duduk. "Anak tadi siapa?"

Wajah Mbah Warno langsung melembut. "Agung. Anak baik. Sekolahnya berat, ibunya susah. Mbah bantu sedikit-sedikit. Biar ada yang jadi orang."

"Sudah lama?"

"Hampir lima tahun. Dari dia SMP. Mbah tidak punya cucu. Kalau lihat dia sekolah, rasanya... ya, seperti ada yang bisa Mbah dorong maju."

Bima menatap amplop-amplop kosong di tas plastik Mbah Warno. Ada catatan kecil: Agung seragam, Agung ujian, Agung daftar ulang, Agung praktik. Jumlah per kali kecil. Jika dikumpulkan, itu darah lima tahun seorang pemulung.

"Mbah punya catatannya?"

Mbah Warno tersenyum malu. "Ada. Mbah biasa catat. Takut lupa."

Ia mengeluarkan buku lusuh.

Bima membukanya. Total kasar melewati Rp30 juta.

Uang sebesar itu bagi Bima sekarang kecil. Bagi Mbah Warno, itu ribuan botol plastik, ribuan langkah di panas jalan, ribuan kali menahan lapar.

Bima menutup buku itu pelan.

"Mbah, besok saya datang ke rumah Mbah. Kita lihat catatan ini sama-sama."

Mbah Warno panik. "Jangan, Nak. Jangan bikin Agung susah. Kasihan anak itu."

Bima menatap jalan tempat Agung dan ibunya menghilang.

Sebelum pergi, Bima membeli dua porsi nasi bungkus untuk Mbah Warno. Ia tidak menyerahkannya seperti dermawan di depan kamera. Ia hanya meletakkannya di bangku warung dan berkata, "Mbah makan dulu. Kalau besok saya datang, kita bicara dengan perut tidak kosong."

Mbah Warno tertawa malu. "Nak ini aneh. Baru kenal sudah repot."

"Mbah lebih aneh. Lima tahun membiayai anak orang tanpa minta tanda terima yang benar."

"Namanya juga percaya."

"Percaya boleh, Mbah. Tapi percaya yang baik tetap punya catatan. Catatan Mbah itu yang mungkin menyelamatkan uang Mbah sekarang."

Lelaki tua itu memandang buku lusuhnya. Baru sekarang ia sadar buku itu menyimpan bukti. Bima memotret halaman pertama dan terakhir, lalu meminta izin menyimpan salinan. Ia tidak mau mengambil buku aslinya. Orang tua yang sudah kehilangan uang tidak perlu kehilangan satu-satunya bukti di tangannya.

Saat kembali ke apartemen, Bima mengirim lokasi rumah Bu Waginah yang ditemukan dari jejak publik ke folder pribadi, bukan ke polisi dulu. Satu kesalahan bisa membuat penipu kabur atau membuat Agung menjadi korban tekanan ibunya. Kasus kecil tetap butuh tangan yang rapi.

"Justru karena kasihan itu mahal, Mbah. Jangan sampai orang yang menjualnya terus untung."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!