Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Merawat
Nathan yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi hanya menatap Laluna dengan wajah tenangnya. Pria itu sama sekali tidak terlihat merasa bersalah ataupun canggung, berbeda dengan Laluna yang kini wajahnya mulai memerah karena malu.
"Saya hanya memastikan kamu tidak ceroboh lagi," jawab Nathan santai.
Laluna mengerutkan kening. "Aku bukan anak kecil yang harus diawasi seperti itu."
Nathan mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah? Lalu siapa yang tadi lupa membawa handuk?"
Laluna langsung terdiam. Ia membuka mulut ingin membantah, tetapi tidak menemukan kalimat yang tepat. Pria itu memang menyebalkan karena selalu bisa membuatnya kalah dalam perdebatan.
"Ck, jangan mengungkitnya lagi," gerutunya sambil berjalan melewati Nathan.
Namun baru beberapa langkah, Laluna tiba-tiba berhenti. Ia merasa tubuhnya sedikit lemas. Seharian ia terlalu banyak berpikir, ditambah kejadian yang membuatnya kehilangan energi. Dan dengan cepat ia mulai kehilangan kesadaran diri dan terjatuh. Nathan yang melihat itu segera menahan tubuh mungil itu, ia mendekap tubuh Laluna.
"Luna kamu kenapa? Kenapa tiba tiba pingsan seperti ini?"
Nathan segera mengangkat tubuh itu masuk ke dalam kamar. Nathan segera membaringkan tubuh Laluna di atas tempat tidur dengan hati-hati. Wajah pria itu yang biasanya tenang kini terlihat sedikit panik ketika melihat wajah Laluna yang pucat.
"Luna..." panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban. Nathan menyentuh dahi wanita itu, dan ekspresinya langsung berubah ketika merasakan suhu tubuh Laluna yang lebih panas dari biasanya.
"Kamu demam?"
Ia menghela nafas pelan. Baru sekarang ia menyadari bahwa sejak tadi Laluna memang terlihat tidak baik-baik saja. Gadis itu terlalu keras kepala untuk mengakui kondisinya sendiri. Nathan segera mengambil kotak obat dan handuk kecil. Ia membasahi handuk tersebut dengan air hangat lalu meletakkannya di dahi Laluna.
"Kenapa kamu selalu memaksakan diri?" gumamnya.
Tatapannya tertuju pada wajah Laluna yang terlihat begitu lemah. Berbeda dengan wanita yang selalu berani melawan dan membantahnya, sekarang Laluna terlihat rapuh.
Beberapa menit kemudian, Laluna perlahan membuka matanya. Pandangannya masih sedikit buram, tetapi ia bisa melihat sosok Nathan yang duduk di samping tempat tidur.
"Nathan..." panggilnya lirih.
Pria itu segera menoleh. "Kamu sudah sadar?"
Laluna mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia mencoba bangun, tetapi Nathan langsung menahannya.
"Jangan bangun dulu."
"Aku kenapa?" tanyanya bingung.
"Kamu pingsan. Kamu belum makan kan?"
Laluna terdiam. Ia mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum semuanya menjadi gelap.
"Aku... pingsan?"
Nathan mengangguk. "Tubuhmu terlalu lelah dan kamu demam."
Laluna menghela napas kecil. "Maaf merepotkanmu."
Nathan menatapnya datar. Ia segera menyodorkan satu pakaian tidur ke arah gadis itu, "Pakai pakaianmu dulu, aku akan membuatkan bubur untukmu," ujarnya.
Pipi Laluna kembali memerah, ia benar benar malu saat melihat dirinya hanya mengenakan handuk. Dengan tubuh lemas ia buru buru bangkit dan mengenakan pakaian yang sudah di ambilkan oleh Nathan. Pakaian piyama Pink panjang membuat Laluna tersenyum, pria itu kembali memperlihatkan kepeduliannya kepadanya.
Selang beberapa menit, Nathan kembali mengetuk pintu dengan satu nampan bubur di tangannya. Laluna segera mempersilahkan pria itu untuk masuk. Tatapannya langsung tertuju pada Nathan yang kini menggulung lengan kemejanya hingga siku.
Pemandangan sederhana itu entah kenapa membuat Laluna sedikit terdiam.. Pria yang biasanya selalu terlihat rapi dan sulit didekati itu kini sibuk membawa makanan untuknya. Bahkan ia tidak meminta bantuan siapa pun.
"Apa?" tanya Nathan ketika menyadari Laluna terus memperhatikannya.
Laluna langsung mengalihkan pandangan. "Tidak ada."
Nathan meletakkan nampan tersebut di meja kecil dekat tempat tidur.
"Saya sudah membuatkan bubur. Makanlah."
Laluna melihat mangkuk bubur itu, lalu kembali menatap Nathan dengan ragu.
"Kamu yang membuatnya?"
Nathan mengangguk kecil. "Iya, tidak usah takut saya cukup ahli memasak."
"Kamu bisa memasak?"
"Saya bisa melakukan banyak hal selain bekerja," jawab Nathan datar.
Laluna menahan senyum kecil. "Aku kira pria seperti kamu hanya tahu bekerja dan memerintah orang."
Nathan menatapnya. "Pria seperti saya?"
"Iya. Dingin, kaku, dan menyebalkan."
Bukannya marah, Nathan justru hanya mengangkat alis. "Sudah tidak usah mengejek orang, lebih baik kamu makan dulu. Sebelum kamu kembali pingsan," ujarnya.
Nathan segera mengambil bubur dan meniupnya terlebih dahulu sebelum menyiapkan ya ke tubuh istri kontraknya itu.
"Aku bisa sendiri," ujar Laluna mencoba merebut bubur itu.
Nathan tidak menjawab, ia segera menyuapkan bubur itu ke mulut Laluna. Laluna hanya menurutinya, ia menerima suapan dari Nathan. Laluna terdiam saat Nathan tetap menyuapkan bubur itu kepadanya. Ia tidak menyangka pria yang biasanya begitu kaku dan sulit didekati justru bisa bersikap selembut ini.
Biasanya, setiap kali mereka bertemu, yang terjadi hanya perdebatan kecil. Nathan selalu dengan wajah datarnya membuatnya kesal, sementara dirinya tidak pernah mau kalah untuk membalas perkataan pria itu.
Namun sekarang, Pria itu duduk di hadapannya, memastikan ia makan dengan benar.
"Aneh," gumam Laluna tanpa sadar.
Nathan menghentikan gerakannya dan menatapnya. "Apa yang aneh?"
Laluna tersadar bahwa ia mengucapkannya dengan suara keras. Ia segera menggeleng.
"Tidak ada."
Nathan kembali menyodorkan sesendok bubur kepadanya. "Kamu terlalu banyak berpikir. Makan saja terus istirahat agar besok kamu kembali siap untuk syuting."
Laluna menerima suapan itu sambil memperhatikan wajah Nathan diam-diam.. Ada sesuatu yang berbeda dari pria ini. Di depan orang lain, Nathan selalu terlihat dingin dan tidak memiliki emosi. Bahkan banyak orang takut mendekatinya karena tatapan tajamnya.
Tapi di hadapannya, Nathan justru menunjukkan sisi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Kamu selalu seperti ini?" tanya Laluna tiba-tiba.
Nathan mengernyitkan kening. "Seperti apa?"
"Merawat orang lain seperti yang kamu lakukan kepadaku ini. "
Tangan Nathan berhenti sejenak. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Tatapannya beralih pada bubur di tangannya sebelum kembali melihat Laluna.
"Tidak."
Jawaban singkat itu membuat Laluna sedikit terkejut. "Lalu kenapa kamu melakukannya padaku?"
Nathan terdiam. Pertanyaan itu kembali muncul. Kenapa dirinya begitu peduli pada Laluna? Awalnya ia hanya menganggap wanita itu sebagai bagian dari perjanjian mereka. Istri kontrak yang harus ia lindungi demi menjaga kesepakatan kedua keluarga.
Namun semakin lama, semakin sulit baginya untuk melihat Laluna hanya sebagai sebuah kontrak. Ditambah ia baru tahu bahwa gadis di hadapannya itu adalah gadis yang sedari dulu ia cari.
"Kamu terlalu ceroboh," jawab Nathan akhirnya.
Laluna langsung mengerutkan kening. "Hanya karena itu?"
"Iya." Nathan mengangguk dan menyuapkan bubur terakhir itu.
"Sudah habis, kamu bisa istirahat dulu, saya akan tidur di ruang depan," ujarnya.
Nathan segera membereskan mangkok bubur dan nampan yang ia bawa, setelah selesai ia segera bangkit dan ingin beranjak pergi. Namun, baru saja ia berdiri, tangan kecil Laluna segera meraih tangannya.
" Jangan pergi, " ujarnya.