NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

"Hey, hey, berisik sekali kamu, Amira..." Luki mengucek matanya dengan malas, merasa gusar tidur lelapnya terganggu oleh teriakan histeris Amira.

"Luki! Kenapa kamu bawa aku ke hotel lagi?!"

"Apanya yang hotel? Ini tuh penthouse milikku," sahut Luki seraya memejamkan mata kembali di atas sofa.

Amira mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Lampu kristal yang megah, dinding kaca raksasa, dan seluruh perabotan mewah yang ia tahu persis harganya teramat mahal. Amira membuka selimutnya, lalu memeriksa pakaiannya—ia masih mengenakan kemeja dan rok kerja yang sama seperti semalam.

"Kamu... kamu tidak mengganti bajuku, kan?" tanya Amira penuh selidik.

"Mau aku ganti sekarang?" goda Luki seraya mengedip-ngedipkan matanya.

"Ah, lupakan!" Amira bangkit dari tempat tidur, mengedarkan pandangannya lalu berjalan menghampiri jendela kaca besar. Di luarnya, terbentang pemandangan menjulang Kota Jakarta dari lantai 50. Mata Amira kemudian tertangkap oleh gantungan kunci di meja nakas bertuliskan Perdana Tower Apartment.

Amira berbalik menatap Luki yang sedang duduk di sofa masih mengenakan baju tidur. "Luki, kamu itu jangan mentang-mentang dekat sama Pak Surya, lantas kamu memanfaatkan kebaikan dia seenaknya!"

"Dianya sendiri yang mau aku manfaatkan," jawab Luki asal-asalan.

"Kamu jangan jadi orang licik, Luki! Sebaiknya kita cepat keluar dari penthouse ini, jangan terus-terusan merepotkan orang lain!"

"Merepotkan orang lain bagaimana, sih? Ini tuh punya aku sendiri."

Amira baru saja hendak membentak, namun Luki dengan cepat mengacungkan tangannya. "Ya, ya, aku tahu... kamu pasti mau bilang 'jangan sok kaya', kan?"

Amira menggertakkan giginya kesal, lalu melangkah menghampiri Luki dan duduk di hadapannya. "Sebisa mungkin, walau kita serba kekurangan, jangan pernah jadi orang licik yang mau memanfaatkan kebaikan orang lain," nasihat Amira bersungguh-sungguh.

"Oke, oke... Baik, Ibunda. Sekarang mari kita mandi."

"Ih, kamu saja dulu! Aku tidak mandi."

"Kenapa?" tanya Luki menaikkan sebelah alisnya.

"Aku tidak membawa baju ganti."

"Sebentar lagi baju gantinya datang."

Amira menepuk jidatnya. "Tuh, kan! Kamu merepotkan Pak Surya lagi! Kalau Pak Surya terus-terusan memberi fasilitas seperti ini, aku takut dia punya niat lain padaku!"

Mata Luki seketika berkilat tajam. "Kupatahkan lehernya kalau dia sampai berani punya maksud lain padamu!"

"Luki, please, jangan sombong!"

"Iya, iya... Aku mandi dulu, ya," ucap Luki akhirnya mengalah dan berjalan menuju kamar mandi.

Amira duduk termenung seorang diri. Matanya menatap sosok Luki yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Dalam pikirannya, secara tak sadar malah terlintas bayangan: 'Seandainya mandi bareng...'

Buru-buru Amira mengetuk-ngetuk dahinya sendiri. 'Kenapa akhir-akhir ini otakku jadi jorok begini?!'

Pandangan Amira lalu teralih pada ponselnya yang tergeletak di atas nakas dalam posisi sedang diisi daya. Rupanya Luki yang mengisinya semalam. Amira menyambar ponselnya lalu menyalakannya. Seketika beruntun notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan masuk membanjiri layarnya.

Mamah:Amira kamu dimana,,

Mamah:Amira kamu dimana keberadaan pak dani

Mamah:Amira kamu menculik pak dani

Mamah:Amira pak dani teman ayah kamu,,,jangan macam macam kamu

Mamah:Amira bagaimana pinjaman dapat ga

Amira mengernyitkan dahi. Rasa getir yang amat mendalam mendadak merayapi dadanya. Kenapa ibunya sama sekali tidak menanyakan hal sederhana seperti, "Amira, apa kamu baik-baik saja?" atau "Amira, kamu sehat, kan?"

Pesan-pesan perhatian sederhana seperti itu tampaknya akan sangat sulit Amira dapatkan lagi dari sang ibu.

Tak lama kemudian, ponselnya berdering nyaring dari nomor ibunya. Amira menggeser tombol hijau.

"Amira! Di mana kamu?! Kenapa ponsel kamu tidak aktif dari semalam?!"cecar Ratna langsung dari seberang telepon.

"Aku di hotel, Mah," jawab Amira datar.

"Astaga! Kenapa di hotel?! Buang-buang uang saja kamu! Bagaimana pinjamannya, dapat tidak?!"

"Tidak dapat," sahut Amira singkat.

"Kenapa tidak dapat?!"Terdengar suara Ratna berteriak histeris.

"Pak Dani babi bodoh itu mau melecehkanku! Makanya tidak dapat!"

"Tidak mungkin! Pak Dani itu kata Angga orangnya sangat sopan dan baik! Mana mungkin dia mau melecehkan kamu?!"

"Angga dan Dani itu kan sama-sama babi, jadi mereka tidak akan saling menjelekkan!" pangkas Amira menohok.

"AMIRAAA!"pekik Ratna murka dari balik telepon.

"Apa sih, Mah?" kata Amira kesal. "Aku tidak budek."

"Di mana Pak Dani sekarang?! Keluarganya dari semalam mencari dia!"

"Mati kali," sahut Amira asal.

"AMIRAAA!"teriak Ratna lagi semakin melengking.

"Apaan sih?!"

"Pokoknya kamu cari keberadaan Pak Dani sekarang! Mamah tidak mau ya kita kena masalah cuma gara-gara kamu sudah menyinggung Pak Dani!"

"Ya, nanti aku cari di alam baka," jawab Amira dingin lalu langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia menghela napas panjang, menahan sesak dan kekesalan di dadanya.

"Selamat pagi," sapa sebuah suara di dekat pintu.

Amira mendongak dan seketika matanya membelalak. "Pak Ladusingh?!" ucap Amira begitu melihat Andi ber-cosplay mirip karakter polisi India. Andi mengenakan jas hitam, celana hitam, rambut putih, dan kumis hitam besar yang menempel di atas bibirnya.

"Nyonya, saya membawa baju dan sarapan untuk Nyonya dan Tuan," kata Andi penuh hormat seraya menyerahkan paper bag dan kantong makanan.

"Tidak usah panggil saya Nyonya, panggil Amira saja," sahut Amira menghela napas. "Dan kamu juga... jangan terlalu memanjakan ketua komunitasmu itu. Kamu harus bertindak apa adanya, Pak. Hidup itu harus dinikmati tanpa perlu mengeluh, dan jangan menghamburkan uang hanya agar terlihat kaya," nasihat Amira panjang lebar pada Andi.

Andi meringis bingung. "N-nyonya... saya cuma mengantarkan makanan dan baju ganti saja..."

Amira hendak menasihati Andi lebih lanjut, namun Luki sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya.

"Hey! Kalau sudah diantar kenapa masih berdiri di situ?! Cepat pulang sana!" usir Luki tegas.

Andi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Baik... baik, Bos!" Ia menyengir canggung lalu terburu-buru ngeloyor pergi.

"Luki! Kamu itu harusnya lebih sopan sama orang!" tegur Amira begitu Andi pergi. "Temanmu itu sudah baik-baik mengantarkan baju ganti untukku. Ini pasti kamu minta dari Pak Surya lagi, kan?"

"Iya... iya... dari Pak Surya," ucap Luki tak habis pikir melihat istrinya yang selalu saja salah sangka. "Sudah, kamu pakai saja bajunya. Kalau tidak dipakai, Pak Surya tidak akan mau kasih pinjaman nanti."

Amira melotot. "Hah?! Masa sih?"

"Iya! Cepat sana mandi, sebelum aku seret untuk mandi bareng!"

"Ih, galak banget sih!" gerutu Amira dengan bibir terkerut manyun. Namun ia tetap menyambar baju ganti itu lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Luki mengenakan kaos dan celana sederhananya, lalu menyusun hidangan sarapan di atas meja makan dan menaruh sisa pakaian Amira di walk-in closet.

Tak lama kemudian, Amira keluar dari kamar mandi dengan pakaian bersih dan segar. Mereka berdua pun duduk sarapan bersama. Seperti biasa, di sela-sela obrolan, Luki tak henti-hentinya memberikan perhatian-perhatian kecil pada Amira—seperti menusukkan sedotan ke gelas air mineral, mengambilkan tisu, hingga mereka kembali berdebat kecil tentang hal-hal sepele yang justru mencairkan suasana.

Saat mereka sedang asyik mengobrol, ponsel Amira kembali berdering nyaring di atas meja. Nama ibunya kembali tertera di layar.

Amira menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Amira! Mamah tunggu kamu di kantor sekarang juga! Dalam waktu 30 menit kalau kamu tidak datang, Mamah akan ambil alih kantor kamu secara paksa!"ancam Ratna dengan nada tak terbantahkan lalu langsung mematikan telepon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!