Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Amara Ketakutan
Kabar pertama tiba sebelum Amara selesai merias wajah.
Anindya dan Arkana terjebak hujan setelah kunjungan proyek di Tangerang. Mereka bermalam di hotel yang sama. Pagi harinya, sebuah kendaraan hotel mengantar keduanya ke Klub Enggar.
Pesan itu dikirim oleh orang yang sejak pameran seni mengawasi pintu masuk klub. Disertai tiga foto buram: Arka turun dari kursi depan, Anindya keluar dari pintu belakang dengan tangan diperban, lalu Enggar menyambut di bawah kanopi.
Amara memperbesar gambar sampai bentuknya pecah menjadi kotak-kotak warna.
Mereka tidak berpegangan. Tidak berdiri berdekatan. Foto itu bahkan tidak membuktikan bahwa mereka berada di kamar yang sama.
Namun wajah Arka saat menatap Anindya cukup membuat jari Amara dingin.
Ponselnya berdering lagi. Kali ini sekretaris keluarga Adiwijaya menyampaikan bahwa pertemuan pembahasan pertunangan hari itu dibatalkan atas instruksi langsung Arka. Semua materi yang menyebut rencana pernikahan harus dihentikan sampai ada pernyataan resmi.
“Dibatalkan untuk hari ini?” tanya Amara.
“Dibatalkan tanpa tanggal pengganti, Bu.”
Sambungan berakhir.
Satu surel menyusul dari tim komunikasi Grup Adiwijaya. Amara diminta membaca rancangan pernyataan sebelum diterbitkan siang nanti. Kalimatnya singkat dan kejam dalam ketepatannya: tidak pernah ada tanggal akad yang disepakati, tidak ada pertunangan resmi yang mengikat kedua keluarga, dan setiap sebutan calon istri yang beredar selama ini bukan pernyataan perusahaan ataupun Arkana.
Nama Anindya tidak muncul satu kali pun.
Itu justru membuat Amara semakin sulit menyerang. Arka tidak sedang memindahkan satu perempuan untuk menempatkan perempuan lain. Ia sedang mencabut pijakan yang selama ini dibiarkan Amara gunakan.
Amara mencoba meneleponnya. Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua dialihkan ke Fajar dengan pesan bahwa Pak Arkana sedang berbicara dengan Ratna dan akan menghubungi setelah seluruh pihak keluarga menerima penjelasan yang sama.
Ia menutup sambungan sebelum Fajar selesai bicara.
Amara menatap cermin besar di kamar utama apartemen SCBD. Dahulu, sisir kayu Anindya pernah tergeletak di meja itu. Buku penerbangan perempuan itu pernah memenuhi rak dekat jendela. Amara membuang semuanya agar ruang tersebut tampak seolah sejak awal disiapkan untuknya.
Sekarang apartemen itu terasa seperti pakaian curian yang mulai menyempit.
Ia menghubungi Tiara.
“Datang ke sini. Sekarang.”
Tiara tiba empat puluh menit kemudian dengan kacamata hitam dan kesabaran yang tipis. Ia membaca seluruh pesan, lalu meletakkan ponsel Amara di meja.
“Mereka satu proyek. Terjebak di hotel yang sama bukan skandal.”
“Arka membatalkan pembicaraan keluarga pagi ini.”
“Itu masalahmu yang sebenarnya.”
Amara berjalan mondar-mandir. “Sejak Merapi dia berubah. Lalu perempuan itu muncul di setiap kegiatan Klub Enggar. Sekarang Arka mengantarnya pulang ke sana.”
“Anindya tidak muncul dari mana-mana,” kata Tiara datar. “Dia sudah terbang di perusahaan itu sejak awal dan semua orang tahu dia selamat dari Merapi. Yang baru adalah kita mulai melihat siapa yang berdiri di belakangnya.”
Kalimat itu memotong sisa logika palsu yang ingin dipertahankan Amara.
Ia tidak takut pada keberadaan Anindya. Perempuan itu tidak pernah menghilang dari dunia. Ia takut perempuan yang selama ini dipandang sebagai mantan istri tanpa keluarga ternyata memiliki pintu, uang, dan orang-orang yang tidak bisa dibeli Amara.
“Aku ingin tahu apa yang terjadi di hotel,” katanya.
“Cari catatan yang legal. Jangan menyuap resepsionis lalu meninggalkan jejak.”
Amara menelepon pengawasnya dan menuntut nomor kamar. Jawaban yang diterima hanya membuatnya semakin marah. Staf hotel menolak membuka data tamu, rekaman lorong memerlukan permintaan resmi, dan rombongan proyek menggunakan beberapa kamar di lantai berbeda. Pengawas itu bahkan tidak bisa memastikan siapa duduk di kamar mana selama listrik padam.
“Jadi kamu mengawas dua belas jam dan hanya membawa tiga foto dari jalan?” bentak Amara.
“Aksesnya dijaga, Bu. Orang Klub Enggar juga memeriksa siapa yang bertanya.”
Amara memutus sambungan. Sisi bukan hanya menutup pintu. Ia sedang mencatat tangan siapa yang mencoba membukanya.
“Aku tidak butuh nasihat.”
“Kamu memanggilku ke sini karena jelas membutuhkannya.”
Amara menelan balasan. Ia beralih menghubungi Sri Wahyuni melalui sambungan terenkripsi yang biasa dipakai untuk urusan keluarga sensitif.
“Ibu, Arka menghentikan pembicaraan pertunangan.”
“Karena Anindya?”
“Dia bersama Anindya semalaman di hotel.”
“Kamu punya bukti mereka satu kamar?”
“Tidak.”
“Maka jangan mengarang fakta di telepon.” Suara Sri Wahyuni mengeras. “Dan jangan ulangi kebodohan Merapi. Orang yang kamu bayar belum tentu akan diam selamanya.”
Amara menggigit bagian dalam pipi. “Kalau saya diam, Anindya akan mengambil semuanya.”
“Cari tahu hubungan keuangannya dengan Klub Enggar. Cari pelanggaran kerja, konflik kepentingan, apa pun yang bisa dibuktikan. Jangan bergerak dengan amarah.”
Sambungan ditutup sebelum Amara menjawab.
Tiara telah membuka tablet dan menyusun tiga kolom: pekerjaan penerbangan, proyek Klub Enggar, dan hubungan dengan Arka.
“Kita tidak perlu membuktikan dia pemilik apa pun,” katanya. “Cukup buat orang bertanya apakah dia memakai kedekatan dengan Arka untuk mendapat akses proyek. Kalau timbul audit internal, pergerakannya akan melambat.”
“Tapi laporan kepatuhan sudah bersih.”
Tiara menoleh. “Kamu tahu dari mana?”
Amara tersadar telah bicara terlalu cepat. Salah satu staf yang memberinya kabar ternyata juga melihat jadwal dokumen internal.
“Tidak penting.”
“Justru sangat penting. Jangan pakai sumber yang bisa membawa penyelidikan kembali kepadamu.”
Mereka akhirnya menyepakati langkah pertama: kumpulkan materi publik, petakan orang yang sering menemui Anindya, dan sebarkan pertanyaan melalui akun sosial yang tidak terhubung langsung dengan keluarga. Belum ada tuduhan. Belum ada dokumen palsu. Hanya kabut yang cukup untuk menguji arah angin.
Setelah Tiara pergi, Amara berdiri sendirian di depan lemari. Gaun yang dahulu ia gantung menggantikan pakaian Anindya kini memenuhi setiap sisi.
Ia merapikan rambut, menghapus riasan yang retak di sudut mata, lalu menatap bayangannya sendiri.
“Kak Anindya,” bisiknya, “kali ini aku tidak akan membiarkanmu mengambil semua yang sudah kuperebutkan.”