Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
(Lanjutan bab sebelumnya)
"Mama !" Teriak Andriana begitu melihat Diana terbaring di pangkuan Devan dengan bersimbah darah.
"Sa-yang maafkan mama" Ucap Diana terbata bata sambil meraih pipi Andriana yang sudah berurai air mata.
"Mama, mama pasti selamat! Devan bawa mama ke meja biar aku keluarkan pelurunya, mama pasti baik baik saja" Ucap Andriana dengan sangat panik.
"An, An, tenangkan dirimu, aku juga dokter tapi mana bisa kita operasi mama kamu sekarang, lebih baik kita cepat bawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat,ayo!" Devan menggendong tubuh Diana tapi Diana menolaknya.
"Tidak Van, Andriana, mama tahu waktu mama tidak banyak, sekarang mama lega kamu sudah memaafkan mama, mama bisa pergi dengan tenang"
"Mama, baru saja Andriana menemukan mama tapi kenapa mama mau meninggalkan Andriana?"
"An, ada Devan yang akan selalu menjagamu, mama yakin dia akan selalu melindungimu" Ucap Diana dengan senyum terakhirnya sebelum akhirnya ia menutup matanya untuk selamanya.
"Mama....!" Andriana tidak peduli dengan bajunya dan memeluk tubuh Diana yang berlumuran darah.
Andriana melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Arnold, Sonia dan Rosa yang berada di samping polisi dengan kedua tangan mereka diborgol.
Dengan mata merah penuh amarah Andriana bangkit dan berjalan ke arah mereka bertiga.
Plak
Plak
Plak
Andriana menampar Arnold, Sonia dan Rosa meskipun berat baginya tapi rasa marah dan bencinya sudah melampaui rasa hormatnya.
"Arnold! Kamu memang bajingan, kamu nikahi aku tapi kamu selingkuh dengan banyak wanita di luaran sana termasuk dia (Menunjuk pada Sonia). Kamu menikahi tuan Dimas tapi tubuhmu kamu obral kepada banyak pria termasuk suamiku...dasar jalang!
Arnold, sekarang juga kita cerai, aku akan urus perceraian kita ".
Andriana mengalihkan pandangannya pada Rosa " Dan kamu nyonya Rosa, aku sangat menyayangimu seperti ibuku sendiri dan aku menganggapmu malaikat penyelamatku, tapi ternyata kamu dalang di balik kehancuran hidupku dan keluargaku, brengsek kamu!".
"Pak polisi bawa mereka semua dan jebloskan ke penjara, usut semua kasus yang melibatkan mereka dan keluarga Wijaya termasuk kematian nona Saskia, ingat ! Tidak ada ampun untuk mereka!" Imbuh Andriana dengan berapi api.
"Baik, kami akan urus mereka sesuai prosedur dan usut kembali kasus kematian Saskia "Jawab salah satu anggota polisi sebelum membawa mereka semua pergi.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu.
Keluarga Wijaya benar benar hancur, seluruh aset dan perusahaan disita Bank karena ternyata perusahaan mereka sedang bangkrut dengan banyak hutang.
Sonia pun diceraikan oleh Dimas dan kini dicoret dari keluarga Collin, seluruh saham atas namanya kini dikembalikan kepada tuan Dimas, begitu juga beberapa aset miliknya yang terbukti berasal dari Dimas juga diambil kembali tanpa menyisakan apapun.
Andriana berdiri di balkon apartemen sambil memandangi ke atas.
Devan datang memeluknya dari belakang.

"Sayang, lagi mikirin apa?" Tanya Devan lembut.
"Van, aku bahagia banget tapi juga sedih sudah kehilangan mama kandungku yang baru saja aku temukan" Jawab Andriana.
"Kamu doakan mama tenang di sana, dan kamu di sini juga selalu bahagia hidup denganku"
Andriana memutar tubuhnya lalu menunduk penuh kesedihan membuat Devan menarik nafas dalam-dalam lalu mendongakkan wajah wanitanya itu dengan jari telunjuknya.
Devan mendekatkan wajahnya.
Cup
Devan pun menyambar bibir merah merona yang selalu membuatnya candu dan berakhir dengan pergulatan panas di ranjang. Tapi kali ini tidak, Devan mulai menuntut ciumannya dan memperdalam pagutannya tapi Andriana mendorong tubuh Devan dan melepaskan lumatannya dengan nafas yang memburu dan tersengal sengal.
"Van, cukup Van, apa kita akan begini terus?"
"Apa maksudmu sayang?Aku tetap milikmu dan aku sangat mencintaimu lebih dari apapun" Jawab Devan hendak mencium bibir Andriana lagi tapi pemilik bibir merah itu mundur selangkah tanpa melepaskan tatapannya.
"Van, setelah aku dan Arnold resmi bercerai"
"Aku akan menikahimu"Sahut Devan dengan tatapan tajam.
Andriana pun mulai berkaca-kaca lalu berhambur ke pelukan Devan, di sana tangisannya pun pecah .
Devan terus mengusap punggung Andriana untuk menenangkan hatinya.
Andriana mengedarkan dekapannya.
Devan menatap lekat wajah wanitanya, mengusap pipinya yang basah " Sayang, kapanpun kamu siap aku akan menikahimu? Sekarang kamu pasti lapar, aku masak untukmu ya?".
Andriana mencoba tersenyum tipis lalu mengangguk perlahan"Memangnya masakanmu bisa dimakan? Kamu tunggu saja di kamar biar aku yang masak".
"Oke, baik, kalau begitu kita masak berdua saja " Bisik Devan seraya mencuri cium di pipi wanitanya.
Andriana hanya tersenyum tipis dan menggenggam tangan Devan, keduanya pun berjalan ke dapur.
Andriana mulai mengeluarkan bahan bahan yang bisa diolah dari kulkas.
Dengan telaten ia mulai mengiris bahan bahan lalu mencucinya dan mulai menumis bumbu.
Namun lagi lagi Devan tidak bisa melihat Andriana begitu saja tanpa memeluk atau menciumnya meskipun sebentar.
"Van, lepaskan! Bagaimana aku bisa masak kalau kamu terus memelukku dari belakang?"
Devan tidak bergeming, justru semakin mempererat pelukannya dengan sesekali mencium lembut tengkuk leher wanitanya itu.
"Devan!"
"Apa sih!"
"Lepaskan atau aku tidak jadi masak dan kita tidak usah makan malam!" Gertak Andriana mulai kesal dengan tingkah manja Devan.
Devan memutar tubuh Andriana dan menggendongnya membawanya masuk ke dalam kamar, membaringkannya di atas ranjang.
Andriana melotot tajam " Devan! Kamu gila! Aku bau bawang lihat nih bajuku juga bau asap dapur".
Devan mengunci tubuh Andriana dengan tubuhnya yang berada menindih tubuh wanita itu " Kita lakukan sekali saja ya sayang?"Rengek laki laki seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen.
Andriana melotot dan mendorong tubuh Devan dengan cukup keras " Jangan gila kamu!".
"Tapi sayang? Aku lagi bergairah "
Andriana menepuk jidatnya lalu meraih pergelangan tangan Devan dan menuntunnya ke kamar mandi, menyalakan shower air hangat dan mengguyur tubuh Devan.
"Sayang, apa kamu lakukan!" Teriak Devan.
"Kamu lagi birahi kan, aku lagi sibuk! Kamu mandi saja nanti juga redam sendiri" Jawab Andriana buru buru keluar dari kamar mandi sebelum kembali disergap oleh Devan.
"Sayang! Jangan gitu dong? Ayo temani aku mandi!" Teriak Devan dari dalam kamar mandi.
Andriana yang sudah berada di luar kamar mandi hanya tersenyum kecil "Sudah mandi sendiri saja, aku mau lanjutin masak sayang!" Jawabnya.
Devan pun akhirnya menerima kenyataan dan menyelesaikan mandinya dengan baik.
Sedangkan Andriana menyelesaikan masakannya lalu menyiapkan makan malam romantis di atas meja makan.
Setelah beberapa saat, Devan keluar dari kamarnya dengan baju santai yang rapi serta bau harum maskulin khas laki laki.
Andriana tersenyum tipis lalu mencium bajunya sendiri yang masih berbau asap masakan.
"Van kamu tunggu di sini gantian aku yang mandi ya"
"Baik tapi jangan lama lama ya, aku sudah lapar banget nih"
"Siap sayangku".
Andriana pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum akhirnya makan malam romantis dengan kekasih hatinya.