Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA LALU YANG BELUM USAI
Keesokan paginya, udara yang terasa dingin menusuk hingga ke tulang menyadarkan Kristin dari tidurnya. Ia menggigil pelan di dalam tenda, menarik selimut tipis yang ia bawa hingga sebatas dagu, namun tetap saja rasa dingin itu tak sepenuhnya hilang. Kristin mengerjap beberapa kali, menatap dinding tenda yang berembun, lalu menyadari sepenuhnya bahwa ia berada jauh di dalam hutan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa bermalam di alam bebas akan sedingin ini. Sialnya, pakaian yang ia bawa hanya sebatas kaos lengan panjang yang ia kenakan sejak kemarin. Ia lupa membawa jaket tebal dan bahkan sepasang kaus kaki pun tak masuk ke dalam tasnya.
Kristin menghela napas panjang sambil memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan badan. Ia teringat bahwa mereka masih harus menginap di hutan ini satu hari lagi sebelum akhirnya pulang. Penyesalan pun perlahan merayap di hatinya. Seandainya ia lebih teliti dan mempersiapkan segala keperluan dengan lebih matang, pasti saat ini ia tidak akan kedinginan seperti ini. Namun apa daya, semuanya sudah terlambat. Ia hanya bisa bertahan dan berusaha sekuat tenaga agar tetap hangat.
Dengan sisa kantuk yang masih ada, Kristin pun beranjak keluar dari tenda. Udara pagi yang segar namun dingin seketika menyambutnya. Di depan tenda peserta baru, terlihat Cintya sedang sibuk menata peralatan makan dan menyiapkan sarapan sederhana serta teh hangat yang mengepulkan uap putih. Melihat pemandangan itu, hati Kristin yang sempat kedinginan perlahan terasa sedikit lebih hangat. Ia pun melangkah mendekat.
"Selamat pagi, Cintya..." sapa Kristin pelan sambil menggosokkan kedua telapak tangannya untuk menghangatkan diri. "Di mana teman-teman kita yang lain?"
Cintya menoleh seketika sambil tersenyum ramah. "Selamat pagi, Kristin. Bobi dan Joel sedang mandi di sungai yang letaknya agak ke bawah dari sini. Sedangkan Ari dan Jeki sedang pergi mengumpulkan kayu kering untuk persiapan api unggun dan kegiatan kebersamaan kita nanti malam."
Kristin mengangguk paham, lalu matanya beralih menatap ke arah tenda panitia yang berdiri tak jauh dari sana. Terlihat Kevin, Rangga, dan Adit sedang sibuk menata bahan makanan dan menyiapkan sarapan untuk seluruh rombongan. Melihat mereka tampak begitu rajin sejak pagi buta, Kristin pun berjalan mendekat dan memberi salam dengan sopan.
"Selamat pagi, Kak Kevin, Kak Rangga, Kak Adit..." sapa Kristin sambil menundukkan kepala sedikit.
Ketiga senior itu pun menyambutnya dengan senyuman hangat dan membalas sapaan itu. "Selamat pagi, Kristin," ucap Kevin lembut sambil tersenyum lebar. "Bagaimana tidurmu semalam? Apakah kau menikmati tidur pertamamu di tengah hutan?"
Kristin tersenyum sopan. "Terima kasih, Kak. Aku merasa cukup nyaman dengan suasana di sini, meski udaranya memang terasa sangat dingin."
Adit yang sedang mengaduk masakan di atas kompor portabel itu pun tersenyum jenaka dan menyahut, "Wah, kalau kau merasa nyaman begitu... mungkin kau bisa saja menetap di hutan ini dan tidak perlu pulang lagi ke kota."
Kristin tertawa kecil mendengar candaan itu, lalu membalas dengan senyum. "Jangan begitu, Kak. Nanti kalau aku menetap di sini, takutnya aku malah menjadi seperti Tarzan yang hidup sendirian di dalam hutan."
Suasana pun seketika menjadi hangat dengan tawa kecil yang terdengar bersahutan. Namun Rangga yang sedari tadi hanya memperhatikan Kristin dengan tatapan meneliti, tiba-tiba bersuara pelan. Pandangannya menatap sepasang kaki Kristin yang kini terbalut sendal gunung milik Doni.
"Kristin..." panggil Rangga pelan namun cukup jelas terdengar. "Apakah kau bisa mengubahnya?"
Kristin terdiam seketika, bingung mendengar pertanyaan itu. Ia menatap ke sekujur tubuhnya sendiri, lalu kembali menatap Rangga dengan tatapan bingung. "Maaf, Kak... apa maksud pertanyaan Kakak? Aku tidak mengerti."
Rangga hanya tersenyum tipis, senyum yang seakan menyimpan makna tersendiri yang belum siap ia ungkapkan. "Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Semoga saja... kau adalah orang yang tepat."
Kalimat itu membuat Kristin semakin bingung. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud oleh Rangga. Namun melihat bahwa Rangga tak berniat menjelaskan lebih lanjut, Kristin pun memilih untuk tidak memaksanya. Ia pun berpamitan kepada ketiga senior tersebut untuk membersihkan diri.
"Kalau begitu, Kak... izinkan aku pergi membersihkan diri terlebih dahulu," pamit Kristin dengan sopan.
Kevin mengangguk setuju. "Silakan, Kristin. Hati-hati di jalan."
Sementara itu, Cintya yang masih sibuk menata meja makan ikut menyahut, "Kau duluan saja, Kristin. Aku masih harus menyelesaikan sarapan ini. Cepat kembali ya, nanti sarapannya sudah dingin."
Kristin pun mengangguk dan segera mengambil perlengkapan mandinya. Dengan langkah yang perlahan menuruni lereng kecil menuju arah sungai, ia berjalan sendirian di antara pepohonan yang masih berembun. Udara pagi yang segar terasa menyejukkan paru-parunya, namun pikirannya masih terus tertinggal pada kalimat yang baru saja diucapkan oleh Rangga. Apa maksudnya? Apa yang harus diubah darinya?
Semakin ia berjalan mendekati aliran sungai yang jernih itu, tiba-tiba terdengar suara pembicaraan orang yang saling beradu pendapat. Suara itu terdengar pelan namun cukup jelas tertangkap oleh pendengarannya. Kristin seketika berhenti melangkah. Rasa penasaran pun mendorongnya untuk berjalan lebih pelan lagi, menyusup di balik batang pohon besar dan semak belukar yang rimbun, bermaksud menguping pembicaraan yang sedang berlangsung tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dari balik pepohonan, Kristin menatap ke arah sumber suara. Jantungnya seketika berdegup kencang. Di tepi sungai yang jernih itu, berdiri dua orang yang tak asing baginya. Nisa dan Doni. Keduanya tampak sedang berbicara dengan wajah yang serius, seakan sedang membahas sesuatu yang sangat penting dan berat.
Kristin menahan napasnya, membiarkan tubuhnya tetap tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan, sambil terus mendengarkan setiap kata yang terucap.
"Katakan jujur, Doni..." terdengar suara Nisa yang terdengar sedikit bergetar namun penuh harap. "Apakah kau benar-benar tidak akan pernah membuka hatimu lagi? Seperti dulu... saat kita masih bersama?"
Doni berdiri dengan tenang, sebatang rokok terselip di jari-jemarinya yang sesekali mendekat ke mulut. Awan asap tipis perlahan terbang terbawa angin pagi. Dengan nada yang datar dan tegas, Doni menjawab tanpa ragu sedikit pun. "Hatiku telah tertutup untukmu, Nisa. Sejak dulu hingga saat ini, tidak ada yang berubah."
Nisa menarik napas panjang, berusaha menahan perih yang mulai merambat di dadanya. Ia kembali bersuara, "Apakah... ada wanita lain yang kini mengisi hatimu? Apakah kau menyukai mahasiswa baru itu?"
Doni menatap Nisa lekat-lekat, lalu menjawab dengan nada yang tak dapat diganggu gugat. "Itu semua bukan urusanmu, Nisa. Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku."
Nisa menggeleng tak percaya. "Aku mengenalmu, Doni. Kau tidak pernah peduli pada siapa pun, kau tidak pernah menaruh perhatian pada orang lain... jadi kenapa kau tiba-tiba begitu peduli padanya?"
Doni tersenyum sinis, lalu membalas dengan tenang. "Aku memang seperti itu. Dan jangan berharap ada yang berubah."
Nisa seakan tak puas dengan jawaban itu. Ia melangkah selangkah lebih dekat ke arah Doni, lalu bertanya dengan suara yang sedikit meninggi namun tetap tertahan. "Jika kau benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun... katakan padaku, kenapa kau memberikan sendal milikmu kepada gadis itu? Kenapa kau begitu memperhatikannya hingga rela memberikan barang milikmu sendiri agar kakinya tidak terluka?"
Doni terdiam sejenak. Ia menatap air sungai yang mengalir jernih di hadapannya, lalu kembali menatap Nisa dengan tatapan yang tetap tenang namun dingin. "Itu hanyalah tugasku sebagai ketua panitia. Aku harus menjaga setiap peserta baru agar tetap aman dan selamat selama kegiatan berlangsung. Tidak ada makna lain selain itu."
Nisa tertawa kecil, namun tawanya terdengar getir dan penuh ketidakpercayaan. "Alasan itu terlalu lemah, Doni. Itu hanyalah alasan yang kau buat agar aku berhenti bertanya. Kau menyembunyikan sesuatu, dan aku tahu itu."
Doni menarik napas panjang, lalu membuang sisa asap rokoknya perlahan. Tatapannya berubah menjadi tajam dan tegas seketika. "Dengarkan aku baik-baik, Nisa. Aku tidak akan pernah menyukaimu lagi. Cukup masa lalu yang menjadi kenangan, dan hal seperti itu tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya. Jangan pernah berharap hal yang tidak mungkin terjadi."
Kalimat itu seketika mematikan harapan yang tersisa di hati Nisa. Wajahnya seketika berubah pucat, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha menahan agar air matanya tak jatuh. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Nisa membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Doni sendirian di tepi sungai itu.
Doni hanya diam saja. Ia tak berusaha memanggil Nisa kembali, tak pula berusaha mengejarnya. Ia hanya berdiri tegak di sana, kembali menyandarkan pandangannya ke arah pepohonan yang menjulang tinggi, seakan menikmati keheningan pagi yang perlahan kembali menyelimuti hutan itu. Tak lama kemudian, Doni pun membuang puntung rokoknya, lalu melangkah berjalan menanjak kembali menuju tempat rombongan berkumpul.
Sementara itu, Kristin yang sedari tadi diam menyembunyikan tubuhnya di balik pohon besar, masih terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa. Pembicaraan yang baru saja ia dengar secara tidak sengaja itu membuka satu hal besar yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Ternyata... Doni dan Nisa pernah memiliki hubungan yang istimewa di masa lalu. Mereka pernah saling menyayangi, namun hubungan itu berakhir dan tak akan pernah disambung kembali. Dan sepertinya... Nisa masih menyimpan perasaan itu, sementara Doni telah memilih untuk menutup hatinya rapat-rapat, tak lagi memberi celah bagi siapa pun untuk masuk kembali. Kristin berdiri terpaku di sana, membiarkan penemuan besar itu meresap perlahan ke dalam benaknya, membawa perasaan bingung dan heran yang tak kunjung usai.