Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mal dan supermarket
Hari itu adalah hari Minggu, hari di mana kafe tempatku bekerja biasanya tutup dan aku benar-benar libur. Tanpa sadar, mataku terasa begitu berat untuk dibuka. Biasanya, saat hari kerja, jam lima pagi atau paling lambat jam enam aku sudah harus terjaga, merapikan diri, dan bersiap menyambut hari dengan semangat meski terkadang tubuh terasa lelah. Namun hari ini, rasa nyaman di balik selimut terasa begitu menggoda, seolah menarik-narikku untuk tetap memeluk mimpi indah lebih lama lagi. Sinar matahari pagi yang biasanya menjadi penanda waktu pun tak mampu menyadarkanku, hingga jarum jam sudah menunjuk pukul delapan pagi. Aku masih terlelap nyenyak, bahkan belum sedikit pun tergerak untuk membuka mata.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan, lalu terdengar langkah kaki yang sangat kukenali mendekat ke arah tempat tidurku. Tak lama kemudian, bahuku digoyangkan lembut namun terus-menerus.
"Angel! Astaga, bangun Nak! Mentang-mentang hari ini libur ya, sampai jam segini belum bangun juga," suara Ibu terdengar setengah memarahi namun penuh kasih sayang. "Tidur terlalu lama itu tidak baik lho, nak. Ayo bangun, udah pagi sekali."
Di dalam selimut, aku hanya mendengus pelan, menggerutu tak jelas dengan mata yang masih terpejam rapat. Tubuhku terasa berat sekali seolah ada beban besar yang menindihnya. Namun, aku tahu tak mungkin terus bersembunyi di sini, apalagi mendengar nada bicara Ibu yang tak mau menyerah. Perlahan, aku pun mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang masuk dari celah jendela kamar. Aku menguap lebar, meregangkan seluruh tubuh untuk mengusir sisa rasa kantuk yang masih menempel kuat.
"Ada apa, Ibu...?" tanyaku dengan suara yang masih serak dan berat khas orang baru bangun tidur. Aku duduk di tepi kasur sambil mengusap wajah berulang kali, mencoba menyadarkan diri sepenuhnya.
Ibu tersenyum sambil merapikan ujung selimut yang berantakan. "Sudah jam delapan pagi, Angel. Ayo segera mandi dan bersiaplah, lalu kita sarapan bersama. Ibu sudah menyiapkan makanan sederhana yang sudah siap di meja makan."
Mendengar itu, aku tersenyum malu. "Ya ampun, sudah jam segini rupanya. Maaf ya, Bu, Angel jadi bangun kesiangan begini."
Aku pun segera melangkah ke kamar mandi. Air yang menyiram tubuhku seketika menghapus sisa rasa kantuk itu, membuatku segar kembali. Setelah selesai dan mengenakan pakaian santai yang nyaman, aku berjalan menuju ruang makan. Di sana, Ibu sudah menungguku dengan piring yang sudah terisi nasi hangat, telur dadar buatan Ibu yang selalu menjadi favoritku, serta sambal terasi yang aromanya menggugah selera. Kami pun duduk berhadapan, menikmati kehangatan pagi yang begitu tenang ini.
"Terima kasih ya, Bu, sudah menyiapkan semuanya," ucapku tulus sambil menyuap nasi. Rasanya begitu nikmat, jauh lebih lezat daripada makanan di tempat mewah sekalipun karena dibuat dengan kasih sayang Ibu.
Ibu mengangguk lembut sambil memperhatikanku makan. "Sama-sama, Nak. Ibu senang melihatmu bisa istirahat sedikit lebih lama, Ibu tahu kamu bekerja sangat keras belakangan ini. Tapi ingat, jangan sampai kebiasaan begini terus ya, kesehatanmu tetap yang utama."
Kami mengobrol santai sambil menyantap hidangan itu. Ibu bercerita tentang hal-hal kecil di lingkungan sekitar, dan aku pun ikut bercerita, berusaha menyembunyikan sedikit beban pikiran tentang pria misterius itu agar Ibu tidak cemas. Rasanya waktu berjalan begitu lambat namun menyenangkan saat kami bisa duduk berdampingan seperti ini, tanpa harus terburu-buru mengejar waktu kerja atau memikirkan tagihan yang harus dibayar. Di momen sederhana ini, aku merasa cukup dan bersyukur masih memiliki Ibu yang selalu ada di sisiku.
Setelah selesai makan, aku tak membiarkan Ibu membereskan meja sendirian. Aku segera mengambil piring kotor dan mencucinya sendiri. Selesai dengan urusan dapur, aku duduk kembali di samping Ibu di ruang tengah, menikmati sisa pagi yang damai itu dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan lega dari biasanya.
Setelah urusan di dapur selesai, Ibu kembali duduk santai di kursi ruang tengah sambil menatap ke luar jendela. Tiba-tiba ia menoleh padaku dengan tatapan berbinar pelan.
"Angel..." ucapnya lembut. "Sudah sangat lama rasanya kita tidak jalan-jalan ke tempat ramai. Sebenarnya... Ibu ingin sekali ke supermarket besar di pusat kota Surabaya itu. Sekadar melihat-lihat dan membeli kebutuhan yang habis, tidak perlu yang mahal-mahal."
Aku langsung tersenyum lebar dan menyambut keinginan itu dengan senang hati. "Ayo dong, Bu! Langsung saja kita berangkat sekarang. Sekalian saja kita makan siang di sana juga, biar Ibu tidak capek memasak."
Awalnya Ibu sempat menolak halus karena khawatir soal biaya, tapi aku meyakinkannya dengan senyum bahwa aku punya uang lebih dari hasil kerja kemarin. Tanpa menunggu lama, kami pun bersiap-siap dan berangkat menaiki Vespa tua peninggalan Ayah menuju mal besar di Surabaya.
Sesampainya di sana, kami berkeliling sebentar hingga perut mulai terasa lapar. Aku mengajak Ibu masuk ke restoran yang bersih dan sejuk. Kami duduk di meja yang nyaman, lalu memesan makanan sesuai selera masing-masing. Sambil menunggu hidangan datang, kami mengobrol hal-hal seru dan acak: mulai dari cerita tetangga, masakan yang ingin dicoba, sampai kenangan lucu masa kecilku. Kami tertawa lepas seolah beban berat tak pernah menghampiri kami. Makanan pun datang, kami menyantapnya dengan nikmat ditemani obrolan hangat yang tak putus.
Setelah perut kenyang, aku mengajak Ibu ke bagian toko pakaian. "Sekarang kita cari baju baru ya, Bu. Ibu pilih saja yang paling disukai, tidak perlu melihat harganya sama sekali."
Ibu tersenyum sambil meraba kain baju yang tergantung rapi. "Iya, El. Ibu akan pilih yang cocok saja dan sopan buat usia Ibu ini."
"Semua pasti cocok kok, Bu! Kan Ibu cantik sekali," puji tulusku. Ibu pun tersipu malu dan kami berdua tertawa renyah. Akhirnya Ibu memilih dua potong baju batik yang indah, dan aku juga mengambil satu setel pakaian santai untuk diriku. Saat membayar, aku langsung menyuruh kasir membungkusnya tanpa membiarkan Ibu melihat jumlah tagihannya. "Kalau nanti Ibu butuh barang lain apa pun, langsung bilang Angel saja ya, Bu. Jangan sungkan-sungkan."
Barulah setelah itu kami turun ke lantai dasar menuju supermarket. Di sana Ibu sibuk menyusun kebutuhan pokok ke dalam troli: beras, minyak goreng, telur, dan bumbu dapur. Aku pun ikut seru-seruan sambil memasukkan beberapa bungkus jajanan dan camilan kesukaanku yang sudah lama tak kubeli.
Selesai berbelanja, tangan kami penuh dengan kantong belanjaan. Namun sebelum pulang, aku melihat penjual es krim cone di lobi depan. Aku segera membeli dua buah—satu rasa cokelat untukku, dan satu rasa vanila kesukaan Ibu. Kami menikmati manisnya es krim itu sambil berjalan santai menuju tempat parkir.
Perjalanan pulang terasa begitu hangat dan menyenangkan. Hati kami penuh dengan kebahagiaan sederhana yang tak ternilai harganya.
Suara mesin Vespa tua itu perlahan mereda saat aku mematikan kunci kontak di halaman rumah kami yang sederhana. Matahari siang mulai terasa hangat menyentuh kulit, namun hati terasa jauh lebih hangat membawa pulang kebahagiaan dari perjalanan tadi. Kami berdua turun sambil tertawa kecil mengingat kejadian lucu saat memilih sayuran di pasar swalayan tadi. Tanpa banyak bicara, kami berdua kompak mengangkat kantong-kantong belanjaan yang cukup banyak itu, lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa sejuk dan tenang.
"Sudah sampai rumah dengan selamat," ucap Ibu pelan sambil meletakkan kantong terberat di atas meja makan kayu yang selalu setia menemani kami setiap hari.
Aku pun meletakkan bungkusan yang kubawa, lalu segera membantu Ibu menata semuanya. "Ayo kita rapikan dulu semuanya, Bu. Biar nggak berantakan di sini."
Ibu mengangguk setuju, lalu segera bergerak dengan kebiasaan rapinya. Ia mulai memilah-milah barang belanjaan itu satu per satu dengan teliti. Bahan-bahan yang kering seperti beras, gula pasir, tepung, bumbu dapur, dan minyak goreng diletakkannya di rak lemari penyimpanan yang sudah dibersihkan sebelumnya. Sementara itu, bahan-bahan yang basah dan mudah busuk seperti sayuran segar, telur, daging ayam, buah-buahan, serta susu segera ia ambil dan masukkan ke dalam kulkas dengan rapi. Ibu melakukannya dengan penuh kehati-hatian seolah sedang merawat sesuatu yang sangat berharga, memastikan semuanya tersimpan dengan baik agar bisa kami konsumsi dalam kondisi segar dan sehat.
Sementara Ibu sibuk dengan kebutuhan dapur, aku mengambil beberapa bungkus jajanan renyah, biskuit, serta beberapa botol minuman dingin yang tadi kulihat dan langsung teringat ingin membelinya. Itu adalah camilan yang sudah sangat lama tak kucicipi, bahkan sejak keuangan keluarga kami mulai menurun drastis. Melihatnya kembali di tanganku rasanya seperti menemukan kembali potongan kecil kebahagiaan masa lalu yang sederhana. Aku menaruh sebagian camilan itu di wadah cantik di meja ruang tengah, dan sebagian lagi kusisakan untuk kubawa ke kamar.
Saat aku hendak beranjak, Ibu menoleh padaku dengan senyum yang begitu tulus dan matanya yang berbinar bahagia. "Terima kasih sekali lagi ya, Angel. Ibu benar-benar senang sekali hari ini. Terima kasih sudah mengajak Ibu jalan-jalan dan membelikan semua ini."
Aku tersenyum lebar, lalu mendekat dan mencium punggung tangan Ibu dengan penuh kasih sayang. "Sama-sama, Ibu. Itu hal yang paling bisa Angel lakukan untuk membahagiakan Ibu. Angel senang kalau Ibu juga senang."
Setelah memastikan Ibu sudah nyaman duduk sebentar di ruang tengah, aku pun berjalan menuju kamarku. Aku menutup pintu kamar perlahan, lalu meletakkan tumpukan camilan dan minuman itu di samping tempat tidurku. Hari ini benar-benar hari libur yang sempurna, momen di mana aku bisa benar-benar melupakan sejenak kesibukan di kafe, tatapan misterius pria itu, serta segala beban pikiran yang menghimpit belakangan ini.
Aku naik ke atas kasur, lalu mengambil posisi tengkurap dengan bantal empuk di bawah dada. Aku meraih ponselku, membuka aplikasi tempat aku biasa menonton drama, dan memilih salah satu drama Korea yang sudah lama ingin kutonton tapi tak sempat karena lelah bekerja. Suara musik pembuka drama itu terdengar lembut dari ponselku. Dengan santai, kubuka bungkus camilan yang renyah itu, lalu kumasukkan sepotong ke dalam mulutku sambil memusatkan perhatian pada layar kecil di hadapanku.
Rasanya begitu nikmat dan damai. Tidak ada panggilan pelanggan, tidak ada suara piring beradu, tidak ada rasa gugup yang menyergap. Hanya ada aku, cerita seru di layar, dan camilan lezat di sampingku. Kadang aku tertawa melihat tingkah lucu tokohnya, kadang aku ikut tersentuh haru dengan adegan sedihnya. Setiap kali tangan terasa meraih ke samping, camilan itu selalu ada di sana seolah menemaniku menikmati waktu santai ini. Sesekali aku menyeruput minuman dingin yang segar, membuat rasa lelah seharian tadi benar-benar hilang tak berbekas.
Di balik pintu kamarku yang tertutup rapat itu, untuk beberapa jam saja, aku bisa menjadi gadis biasa yang bebas menikmati waktu luangnya tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi besok atau tanggung jawab apa yang harus dipikul. Hati terasa ringan, pikiran terasa tenang, dan perut pun terasa kenyang dengan kebahagiaan sederhana ini.