Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 4
Mereka pun berangkat menuju kerumah sakit yang jaraknya hanya ditempuh sekitar 20 menit dari rumah Pak Wibowo.
Saat sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, tiba tiba ponsel Pak Wibowo berdering.
Kriingg ... Kriiing ..
Tanpa menunggu waktu lama, Pak Wibowo segara meraih ponselnya lalu menjawab panggilan yang masuk.
"assalamualaikum buk, ini saya sama Ani mau kesitu buk. ada Theo sama Tiara juga ikut kesitu, sabar ya Bu." ucap Pak Wibowo.
"ibuk mas?" tanya Bu Ani.
Pak Wibowo mengangguk meng iyakan ucapan Bu Ani.
pak Wibowo pun sedikit melajukan kendaraannya lebih kencang agar segera sampai ke rumah sakit. Melihat ekspresi Pak Wibowo, tampaknya kondisi kakek Theo semakin memburuk.
Waktu tempuh yang seharusnya 20 menit, mereka tumbuh hanya dalam 15 menit saja karena Pak Wibowo membawa kendaraannya sedikit cepat. Setelah parkir, mereka segera bergegas menuju ke lift untuk naik ke lantai 7 dimana Kakek Theo di rawat.
Sesampainya di lantai 7, mereka segera bergegas menuju ke ruangan dimana Pak Harto dirawat.
Pak Harto adalah nama dari kakek Theo. Seorang pria tua berusia 79 tahun yang kini tengah terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
"Buk, gimana kondisi bapak?" tanya Pak Wibowo sesaat setelah masuk ke dalam ruangan.
Bu Sri, ibu dari Pak Wibowo yang berarti nenek dari Theo pun beranjak dari tempat duduknya. Wanita tua berusia 71 tahun itu tampak gelisah berjalan sambil gemetar ke arah Pak Wibowo dan keluarga.
"bapakmu tadi kejang kejang le, ibu takut." ucap Bu Sri tampak cemas.
"lho, ini cucuku to?" tanya Bu Sri saat melihat keberadaan Theo.
"iya ti." ucap Theo sembari berjalan menghampiri Bu Sri lalu mencium punggung telapak tangan yang sudah keriput itu.
"ini istrimu?" tanya Bu Sri sambil menatap ke arah Tiara.
Tiara tersenyum manis ke arah Bu Sri lalu juga meraih tangan perempuan tua itu dan menciumnya.
"iya uti ... Saya Tiara istrinya Mas Theo." jawab Tiara.
"cantiknya." ucap Bu Sri sambil menggenggam tangan Tiara.
Tiara dan Theo sendiri memang pacaran tidak terlalu lama, mereka hanya pacaran selama 6 bulan sebelum menikah juga baru berkunjung ke rumah Theo sekali dan sama sekali belum pernah ke rumah kakeknya Theo. Mereka punya rencana, liburan akhir tahun Theo akan mengambil cuti dan berlibur ke rumah kakeknya.
"gimana kondisi Kakung, ti?" tanya Theo.
Bu Sri atau yang di sebut uti oleh Theo tampak sedih.
"dari kemaren belum sadar. Tadi tiba tiba kejang kejang." jawab Bu Sri yang tampak tak bisa menahan air matanya.
Theo kemudian menatap sosok lelaki tua yang tengah terbaring diatas tempat tidur. Lelaki yang dulunya gagah itu, kini tampak tak berdaya diatas tempat tidur. Sambil menatap kakeknya, ia juga memeluk sang nenek memberikan kekuatan kepada perempuan tua yang tampak sedang sedih melihat belahan hatinya terbaring tak berdaya.
Pak Hartono adalah sosok mantan kepala desa 3 periode berturut turut. Ia memiliki perawakan tinggi besar dengan seluruh rambut, kumis dan jambang yang sudah memutih, namun tetap terlihat gagah. Meskipun sudah hampir berusia 80 tahun, namun kondisi fisik Pak Harto masih tegap dan gagah. Hanya saja, kemarin lusa Pak Harto mengalami kecelakaan tunggal saat sedang menaiki sepeda motor menuju ke peternakan miliknya.
Pak Harto sendiri merupakan keturunan Belanda. Ayahnya dahulu adalah seorang pedagang kaya dari Belanda yang menetap di Jawa. Itulah kenapa laki laki di keluarga Theo memiliki wajah tampan dengan hidung mancung, karena buyut mereka adalah orang Belanda.
Theo berjalan menuju ke arah Pak Harto yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur. Theo kemudian menarik kursi yang ada di samping tempat tidur Pak Harto, ia duduk sambil menggenggam telapak tangan kakeknya dengan erat.
"Kakung ... Theo udah pulang kung, Kakung cepet sembuh ya." ucap Theo tampak menatap haru ke arah Pak Harto.
Tak ada jawaban, hanya keheningan yang terasa.
"ini Theo juga bawa Tiara kung, kan Kakung udah janji kan mau ajak istriku ke peternakan kalau kita udah kesini, ini kita udah di sini kung, Kakung bangun ya." ucap Theo yang tampak sedih melihat kondisi sang kakek yang tak berdaya.
Tiara yang ada di samping Theo hanya bisa menatap haru ke arah laki laki tua yang tengah terbaring lemah diatas tempat tidur.
"nanti malam biar Theo yang jaga kakung disini, nanti uti pulang ke rumah ibu aja ya? uti istirahat dulu." ucap Theo yang tampak ingin bermalam di rumah sakit menjaga kakeknya.
"yaudah, nanti aku juga nemenin mas Theo disini." ucap Kiki menambahkan.
"lho, kamu besok kan sekolah." ucap Theo.
"aman mas .. nanti aku pagi pagi pulangnya." jawab Kiki.
"yaudh oke lah, biar mas juga ada temen ngobrol." Jawab Theo.
"kamu ngga apa apa kan kalo aku tidur disini?" tanya Theo kepada sang istri Tiara.
Tiara mengangguk memberikan izin suaminya untuk bermalam dirumah sakit menjaga sang kakek.
"iya mas ngga apa apa." jawab Tiara.
Sekitar 30 menit kemudian, peringatan tanda jam besuk Pasian sudah berbunyi.
"eh jam besuknya udah habis, ayah sama yang lain pulang dulu ya." ucap Pak Wibowo tak lama setelah mendengar peringatan dari pihak rumah sakit.
"iya yah, kalian hati hati di jalan ya." ucap Theo sambil menyalami satuu persatu Anggota keluarganya yang hendak pulang.
"mas juga disini jaga diri baik baik, gausah begadang" ucap Tiara menasehati sang suami.
Pak Wibowo dan yang lainnya pun akhirnya pulang kembali ke rumah mereka. Kini, dirumah sakit hanya tersisa Theo dan Kiki yang menjaga Pak Harto.
.
.
.
DI TEMPAT LAIN.
Waktu menunjukan pukul 23.15 WIB
"pak." terdengar suara wanita di dalam sebuah kamar tengah mencoba membangunkan laki laki yang terlelap nyenyak di sampingnya.
"Pak ... Bangun Pak." wanita itu berkali kali mencoba membangunkan laki laki itu, namun tampaknya laki laki itu tak bergeming sedikitpun.
Wanita itu tampak menoleh ke sekitar dengan penuh kecemasan.
"Pak!" kali ini nada wanita itu terdengar lebih keras.
Laki laki yang tidur disampingnya pun meregangkan badan.
"apa sih buk, malem malem berisik." jawab laki laki itu dengan enggan karena masih sangat mengantuk.
"antar ibuk ke rumah Pak Harto yuk, ibuk kok kayak kepikiran belum nyalain lampu di rumah Pak Harto ya Pak." Ucap wanita yang bernama Marni itu kepada suaminya.
Marni adalah orang yang sudah bekerja di rumah Pak Harto selama lebih dari 20 tahun sebagai asisten rumah tangga.
"besok aja lah buk, kamu ngga takut jam segini ke rumah Pak Harto?" ucap sang suami yang bernama Pak Joko.
Pak Joko juga bekerja di rumah Pak Harto, ia merupakan salah satu orang yang paling di percayai oleh Pak Harto.
"ya justru karena aku takut, makanya aku ngajak kamu pak. ayolah pak, aku sudah di amanahi sama ndoro putri buat selalu nyalain lampu teras setiap malam saat ndoro Kakung di rumah sakit." ucap Marni menjelaskan kepada suaminya.
meskipun masih tampak malas, namun Pak Joko akhirnya beranjak dari tempat tidurnya.
"aah ... Kamu ini ada ada aja segala lupa nyalain lampu lagi ah." Keluh Pak Joko.
"udah nggak usah ngomel. Nanti ku kasih jatah deh habis dari rumah ndoro Harto." ucap Marni.
Mendengar ucapan sang istri, Joko yang tadinya malas dan ogah ogahan, seketika tampak sangat bersemangat.
"wow, i like it ... Ayolah kita gas ke rumah ndoro." jawab Joko dengan penuh semangat.
Marni tampak tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sang suami yang memang terkenal sangat suka bercanda itu.
keduanya pun keluar rumah dan mulai berjalan menuju ke rumah Pak Harto yang jaraknya lumayan jauh sekitar 5 menit perjalanan dengan berjalan kaki. Joko dan Marni memilih berjalan kaki karena Joko enggan mengeluarkan motornya hanya untuk kerumah Pak Harto.
Suasana malam itu terasa sangat sepi, angin malam berhembus menusuk tulang Joko dan Marni. Sesekali terdengar suara hewan malam yang saling bersahutan di tengah gelapnya malam.
Tempat tinggal Pak Harto ini terbilang masih cukup alami. Tempatnya tidak terlalu terpencil tapi juga tidak terlalu dekat dengan perkotaan. Jarak antar rumah warga jug tak terlalu dekat. Setiap rumah hampir memiliki sedikit lahan untuk berkebun tepat di depan maupun samping rumah. penerangan di kampung ini pun belum sepenuhnya merata. Lampu lampu jalan hanya tersedia di jalan utama kampung saja, sedangkan jalan jalan gang hanya mengandalkan lampu rumah milik warga yang tentunya hanya terbatas.
Rumah Joko dan Marni ini pun letaknya agak masuk ke dalam kampung. Untuk menuju ke rumah Pak Harto yang letaknya tepat di pinggir jalan kabupaten, mereka harus berjalan melewati beberapa rumah warga dan perkebunan.
"ayo buk agak cepat jalannya." ucap Joko meminta istrinya agak melangkah lebih cepat.
"sabar lah, ini jalannya becek kaya gini." jawab Marni tampak sedikit kesal dengan sang suami.
"lagian, laki laki mah kalo udah di janjiin begituan aja langsung semangat." Ucap Marni menambahkan.
"bukan masalah anu anu, ini kita mau kerumah ndoro Harto. Kamu tau sendiri rumah ndoro Harto kaya gimana." ucap Joko menjawab perkataan Marni.
"iya juga ya ... Yaudah ayo pak cepet." ucap Marni yang tampak mempercepat langkahnya.
sepasang suami istri itu semakin mempercepat langkahnya menuju ke rumah Pak Harto.
ditengah perjalanan, tiba tiba ....
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨