NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terima Hadiah

Simon melangkah masuk ke aula Serikat Pembunuh dengan langkah yang tenang dan berirama.

Debu dari perjalanan jauhnya masih menempel di jubah hitamnya, namun dalam benaknya, Simon merasa sangat puas saat ini.

Bukan hanya karena koin emas yang ia kumpulkan, tetapi karena ia telah memberi pelajaran berdarah pada pendeta munafik di Kota Heim.

Selama perjalanan kembali dari Heim ke Lune, Simon tidak membiarkan satu detik pun terbuang sia-sia. Ia terus memacu sirkulasi energinya, mengasah teknik tinju riak.

[ Tinju Riak (Pemula): 50/100 ]

'Hanya butuh 50 poin lagi untuk menembus batas. Kekuatan ini benar-benar kartu as yang luar biasa,' pikir Simon sembari mata merahnya memindai ruangan.

Begitu ia melewati ambang pintu aula, suasana yang tadinya bising mendadak berubah menjadi bisikan-bisikan tajam yang penuh dengan nada meremehkan.

"Oi, lihat siapa yang kembali!" bisik seorang pembunuh bertubuh kurus sembari menyikut rekannya.

"Bukankah itu si bocah 'Geralt' yang dengan sombongnya mengambil misi pembunuhan Ksatria Jordan?"

"Hahaha! Lihat penampilannya, jubahnya kotor dan dia kembali dengan tangan hampa. Aku sudah bilang, pembunuh tingkat kayu sepertinya hanya akan menjadi samsak bagi Ksatria Formal," sambung pria berwajah bopeng dengan tawa kasar.

"Jangan lupa uang taruhannya ya, bro! Aku bertaruh 10 koin perak bahwa dia akan kembali sambil merangkak memohon ampun atau setidaknya membawa cerita bohong tentang kegagalannya," seru pembunuh lain dari meja sudut, memicu gelombang tawa yang mengejek di seluruh ruangan.

Simon tidak peduli.

Di kehidupan sebelumnya ia yang telah ditempa oleh kejamnya realita di Bumi, kata-kata orang seperti ini tidak lebih berharga daripada debu di sepatunya.

Simon terus berjalan, tatapannya lurus ke depan, mengabaikan cemoohan yang dilemparkan padanya seolah ia sedang berjalan melewati sekumpulan serangga.

Simon tiba di depan konter tinggi tempat Rose sedang sibuk mencatat detail misi pembunuhan dari anggota lain.

Rose mendongak, menyesuaikan letak kacamatanya, dan tatapannya terpaku pada Simon.

Ada sedikit rasa lega sekaligus keraguan di matanya.

"Kau masih hidup, Geralt? Itu sudah merupakan prestasi bagi pemula," ucap Rose dengan datar, namun suaranya mengandung rasa ingin tahu yang besar.

Ia kemudian melirik plakat kayu milik Simon. "Jadi... misimu, apakah kamu gagal?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Simon merogoh balik jubahnya.

Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kasar yang masih menyisakan noda darah kering dan melemparkannya ke atas meja Rose dengan bunyi 'gedebuk' yang berat.

Di dalamnya terdapat lencana zirah mithril milik Jordan yang menjadi bukti mutlak kematian sang target.

Mata Rose membelalak.

Ia memeriksa lencana itu dengan tangan gemetar, memastikan keaslian segel ksatria formal tersebut.

"Ini... ini benar-benar milik Jordan..." desisnya tak percaya.

Dia kemudian menatap Simon."Kamu... Kamu berhasil?!" teriak Rose secara refleks, suaranya menggema ke seluruh penjuru aula yang mendadak hening seketika.

"...."

"Apa?! Dia berhasil membunuh Jordan?!" suara tawa di meja sudut langsung terhenti, digantikan oleh ekspresi pucat.

"Bagaimana mungkin? Jordan adalah Ksatria Formal yang menguasai Qi Pertempuran! Bagaimana bisa seorang pemula tingkat kayu membunuhnya sendirian?" tanya seorang pembunuh senior dengan nada syok.

"Siapa sebenarnya orang ini? Geralt... nama itu tidak pernah terdengar sebelumnya. Apakah dia menyembunyikan kekuatannya selama ini?" bisik pembunuh lainnya dengan rasa takut yang mulai merayap di punggungnya.

"Pemula tingkat kayu membunuh Ksatria Formal... Ini gila! Seluruh papan peringkat tingkat kayu akan terguncang karena ini!"

Rose menatap Simon dengan pandangan yang benar-benar baru. Bukan lagi sebagai 'Jagoan' pemula yang beruntung, melainkan sebagai seorang professional yang berbahaya.

"Geralt... aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya, tapi serikat akan segera memperbarui poinmu," ucap Rose sembari mencatat keberhasilan misi tersebut dengan tangan yang masih sedikit bergetar.

Simon hanya menampilkan senyum tipis di balik topeng gagaknya.

Baginya, kehebohan ini hanyalah bagian dari proses, Fokus utamanya masih tetap satu.

mengumpulkan poin dan sumber daya untuk menjadi lebih kuat!

"Sebentar, aku akan kembali," ucap Rose sembari membawa lencana mithril milik Jordan ke ruang belakang.

Tidak membutuhkan waktu lama, Rose kembali dengan langkah yang lebih mantap.

Sorot matanya yang biasanya tenang kini memancarkan rasa hormat yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya terhadap pemuda di hadapannya.

"Menurut informasi serikat yang baru, Jordan benar-benar telah terbunuh. Mata-mata kami mengonfirmasi lokasi pertempuran itu hancur total," kata Rose sembari meletakkan sebuah kotak kayu hitam yang diukir rapi di atas konter.

Ia kemudian menatap Simon secara serius. "Ini hadiahmu, Tuan Geralt. Dan satu hal lagi... atas prestasi luar biasa membunuh seorang Ksatria Formal, kamu telah dipromosikan menjadi pembunuh Tingkat Besi. Tolong berikan plat kayumu padaku."

"Tunggu sebentar" Simon tidak banyak bicara.

Ia melepaskan plakat kayu kusam yang baru digunakannya sebentar dan menyerahkannya kepada Rose.

Rose mengambilnya, lalu dari bawah laci, ia mengeluarkan sebuah plakat logam berwarna abu-abu gelap dengan ukiran lambang serikat yang jauh lebih tajam, ini sebuah tanda otoritas pembunuh Tingkat Besi.

"Selamat, Tuan Geralt. Sekarang kamu adalah pembunuh tingkat besi dan saya berharap anda akan sukses terus," kata Rose dengan nada yang jauh lebih hangat dari sebelumnya.

Simon menerima plakat besi itu, merasakan beratnya logam yang dingin di telapak tangannya.

"Terima kasih, Rose. Mengenai Jordan... dia jauh lebih lemah dari yang kubayangkan, kuharap ada lawan yang sepadan" kata Simon dengan becanda.

Sejujurnya dia tidak berani melawan orang yang kuat heheh.

Rose tertawa kecil, meskipun ada nada ngeri di dalamnya.

"Hanya kamu yang berani mengatakan seorang Ksatria Formal pengguna Qi adalah sosok yang lemah, Geralt. Berhati-hatilah, promosi cepatmu pasti akan memicu kecemburuan di aula ini."

"Jika mereka bertindak aku akan meladeni mereka dengan baik." Ucap Simon sambil berbalik dari Rose.

Setelah menerima kotak kayu dan 7 koin emas sebagai tambahan dari 15 koin yang ia rampas dari Jordan, Simon segera meninggalkan markas serikat dengan tenamg.

Pikirannya sudah tertuju pada satu tempat, Toko milik Tuan Martin, jelas setelah mendapatkan hadiah ini masa tidak di belanjakan dengan baik?

Sebenarnya, Simon ingin mengambil misi pembunuhan berikutnya untuk memanen poin kemahiran.

Namun, ia menyadari bahwa waktu cuti yang diberikan oleh Kapten Jon hampir habis.

Sebagai ksatria di bawah Baron Brent, ia tidak punya pilihan selain kembali ke barak untuk sementara agar identitas aslinya tetap aman.

Namun, lune tidak selamanya tenang.

Saat Simon memasuki sebuah gang sempit yang merupakan jalan pintas menuju toko Martin, ia merasa bahwa ada seseorang di yang membuntutinya.

Tap. Tap. Tap.

Tiga sosok pria mengenakan baju zirah kulit ringan muncul dari kegelapan gang, menghalangi jalannya.

Mereka memegang pedang ksatria standar, dan dari tekanan energi yang terpancar, Simon tahu bahwa mereka juga masih ksatria magang sepertinya.

"Berhenti di sana, Geralt,kan?" ucap pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di dagu.

Matanya menatap serakah pada kotak kayu yang dibawa Simon.

"Kami melihatmu keluar dari serikat dengan kotak itu. Serahkan kotaknya, dan kami akan membiarkanmu pergi dengan tangan dan kaki yang utuh."

Simon berhenti melangkah. Di balik topeng gagaknya, sepasang **mata merah menyalanya** menyipit tajam [2, User Query]. Cibiran dingin muncul di wajah tampannya.

"Membegal pembunuh tingkat besi... kalian benar-benar tidak sayang nyawa,ya?" desis Simon, suaranya rendah dan menusuk.

"Tingkat besi? Hahaha! Kau hanya pendatang baru yang beruntung!" raung salah satu pembunuh bayaran itu sembari menerjang maju.

Simon tidak menghunus pedang hitamnya. Sebaliknya, ia merendahkan pusat gravitasinya dan memacu Pernafasan Ular Hitam hingga ke titik puncak.

"Mari kita uji teknik baru ini padamu."

TINJU RIAK!

Simon melayangkan pukulan lurus ke udara.

Bersenandung!

Udara di depan tinjunya berdistorsi hebat, menciptakan gelombang riak transparan yang melesat secepat kilat, walau tidak sekuat Jordan yang memiliki Qi pertempuran, tetap saja sangat mematikan.

[Pernafasan Ular Hitam +4 ]

Pembunuh bayaran yang menerjang itu terbelalak ngeri saat dadanya dihantam oleh tekanan udara yang tak terlihat.

BOOM!

[ Tinju Riak +1 ]

Tubuh pembunuh itu terlempar ke belakang, menghantam dinding bata hingga retak.

Namun, dua rekannya yang lain, meskipun terkejut, segera mengaktifkan pernapasan ksatria mereka dan menyerang Simon dari dua arah berbeda secara sinkron.

"Mati kau!!"

Dua bilah pedang berkilat di bawah cahaya bulan yang minim, mengincar leher dan pinggang Simon secara bersamaan.

Pertarungan di gang gelap ini baru saja dimulai, dan Simon tahu bahwa ketiga pengganggu ini jauh lebih merepotkan daripada bandit jalanan biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!