NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ujian patuh

Siang itu, pintu kamarku dibuka tanpa ketukan.

Axel masuk jas hitam, kancing paling atas dilepas matanya... lebih gelap dari biasanya Kayak badai yang nunggu waktu buat jatuh.

Di tangannya ada kunci mobil dan selembar kertas izin keluar.

“Kau bebas 1 jam,” katanya datar suaranya rendah, tapi nusuk. “Keluar dari gerbang mansion ini. Jalan ke taman kota 500 meter di depan lalu balik lagi ke sini tepat 60 menit.”

Aku kaget. Bebas? Setelah berhari-hari dikurung?

“Kenapa, Tuan?” tanyaku hati-hati.

Axel mendekat 3 langkah jarak kami jadi 2 meter terlalu dekat buat Axel yang biasanya jaga jarak 6 meter, aku mundur tanpa sadar, punggung nempel pintu.

“Ujian,” bisiknya. Senyum tipis, tapi ga sampai ke mata, Senyum naga. “Patuh itu gampang kalau dikurung, Patuh itu mahal kalau dikasih pilihan buat lari.”

Tanganku dingin dia ngasih aku kebebasan... buat ngetes aku bakal kabur atau balik.

“Kau pergi sekarang,” dia nyodorkan kunci mobil. “Pengawal akan ngikut dari jauh. Tapi mereka ga akan nahan kau. Keputusan ada di tanganmu, Aira.”

Aku ngambil kunci itu dengan tangan gemetar logikanya lari. Lari sejauh-jauhnya. Buang kontrak ini. Buang Axel Reynard.

Tapi kakiku berat mataku malah ke bingkai foto anak kardus bekas di meja. yang sedang tersenyum itu.

60 menit aku keluar mansion. Udara luar dingin, tapi bebas. Pengawal beneran jaga jarak, ga maksa. ga ngikutin rapat.

Aku jalan ke taman kota, duduk di bangku kayu 5 menit napasku lega. Untuk pertama kalinya sejak kontrak, aku ga ngerasa diawasin.

Tapi 10 menit kemudian... dadaku sesak. Bukan karena takut ketahuan tapi karena bayangan Axel berdiri di depan pintu kamarku semalam. Ragu. Diam. Kayak nunggu aku balik.

Jam di HP menunjukkan menit ke 35. Kalau aku lari sekarang, aku bisa hilang ganti nama. Hidup baru.

Tapi kalau aku balik... aku milih neraka yang udah aku kenal.

Menit ke 50, aku udah berdiri di depan gerbang mansion lagi pengawal cuma manggut ga kaget. Seolah mereka udah tau jawabanku.

Aku masuk langkahku pelan. Jantungku kayak mau copot.

Axel nunggu di aula utama punggungnya ke aku pas aku masuk, dia ga nengok cuma ngomong pelan.

“Menit ke 58. Kau balik.”

Aku menunduk. “Saya... saya ga tau harus ke mana lagi, Tuan.”

Axel berbalik. Matanya ngelus aku dari atas sampai bawah. Bukan nafsu. Tapi obsesi. Kayak kolektor yang mastiin barang mahalnya ga lecet.

Lalu tanpa peringatan, dia nyambar pergelangan tanganku yang masih memar. sangat Kuat. Aku mengaduh pelan, lututku lemas.

“Ini hukumannya,” desisnya di telingaku. “Karena kau bikin aku nunggu. Karena kau bikin aku ragu. Naga ga suka ragu, Aira.”

Dia ga mukul. Dia ga nyakitin lebih dari itu. Tapi genggamannya... cukup buat bikin tulung tanganku protes. Cukup buat ngingetin siapa yang punya kuasa di sini.

“Besok, jari tanganmu yang ngetik 2x lebih cepat,” perintahnya, lalu melepas genggamannya kasar. “Biar kau ingat kebebasan yang aku kasih... bisa aku ambil kapan saja.”

Dia pergi, ninggalin aku terduduk di lantai marmer dingin. Pergelangan tangan memar lagi. Tapi yang lebih sakit dadaku.

Aku balik bukan karena rantai. Aku balik karena aku... ga tega ninggalin naga yang ragu di depan pintuku semalam.

Dan Axel... dia tau itu. Makanya hukumannya bukan fisik. Hukumannya dia bikin aku ngaku sendiri kalau aku udah mulai terikat.

Malamnya aku ga bisa tidur. Pergelangan tangan kiri masih nyut-nyutan. Memar ungu gelap melingkar kayak gelang yang dipaksa.

Aku duduk di meja, ngebuka laptop yang Axel lempar ke kamarku tadi sore. Di layar file kontrak kerja 200 halaman Versi final.

Catatan di bawahnya cuma 1 baris, tulisan tangan Axel yang tajam.

“Ketik ulang. 2x lebih cepat. Deadline subuh. Tangan yang memar itu biar ingat tempatnya.”

Tanganku gemetar bukan karena sakit tapi karena marah.

"Dia nguji aku kasih kebebasan, terus hukum aku karena aku milih balik dia gila. Dia mau aku patuh, tapi juga mau aku milih dia dengan sadar. Dia mau aku jadi miliknya... bukan karena rantai, tapi karena aku ga punya tempat lain." pikirku pelan.

Aku mulai ngetik jari telunjuk kiri sakit tiap neken tombol. Tapi aku paksa.

Tik. Tik. Tik.

Satu halaman. Dua halaman. Tiga puluh halaman.

Jam 1 pagi, mataku udah panas Jam 3 pagi, jari kiriku kram. Ada rasa panas kayak jarum yang nusuk dari kuku ke pergelangan tapi aku ga berhenti.

Karena di sela sakit itu, muncul pikiran baru. Pikiran yang selalu ku tahan.

“Kalau dia bisa nyiksa aku kayak gini... suatu hari aku harus bikin dia ngerasain juga.”

Balas dendam. Kata itu pahit di lidahku Aku bukan tipe pendendam. Aku anak panti yang diajarin “maafkan orang yang nyakitin kamu”.

Tapi Axel... dia beda. Dia ngajarin aku kalau kadang maaf itu cuma bikin kamu makin diinjak.

Jam 4.17 subuh Layar laptop nge-blur. Aku nyender, air mata jatuh ke keyboard. Bukan karena lemah. Tapi karena capek jadi boneka yang dipencet tombolnya seenak dia.

Klek. Pintu kebuka.

Axel masuk tanpa suara. Dia lihat aku, lihat laptop, lihat tanganku yang udah merah semua. Dia diem 5 detik rahangnya ngeras.

Lalu dia maju, nutup laptop itu kasar. “Cukup.”

“Satu jam lagi deadline, Tuan,” suaraku serak. aku nantang Pertama kali. “Kenapa berhenti? Bukannya Tuan suka lihat saya kesakitan?”

Axel diam. Matanya ngunci mataku amarah nya keliatan jelas dia mau aku hancur di tangannya, tapi ga mau aku hancur beneran.

Dia narik tanganku Pelan kali ini. Bukan nyambar kayak tadi. Dia bawa aku ke kamar mandi, buka keran air dingin, siram tanganku yang bengkak.

Air dingin bikin aku meringis tapi dia ga lepas. Jempolnya neken pelan di titik yang paling sakit bukan buat nyiksa. Kayak... dia tau titik itu karena dia pernah ngerasain juga.

“Aku bilang 2x lebih cepat,” gumamnya Napasnya kena di pelipisku. “Bukan sampai tanganmu rusak. Kau asetku. Aset rusak itu ga berharga.”

Aku ketawa kecil Pahit. “Jadi Tuan nyiksa saya karena saya berharga? Logika naga memang aneh.”

Dia mendongak Tatapannya tajam. “Aku nyiksa kau karena kau balik. Karena kau bikin aku percaya sebentar... kalau kau bakal lari.”

Kalimat itu nusuk lebih dalam daripada siraman air dingin.

Jadi semua ini karena dia takut? Takut aku lari? gila...sebesar itu sampai dia rela jadi monster biar aku ga pergi?

Aku menatap pantulan kami di cermin. Dia berdiri di belakangku, tangan masih megang pergelanganku di bawah air. Aku basah kuyup, dia jasnya juga basah tapi ga ada yang peduli.

Di momen itu aku ngerti Axel Reynard nyiksa aku bukan karena benci. Dia nyiksa aku karena dia udah ga tau cara lain buat mastiin aku tetap di sini.

Dan aku... mulai benci diriku sendiri karena bagian dari diriku mulai ngerti dia.

Aku lepas tangan dari genggamannya. Jalan keluar kamar mandi, ninggalin genangan air di lantai.

Sebelum nutup pintu, aku bisik tanpa nengok. “Suatu hari, Tuan Axel... saya akan bikin Tuan ngerasain ragu kayak yang Tuan kasih ke saya malam ini.”

Langkahku menjauh di belakang, aku denger napas Axel berhenti sedetik Lalu pelan “Aku tunggu.”

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!