Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Terakhir untuk Kepergian yang Penuh Maaf.
Sejiwa duduk disamping ranjang rumah sakit. Kedua tangannya menggenggam tangan Laras yang dingin.
Laras menoleh perlahan ke arah suaminya, berusaha tersenyum walau bibirnya terasa berat bergerak. Napasnya masih tersengal pelan, namun rasa sakit yang luar biasa itu sedikit berkurang akibat obat bius lokal yang sudah diberikan dokter sebelum dibawa ke ruang operasi.
"Mas Jiwa..."
Suara itu terdengar sangat lirih, namun cukup jelas terdengar oleh Sejiwa.
"Sebentar lagi aku akan masuk ruang operasi. Bolehkah kita bicara berdua saja?"
Sejiwa mengangguk pelan, mengusap punggung tangan istrinya dengan gerakan lembut dan penuh penyesalan.
"Tentu saja, Ras. Kita bicara apa saja. Maafkan aku ya... maafkan karena selama ini aku jarang ada di sampingmu. Maafkan karena aku tidak tahu apa yang kamu rasakan."
Laras menggeleng pelan, air mata bening menetes di sudut matanya, mengalir turun membasahi bantal.
"Sudahlah,Mas Jiwa... Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita berdua sama-sama menjalani pernikahan ini karena kewajiban dan permintaan orang tua. Aku mengerti posisimu. Tapi sebelum aku dibawa masuk, ada satu hal yang harus kau ketahui... sesuatu yang berkaitan dengan orang tuamu, dan sesuatu yang membuatku sangat terguncang."
Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas, lalu melanjutkan ceritanya dengan suara pelan namun tegas.
"Kau tahu kan... Mamamu sangat ingin punya cucu? Beliau sangat ingin sekali sampai tidak mempedulikan apa pun caranya. Beberapa waktu yang lalu, Mama bilang padaku... mereka sudah mengatur segalanya. Mereka sudah sepakat, sudah membayar uang muka yang sangat besar, ratusan juta rupiah... untuk mengadopsi seorang bayi laki-laki yang belum lahir."
Sejiwa mengerutkan keningnya, raut wajahnya berubah heran sekaligus tidak percaya.
"Mengadopsi? Membayar uang muka? Maksudmu... membeli bayi, Ras? Itu tindakan ilegal! Itu perdagangan manusia! Mama dan Papa tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu, apalagi mereka orang terpandang."
"Itulah kenyataannya, Mas. Mereka menyebutnya adopsi, tapi caranya adalah transaksi jual beli. Mereka mencari ibu yang mau menjual anaknya demi uang. Aku tidak setuju. Tapi aku diam saja karena aku takut... aku takut kalau aku menolak keras, mereka akan bertanya kenapa aku tidak bisa memberi mereka cucu dari kandunganku sendiri. Aku takut kalau rahasia sakitku terbongkar, kau akan semakin menjauh dariku."
Suara Laras tercekat, ia menelan ludah yang terasa pahit. Matanya menatap tajam ke arah jendela kaca di seberang ruangan, seolah melihat kembali kejadian malam itu dengan jelas.
"Tapi alasan utamanya kenapa aku sangat tidak setuju... kenapa aku sangat menentang rencana itu... bukan hanya karena itu salah atau ilegal, Mas Jiwa." Laras menatap kembali ke wajah suaminya. "Malam itu... malam hujan deras yang hebat itu... aku berdiri di jendela lantai dua rumah kita, menatap ke luar karena hatiku sedang gelisah sekali mendengar rencana itu. Dan aku melihatnya, Mas Jiwa... Aku melihat seorang wanita."
"Seorang wanita?" tanya Jiwa penasaran, ikut menegakkan tubuhnya.
"Iya... Seorang wanita yang sedang hamil besar, kandungannya sudah tua, sekitar delapan atau sembilan bulan. Dia duduk di halte bus tua yang kosong, tidak jauh dari pagar rumah kita. Dia sedang memeluk erat seorang anak perempuan kecil berumur sekitar empat tahun. Wanita itu kedinginan, bajunya basah kuyup, wajahnya terlihat sangat lelah, sangat sedih, tapi matanya... matanya sangat tegas dan penuh ketakutan. Dia terlihat seperti sedang lari, Mas Dia terlihat seperti sedang bersembunyi dari seseorang."
Laras menghela napas panjang, mengenang kembali rasa iba yang luar biasa yang dirasakannya malam itu.
Air mata Laras mengalir makin deras. "Aku tidak setuju. Aku tidak mau ambil bagian dalam dosa itu. Bagaimana pun aku sakit, bagaimana pun aku tidak bisa punya anak... aku tidak mau memiliki anak dengan cara merenggutnya dari ibu yang rela bertaruh nyawa demi anaknya. Itu sangat kejam....Mas Jiwa. Sangat kejam."
Jiwa mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut istrinya dengan hati yang semakin berat dan perih. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di balik layar, orang tuanya melakukan hal yang sebodoh dan sejahat itu. Ia merasa malu, merasa marah, namun rasa itu kalah besarnya dengan rasa kagum dan iba pada wanita yang diceritakan Laras itu, serta rasa bersalah yang mendalam pada istrinya yang harus menanggung beban moral itu sendirian.
Sejiwa menggenggam tangan Laras makin erat, ia mengangguk dengan wajah serius dan berjanji dengan tegas.
"Terima kasih sudah bercerita padaku, Ras. Terima kasih sudah memegang prinsipmu meski berat sekali. Kau benar... itu salah, itu kejahatan, dan itu tidak akan terjadi lagi. Tenang saja... aku yang akan bicara pada Mama dan Papa. Aku yang akan memberi pengertian pada mereka. Aku akan pastikan mereka tidak akan pernah berbuat hal seperti itu lagi. Aku akan jelaskan bahwa keinginan mereka tidak boleh dicapai dengan cara mencabik kebahagiaan orang lain."
Sejiwa mendekatkan wajahnya, mengecup kening istrinya dengan penuh kasih.
"Kau istri yang hebat, Laras. Maafkan aku karena aku baru menyadarinya sekarang. Istirahatlah, jalani operasi itu dengan tenang. Aku akan ada di sini menunggumu. Dan aku janji... masalah ini akan kuselesaikan dengan baik. Tidak ada lagi anak yang diperjualbelikan. Tidak ada lagi ibu yang harus lari dan bersembunyi."
Laras tersenyum lega, beban berat yang selama ini ada di dadanya seolah terangkat.
Perawat Masuk, Laras dibawa ke ruang operasi. Sejiwa mengantar sampai pintu, tangannya tak lepas dari tangan Laras.
Waktu seolah berhenti berputar. Pintu ruang operasi masih tertutup rapat, lampu merah bertuliskan "SEDANG BERLANGSUNG" masih menyala terang, seolah tak ada akhir.
Sejiwa duduk membungkuk di kursi tunggu, kedua tangannya menjalar rambutnya dengan gelisah. Matanya tak pernah lepas dari pintu itu. Wajahnya pucat, keringat dingin terus membasahi pelipisnya. Di sebelahnya, Bu Wijaya dan Pak Wijaya duduk diam, wajah mereka penuh ketakutan dan penyesalan yang tak terucap. Berkali-kali Bu Wijaya menyeka air matanya yang terus menetes, sesekali berbisik lirih memohon pada Tuhan agar menantunya selamat.
"Kenapa lama sekali, Pak?" tanya Bu Wijaya parau, suaranya bergetar menahan tangis. "Dokter bilang cuma operasi pengangkatan... tapi kenapa rasanya lama sekali? Jangan sampai terjadi sesuatu sama Laras... jangan..."
Pak Wijaya hanya bisa mengelus punggung istrinya, namun ia sendiri pun tak sanggup berkata apa-apa. Ia tahu, kondisi Laras sudah sangat parah sebelum masuk ke meja operasi. Penyakit itu sudah terlalu lama bersemayam dan merusak organ dalamnya.
Berita buruk pun datang. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah namun serius, memberitahu bahwa kondisi Laras kritis di tengah proses operasi. Jantungnya pernah berhenti sejenak, tekanan darahnya jatuh drastis, dan tim medis harus berjuang keras melakukan resusitasi agar ia tetap bernapas.
Berita itu membuat kaki Jiwa lemas. Ia bersandar ke dinding, dunianya seakan runtuh. Baru saja ia sadar betapa berharganya Laras. Baru saja ia ingin memulai segalanya dengan benar, mencintai dan mendampingi istrinya dengan tulus. Namun nasib seolah tak memberi waktu lagi baginya.
Akhirnya......lewat tengah malam, lampu merah itu padam. Pintu ruang operasi terbuka perlahan. Dokter kepala keluar dengan wajah letih, membuka masker di wajahnya dan menggeleng pelan, bukan tanda kegagalan total, tapi tanda bahwa perjuangan belum berakhir.
"Operasi selesai. Kami berhasil mengangkat seluruh jaringan yang sakit," kata dokter itu lirih. "Tapi... kondisi beliau sangat lemah. Tubuhnya sudah terlalu lama dirusak penyakit, dan daya tahan tubuhnya hampir habis. Beliau selamat melewati operasi, tapi... kami tidak bisa menjanjikan banyak waktu. Beliau harus dipantau sangat ketat di ruang rawat intensif."
Laras pun dipindahkan ke ruang rawat VIP yang luas, dingin, dan penuh alat-alat medis canggih. Tubuhnya terlihat makin kecil dan ringkih di antara selimut tebal dan selang-selang infus yang menancap di sana-sini. Wajahnya pucat tanpa ada setitik pun warna darah, napasnya naik turun sangat pelan.
Perlahan, mata Laras mulai bergerak. Kelopak matanya berkedip lemah, lalu perlahan terbuka. Pandangannya kabur, butuh waktu beberapa detik agar ia bisa memfokuskan penglihatannya pada sosok-sosok di dekatnya.
Ia melihat Sejiwa. Ia melihat Bu Wijaya yang menangis diam. Ia melihat Pak Wijaya yang menunduk dalam.
Dengan sisa tenaga yang hampir tak ada lagi, Laras berusaha menggerakkan tangannya yang dingin dan berat. Ia mengangkatnya sedikit, berusaha meraih udara.
Jiwa segera menangkap tangan itu, menggenggamnya erat di antara kedua telapak tangannya yang hangat. Ia menundukkan wajahnya mendekat ke arah istrinya, air matanya jatuh membasahi tangan kecil itu.
"Aku di sini, Ras... Aku ada di sini. Apa yang kau inginkan? Katakan padaku, aku dengar semua," bisiknya parau.
Laras menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan mulai redup cahayanya. Bibirnya bergerak-gerak pelan, berusaha mengeluarkan suara, namun hanya terdengar desahan halus dan kata-kata yang putus-putus. Napasnya tersengal, berat, seolah setiap kata yang keluar memeras seluruh tenaga yang tersisa di tubuhnya.
"Mas Jiwa..." suaranya sangat lirih, hampir tak terdengar. "Maafkan aku... semuanya..."
"Apa yang kau katakan? Tidak ada yang harus dimaafkan, Ras. Kau yang harus maafkan aku," jawab Sejiwa buru-buru, mengusap kening istrinya yang basah oleh keringat dingin.
Laras menggeleng pelan, matanya beralih menatap ke arah Bu Wijaya dan Pak Wijaya yang berdiri gemetar di sisi lain ranjang.
"Maafkan aku... Mama... Papa..." ucapnya terputus-putus, di sela tarikan napas yang makin pendek. "Maaf... aku tidak bisa... menjadi istri yang sempurna... untuk Sejiwa....."
Air mata Bu Wijaya tumpah makin deras. Ia maju selangkah, memegang tangan Laras yang satu lagi. "Jangan bicara begitu, Nak... Kau istri paling baik, paling sabar... Maafkan Mama ya... Maafkan Mama yang keras sama kamu... Maafkan Mama yang menuntut ini-itu..."
Namun Laras seolah tak mendengar. Ia kembali menatap Jiwa, matanya mulai berkaca-kaca penuh penyesalan yang tak berdasar. Di detik-detik terakhir hidupnya, wanita itu justru merasa bersalah atas hal yang sama sekali bukan kesalahannya.
"Maafkan aku....Mas.....Jiwa..." bisiknya makin pelan, suaranya hampir hilang tertelan udara. "Aku... tidak bisa... memberi kalian... keturunan... Aku tidak bisa... memberi cucu... untuk Mama Papa..."
Kalimat itu terhenti. Itu adalah kalimat terakhir yang berhasil meluncur dari bibirnya....
*****