NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:31.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak badai

Pendar keemasan sinar matahari pagi menerobos tipis dari balik tirai transparan water villa, memantulkan kilau air laut yang tenang ke arah plafon kamar. Suasana pulau yang sunyi membuat pagi itu terasa begitu lambat mengalir.

Di atas ranjang king size yang luas, dua tubuh yang semula terpisah oleh jarak beberapa jengkal malam tadi, kini bergeming rapat. Kehangatan yang menjalar dari tubuh masing-masing memecahkan dinginnya pendingin udara yang menyala sepanjang malam.

Senja perlahan terbangun dari tidurnya. Kelopak matanya yang lentik bergetar halus sebelum akhirnya terbuka sempurna. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya bukanlah plafon kayu kamar atau pemandangan samudra di luar jendela, melainkan hamparan dada bidang bertelanjang dada milik Alfa yang berjarak kurang dari satu sentimeter dari wajahnya.

Senja tersentak pelan di dalam hati. Namun sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi, ia merasakan sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuhnya makin menempel rapat. Tidak berhenti di situ, Senja yang linglung baru menyadari bahwa satu tangannya sendiri tengah melingkar nyaman di dada Alfa, sementara dadanya menempel hangat pada pria itu.

Entah siapa yang memulai atau bagaimana pergerakan mereka di alam bawah sadar sepanjang malam, mereka berdua terbangun dalam posisi saling memeluk dengan teramat erat dan intim.

Pada detik yang sama, Alfa melenguh halus. Pria itu membuka matanya, dan pandangan mereka bertabrakan dalam jarak yang teramat dekat. Napas hangat Alfa berhembus menembus kulit wajah Senja.

Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Keduanya mematung, terpaku dalam tatapan satu sama lain.

Deg...

Kesadaran menghantam mereka bagaikan sengatan listrik. Begitu menyadari posisi tubuh mereka, Alfa dan Senja secara refleks menarik diri dan melompat mundur secara bersamaan ke sisi ranjang masing-masing.

Sret!

Jarak yang mendadak membentang luas di tengah kasur diiringi oleh keheningan yang luar biasa canggung. Suasana romantis semalam mendadak menguap, berganti dengan ketegangan yang membuat udara di dalam kamar terasa kaku.

Alfa duduk di tepi ranjang, buru-buru mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk menutupi warna kemerahan yang menjalar hingga ke ujung telinganya. Sementara itu, Senja merapikan pakaian tidur dan rambutnya yang sedikit berantakan dengan gerakan yang amat serba salah.

"M-maaf, Mas... aku tidak sadar!" Cicit Senja pelan, suaranya terdengar canggung dan tertahan.

Alfa berdeham keras, mencoba menetralkan suara seraknya.

"Ah, tidak... aku juga tidak sadar. Mungkin karena pendingin udaranya terlalu dingin."

Tanpa menunggu balasan lagi, Senja buru-buru bangkit dari tempat tidur.

"Aku... aku ke kamar mandi dulu, Mas."

Senja setengah berlari menuju kamar mandi, menutup pintunya dengan cepat dan bersandar di balik pintu yang terkunci. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang tak beraturan. Untuk pertama kalinya, benteng pertahanan ketenangan yang selalu Senja banggakan runtuh hanya karena sebuah pelukan spontan di pagi hari.

Untuk mengikis kecanggungan yang tersisa di antara mereka sejak pagi, Alfa memutuskan untuk mengambil paket aktivitas laut yang disediakan oleh pihak resor. Pria itu mengajak Senja pergi diving ke salah satu spot terumbu karang terbaik di sekitar gugusan kepulauan tersebut.

Pukul sepuluh pagi, sebuah kapal speed boat berukuran sedang yang dikemudikan oleh seorang pemandu lokal bernama Tariq membawa mereka membelah lautan biru pirus.

Angin laut membelai wajah mereka hangat, dan untuk sejenak, kecanggungan pagi tadi tergantikan oleh decak kagum Senja menyaksikan kejernihan air laut yang memperlihatkan kawanan ikan warna-warni dari atas kapal.

Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit, mereka tiba di sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang dikelilingi oleh terumbu karang karismatik.

Aktivitas diving berjalan dengan sangat mengagumkan. Selama hampir dua jam, Alfa dan Senja menyelam bersama, menikmati keindahan bawah laut Maladewa yang legendaris.

Alfa bahkan tak ragu menggenggam tangan Senja di bawah air untuk memandu wanita itu menyusuri tebing-tebing karang.

Namun, alam Maladewa yang indah terkenal akan perubahannya yang teramat dinamis.

Saat mereka baru saja naik kembali ke atas kapal dan memobilisasi peralatan diving, warna langit yang semula biru cerah mendadak berubah menjadi abu-abu gelap dalam hitungan menit.

Angin laut yang awalnya berhembus sepoi-sepoi mendadak bertiup kencang, memicu gelombang air laut yang mulai bergulung tinggi.

"Kita harus segera kembali ke resort! Badai datang lebih cepat dari perkiraan prakiraan cuaca!" Teriak Tariq seraya menyalakan mesin kapal.

Alfa merangkul bahu Senja yang memegang pegangan kapal dengan erat. Gelombang laut mulai menghempas speed boat mereka dengan kasar. Kapal bergoyang hebat, terombang-ambing di tengah lautan yang kian mengamuk.

Brak!!

Sebuah dentuman keras terdengar dari bagian bawah lambung kapal ketika gelombang tinggi menghempaskan kapal mereka ke arah deretan karang dangkal di pinggir pulau tempat mereka menyelam tadi. Mesin kapal mendadak mati total, dan suara gersik air masuk terdengar dari dek bawah.

"Lambung kapalnya bocor! Karang merobek pelat bawah!" Seru Tariq panik, mencoba memompa air keluar namun sia-sia. Air laut masuk terlalu cepat.

"Kita tidak bisa kembali ke resor dengan kapal ini! Kita harus terdampar di pulau ini!"

Dengan bersusah payah, Tariq berhasil mengemudikan sisa dorongan kapal ke tepi pantai pasir putih pulau tak berpenghuni itu sebelum kapalnya benar-benar karam dan tergenang air penuh di pinggir pantai.

Hujan deras yang disertai angin kencang bagaikan dicurahkan dari langit. Jarak pandang tertutup rapat oleh tirai air hujan dan kabut tebal.

"Ikut saya! Ada shelter darurat di tengah pulau!" Teriak Tariq menembus gemuruh angin dan petir yang bersahut-sahutan.

Alfa merangkul erat tubuh Senja, melindungi wanita itu dari hempasan hujan deras dan angin dingin yang menusuk tulang. Mereka bertiga berlari menembus pepohonan kelapa yang meliuk-liuk dihantam angin, menuju ke bagian tengah pulau.

Satu-satunya tempat berlindung yang ada di pulau itu adalah sebuah bangunan semi-permanen tanpa dinding, hanya struktur tiang kayu dengan atap seng tua yang biasa digunakan para penyelam untuk berteduh sementara.

Hujan badai makin mengamuk saat sore menjelang malam. Langit berubah menjadi hitam pekat. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal ponsel, dan tidak ada sumber penerangan sama sekali selain sebuah senter kecil yang dibawa oleh Tariq di dalam tas kedap airnya.

Suhu udara merosot tajam. Angin badai bertiup masuk tanpa hambatan ke dalam bangunan terbuka itu, membawa cipratan air hujan yang membasahi seluruh area tempat berteduh mereka.

Tariq duduk di sudut ruangan, mencoba menghubungi pihak resor menggunakan radio panggil darurat yang dayanya hampir habis.

"Resor mengonfirmasi bantuan baru bisa dikirim besok pagi atau paling cepat nanti malam jika badai ini mereda!" Seru Tariq berteriak agar suaranya terdengar di tengah gemuruh hujan.

"Gelombang laut saat ini mencapai empat meter, tidak ada kapal yang diizinkan berlayar!"

Mendengar kenyataan itu, pertahanan mental Senja yang selama ini selalu tampak tangguh dan tak tersentuh mendadak runtuh sepenuhnya.

Senja terduduk di sudut lantai semen yang dingin, merapatkan kedua lututnya ke dada. Pakaian diving yang basah dan dingin menempel di kulitnya, membuat tubuh ramping itu bergetar hebat karena hipotermia yang mulai menyerang dan rasa takut yang teramat sangat.

Alfa yang melihat kondisi istrinya segera berlutut di hadapan Senja. Pria itu melepas jaket pelampung dan kemeja luarnya yang sedikit lebih kering, lalu membungkuskan kaus itu ke bahu Senja.

"Senja... Senja, tatap aku!" Panggil Alfa khawatir saat melihat bibir Senja yang memutih dan gemetaran.

Namun untuk pertama kalinya sejak Alfa mengenalnya, Senja tidak lagi menunjukkan wajah anggun atau senyum tenang. Wajah manis itu kini dipenuhi oleh kepanikan yang teramat nyata.

Matanya bergetar hebat memancarkan ketakutan yang mendalam pada kegelapan dan suara gemuruh petir yang menggelegar di atas mereka.

"Mas... kita... kita tidak bisa keluar dari sini?" Cicit Senja dengan suara bergetar dan napas yang memburu. Air mata mendadak merembes keluar dari sudut matanya, bercampur dengan sisa-sisa air hujan di pipinya.

"Gimana kalau badainya makin besar? Gimana kalau air lautnya naik ke sini, Mas?"

Senja cemas luar biasa. Rasa terkungkung, dingin yang menggigit, kegelapan pekat pulau tak berpenghuni, dan suara alam yang mengamuk memicu serangan kepanikan di dalam dirinya.

"Hey... tidak, Senja, dengarkan aku!" Alfa meraih kedua pipi Senja dengan jemarinya yang hangat, memaksa mata wanita itu untuk menatap lurus ke dalam matanya.

"Kita aman di sini. Bangunan ini kokoh. Aku ada di sini bersamamu, Senja. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu!"

Bledar!

Suara sambaran petir yang dahsyat bergema persis di atas pulau, menyinari kegelapan malam untuk sedetik.

"Mas Alfa!" Senja menjerit pelan.

Tanpa peduli lagi pada gengsi, batas hubungan, atau rasa canggung yang menahan mereka selama ini, Senja menghambur ke depan, memeluk leher Alfa dengan teramat erat. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alfa, menangis sesenggukan seraya mencengkeram erat kemeja basah di punggung suaminya.

Alfa tersentak, namun detik berikutnya ia melingkarkan kedua tangannya dengan sangat erat di sekeliling tubuh Senja yang gemetaran. Alfa menyandarkan punggungnya pada tiang kayu utama, membawa Senja ke dalam pangkuannya untuk memberikan perlindungan penuh dari terpaan angin malam yang dingin.

"Aku di sini... aku di sini, Senja. Jangan takut!" Bisik Alfa berulang kali tepat di telinga Senja, mengusap rambut basah istrinya dengan penuh kelembutan.

Di dalam kegelapan pulau yang terisolasi dan kepungan badai samudra yang mengamuk, Senja menemukan satu-satunya tempat teraman untuk menyandarkan kepanikan dan kerentanannya, di dalam dekapan hangat suaminya yang tak membiarkannya sendirian.

1
Ass Yfa
dan Senjapun tak ada dlm masadepan Alfa..sesakit itu yg Senja...tak ada deorangpun yg tulus menyanyangimu..bahkan suami sendiri😭😭
Ass Yfa
Alfa lepaskan Senja biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri..kamu kuat Senja..siapa kira2 jodoh Senja😭😭.othor carikan jodoh Senja dong
Ass Yfa
Senja kelewat baik..tapi dia juga punya hati sok kadang baper.namanya juga wanita
vania larasati
lanjut
Nuriwan Hasanah
kuat banget imannya si alfa padahal udah lengket lengket gitu
Nuriwan Hasanah: lah kmarin kmarin di ranjang bersatu,untung ini novel coba dunia nyata,alfa aman,iman,amiinn
total 2 replies
Agnezz
Dibalik Senja yg terlihat sempurna cantik dan pintar, ternyata ini kelemahan Senja, takut akan petir dan badai.
Cahaya
lanjuttty
Cahaya
dasarrrrr alpamart otak ny d pnuhin delon delon aja nblin heeeh heeeeh
Cahaya
lanjut
Agnezz
Alfa mempunyai semua yg diidamkan wanita, kehangatannya, sikap melindungi, tanggung jawab, kalo sudah cinta betul2 setia dan sulit berpaling. Sayang sekali hati Alfa sudah milik Dila. Alfa tidak bisa meninggalkan Dila begitu saja. Pernikahan ini atas desakan orang tua. Yang harus disalahkan ayah2 mereka, terlalu berambisi terlalu menuntut anaknya melakukan sesuatu yg mereka inginkan.
Agunk Setyawan
bukan bara tapi Alfa 🤣
Inara Khimar
senja, pergi please. lepas semua nya
mery harwati
Satu kata bwt Bara, BODOH !!
Kalo sudah tak ada baru terasa
Kehadiranmu sungguh berharga
Sungguh berat hidupku tanpa dia
🎶 🎶 💃 💃
mery harwati: Iya abis logika Alfa yang katanya jago bisnis nol besar, seharusnya cara berpikir Alfa dibalik, bila posisi Alfa menjadi Senja, akankah Alfa punya hati seluas & sedalam samudra pada Ssnja & kekasihnya? Secara nikah sah, coba itu Alfa suruh dipake logikanya, jangan ditinggal di masa lalu karena Alfa hidup untuk masa depan bukan masa lalu 🤨😠
total 2 replies
Hanima
pergi lah jauh2 tinggal kan semua nya 👍
Sastri Dalila
🥺🥺
Hanima
😍😍👍
Nar Sih
semoga aja nanti bila dila sehat lgi ngk berubah jht
Nar Sih
seperti nya kmu sdh mulai nyaman dgn senja ya alfa ,cuma hti mu msih bersama dila
Linda Gunawan
nunggu Alfa menyesal semenyesal menyesalnya. kapan?🤭
Linda Gunawan
hati Alfa sebenarnya udah mulai condong ke Senja. pada Senja, dia mendapatkan apa yg selama ini tidak dia dapatkan. Senja perhatian, Senja baik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!