Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
batas yang harus dijaga
Keesokan paginya, dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan gugup, Dimas dan Alya sepakat untuk tidak buru-buru mengumumkan hubungan mereka ke seluruh tim—bukan karena malu, tapi karena keduanya sama-sama sadar posisi mereka masih terikat kerja sama bisnis yang sensitif.
"Kita perlu bicara sama Bu Kirana dan Reza dulu," kata Dimas, saat mereka sarapan pagi bersama sebelum masing-masing berangkat kerja. "Biar semuanya transparan, nggak ada yang merasa dikhianati kepercayaannya."
"Aku setuju," jawab Alya. "Reza pasti bakal reaksi berlebihan kalau tahu dari orang lain, bukan dari aku langsung."
Siang itu, Dimas mengajukan pertemuan khusus dengan Kirana, kali ini bukan sekadar curhat personal seperti sebelumnya, melainkan permintaan resmi untuk mendiskusikan bagaimana hubungan barunya dengan Alya harus dikelola agar tidak mengganggu profesionalisme kerja sama bisnis.
"Saya sudah menduga ini akan terjadi cepat atau lambat," kata Kirana, tersenyum kecil mendengar pengakuan Dimas. "Selamat, Dimas. Tapi seperti yang saya bilang dulu, kita perlu pastikan ada batasan jelas."
"Saya sudah mikirin ini semalaman, Bu," jawab Dimas. "Saya usul, mulai sekarang, semua keputusan investasi besar terkait Alinea, saya nggak akan jadi pengambil keputusan tunggal. Rani atau tim lain yang review dan approve akhir, saya cuma jadi penghubung teknis."
Kirana mengangguk setuju. "Itu langkah yang tepat. Saya juga akan minta laporan berkala langsung dari Rani, bukan cuma dari kamu, biar ada lapisan pengawasan ekstra. Bukan karena saya nggak percaya kamu, tapi karena ini melindungi kamu juga dari tuduhan konflik kepentingan di masa depan."
Sore harinya, giliran Alya yang mengumpulkan keberanian untuk bicara dengan Reza, mengajaknya duduk berdua di ruang kerja studio setelah jam kerja tim lain selesai.
"Reza, aku mau cerita sesuatu," kata Alya, sedikit gugup meski berusaha terdengar tenang. "Aku dan Dimas... kami sekarang deket. Bukan cuma soal kerjaan lagi."
Reza terdiam sesaat, menatap Alya lama sebelum akhirnya menghela napas panjang—bukan napas kekecewaan, melainkan lebih seperti menerima sesuatu yang memang sudah lama ia duga.
"Aku udah nebak ini bakal terjadi," katanya akhirnya, senyum tipis muncul di wajahnya. "Dari cara kalian saling lihat waktu malam perayaan itu, siapa pun bisa nebak."
"Kamu nggak keberatan?" tanya Alya, masih sedikit waswas.
"Aku cuma pengen kamu bahagia, Alya," jawab Reza jujur. "Dan aku udah lihat sendiri gimana Dimas jaga profesionalisme dia, bahkan pas dia punya alasan buat nggak jaga itu. Kalau ada orang yang pantas dapetin kepercayaan kamu, mungkin memang dia."
Alya tersenyum lega, memeluk sahabat lamanya itu sejenak. "Makasih udah selalu jagain aku, Reza. Dari awal studio pertama sampai sekarang."
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Seminggu kemudian, kabar tak terduga datang dari arah yang sama sekali berbeda: Vertex Capital, investor besar yang sebelumnya ditolak Alya, kembali muncul dengan pendekatan yang jauh lebih agresif.
Kali ini, mereka tidak lagi menawarkan kerja sama langsung ke Alya, melainkan mendekati salah satu klien besar Alinea secara diam-diam, menawarkan skema kerja sama eksklusif dengan syarat klien tersebut memutus kontrak dengan Alinea dan beralih ke studio desain lain yang berada di bawah portofolio Vertex Capital.
"Ini serangan langsung ke bisnis kita," kata Alya panik, menunjukkan email dari kliennya yang mengonfirmasi tawaran itu ke Dimas dan timnya. "Kalau kita kehilangan klien ini, itu 30 persen dari total pendapatan kita bulan ini."
Dimas membaca email itu dengan cermat, rahangnya mengeras. "Ini bukan kebetulan, Alya. Vertex Capital sengaja menyasar klienmu karena kamu menolak tawaran mereka dulu. Ini cara mereka 'menghukum' bisnis yang nggak mau tunduk sama syarat mereka."
Kirana, setelah mendapat laporan lengkap dari Dimas, segera mengumpulkan tim untuk menyusun strategi mempertahankan klien tersebut tanpa harus menandingi tawaran finansial Vertex Capital yang jauh lebih besar.
"Kita nggak bisa menang cuma lewat angka," kata Kirana dalam rapat strategi malam itu. "Tapi kita bisa menang lewat hubungan dan track record. Dimas, kamu kenal klien ini paling dekat. Apa yang bisa kita tawarkan yang nggak bisa Vertex Capital berikan?"
Dimas berpikir sejenak, mengingat detail-detail kecil dari setiap pertemuan dengan klien tersebut selama beberapa bulan terakhir. "Klien ini selalu bilang, yang paling mereka hargai dari Alinea itu fleksibilitas dan komunikasi personal langsung sama Alya. Vertex Capital itu perusahaan besar dengan sistem kaku, klien bakal jadi nomor antrean, bukan prioritas personal kayak yang mereka dapat sekarang."
"Kalau begitu," kata Kirana, "susun presentasi yang menonjolkan itu. Jangan bandingkan angka, tapi tunjukkan nilai jangka panjang dari hubungan kerja yang udah terjalin."
Malam itu, Dimas dan Alya bekerja sama hingga larut menyusun presentasi khusus untuk mempertahankan klien tersebut—bukan lagi sebagai investor dan klien semata, melainkan sebagai dua orang yang benar-benar peduli mempertahankan apa yang sudah susah payah mereka bangun bersama.
"Kita bakal berhasil, kan?" tanya Alya, sedikit cemas, menatap layar laptop yang penuh dengan slide presentasi.
"Kita udah kasih yang terbaik," jawab Dimas, menggenggam tangan Alya sejenak untuk menenangkan. "Dan kalau pun klien ini akhirnya pindah, itu bukan berarti kita gagal. Itu cuma berarti kita perlu cari klien lain yang lebih menghargai cara kerja kita."
Alya menatap Dimas, tersenyum tipis mendengar kata-kata penenang itu. "Kamu selalu tahu cara bikin aku tenang, ya."
"Aku belajar dari yang terbaik," jawab Dimas, tersenyum, teringat kembali nasihat-nasihat Kirana yang selalu ia terapkan, bukan cuma dalam pekerjaan, tapi juga dalam hubungan barunya yang masih seumur jagung ini.