Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Tapi Yang Zhen tidak bergeming sedikit pun. Ia malah melangkah keluar dari bangkunya dan berjalan santai mendekati meja guru di depan kelas.
"Anda tadi sedang menjelaskan Teknik Pernapasan Teratai Api, bukan?" tanya Yang Zhen santai. "Anda mengatakan bahwa untuk memaksimalkan teknik itu, Qi harus disalurkan melalui meridian dada langsung menuju telapak tangan."
"Tentu saja! Itu adalah dasar dari teknik bela diri elemen api!" balas Guru Lin dengan sombong. "Bahkan anak kecil berumur lima tahun pun tahu teori dasar itu!"
"Hahaha, benar sekali! Dia sedang mengajari seekor ikan cara berenang!" tawa para murid kembali pecah.
Bahkan Su Lin yang sedari tadi diam kini sedikit mengerutkan keningnya, menatap Yang Zhen dengan tatapan menilai.
Yang Zhen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat meremehkan.
"Itu memang teori dasarnya, tapi Anda lupa bahwa tubuh Anda tidak cocok mempraktikkan metode kasarnya, Guru Lin." ucap Yang Zhen.
Tawa di kelas perlahan mereda. Semua orang kini menatap Yang Zhen dengan bingung.
"Apa maksudmu, bocah tengik?!" Guru Lin mulai kehilangan kesabarannya.
Tangannya sudah bersiap mengumpulkan Qi untuk memberi pelajaran fisik pada murid kurang ajar di depannya ini.
"Guru Lin, apakah setiap tengah malam, persis di jam dua belas, pinggang kiri Anda selalu terasa seperti ditusuk ribuan jarum es?" tanya Yang Zhen dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Dan apakah belakangan ini, aliran Qi Anda sering terputus tiba-tiba saat Anda mencoba menerobos ke Bintang Empat?"
Mata Guru Lin seketika terbelalak lebar, wajahnya yang tadi memerah kini berubah pucat pasi. Langkah kakinya mundur selangkah, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
Brak!
Guru Lin secara tidak sengaja menyenggol kursi di belakangnya hingga terjatuh. Napasnya tertahan, menatap Yang Zhen dengan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
"Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu hal itu?!" suara Guru Lin bergetar.
Ia tidak pernah menceritakan kondisi fisiknya yang memburuk ini kepada siapa pun, bahkan kepada istrinya sendiri.
"Itu karena Anda terlalu serakah, Guru Lin." jawab Yang Zhen tenang sambil melipat kedua tangannya di dada. "Anda memaksakan kultivasi elemen api tanpa menyeimbangkannya dengan elemen air, sehingga racun api menumpuk di ginjal kiri Anda."
Kelas menjadi sunyi senyap, bahkan suara jarum yang jatuh pun mungkin bisa terdengar. Para murid yang tadi asyik menertawakan Yang Zhen kini menganga lebar, tidak percaya melihat guru sombong mereka ketakutan.
"Jika Anda terus memaksakan diri menggunakan Teknik Pernapasan Teratai Api dengan cara seperti tadi, saya jamin dalam waktu kurang dari sebulan..." Yang Zhen memberi jeda sejenak untuk membangun ketegangan. "Ginjal Anda akan meledak, dan Anda akan mati sebagai pria cacat."
Gluk.
Terdengar suara Guru Lin menelan ludah dengan kasar. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengalir dari dahinya.
"Omong kosong! Kau hanya membual, dasar murid sampah!" teriak Guru Lin, mencoba menutupi kepanikannya. "Siapa yang mengajarimu kebohongan tak masuk akal ini?!"
"Terserah jika Anda tidak percaya." Yang Zhen mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Silakan Anda tekan titik akupuntur di bawah rusuk kiri Anda sekarang juga, dan rasakan sendiri kebenarannya."
Dengan tangan gemetar, Guru Lin menekan titik yang ditunjuk oleh Yang Zhen.
Cring!
"Aaaargh!"
Jeritan kesakitan keluar dari mulut Guru Lin. Ia jatuh berlutut di lantai kelas sambil memegangi perut kirinya, wajahnya berkerut menahan sakit yang luar biasa.
Seluruh murid langsung berdiri dari kursi mereka karena terkejut. Wang Hao menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya seakan mau copot melihat kejadian di depan kelas.
Su Lin, sang gadis jenius, akhirnya berdiri dari tempat duduknya. Matanya yang jernih menatap Yang Zhen lekat-lekat, dipenuhi rasa penasaran yang belum pernah ada sebelumnya.
"Bagaimana murid terlemah di kelas bisa mengetahui cacat fatal dari kultivasi seorang guru?" batin Su Lin penuh tanda tanya. "Siapa sebenarnya Yang Zhen ini?"
Yang Zhen menatap Guru Lin yang sedang mengerang kesakitan di lantai dengan tatapan dingin tanpa belas kasihan.
"Di kehidupan sebelumnya, kau selalu menyiksaku dan akhirnya menjual rahasia akademi kepada Sekte Bayangan Darah." batin Yang Zhen geram. "Kali ini, aku tidak akan membiarkan parasit sepertimu hidup tenang."
Yang Zhen berbalik dan mulai berjalan kembali menuju tempat duduknya, meninggalkan kelas dalam keadaan syok berat.
"Hei, aku belum selesai denganmu!" rintih Guru Lin sambil menahan sakit. "Tolong... bagaimana cara menyembuhkannya? Katakan padaku, Yang Zhen!"
Yang Zhen menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
"Jika Anda ingin tahu caranya, berlututlah di depan gerbang akademi besok pagi dan mohon ampun padaku." pungkas Yang Zhen.
Kalimat itu meluncur begitu saja, menggelegar layaknya petir di siang bolong bagi semua murid yang mendengarnya. Murid sampah menyuruh gurunya berlutut sungguh sebuah kegilaan.
Namun Yang Zhen tidak peduli dengan tatapan ngeri dari teman-teman sekelasnya. Ia kembali duduk di samping Wang Hao dengan santai, mengabaikan tatapan bertanya-tanya dari sahabat gemuknya itu.
Dalam kegelapan di balik kelopak matanya yang terpejam, Yang Zhen bisa merasakan sebuah kehangatan aneh di dadanya. Pusaka kuno itu telah ikut kembali bersamanya melintasi waktu, dan kini menunggu untuk dibangkitkan.
Balas dendamnya baru saja dimulai.