Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032: Tim Penyelidik Empat Akademi
Tim penyelidik tiba saat matahari Pasira belum naik penuh.
Pelabuhan militer Akademi Damokles dipenuhi pasir yang belum sempat dibersihkan dari landasan. Angin pagi menggesek permukaan baja, menghasilkan suara kasar seperti pisau tumpul diasah di batu. Tiga kapal kecil turun berurutan. Lambang akademi berbeda menyala di sisi lambung: Kekaisaran, Prajna, Nusa, Samuel.
Damokles tidak perlu mengirim kapal untuk dirinya sendiri.
Mereka sudah berada di kursi tersangka.
Tri berdiri di sisi landasan dengan seragam rapi hasil disetrika paksa. Bukan olehnya. Rakha yang membawa alat setrika portabel, Hendra yang memegang kerahnya, dan keduanya melakukan operasi perapian seolah sedang memasang pelat zirah pada mesin perang rusak.
“Kalau lo bergerak terus, lipatannya miring,” kata Rakha.
“Seragam bukan sayap mecha,” jawab Tri. “Tidak usah simetris sampai tingkat molekul.”
Hendra menepuk punggungnya. “Hari ini lo pemandu resmi. Tolong terlihat seperti manusia yang bisa dipercaya.”
“Saya selalu bisa dipercaya.”
“Tri, kemarin lo mencoba menghitung nilai jual pecahan cakar Bestia di ruang bukti.”
“Itu riset ekonomi.”
Mayor Bara berjalan mendekat tepat saat kapal Samuel membuka pintu. “Cukup. Dengar baik-baik. Kalian bertiga ditugaskan mendampingi rute kampus. Jawab sesuai fakta. Jangan berdebat kalau tidak perlu.”
Tri mengangkat tangan. “Definisi ‘perlu’ menurut Mayor atau menurut harga diri Damokles?”
Bara menatapnya.
Tri menurunkan tangan. “Menurut Mayor. Baik.”
Penyelidik turun satu per satu.
Dari Kekaisaran, dua orang berseragam gelap dengan garis emas. Gerakan mereka rapi, tidak banyak bicara, mata menyapu landasan seperti sedang menilai kualitas bahan baku. Dari Prajna, seorang pria tua kurus dan perempuan berwajah dingin membawa tablet data tanpa melihat sekeliling lebih dari tiga detik. Dari Nusa, dua perwakilan berkulit lebih gelap dengan mantel anti-lembap, tampak tidak nyaman dengan udara kering Pasira tetapi tetap sopan.
Lalu Samuel.
Pria Samuel pertama tinggi, dagunya sedikit terangkat, seragamnya terlalu bersih untuk seseorang yang mengaku datang menyelidiki bangkai Bestia. Pria kedua lebih muda, membawa kamera inspeksi, tetapi matanya berkeliaran ke gedung Damokles dengan senyum tipis.
Yang tinggi melangkah maju bahkan sebelum Bara membuka sambutan.
“Jadi ini tempat Bestia Bintang bisa masuk ke plaza kampus tanpa diketahui?” katanya.
Siswa Damokles di sekitar landasan langsung menegang.
Hendra tersenyum. Senyum itu bukan ramah. Itu senyum pedagang yang baru melihat pelanggan sombong masuk membawa dompet terbuka.
Bara memberi salam militer. “Selamat datang di Akademi Damokles. Saya Mayor Bara Nurwana, koordinator lapangan penyelidikan.”
Pria Samuel itu membalas terlambat. “Perwakilan Samuel. Kami berharap Damokles tidak menyembunyikan apa pun.”
Tri memandang lambang Samuel di dada pria itu.
Ia tidak tahu nama orang itu.
Dan tidak berniat mengingat kecuali orang itu berhasil membuat dirinya rugi.
Bara menunjuk mereka bertiga. “Tri, Hendra Gunawan, Rakha Adiwangsa. Mereka saksi langsung dan akan memandu rute.”
Begitu mendengar nama Rakha, mata perwakilan Samuel bergerak sedikit.
Begitu mendengar nama Hendra Gunawan, gerakan itu terjadi lagi.
Tri mencatat.
Hendra juga.
Rakha menunduk sopan seperti tidak melihat apa-apa.
Rute pertama adalah Alun Pedang Damokles.
Bekas retakan sudah dipasang pagar transparan. Batu-batu pecah belum seluruhnya diganti. Di tengah plaza, bekas cakar masih tampak seperti luka panjang yang belum mengering. Beberapa warga kampus berhenti menonton dari jauh.
Perwakilan Kekaisaran memeriksa pola retakan tanpa komentar. Perempuan Prajna menghitung jarak dari titik muncul ke pusat kerumunan. Wakil Nusa meminta data sensor tanah. Semua normal.
Samuel tidak normal.
“Menarik,” kata pria tinggi itu dengan suara cukup keras. “Lima Bestia muncul tepat saat siswa Damokles berkumpul. Lalu seorang siswa kebetulan membawa mecha kelas A lengkap di ruang publik. Apakah itu budaya Damokles? Membawa senjata berat ke plaza?”
Tri melirik Bara.
Bara tidak bergerak.
Berarti boleh jawab.
Tri tersenyum sopan. “Penyimpanan pribadi diizinkan selama mecha tidak disummon tanpa bahaya nyata. Kemarin ada cakar Bestia menuju warga sipil. Menurut protokol keselamatan, memanggil mecha untuk melindungi warga termasuk tindakan benar.”
Pria Samuel menatapnya. “Kau hafal protokol?”
“Tidak semua. Yang berhubungan dengan tidak membiarkan orang tua tercabik, saya ingat.”
Beberapa siswa Damokles menahan tawa.
Wakil Nusa menunduk melihat tablet.
Hendra langsung masuk dengan nada ringan. “Semua rekaman waktu sudah kami serahkan. Pada detik ke tiga setelah retakan pertama, Tri belum memanggil mecha. Pada detik ke lima, Bestia pertama melompat. Pada detik ke enam, warga sipil ada di jalur cakar. Pada detik ke tujuh, Titis Darah muncul. Kalau Samuel punya standar reaksi lebih cepat untuk penyelamatan sipil, Damokles siap belajar.”
Kalimatnya terdengar rendah hati.
Isinya menampar.
Pria Samuel mengerut. “Kami belum menyimpulkan.”
“Bagus,” kata Hendra. “Penyelidikan memang biasanya sebelum kesimpulan.”
Rakha batuk kecil.
Tri melihat ke samping. Wajah Bara masih keras, tetapi sudut matanya bergerak sedikit. Hampir seperti orang yang sedang menahan sakit kepala dan senang pada saat bersamaan.
Di titik kedua, ruang sensor tanah, Samuel mencoba lagi.
“Sensor Damokles gagal mendeteksi lubang bawah tanah. Apakah perangkat kalian setua reputasi turnamen kalian?”
Kali ini Rakha yang menjawab.
“Sensor ini generasi lama, benar,” katanya tenang. “Tetapi catatan menunjukkan lapisan gangguan di bawah plaza aktif kurang dari dua belas detik sebelum kemunculan. Polanya menunjukkan intervensi aktif. Kami sudah menandai pola gangguan dan mengirim salinannya.”
“Kau Empu Mecha, bukan teknisi sensor.”
Rakha mengangguk. “Betul. Karena itu saya hanya membacakan data dari teknisi sensor. Kalau Bapak ingin membantah, saya bisa panggil teknisinya. Ia lebih galak daripada saya.”
Tri hampir tertawa.
Rakha mengatakan itu dengan wajah sangat sopan, sehingga hinaannya baru terasa setengah detik kemudian.
Pria Samuel menekan rahang.
Perwakilan Prajna akhirnya mengangkat mata. “Data gangguan sesuai. Pertanyaan berikutnya.”
Samuel kehilangan satu lubang serangan.
Di lapangan latihan, mereka melihat bekas simulasi tim, ruang penyimpanan mecha, dan jalur evakuasi siswa. Samuel mencoba mengarahkan setiap topik ke “kelalaian Damokles”. Hendra mengubahnya menjadi “indikasi sabotase eksternal”. Rakha menambahkan data teknis. Tri mengisi celah dengan kalimat pendek yang selalu terdengar terlalu sederhana untuk dibantah.
“Kenapa warga bisa masuk ke Alun Pedang?”
“Karena itu plaza publik.”
“Kenapa siswa berkumpul?”
“Karena manusia biasanya berada di tempat publik.”
“Kenapa Bestia menyerang dua siswa tertentu?”
“Itu juga pertanyaan kami. Terima kasih sudah menganggapnya penting.”
Setiap kali Samuel menggiring, mereka bertiga menarik tali ke arah lain. Tidak keras. Tidak kasar. Cukup membuat lawan terlihat seperti orang yang terus menendang pintu bertuliskan dorong.
Pada tengah hari, rombongan masuk ke aula kecil untuk mencatat kesaksian.
Lampu putih menyala dingin. Di tengah meja, proyeksi kejadian diputar dari berbagai sudut. Rekaman asli milik Damokles jauh berbeda dari potongan Media Saga. Di sana terlihat jelas Bestia keluar dari tanah, arah gerak mereka tidak acak, dan Titis Darah muncul setelah warga sipil masuk jalur bahaya.
Perwakilan Kekaisaran akhirnya bicara. “Potongan media tidak lengkap.”
“Media Saga tidak meminta rekaman penuh kepada kami,” kata Bara.
“Atau sudah mendapat potongan dari pihak lain,” tambah Hendra.
Ruangan hening.
Pria Samuel menyipit. “Kau menuduh tim penyelidik?”
Hendra memasang wajah kaget yang sangat palsu. “Saya menuduh pihak lain. Kalau Bapak merasa termasuk pihak lain, saya tidak berwenang melarang.”
Tri menunduk, menekan pangkal hidung.
Ini bukan karena mimisan.
Ini karena menahan tawa lebih berat daripada mengangkat pelat mecha.
Perwakilan Nusa mengeluarkan pertanyaan lebih masuk akal. “Apakah ada bukti material lapisan buatan?”
Bara mengeluarkan sebagian kecil serpihan yang sudah disalin secara digital. Bukan seluruh kantong. Tri menghargai itu. Mereka belajar cepat: bukti yang ditaruh di meja semua orang bisa berubah menjadi bukti yang hilang.
Rakha menjelaskan struktur lapisannya. “Bukan bagian tubuh Bestia. Teksturnya terlalu seragam. Ada serat pengarah seperti bahan penempel eksternal. Fungsinya kemungkinan menahan sensor dan memaksa respons gerak.”
Perempuan Prajna memperbesar gambar. “Seperti kendali kasar.”
“Kasar, tapi cukup untuk mengarahkan,” kata Rakha. “Bestia tetap ganas, tetapi ada dorongan prioritas target.”
“Targetnya?” tanya Kekaisaran.
Semua mata bergerak ke Hendra dan Rakha.
Tri menjawab sebelum suasana menjadi terlalu enak bagi orang luar.
“Belum bisa dipastikan.”
Pria Samuel tersenyum. “Tapi kau kemarin mengatakan mereka datang untuk dua orang.”
Tri menatapnya.
Jadi orang itu punya catatan suara dari plaza.
Bara juga sadar. Matanya tajam.
Tri bersandar sedikit. “Saya mengatakan berdasarkan hitungan awal. Hitungan awal bukan kesimpulan resmi. Kalau Samuel ingin memakai perkiraan siswa sebagai putusan penyelidikan, saya sarankan jangan. Mahal kalau salah.”
“Mahal?”
“Gugatan, reputasi, biaya permintaan maaf publik.” Tri mengangkat bahu. “Saya miskin, jadi saya takut hal-hal begitu.”
Hendra menutup mulut.
Perwakilan Kekaisaran menulis sesuatu.
Pria Samuel akhirnya diam beberapa detik terlalu lama.
Sesi itu berakhir tanpa kemenangan resmi, tetapi semua orang di ruangan tahu siapa yang kehilangan pijakan. Samuel datang membawa pisau tumpul dan berharap Damokles telanjang. Ternyata Damokles memakai baju compang-camping, benar, tetapi di bawahnya ada pelat baja.
Sore hari, ketika rombongan meninggalkan aula, pria Samuel berhenti di depan Tri.
“Kau cukup pandai bicara untuk siswa yang katanya dari planet sampah.”
Hendra langsung maju setengah langkah.
Tri mengangkat tangan kecil, menahannya.
Ia tersenyum.
“Planet sampah mengajarkan satu hal, Pak.”
“Apa?”
“Benda yang kelihatan bersih belum tentu tidak busuk.”
Wajah pria itu berubah.
Tri sudah berjalan melewatinya sebelum Bara sempat menegur.
Di ujung koridor, Hendra mengembuskan napas. “Lo tadi bilang tidak cari ribut.”
“Itu bukan ribut. Itu edukasi daur ulang.”
Rakha berkata pelan, “Dia bereaksi saat nama kami disebut. Dua kali.”
Hendra mengangguk. Wajah santainya hilang. “Dan dia punya potongan suara plaza.”
“Berarti kebocoran bukan cuma dari Media Saga,” kata Tri.
Mereka berhenti di dekat jendela yang menghadap utara. Dari sana, Menara Pandang Utara terlihat berdiri sendirian di tepi kompleks, menghadap pasir luas dan langit yang mulai merah.
Bara datang beberapa langkah di belakang mereka. Ia tidak memarahi Tri. Itu sendiri sudah cukup aneh untuk dicatat sebagai peristiwa sejarah kecil.
Mayor itu memandang ke arah menara.
“Kalian bertiga,” katanya, “malam ini ke Menara Pandang Utara.”
Hendra menoleh. “Untuk laporan lanjutan?”
Bara memasukkan tablet ke bawah lengan.
“Untuk bicara hal yang tidak cocok dicatat di aula.”
Ia berhenti sejenak, matanya masih ke arah utara.
“Karena yang benar-benar harus diselidiki,” katanya rendah, “bukan Damokles.”