Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. Luka yang Tidak Terlihat di Kulit
Tiga hari setelah Tang Hyun menarik Xinyue keluar dari kabut merah Pegunungan Kabut Merah dengan tangan kiri yang gemetar dan dengan penawar yang dia minum sendiri, Chang'an kembali ke rutinitasnya seperti tidak terjadi apa-apa, para menteri tetap berdebat di aula, para pedagang tetap berteriak di pasar, dan bunga plum di paviliun tetap mekar seperti biasa, tetapi di dalam kamar paviliun, waktu berjalan dengan cara yang berbeda, karena Xinyue yang secara fisik sudah pulang dan sudah makan dan sudah tidur di samping suaminya, ternyata belum benar-benar pulang, karena matanya masih sering kosong di tengah percakapan, tangannya masih sering gemetar ketika ada bau dupa yang terlalu manis, dan di malam hari dia sering terbangun dengan napas tersengal dan dengan keringat dingin, seolah masih berada di altar batu itu dan masih mendengar suara yang membisik bahwa Tang Hyun adalah monster dan bahwa Klan Tang adalah penjara.
Tang Hyun melihat semua itu, dan karena dia adalah tabib, dia tahu bahwa luka yang paling sulit disembuhkan bukan luka di kulit yang bisa dijahit dengan benang dan ditutup dengan salep, melainkan luka di ingatan yang tidak punya bentuk dan tidak punya obat, dan karena dia juga adalah suami, dia tahu bahwa dia tidak bisa memaksa Xinyue untuk "cepat sembuh" atau "lupakan saja", karena kalimat seperti itu sama saja dengan menutup pintu pada orang yang masih tenggelam.
Maka dia melakukan hal yang paling sederhana dan paling sulit, dia tinggal, dia duduk, dia menunggu.
Setiap pagi dia menuangkan teh untuk Xinyue dengan tangan kirinya yang masih memakai alat dari kulit, dan setiap kali tangannya gemetar, dia tidak menyembunyikannya, karena dia ingin Xinyue tahu bahwa dia juga terluka, dan bahwa mereka bisa terluka bersama.
Setiap siang dia mengajak Xinyue berjalan di taman, bukan ke tempat ramai, melainkan ke sudut paviliun yang sepi, tempat di mana hanya ada mereka, bangku kayu, dan pohon bunga plum yang sudah menemani mereka selama dua puluh tahun.
Setiap malam dia tidak bertanya "apa kau mimpi buruk lagi?", dia hanya berkata "aku di sini", lalu berbaring di sampingnya dan menggenggam tangannya sampai Xinyue tertidur, meskipun kadang butuh waktu dua jam.
Pada hari kelima, Tang Yue datang dengan wajah khawatir dan dengan buku catatan di tangan, "Ayah, Ibu tidak mau makan. Dan tadi pagi Ibu memecahkan vas karena ada suara lonceng dari kuil."
Tang Hyun mengangguk pelan, "Ibu sedang berperang. Di kepalanya. Dan kita tidak bisa ikut bertarung untuknya. Kita hanya bisa menunggu di luar dan memastikan dia tidak sendirian."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pulang, Xinyue berbicara panjang, bukan tentang ilmu godaan, melainkan tentang hal kecil, tentang bagaimana bau kabut itu seperti madu busuk, tentang bagaimana suara Tang Hyun di dalam ilusi itu terdengar sama persis tetapi hatinya tahu itu bukan dia, dan tentang betapa lelahnya berpura-pura kuat di depan orang.
"Hyun," kata Xinyue dengan suara serak, "aku takut. Takut kalau suatu hari aku benar-benar percaya pada ilusi itu. Takut kalau aku menyakitimu."
Tang Hyun tidak menjawab dengan janji besar, dia hanya mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan bekas luka lama dari "Lonceng Musim Dingin", "Lihat ini. Aku juga takut. Takut tidak bisa memegang jarum lagi. Takut tidak berguna. Tapi kau tetap di sini. Jadi sekarang giliranku tetap di sini untukmu."
Xinyue menangis, bukan karena lemah, melainkan karena lega, karena akhirnya ada orang yang tidak menyuruhnya melupakan, melainkan mengizinkannya mengingat dengan aman.
Seminggu kemudian, Kaisar Tang Ming memanggil ibu dan ayahnya ke aula kecil, bukan untuk sidang, melainkan karena para menteri menuntut jawaban, "Apakah Permaisuri masih layak berada di posisi itu setelah terkena ilmu iblis?"
Tang Hyun berdiri, dengan punggung tegak meskipun bahunya masih sakit, dan dia berkata dengan suara yang pelan tetapi membuat seluruh ruangan diam, "Istriku terkena racun. Racun pikiran. Sama seperti rakyat yang terkena wabah. Apakah kalian mengusir orang sakit dari desa? Tidak. Kalian mengobatinya. Maka perlakukan dia dengan cara yang sama."
Tang Ming menatap ibunya, "Ibu, apa yang Ibu butuhkan?"
Xinyue yang biasanya paling lantang di aula, hari itu hanya berkata pelan, "Waktu."
"Kalau begitu kami beri waktu," jawab Tang Ming, "selama yang Ibu butuhkan."
Keputusan itu membuat banyak menteri tidak puas, tetapi tidak ada yang berani membantah, karena semua orang di ruangan itu tahu bahwa jika bukan karena Tang Hyun masuk ke kabut merah, maka mereka tidak akan punya Permaisuri untuk diperdebatkan hari ini.
Setelah sidang, Xinyue dan Tang Hyun kembali ke paviliun, dan di perjalanan pulang, Xinyue berhenti di tengah jembatan dan berkata, "Aku malu."
"Untuk apa?" tanya Tang Hyun.
"Karena aku terlihat lemah. Karena aku membuatmu khawatir. Karena aku membuat anak-anak takut."
Tang Hyun menggenggam tangan istrinya, "Kau tidak lemah. Orang lemah tidak akan berani mengakui takut. Dan kau tidak membuatku khawatir. Kau membuatku punya alasan untuk tetap waras."
Mereka melanjutkan jalan, dan di malam hari, Tang Hyun mulai melakukan sesuatu yang baru, dia meminta Xinyue untuk menceritakan satu ingatan bahagia setiap hari, hanya satu, tidak peduli sekecil apa, bisa tentang teh pertama yang mereka minum bersama, bisa tentang Tang Lei yang jatuh dari pohon, bisa tentang Tang Yue yang pertama kali memanggil "Ayah", dan setiap kali Xinyue bercerita, Tang Hyun akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, seolah itu adalah resep paling penting di dunia.
Perlahan, mimpi buruk Xinyue berkurang, dari setiap malam menjadi tiga kali seminggu, lalu menjadi sekali seminggu, dan pada hari ke dua puluh, dia bisa tidur semalaman tanpa terbangun, dan ketika bangun, hal pertama yang dia lakukan adalah menyentuh wajah Tang Hyun untuk memastikan dia nyata.
"Aku kembali," bisik Xinyue.
"Selamat datang kembali," jawab Tang Hyun.
Di tengah pemulihan itu, datang surat dari perbatasan, dari salah satu klinik "Proyek Tangan Kiri", surat yang ditulis oleh seorang wanita yang dulu juga terkena "Gerbang Asmara" sepuluh tahun lalu dan yang sekarang menjadi kepala klinik, isinya berbunyi, "Yang Mulia, saya dengar Permaisuri sedang sakit. Saya tahu rasanya. Jika Permaisuri mau, saya bisa datang dan berbagi cara saya bertahan. Karena kadang, yang kita butuhkan bukan tabib, tapi orang yang pernah ada di tempat yang sama."
Xinyue membaca surat itu tiga kali, lalu dia menatap Tang Hyun, "Aku ingin bertemu dengannya."
Maka dua minggu kemudian, wanita itu datang ke Chang'an, seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun dengan bekas luka di leher dan dengan mata yang tenang, dan dia dan Xinyue berbicara selama tiga jam di paviliun, tanpa Tang Hyun di ruangan, hanya mereka berdua, dan ketika selesai, Xinyue keluar dengan mata merah tetapi dengan punggung lebih tegak.
"Dia bilang," kata Xinyue pada Tang Hyun, "bahwa sembuh bukan berarti lupa. Sembuh berarti ingat, dan tetap memilih hidup."
Tang Hyun mengangguk, "Maka kita lakukan itu."
Sebulan setelah kejadian, Akademi Bunga Plum mengadakan kelas baru, kelas yang diusulkan oleh Xinyue sendiri, kelas bernama "Luka yang Tidak Terlihat", kelas untuk para tabib agar mereka belajar bahwa tidak semua pasien bisa disembuhkan dengan jarum dan obat, bahwa ada pasien yang butuh didengar, butuh ditemani, butuh waktu, dan di kelas pertama, Xinyue sendiri yang berdiri di depan 50 murid, dengan suara yang masih sedikit gemetar tetapi dengan mata yang jernih.
"Aku pernah tersesat," katanya, "di tempat yang membuatku membenci orang yang paling kucintai. Dan orang yang menyelamatkanku bukan orang yang paling kuat. Dia adalah orang yang paling sabar. Jadi jika kalian jadi tabib, ingatlah itu."
Para murid terdiam, lalu bertepuk tangan, dan Tang Hyun yang duduk di baris paling belakang, dengan alat di tangan kirinya, tersenyum.
Di malam hari perayaan kecil di paviliun, keluarga mereka berkumpul, Tang Ming, Tang Yue, Tang Lei, dan Xinyue yang untuk pertama kalinya sejak pulang tertawa lepas ketika Tang Lei menjatuhkan kuenya.
"Lihat," kata Tang Hyun pada Xinyue, "tawa itu nyata. Bukan ilusi."
"Aku tahu," jawab Xinyue, "karena aku yang merasakannya."
Sebelum tidur, Xinyue mengeluarkan sebuah kotak kecil dari lacinya, di dalamnya ada pita merah yang sama yang dulu Tang Hyun pegang di Pegunungan Kabut Merah, pita yang sudah dicuci dan dirapikan, "Aku simpan ini," katanya, "agar aku ingat bahwa bahkan di tempat tergelap, ada orang yang datang mencariku."
Tang Hyun mencium kening istrinya, "Dan aku simpan kau, agar aku ingat kenapa aku harus terus berjalan."
Beberapa hari kemudian, datang kabar bahwa tiga murid Sekte Iblis yang ditangkap sudah dijatuhi hukuman kerja di klinik perbatasan, sama seperti "Tangan Pembalas Desa Ling" dulu, dan Xinyue yang mendengar itu hanya mengangguk, "Biar mereka belajar. Bahwa menyembuhkan lebih sulit daripada menyakiti."
Dua bulan berlalu, dan Xinyue kembali ke tugasnya, mengunjungi klinik, mengajar di akademi, dan menemani Tang Hyun dalam "Proyek Tangan Kiri", tetapi dia tidak lagi sama seperti dulu, dia lebih lembut, lebih sabar, dan lebih sering duduk dan mendengarkan orang, karena dia tahu rasanya tidak didengar.
Suatu sore, ketika mereka duduk di paviliun, Xinyue tiba-tiba berkata, "Hyun, terima kasih karena tidak menyerah padaku, bahkan ketika aku menyerah pada diriku sendiri."
Tang Hyun menatap istrinya, "Dan terima kasih karena kembali padaku, bahkan ketika ada seribu alasan untuk tidak kembali."
Mereka diam, dan angin membawa kelopak bunga plum ke pangkuan mereka.
Malam itu, Tang Hyun menulis di jurnalnya, "Hari ini, istriku sembuh. Bukan karena obatku. Tapi karena dia memilih untuk sembuh. Dan karena aku memilih untuk menunggunya."
Xinyue yang membaca dari samping menambahkan satu kalimat, "Dan karena kita memilih satu sama lain, setiap hari."
Di luar, bulan bersinar, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada bayangan di mata Xinyue, hanya ada ketenangan, ketenangan dari orang yang tahu bahwa meskipun dunia bisa memutarbalikkan pikirannya, ada satu orang yang akan selalu datang ke dalam kabut untuk menjemputnya pulang.
Dan Tang Hyun tahu bahwa pekerjaannya belum selesai, karena luka seperti ini bisa kambuh, tetapi dia juga tahu bahwa selama dia ada, selama tangan kirinya masih bisa menggenggam, maka Xinyue tidak akan pernah berjalan sendirian lagi.
Karena cinta mereka bukan tentang tidak pernah terluka, melainkan tentang bagaimana mereka merawat luka itu bersama, sampai luka itu menjadi bekas yang mengingatkan bahwa mereka pernah selamat.