Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai baru
BERITA TERBARU!
Seorang wanita bernama Eleanor Victoria W, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Elea—selama ini hanya dikenal sebagai ibu rumah tangga biasa dan penjual kue di lingkungan perumahannya, ternyata menyimpan sisi gelap yang mengejutkan.
Sejumlah rekaman video memperlihatkan dirinya melakukan tindak kekerasan brutal terhadap beberapa orang tanpa ampun.
Dalam rekaman yang beredar, tampak Elea bergerak dengan keganasan luar biasa, menyerang seseorang yang tampak tak berdaya, tanpa sedikit pun rasa ragu.
Berita itu menyebar dengan cepat ke seluruh platform media sosial dan televisi, membuat masyarakat yang menyaksikan terkejut bukan main.
Komentar netizen mulai membanjiri kolom di bawah unggahan berita:
"Itu kan Elea, penjual kue langgananku?! Nggak nyangka banget..."
"Aku shock. Ternyata dia monster berkedok Ibu-Ibu baik hati."
"Pantesan dia selalu keliatan tenang, ternyata simpan sisi sebengis ini."
"Itu kan Ibu Lyn? Anak yang lagi viral di sekolah karena balas dendam ke Clarisa cs?"
"Kayaknya emang darah keluarga ini emang beda dari orang biasa deh."
"Seram banget videonya, kayak nonton film aksi tapi ini beneran."
"Semoga polisi cepat tangani ini, kalau dibiarkan bahaya buat lingkungan sekitar."
"Aku pernah beli kue darinya, ramah banget orangnya. Susah percaya kalau ini beneran dia."
"Ini pasti settingan! Nggak masuk akal orang selembut itu bisa sebrutal ini."
Berita itu terus mengalir liar, memicu spekulasi dan kepanikan di kalangan warganet, sementara di sisi lain, jauh dari hiruk-pikuk media sosial, Elea sendiri belum menyadari bahwa namanya baru saja diseret ke pusaran fitnah yang telah dirancang dengan begitu rapi.
••••
Di mansion kediaman Narendra, satu keluarga itu berkumpul di ruang tengah, mata mereka terpaku pada layar televisi yang tengah menyiarkan berita panas tersebut.
Clarisa duduk di sofa, senyum puas perlahan merekah di bibirnya yang masih sedikit bengkak akibat kejadian di kantin.
"Rasain," gumamnya pelan, matanya berbinar penuh kepuasan. "Besok pasti seru banget di sekolah. Gembel itu bakal dibully abis-abisan gara-gara Ibunya."
Citra yang duduk di sampingnya ikut tersenyum penuh kepuasan, dagunya terangkat angkuh. "Bagus, biar publik lihat sendiri kayak mereka."
"Sekarang orang tahu Ibu Lyn monster kayak gitu, siapa juga yang mau dekat-dekat sama Lyn lagi? Reputasinya bakal hancur total," sambung Clarisa.
Di sudut ruangan, Cakra berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap layar televisi dengan senyum dingin yang tak lepas dari wajahnya. Bimo yang berdiri di sampingnya membungkuk sedikit.
"Bagaimana, Tuan? Sesuai rencana?" tanya Bimo pelan.
"Lebih dari sesuai," jawab Cakra puas, matanya menyipit penuh kelicikan. "Video-video itu diedit dengan sangat rapi. Tidak ada yang akan curiga kalau ini rekayasa."
"Tapi Tuan, bagaimana kalau Elea membantah dan mencoba membuktikan itu editan?" Bimo bertanya hati-hati.
Cakra tertawa pelan. "Siapa yang akan percaya bantahan seorang penjual kue melawan bukti video yang begitu meyakinkan? Publik sudah keburu percaya begitu melihatnya. Dan begitu opini publik terbentuk, sangat sulit untuk mengubahnya kembali."
Ia melangkah mendekati jendela, menatap kota yang begitu temaram oleh senja, senyumnya semakin melebar. "Ini baru permulaan. Reputasi mereka akan hancur perlahan-lahan, sebelum akhirnya semuanya runtuh total."
Clarisa yang mendengar percakapan itu dari kejauhan tersenyum lebar, kepuasan jelas terpancar di wajahnya. Ia sudah tak sabar menunggu esok hari, membayangkan bagaimana Lyn akan menghadapi badai baru yang jauh lebih besar dari sekadar bisik-bisik dan tatapan sinis di sekolah.
••••
"Pantesan dia berani banget sama Geng Aster, ternyata darah pembunuh emang beda."
"Seram ya, satu keluarga sama-sama sadis."
"Untung kita nggak dekat-dekat sama dia sebelumnya."
"Pantes aja dari dulu aneh, keluarganya emang bermasalah."
Suara bisik-bisik terdengar saat Lyn melintas di antara murid-murid, tatapan sinis mengarah padanya dari segala penjuru. Lyn yang sudah terbiasa dengan hal semacam itu berjalan santai, tak peduli.
Namun langkahnya terhenti seketika saat menangkap kata "ibunya" dari salah satu bisikan itu.
"Ibunya seorang psikopat..."
Lyn membalik badan perlahan, lalu menghampiri murid yang baru saja menghina ibunya.
"Apa lo bilang barusan?" ucapnya dingin, suaranya menusuk tajam.
Murid itu tersenyum miring, melipat tangan dengan gaya sok berani. "Ibu lo psikopat."
Mata Lyn menajam, tangannya mengepal erat menahan amarah yang mulai membuncah. "Jaga omongan lo, SIALAN!"
"Emang benar, kan? Ibu lo monster berdarah dingin."
"Eh, Lyn, gimana rasanya jadi anak kriminal? Bangga nggak?" sahut murid lain, memicu tawa serentak dari sepanjang lorong kelas.
Kesabaran Lyn habis seketika. Ia menarik kerah baju murid pertama itu dengan kasar. "JAGA UCAPAN LO, BANGSAT! GUE BISA HABISIN LO SEKARANG JUGA!"
Murid itu meringis, mencoba melepaskan diri, lehernya terasa sakit tercekik kerah bajunya sendiri.
"Lyn lo juga mau jadi pembunuh, ya? Kayak Ibu lo itu?" celetuk salah satu murid lain di kerumunan.
"Woi, anak monster, lepasin dia!" teriak yang lain.
Lyn tak peduli sedikit pun dengan sorokan itu. Cengkeramannya justru semakin erat, tangannya yang lain mulai terangkat, hampir melayangkan tamparan—
"Lyn!"
Ameka buru-buru menghampiri, cepat-cepat menahan tangan Lyn yang hampir mendarat. "Udah, Lyn... tenangin diri kamu."
Lyn menoleh, menatap tajam ke arah Ameka, matanya masih menyala penuh amarah.
"Dia udah ngehina Ibu gue!"
"Lyn, sekarang kamu harus lihat sesuatu!"
Tanpa menunggu jawaban, Ameka menarik paksa tangan Lyn, memaksanya melepaskan cengkeraman pada murid itu, lalu menyeretnya menjauh dari kerumunan.
"Woi, culun, jangan dekat-dekat sama anak monster itu!" teriak seseorang dari belakang.
Namun Ameka tak menghiraukan ejekan itu sama sekali, terus menarik tangan Lyn menjauh.
Tak jauh dari sana, Geng Aster berdiri menyaksikan semuanya dengan senyum puas, menikmati penghinaan Lyn sebagai balasan manis atas kekalahan mereka kemarin.
Clarisa bersandar santai ke dinding lorong, lengan terlipat di dada, menyaksikan kekacauan itu dengan senyum puas yang tak bisa ia sembunyikan.
"Sekarang dia yang jadi bahan tertawaan seluruh sekolah."
Selena terkekeh, matanya menatap Lyn yang masih diseret Ameka menjauh.
"Rasain. Kemarin sok berani banget nyiram muka gue, sekarang malah diketawain satu sekolah."
"Cepat banget ya, efeknya," Bianca ikut menimpali, senyum sinis menghiasi wajahnya. "Baru semalam beritanya keluar, pagi ini langsung jadi bahan gosip."
"Makanya," Clarisa mendengus puas, "jangan macam-macam sama gue. Apa yang gue mau, pasti kejadian."
"Daddy lo emang keren, Cla," Selena mengedipkan sebelah mata. "Nggak nyangka bisa secepat itu bikin Ibunya jadi buronan opini publik."
Clarisa tersenyum lebar, matanya menyala penuh kepuasan. "Ini baru permulaan. Tunggu aja, dia bakal makin hancur dari hari ke hari."
"Terus rencana lo apa lagi, Cla?" tanya Bianca penasaran.
Clarisa menyeringai, matanya melirik ke arah Lyn yang sudah menghilang di ujung lorong bersama Ameka. "Kita bikin dia sendirian, dijauhi semua orang. Sampai dia sadar, dia nggak akan pernah menang lawan kita."