Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.
Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Kenyataan yang Menghancurkan
Malam di gang sempit itu tidak berganti dengan fajar yang membawa harapan; ia hanya melarutkan kegelapan menjadi abu-abu yang muram dan dingin. Di dalam rumah petak yang pengap, bau bacin dari comberan di luar menyusup melalui celah pintu kayu yang miring, berbaur dengan aroma lembap dari kasur busa tanpa seprai.
Ningsih duduk bersandar di sudut ruangan yang remang-remang. Tubuhnya yang rentan kini tampak sangat ringkih, seperti dahan kering yang siap patah ditiup angin sekecil apa pun. Perutnya yang kosong sejak kemarin siang hanya menyisakan rasa perih yang menjalar ke punggungnya. Matanya yang cekung menatap liar ke arah pintu, menanti kepulangan Reza dengan harapan tipis yang kian meredup.
Emas Ibu... perhiasan Ibu...
Batinnya terus merapal doa-doa rapuh, memohon agar sisa hartanya bisa kembali. Di dalam kepalanya yang mulai pikun oleh stres, ia masih membayangkan sebuah keajaiban di mana Andi akan datang membawa kembali kalung safirnya, meminta maaf dengan senyum teduhnya yang biasa, lalu menyelamatkan mereka dari neraka kumuh ini.
Klek.
Suara engsel pintu yang berkarat memecah keheningan yang mencekam.
Ningsih tersentak. Ia menegakkan tubuhnya yang kaku dengan susah payah saat melihat sosok Reza melangkah masuk. Namun, kegembiraan yang sempat terbit di dadanya padam seketika saat menatap penampilan putranya.
Reza melangkah seperti mayat hidup. Kemeja usangnya kotor oleh debu dan cipratan darah kering. Buku-buku jari tangan kanannya lecet dan bengkak, sementara matanya merah menyala oleh kombinasi air mata yang mengering dan kehampaan yang teramat sangat. Di tangannya, tidak ada kantong beludru hitam. Tidak ada uang. Hanya ada kepalan tangan kosong yang gemetar hebat.
"Reza..." rintih Ningsih, suaranya parau, nyaris habis. "Bagaimana? Di mana Andi? Apakah kamu berhasil mengambil kembali perhiasan Ibu?"
Reza tidak segera menjawab. Ia berjalan gontai menuju kasur busa, lalu menjatuhkan lututnya ke lantai semen yang dingin dengan bunyi berdebam yang tumpul. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang kotor. Bahunya yang jangkung bergetar hebat, disusul oleh suara isak tangis yang tertahan—sebuah tangisan yang begitu sunyi namun sarat akan keputusasaan yang mengerikan.
"Reza! Bicara pada Ibu!" Ningsih merangkak mendekat, jemarinya yang keriput mencengkeram bahu anaknya. "Kenapa kamu menangis?! Apakah Andi dirampok?! Di mana perhiasan Ibu?!"
"Habis, Ibu... semuanya habis..." bisik Reza, suaranya parau dan bergetar di balik telapak tangannya.
"Habis?!" Ningsih menjerit, dadanya terasa seperti dihantam palu godam. "Bagaimana bisa habis?! Andi... Andi pasti melindunginya, kan? Dia anak yang baik, dia—"
"Andi yang mengambilnya, Ibu!" Reza tiba-tiba mendongak, berteriak dengan wajah yang merah padam dan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya yang kotor. "Andi yang mencuri perhiasan Ibu! Uang hasil gadaiannya sudah habis dia gunakan untuk taruhan judi daring! Dia tidak pernah membelikan Ibu obat! Dia tidak pernah peduli pada kita!"
Ningsih membeku. Napasnya mendadak tercekat di tenggorokan, membuat paru-parunya terasa seolah terbakar. "Tidak... tidak mungkin... Andi tidak mungkin sekasar itu... dia anak yang rajin beribadah..."
"Rajin beribadah?!" Reza tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyedihkan di dalam bilik tripleks tersebut. Ia mencengkeram bahu ibunya dengan erat, memaksa wanita tua itu untuk menatap kenyataan yang paling kejam. "Andi mengaku semuanya, Ibu! Dia tertangkap di warnet judi bawah tanah! Dan bukan hanya emas Ibu kemarin malam..."
Reza menjeda kalimatnya, dadanya naik turun dengan kencang saat ia menelan ludah yang terasa sepahit racun.
"...uang lima puluh juta rupiah milik Ibu tiga minggu lalu di Menteng... uang arisan yang hilang dari laci meja rias Ibu..."
Mata Ningsih membelalak liar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mati saat itu juga. "U-Uang itu..."
"Andi yang mengambilnya!" raung Reza, air matanya menetes membasahi lantai semen kotor di antara mereka. "Andi yang mengambil uang itu subuh-subuh untuk membayar lintah darat! Dia yang menaruh seprai kotor di dekat laci agar Ibu mengira Naya yang masuk ke sana! Dia yang menyuruh Ibu memeriksa laci hari itu! Dia memanfaatkan kebencian kita pada Naya untuk menutupi kejahatannya sendiri!"
Seketika itu juga, dunia di sekeliling Ningsih runtuh menjadi puing-puing yang tak bersisa.
Kesunyian yang mengerikan merayap masuk, mencekik setiap oksigen yang ada di dalam ruangan sempit itu. Kata-kata Reza berputar di dalam kepalanya bagai ribuan pisau yang menyayat otaknya tanpa ampun.
Andi yang mengambilnya... Andi yang memfitnah Naya...
Ningsih menatap tangannya sendiri yang gemetar. Ingatan tentang bagaimana ia menunjuk wajah Naya pagi itu dengan penuh kebencian, bagaimana ia menjatuhkan panci sup herbal panas ke lantai, dan bagaimana ia memaki menantunya dengan sebutan "tikus selokan" kini berputar kembali dengan kejam.
Naya tidak bersalah.
Wanita yang selama tiga tahun ia perlakukan lebih rendah daripada pelayan... wanita yang selalu menerima caci makinya dengan kepala tertunduk patuh... wanita yang membiayai seluruh kemewahan hidupnya dengan dana miliaran rupiah dari yayasannya tanpa pernah menyombongkan diri...
Dia sama sekali tidak bersalah.
Mereka telah membuang seorang bidadari tulus yang melidungi dan menafkahi mereka secara diam-diam, demi memelihara seekor ular berbisa berkedok kesalehan yang kini telah menguliti mereka hingga telanjang bulat di dalam lumpur kemiskinan.
"Naya..." bisik Ningsih, bibirnya yang pucat bergemetar hebat. Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya, memicu rasa pening yang membuat pandangannya kabur. "Naya... menantuku..."
Ego Ningsih yang telah mengeras selama puluhan tahun kini pecah berantakan, menyisakan rasa bersalah yang teramat sangat yang merayap naik dari ulu hatinya, mencekik tenggorokannya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa seluruh kehancuran ini bukanlah salah takdir atau sihir Naya, melainkan akibat dari kesombongan buta dan kepicikan hatinya sendiri.
"Ibu yang salah, Reza..." ratap Ningsih, air mata keputusasaan akhirnya luruh membasahi pipinya yang kendur tanpa bedak mahal. "Ibu yang memfitnahnya... Ibu yang memaksamu membuangnya... Ya Tuhan, apa yang telah kita lakukan?!"
Reza hanya bisa tertunduk lemas di lantai semen, membiarkan tangisnya pecah bergaung di sudut kontrakan yang dingin. Di bawah temaram lampu bohlam kuning yang redup, ibu dan anak yang dulu begitu pongah di atas pilar-pilar Menteng kini meratapi nasib mereka di atas lantai tanah yang kotor.
Penyesalan itu datang terlambat, begitu kejam, dan tanpa belas kasihan. Mereka kini menyadari bahwa tidak ada lagi atap mewah untuk berteduh, tidak ada lagi mobil perak untuk membawa mereka lari, dan tidak ada lagi cinta tulus Naya yang bisa mereka harapkan untuk memulihkan dunia mereka yang telah hancur menjadi abu.