Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Aroma mentega dan roti panggang yang hangat perlahan menguap di udara, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih bersahabat di dalam ruang dalam apartemen Aiden.
Di atas sofa beludru abu-abu, Suzanne duduk dengan kedua kaki yang ditekuk ke dada, memeluk lututnya sendiri sembari menatap uap tipis yang mengepul dari cangkir teh hangat yang disediakan Aiden.
Remaja delapan belas tahun itu kini sudah memakai kaus hitam santai, duduk di lantai marmer tepat di samping sofa, melipat tangannya di atas lutut sembari memberikan atensi penuh seolah dunia luar tidak lagi berjalan.
Waktu seolah melambat saat mereka menghabiskan waktu bersama di ruangan itu.
Untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, benteng pertahanan Suzanne runtuh sepenuhnya.
Di hadapan seorang bocah SMA yang baru dikenalnya semalam, Suzanne mulai membuka suara, mengalirkan seluruh beban berat yang selama ini menyumbat dadanya.
Ia menceritakan semuanya.
Dengan suara yang sesekali bergetar, Suzanne membawa Aiden masuk ke dalam garis waktu kehancuran hidupnya.
Bagaimana raksasa bisnis keluarga Klatten yang dulu begitu disegani di Chicago mendadak dinyatakan pailit dan bangkrut dalam semalam, menyisakan tumpukan utang dan tatapan hina dari semua orang yang dulu memuja mereka.
Teman-teman sosialita yang menjauh, kolega bisnis yang berbalik meludah, hingga puncaknya—sang ayah, satu-satunya pelindung Suzanne, ambruk terkena serangan stroke jantung.
"Daddy jatuh sakit dan langsung koma selama beberapa bulan terakhir ini," lirih Suzanne, matanya menerawang kosong, mengingat tubuh kurus ayahnya yang kini bergantung pada untaian selang medis.
Namun, di tengah keputusasaannya, insting protektif Suzanne tetap bekerja; ia sengaja tidak menyebutkan nama rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
Aiden mendengarkan dengan rahang yang mengeras, merasakan denyut amarah yang tak kasatmata demi mendengar betapa menderitanya wanita di hadapannya ini.
Begitu mendengar kata 'koma', Aiden langsung mendongak, menatap Suzanne dengan pandangan intens.
"Di rumah sakit mana?" tanya Aiden cepat, nadanya sarat akan kesungguhan.
"Boleh bawa aku bertemu Daddymu, Anne? Aku bisa meminta tim medis terbaik untuk memeriksa kondisinya."
Sebagai salah satu pewaris Rumah Sakit Stone, Aiden tahu dia bisa menggerakkan puluhan profesor medis hanya dengan satu jentikan jari.
Suzanne tertegun sejenak, namun ia segera menggelengkan kepalanya. Ia merasa sungkan dan cemas.
"Tidak perlu, Aiden. Terima kasih," jawab Suzanne dengan nada menolak yang halus.
"Suamiku... dia berasal dari keluarga Daendels Group. Namanya cukup dikenal oleh publik karena belakangan ini dia masuk dalam jajaran pebisnis muda yang sedang berada di puncak, bergerak di bawah pimpinan langsung ayahnya. Aku hanya khawatir... jika kau terlalu ikut campur, kau akan diseret ke dalam masalah rumah tanggaku yang rumit. Kau masih sekolah, Aiden. Masa depanmu bisa hancur jika berurusan dengan orang-orang seperti mereka."
Suzanne berbicara dengan begitu polos, merisaukan keselamatan seorang pelajar high school, tanpa tahu sedikit pun bagaimana mengerikannya gurita kekuasaan dan finansial dinasti Luther-Stone.
Di mata hukum dan bisnis Chicago, Daendels Group bahkan tidak berada di level yang sama untuk sekadar bersujud di hadapan Luther-Stone Corporation.
Aiden yang mendengar kekhawatiran polos dari mulut Suzanne hanya bisa menyunggingkan seulas senyum tipis yang penuh arti.
Alih-alih menyombongkan nama besarnya, dia memilih untuk menyimpan kartu as itu rapat-rapat.
Rasa manis mendadak menjalar di dadanya karena mengetahui wanita ini ternyata mengkhawatirkan keselamatannya.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa," ucap Aiden lembut, mengalah untuk sementara waktu demi menjaga kenyamanan Suzanne.
Ia melirik jam dinding, lalu kembali menatap mata sembab Suzanne.
"Tapi kau boleh memakai masker jika merasa tidak nyaman. Mau jalan-jalan keluar bersamaku hari ini? Kau butuh udara segar agar matamu tidak bengkak lagi."
Suzanne mengerjapkan matanya, sedikit terkejut dengan tawaran tiba-tiba itu. "Ke mana?"
"Mau ke mana pun, aku antar," jawab Aiden mantap tanpa ragu.
Mendengar ketulusan di suara Aiden, keputusasaan Suzanne perlahan mencair, digantikan oleh gairah kebebasan yang sudah lama hilang dari jiwanya.
Dengan cepat, Suzanne menatap Aiden dan berkata, "Terima kasih... Bisakah kau membawaku ke suatu tempat yang benar-benar ingin kukunjungi sejak dulu? Aku ingin melarikan diri dari kepungan gedung-gedung tinggi ini sebentar saja."
Aiden tersenyum lebar, binar matanya berkilat penuh pemujaan. Ia berdiri dari lantai, mengulurkan tangannya yang besar untuk membantu Suzanne berdiri.
"Hari ini aku akan mengantarmu ke mana pun, Sayang... maksudku, Kak..." ralat Aiden dengan cepat, pura-pura salah tingkah sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba bersikap sopan dengan menyematkan panggilan formal di akhir kalimatnya yang sempat kelepasan.
Suzanne mendengus geli, seulas tawa kecil akhirnya lolos dari bibirnya yang pucat.
"Panggil Anne seperti biasa saja," jawab Suzanne, merasa lucu mendengar bagaimana cara Aiden yang mendadak berusaha sopan namun sudah sangat terlambat.
Padahal, jika diingat-ingat kembali, remaja di hadapannya ini bersikap begitu dewasa, dominan, dan sangat menenangkannya saat mendekapnya erat di koridor tadi, bahkan saat menghadapi pengakuan gilanya mengenai pil kontrasepsi.
Deg.
Begitu ingatan tentang bagaimana Aiden mendekapnya dengan begitu protektif dan aroma tubuh remaja itu kembali melintas di benaknya, jantung Suzanne mendadak berdesir hebat.
Detak jantungnya berkejaran dengan rasa hangat yang tidak biasa.
Suzanne memalingkan mukanya dengan cepat, merutuki isi kepalanya sendiri yang mendadak tidak bisa dikontrol.
"Kenapa aku malah memikirkan hal itu? Otakku benar-benar sudah rusak," lirih Suzanne sangat pelan di dalam hatinya, sembari menyembunyikan senyum samar yang merekah di bibirnya.
Aiden, yang memiliki kepekaan luar biasa di atas rata-rata, mendadak menarik turunkan kedua alisnya yang tebal.
Ia memajukan tubuh jangkungnya, mendekatkan wajah tampannya ke arah Suzanne dengan seringai menggoda yang sangat menyebalkan namun mematikan.
"Kenapa?" tanya Aiden tiba-tiba, menatap lekat-lekat semburat merah yang samar di telinga Suzanne.
"Kau sedang memikirkan apa, hm? Kau memikirkan... malam pertama kita semalam?" goda Aiden dengan nada suara yang sengaja diperdalam, membuat atmosfer di antara mereka mendadak kembali memanas oleh ketegangan romantis.
Wajah Suzanne seketika memerah sempurna laksana tomat matang.
Ia memukul lengan kekar Aiden dengan hand bag kecilnya secara refleks. "Kau gila! Hentikan ucapan mesummu itu, Bocah!" seru Suzanne salah tingkah.
Untuk mengalihkan pembicaraan, ia segera melangkah menuju pintu keluar apartemen dengan tergesa-gesa.
"Aku ingin ke pantai. Bawa aku ke Pantai Danau Michigan sekarang juga!"
Aiden tertawa lepas, sebuah suara tawa yang begitu renyah dan penuh kemenangan.
Langkah kakinya yang panjang dengan mudah menyusul pergerakan Suzanne yang panik di dekat pintu.
Sebelum Suzanne sempat membuka pintu apartemen, Aiden dengan gerakan taktik luar biasa berhasil mengunci tubuh Suzanne di antara kedua lengannya yang bertumpu pada dinding pintu.
Cup.
Satu kecupan hangat dan lembut mendarat tepat di pelipis Suzanne, dicuri dengan sangat lihai oleh Aiden sebelum remaja itu menarik mundur tubuhnya sambil mengeritkan matanya jenaka.
Suzanne mematung di tempatnya berdiri, tangannya refleks meraba pelipisnya sendiri sementara warna merah di wajahnya kini menjalar hingga ke leher, mengalahkan tanda merah yang ditinggalkan Willem yg sudah mulai samar.
Sifat posesif dan berani dari seorang berondong bernama Aiden Luther Stone benar-benar berhasil mengobrak-abrik seluruh pertahanan warasnya pagi ini.
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍