NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Perpisahan dengan Nadia

POV Bram

Hasil rontgen Sekar tidak menunjukkan retak tulang. Dokter mendiagnosis memar pada pinggul dan lutut, lalu meminta dia beristirahat, memakai kompres dingin, dan kembali jika muncul muntah, nyeri kepala berat, atau gangguan kesadaran.

Luka di lenganku dijahit dua jahitan kecil. Telapak tangan dibersihkan dan dibalut. Aku pulang ke Puri Cendana hanya setelah Sekar selesai diperiksa.

Malam itu dia terbangun tiga kali karena mimpi buruk.

Aku duduk di luar kamarnya dengan pintu terbuka. Mbok Nah tidur di kamar seberang, sesuai aturan rumah. Setiap Sekar memanggil, aku masuk setelah meminta izin, memastikan dia mengenali tempat dan waktu, lalu menunggu sampai napasnya tenang.

Pagi berikutnya, polisi menghubungi pengacara kami.

Sarno sudah memberikan keterangan awal. Setelah rekaman kandang menunjukkan dia menyelipkan sesuatu ke bawah bantalan, dia berhenti menyangkal. Dalam pemeriksaan resmi, dia menyerahkan ponsel dan mutasi rekening kepada penyidik melalui prosedur yang dicatat.

Fikri membawa ringkasan informasi yang boleh diterima pihak korban ke ruang kerjaku.

"Ada transfer dua puluh lima juta rupiah masuk dua hari sebelum kejadian," katanya. "Pengirimnya rekening perantara. Polisi masih menelusuri pemilik akhirnya."

Dia meletakkan salinan berita acara penerimaan bukti, bukan data mentah yang diperoleh diam-diam.

"Sarno mengaku dihubungi perempuan yang menyebut dirinya mewakili Nadia Ariestha. Ada beberapa panggilan dengan akun Nadia, tetapi isi pesannya memakai kalimat samar seperti `buat dia takut naik lagi`. Belum ada perintah tertulis yang secara langsung menyebut melukai Sekar."

"Dia mengakui menerima uang?"

"Iya. Katanya hanya diminta membuat kuda gelisah. Penyidik tidak menerima alasan itu sebagai pembenar. Benda yang dia pasang bisa menyebabkan cedera berat pada manusia dan hewan."

Deni berdiri di dekat pintu. "Sarno sudah diberhentikan pihak arena dan tetap dalam pemeriksaan."

"Nadia?"

"Belum cukup untuk penangkapan," jawab Fikri. "Polisi akan memanggilnya. Mereka meminta kita tidak mengganggu saksi atau merusak penyelidikan."

Fikri menjelaskan bahwa nomor pengirim transfer terhubung pada rekening yang baru dibuat dan segera dikosongkan. Panggilan dengan Nadia membuktikan komunikasi, bukan isi perintah. Pengakuan Sarno perlu diuji dengan rekaman, aliran dana, dan keterangan lain sebelum penyidik bisa menyimpulkan siapa yang menyuruh.

"Kita tidak boleh mengumumkan namanya sebagai pelaku," katanya. "Kalau informasi salah atau penyidikan terganggu, kita justru merusak perkara Sekar."

"Tidak ada pernyataan media," jawabku. "Semua permintaan informasi lewat pengacara dan polisi."

Aku meminta salinan laporan keselamatan arena, rekam medis Sekar, serta hasil pemeriksaan dokter hewan diserahkan melalui jalur resmi. Cedera kuda bukan detail sampingan. Hewan itu sengaja dijadikan alat dan juga menjadi korban.

Aku melihat foto luka Sekar dalam laporan medis. Memar itu akan sembuh. Yang tidak terlihat adalah bagaimana tubuhnya bergetar setiap kali mendengar suara kuda dalam mimpi.

"Saya akan bicara dengan Nadia," kataku.

Fikri langsung menggeleng. "Pak Bram, sebaiknya melalui pengacara."

"Saya tidak akan meminta pengakuan atau menyentuh barang bukti. Saya akan mengatakan hubungan kami selesai dan dia tidak boleh mendekati Sekar."

"Deni ikut," katanya. "Pertemuan dicatat waktunya. Jangan membahas detail yang belum diumumkan polisi."

Aku menyetujui semua batas itu.

Sore harinya, Nadia menerima kami di apartemennya dekat Central Jakarta. Deni menunggu di ruang utama dengan pintu tetap terbuka. Aku tidak datang membawa orang untuk menakutinya, hanya salinan surat dari pengacara yang melarang kontak langsung dengan Sekar selama penyelidikan.

Sebelum naik, aku mengirim lokasi dan waktu kedatangan kepada Fikri. Pengacara kami sudah mencoba mengatur pertemuan formal, tetapi Nadia menolak dan mengirim pesan bahwa jika aku ingin bicara, aku harus datang sendiri. Aku tidak memenuhi syarat “sendiri”. Deni tetap hadir demi keselamatan semua pihak, dan kami berjanji pergi segera jika diminta.

Tidak ada petugas perusahaan lain di lorong. Aku juga tidak meminta keamanan apartemen membuka pintu atau menahan siapa pun. Nadia sendiri yang mengizinkan kami masuk setelah melihat surat di tanganku.

Nadia membaca bagian pertama, lalu melempar kertas ke meja.

"Kamu percaya ucapan pekerja kandang itu?"

"Saya percaya rekaman yang menunjukkan dia merusak pelana. Hubunganmu dengannya sedang diperiksa polisi."

"Banyak orang menelepon toko saya."

"Apakah banyak dari mereka menerima dua puluh lima juta sebelum mencoba mencelakai Sekar?"

Wajahnya berubah sesaat.

"Saya tidak tahu soal transfer."

"Saya tidak datang untuk menyidikmu. Jawab pertanyaan polisi saat mereka memanggil."

"Lalu kenapa kamu datang?"

"Untuk mengakhiri semua ruang yang sengaja kamu anggap masih terbuka. Jangan hubungi saya di luar urusan resmi. Jangan datang ke rumah. Jangan mendekati Sekar."

Nadia tertawa pendek. "Karena satu kecelakaan, kamu membuang persahabatan bertahun-tahun?"

"Itu bukan kecelakaan."

"Aku hanya ingin dia takut!"

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Deni mengangkat kepala dari dekat pintu. Nadia menyadari kesalahannya dan langsung menutup mulut.

"Jadi kamu memang tahu," kataku.

"Aku tidak menyuruh Sarno melukainya." Suaranya meninggi. "Aku bilang buat kudanya gelisah sedikit, supaya dia kapok dan berhenti bermain seolah hidupmu miliknya. Sarno yang berlebihan."

"Kuda yang panik tidak mengenal kata sedikit."

"Dia baik-baik saja."

"Sekar jatuh dari kuda yang berlari. Saya terkena kuku saat melindunginya. Hewannya terluka karena logam yang dibayar seseorang untuk dipasang. Jangan sebut itu baik-baik saja."

Nadia berjalan mendekat. "Kenapa harus dia?"

Aku tidak mundur.

"Aku cuma ingin kamu kembali melihatku, Bram! Kenapa harus dia?! Aku membangun toko dari nama kita, pulang ke kota ini, menunggu bertahun-tahun, dan kamu memilih anak yang kamu besarkan sendiri."

"Kamu mendatangi Sekar di kampus?"

Ekspresinya berkedip.

"Apa maksudmu?"

"Dia pernah bilang kamu mengatakan sesuatu kepadanya. Saya belum memaksa dia bercerita. Kalau kamu berbohong atau mengancamnya saat itu, jangan ulangi."

"Dia mengadu sekarang?"

"Tidak. Justru dia masih melindungi sesuatu yang membuatnya malu. Itu tidak memberi kamu hak mendekatinya."

Nadia tidak menjawab. Diamnya tidak membuktikan isi percakapan, tetapi cukup memperkuat batas yang harus kutegaskan.

"Tidak pernah ada nama kita. Saya sudah mengatakan itu."

"Dia merusakmu."

"Tidak. Dia membuat saya melihat semua kebohongan yang saya pakai untuk menghindari perasaan sendiri."

Nadia mengangkat tangan, mungkin hendak menunjuk wajahku atau memukul dada. Aku menangkap pergelangan tangannya sebelum menyentuh luka di lengan. Gerakanku terlalu keras dan membuat punggung tangannya menyentuh dinding.

Deni langsung melangkah maju. "Pak Bram."

Peringatan itu mengembalikan akal sehatku.

Aku melepaskan Nadia dalam kurang dari satu detik dan mundur dua langkah. Tidak ada pembenaran untuk memakai kemarahan sebagai izin menahannya lebih lama.

"Jangan sentuh saya," kata Nadia, terengah.

"Benar. Saya seharusnya tidak melakukan itu." Aku menjaga kedua tangan di sisi tubuh. "Deni menjadi saksi. Jika kamu ingin melaporkan tindakan tadi, kami tidak akan menghalangi."

Dia mengusap pergelangan yang memerah. Ketakutan di matanya segera berubah menjadi kebencian.

"Tapi dengarkan batas ini," lanjutku. "Kalau kamu mendekati Sekar lagi, semua bukti akan kami serahkan dan setiap langkah hukum akan kami tempuh. Bukan ancaman pribadi. Itu pemberitahuan resmi."

"Kamu mengancamku setelah datang ke rumahku?"

Aku menunjuk surat di meja. "Pengacara sudah mengirim salinannya secara resmi. Saya datang untuk memastikan hubungan pribadi kita selesai. Setelah ini komunikasi hanya melalui kuasa hukum atau penyidik."

Nadia merobek salinan itu menjadi dua.

"Keluar."

Aku dan Deni pergi tanpa berkata lagi.

Di dalam mobil, Deni membalut ulang telapak tanganku yang kembali berdarah.

"Saya akan menulis laporan lengkap tentang pertemuan tadi," katanya. "Termasuk tindakan Pak Bram memegang pergelangan Bu Nadia."

"Tulis apa adanya. Serahkan kepada pengacara."

"Pengakuannya juga?"

"Catat sebagai perkataan yang kalian dengar, bukan bukti final. Polisi yang menilai."

Fikri meneruskan laporan resmi malam itu. Polisi menambahkan keterangan kami pada berkas dan menjadwalkan pemeriksaan Nadia. Sarno tetap ditahan untuk proses lebih lanjut, sementara arena mengumumkan pemecatan serta audit keselamatan internal. Tidak ada berita yang kami bocorkan ke media. Kabar beredar di lingkaran bisnis karena toko dan arena sama-sama ditanya penyidik, tetapi aku melarang siapa pun dari perusahaan menyebarkan gosip.

Ketika kembali ke Puri Cendana, Sekar duduk di sofa dengan kompres di pinggul dan buku di pangkuan. Dia tidak tahu detail pertemuanku dengan Nadia. Aku hanya mengatakan polisi telah menemukan bukti bahwa kejadian itu disengaja dan Sarno sedang diproses.

"Siapa yang menyuruhnya?" tanyanya.

"Masih diselidiki."

Aku tidak ingin berbohong, tetapi juga tidak ingin memengaruhi keterangannya jika polisi bertanya tentang Nadia. Jadi aku menunggu proses resmi.

Sekar melihat perban baru di tanganku. "Ini berdarah lagi."

"Tadi terbuka sedikit."

"Om melakukan sesuatu yang bodoh?"

Aku terdiam.

"Saya marah dan sempat memegang seseorang terlalu keras. Saya langsung melepaskan, dan saya akan bertanggung jawab jika ada laporan."

Sekar menatapku lama. "Aku nggak suka Om menyelesaikan masalah dengan tangan."

"Saya juga tidak bangga."

"Jangan ulangi."

"Tidak akan."

Mengaku kepadanya terasa memalukan, tetapi menyembunyikannya akan mengulang pola yang hampir menghancurkan kami. Aku ingin menjadi orang yang aman baginya, bukan laki-laki yang meminta kejujuran sambil menutupi perbuatannya sendiri.

Dia membuka kedua tangan. Aku duduk di sampingnya, lalu memeluknya dengan hati-hati agar tidak menekan memar. Kali ini aku meminta izin lebih dulu, dan Sekar mengangguk.

Kami tetap seperti itu sampai napasnya menjadi tenang.

Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Nadia muncul sebelum nomornya diblokir oleh tim hukum.

`Kau akan menyesal, Bramantyo. Cepat atau lambat.`

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!