NovelToon NovelToon
Sins Of The Playboy

Sins Of The Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Roman-Angst Mafia
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.

Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.

Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.

Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.

Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.

Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.

~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Pukul sepuluh pagi di Stone Hospital selalu menjadi waktu tersibuk. Koridor-koridor lantai dasar dipenuhi oleh lalu lalang staf medis, keluarga pasien, dan aroma antiseptik yang bercampur dengan wangi roti panggang dari arah kantin utama.

Rumah sakit ini memang memiliki fasilitas nomor satu, termasuk area pujasera di lantai satu yang didesain menyerupai kafe modern agar para dokter dan pengunjung tidak merasa jenuh.

Di salah satu sudut kantin yang agak tenang, Olivier Martinez duduk sendirian di meja kayu dekat jendela kaca besar.

Di hadapannya, sebuah cangkir keramik berisi teh hijau hangat masih mengepulkan uap tipis, berniat mengisi energi sejenak sebelum bersiap melakukan kunjungan siang ke bangsal umum.

Namun, kedamaian kecil itu mendadak terusik oleh riuh rendah suara bisikan yang tiba-tiba menjalar di antara para perawat dan pengunjung di dekat pintu masuk kantin.

"Bukannya itu Tuan Stone?"

"Astaga, apa yang dia lakukan di bawah sini? Bukankah dia seharusnya berada di ruang VIP?"

Olivier meletakkan cangkir tehnya, dahinya berkerut halus mendengar nama itu disebut.

Ia menoleh ke arah pintu masuk, dan seketika itu juga, rasa pening langsung menyerang kepalanya.

Di sana, berjalan dengan santai seolah sedang menyusuri lobi hotel bintang lima miliknya sendiri, adalah King Stone.

Pria itu benar-benar melakukan kegilaan yang di luar nalar medis. King menolak menggunakan kursi roda, menolak dikawal oleh pengawal pribadinya, dan dengan nekat berjalan kaki turun menggunakan lift publik menuju kantin.

King mengenakan celana kain santai hitam dan kaos polo longgar berwarna senada yang sengaja dipilih untuk menyembunyikan perban tebal di perutnya.

Meskipun langkah kakinya terlihat sedikit kaku dan sesekali tangan kanannya yang bertato memegangi sisi perutnya yang nyeri, keangkuhan dan aura dominan klan Stone tetap terpancar kuat dari setiap gerakannya.

Sepasang mata elangnya bergerak tajam memindai seluruh ruangan, mencari satu siluet yang menjadi tujuannya turun ke lantai bawah ini.

Begitu mata elang itu mengunci posisi Olivier di sudut jendela, sebuah senyuman miring yang menyebalkan langsung terbit di bibir tegas King. Ia melangkah lurus membelah kerumunan kantin, mengabaikan tatapan syok dari para staf rumah sakit yang tahu betul bahwa pria ini baru saja melewati operasi besar beberapa hari yang lalu.

BRAK

King menarik kursi di hadapan Olivier tanpa izin dan mendudukkan tubuh tegapnya di sana. Ia mengembuskan napas sedikit berat, menahan denyut perih di perutnya akibat nekat berjalan cukup jauh.

Olivier menatap pria di hadapannya dengan pandangan mata bulat yang melebar sempurna karena kombinasi antara terkejut dan marah. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan suara yang ditekan serendah mungkin namun penuh amarah.

"Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Stone?" desis Olivier, giginya gemertak.

"Apakah otak Anda ikut terluka saat insiden penusukan itu? Anda baru pulih pasca-operasi besar! Jahitan di perut Anda bisa robek kapan saja jika Anda nekat berjalan sejauh ini!"

King Stone justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai, melipat kedua tangannya di depan dada seolah peringatan keras Olivier hanyalah angin lalu.

"Lantai atas terlalu membosankan, Dokter Martinez," jawab King dengan nada baritonnya yang santai dan tanpa dosa.

"Aroma kamar VIP membuatku mual. Dan lagi, aku tahu dokter penanggung jawabku sedang bersembunyi di bawah sini untuk menghindari kunjungan. Jadi, aku memutuskan untuk menjemputmu sendiri."

"Saya tidak bersembunyi! waktu saya belum dimulai!" Olivier memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.

"Pulang ke kamar Anda sekarang, Tuan. Jika sampai Dr. Richard atau ibumu tahu kau berkeliaran di kantin umum seperti ini, mereka akan menyalahkan seluruh tim residen yang berjaga!"

"Biarkan saja mereka tahu," balas King acuh tak acuh. Ia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya yang dipenuhi tato hitam di atas meja, memperkecil jarak di antara mereka hingga Olivier bisa mencium aroma parfum kayu cedar yang maskulin dari tubuh pria itu.

"Lagipula, mengapa kau begitu panik? Apa kau takut jika jahitanku robek, kau harus kembali menyentuh tubuhku di ruang operasi?"

"Hentikan bualan sampahmu itu!" Olivier memotong dengan ketat, matanya berkilat penuh permusuhan.

"Ini bukan soal tubuhmu atau ego besarmu itu, King. Ini soal profesionalitas kerja! Kau adalah pasien VIP, tanggung jawab hukum rumah sakit ini ada di tangan tim medis. Sikap keras kepalamu yang kekanak-kanakan ini benar-benar menyusahkan semua orang!"

King tidak marah mendengar dirinya disebut kekanak-kanakan. Sebaliknya, mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Olivier dengan binar yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan intens.

"Aku tidak peduli dengan semua orang di rumah sakit ini, Olivier," ucap King, suaranya merendah, kehilangan nada bercandanya yang menyebalkan.

"Aku turun ke sini hanya karena kau tidak kembali ke kamarku sejak kemarin setelah kunjungan ibuku. Kau melarikan diri, bukan?"

Olivier terkekeh sinis, mencoba menutupi debaran aneh di dadanya akibat tatapan intens pria itu.

"Melarikan diri? Untuk apa saya melarikan diri dari seorang pasien yang tidak tahu aturan seperti Anda? Saya memiliki puluhan pasien lain di bangsal umum yang jauh lebih membutuhkan penanganan medis daripada seorang pria manja yang nekat jalan-jalan ke kantin saat perutnya masih diperban."

"Kau tahu betul apa maksudku, El," tekan King, menggunakan nama panggilan masa kecil Olivier yang langsung membuat pertahanan dinding es Olivier sedikit goyah.

"Ucapan ibuku kemarin sore... kau memikirkannya semalaman, kan? Itu alasanmu mengganti jadwal visit pagi ini dengan dokter residen lain."

Olivier mengepalkan tangannya di bawah meja. Pengamatan King terlalu jeli, dan itu membuatnya merasa telanjang.

Memang benar, ia sengaja meminta Leo untuk melakukan pemeriksaan pagi pada King karena ia belum siap menghadapi suasana canggung setelah Mommy Emmeline mengetahui status hubungan masa lalu mereka.

"Apa yang dikatakan Nyonya Stone kemarin tidak ada hubungannya dengan tugas medis saya," jawab Olivier tegas, mencoba mengembalikan suaranya ke mode formal.

"Dan soal pengakuan sepihakmu yang tanpa dosa itu... kau benar-benar berengsek, King. Kau tidak pernah berubah. Kau selalu melakukan hal-hal gila tanpa memikirkan bagaimana dampaknya pada hidup orang lain."

King tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan rasa percaya diri yang mutlak.

"Aku hanya mengatakan kebenaran pada ibuku. Dan asal kau tahu, ibuku sangat menyukaimu. Dia bahkan meminta hal yang menarik dariku setelah kau keluar dari ruangan kemarin."

Olivier menyipitkan matanya, menatap King dengan penuh curiga. "Saya tidak peduli dengan apa pun yang Anda bicarakan dengan ibumu, Tuan Stone. Sekarang, berdiri dan kembali ke kamarmu sebelum saya memanggil petugas keamanan untuk menyeret Anda menggunakan kursi roda."

"Panggil saja," tantang King santai. "Mari kita lihat apakah ada petugas keamanan di gedung berlambang namaku ini yang berani menyentuh tubuhku."

Olivier mengembuskan napas kasar, merasa berdebat dengan King di tempat umum seperti ini hanya akan menguras sisa energinya yang sudah menipis.

Pria di hadapannya ini memiliki tingkat keras kepala yang setara dengan tembok benteng pertahanan kota.

Olivier akhirnya bangkit berdiri, menyambar tas kerjanya dengan gerakan cepat. "Terserah Anda, Tuan Stone. Jika Anda ingin mati konyol karena pendarahan dalam di kantin ini, silakan saja. Saya mengundurkan diri dari tugas visit Anda hari ini."

Namun, baru saja Olivier berbalik untuk melangkah pergi, sebuah ringisan tertahan terdengar dari arah belakangnya.

"Ugh..."

Olivier otomatis menghentikan langkahnya. Insting kedokterannya mengalahkan ego pribadinya.

Ia berbalik dan melihat King sedang memegangi sisi perut sebelah kanannya dengan wajah yang sedikit memucat, napasnya terdengar pendek-pendek.

Kecerobohan nekat berjalan dari lantai empat ke lantai dasar akhirnya menuntut bayaran fisik pada tubuh King yang belum pulih total.

"King!" Olivier langsung melangkah kembali ke meja, menjatuhkan tasnya begitu saja. Ia berlutut di samping kursi King, tangannya dengan cekatan memeriksa posisi perut pria itu di balik kaos polonya, melupakan seluruh amarahnya dalam sekejap.

"Buka tanganmu, biarkan aku lihat! Sudah kubilang jangan nekat, jahitanmu pasti menegang!"

King, meskipun sedang menahan rasa perih yang luar biasa di perutnya, justru menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk menggenggam pergelangan tangan Olivier yang sedang memeriksa perutnya.

Cengkeramannya tidak kuat, namun sangat erat, mengunci gerakan tangan wanita itu.

King menunduk, menatap Olivier yang berada di dekatnya dengan jarak yang sangat dekat hingga ia bisa melihat kecemasan murni yang terpancar dari sepasang mata bulat milik dokter pribadinya itu.

"Lihat..." bisik King dengan senyuman tipis di bibirnya yang pucat. "Kau masih mencemaskanku, El. Kau tidak bisa membohongi instingmu sendiri."

Olivier tertegun, menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh King, lalu mendongak menatap wajah pria itu yang dipenuhi keringat dingin.

Rasa kesal kembali membuncah di dadanya, namun kali ini bercampur dengan rasa sesak yang aneh.

"Lepaskan, King," ucap Olivier, suaranya melunak, tidak lagi ketat seperti tadi namun sarat akan kelelahan batin. "Biarkan aku melakukan tugasku sebagai doktermu. Kembali ke atas, oke? Tolong, jangan buat situasi di antara kita semakin rumit dari yang sudah ada."

King Stone menatap wajah Olivier selama beberapa detik, mencari sisa-sisa penolakan di sana, sebelum akhirnya perlahan melepaskan genggaman tangannya. Ia memberikan anggukan kecil yang lemah.

"Baiklah. Bawa aku kembali ke atas, Dokter Martinez."

Olivier segera berdiri, melambai cepat ke arah dua perawat yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan cemas dari kejauhan untuk segera membawa kursi roda darurat.

Babak cekcok di kantin rumah sakit itu berakhir dengan kemenangan tipis bagi King yang berhasil meruntuhkan dinding jarak di antara mereka, membuktikan bahwa sekeras apa pun Olivier mencoba menghindar, benang merah di antara mereka selalu menemukan cara untuk menarik wanita itu kembali ke sisinya.

1
Yunie
seru nih
Ros 🌷🦋: hallo kak 🫶
total 1 replies
ida wati
wkwkwkwk drama persepupuan....jodoh nih kayaknya 🤣
Ros 🌷🦋: Wkwkwk masih rahasia ya kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
wkwkwkwk jngan kebanyakan gaya lu King, lu tuh budak nya El 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkwk🤣
total 1 replies
ida wati
yakin lu King??

mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Ya Tuhan ngakak aku kak🤣🤣🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
tendang aja oliv si king🤣
Ros 🌷🦋: ngakak 🤣
total 1 replies
ida wati
pake belm aja El biar gak malu wkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 3 replies
ida wati
huaaaa othor motong bawanggg 😭😭😭
Ros 🌷🦋: huhuhu 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nora xander masih ada ikatan darah thor,, emg boleh berjodoh,,!!?? 🤔
Ros 🌷🦋: Mereka sepupuan kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
apa Nora jodohnya Xander?
Ros 🌷🦋: kalo direstuin reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
sekarang giliran Ken yg muntah liat tingkah king🤣🤣
Ros 🌷🦋: hahaa biar kebagian muntah triplek K🤣🤣
total 1 replies
Moes Rifah
Thor episodenya 41 kok cuma 29
Ros 🌷🦋: ada 41 episode kak🙏🏻
total 1 replies
ida wati
wakakakaaka aku bahagiaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Hehehe 🤭
total 1 replies
ida wati
siram pake air keras aja biar kaku sekalian wkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Ngakak 🤭🤣
total 1 replies
ida wati
grandmam suntik obat tidur aja kalo perlu suntik mati 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: ma'aciww kak🫶
total 5 replies
ida wati
ahhh Noraaa kau membuatku mewekkk 😩😩😩😩😩😭
Ros 🌷🦋: bayangkan sepuluh tahun kak baru ketemu ayahnya 🤭
total 1 replies
ida wati
thorrr sembako dibawa bawa 😩😩😩😩
Ros 🌷🦋: hihihi Author juga emak2 kak 🤭🤣
total 3 replies
Agus Hidayat
😍😍😍😍😍😍
Ros 🌷🦋: Ma'aciww kak reader, Komentar adalah semangat Author 🤭🤣
total 1 replies
Moes Rifah
ayo Thor lanjut, saya suka ceritax
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Moes Rifah
lanjut Thor smpe dr martinez hamil anak kedua
Ros 🌷🦋: Hehe siap ya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!