seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Rara menunduk, menatap nasi putih di piringnya yang mulai mendingin. Tawa renyah Nina dan Fino perlahan memudar di telinganya, digantikan oleh gema ketakutan yang mencekam dadanya.
Bagaimana kalau teman-teman di sekolah tahu? Bagaimana kalau para guru mencium bau pernikahan ini?
Pikiran itu terus berputar seperti lingkaran setan. Di usianya yang baru sembilan belasan tahun, saat remaja lain sibuk memikirkan tugas sekolah, gebetan, atau ujian, Rara justru sudah menyandang status sebagai seorang istri. Jiwa remajanya menjerit menolak kenyataan ini. Ia membayangkan tatapan menghakimi dari para guru, bisik-bisik sinis di koridor sekolah, dan yang paling menakutkan: kekecewaan di mata sahabat-sahabat dekatnya jika mereka tahu Rara digerebek warga dan dinikahkan siri di rumah Pak Ustad karena kesalahpahaman kemarin malam.
"Kak, nasinya jangan cuma diaduk. Dimakan, nanti telat!" celetuk Fino buyar melamun Rara untuk kesekian kalinya.
Rara tersentak, buru-buru menyuap nasinya demi menutupi kegugupan. Ia melirik fino. Adiknya itu memang tengil, bermulut ceplas-ceplos, dan sering membuatnya mengelus dada. Namun, ucapan Fino kepada Athur tadi membuktikan satu hal: di balik sifat urakannya, Fino adalah satu-satunya pelindung pria di keluarga ini yang siap pasang badan untuk kehormatan kakaknya.
Sementara itu, di sisi meja yang lain, Athur mengunyah tempe goreng tanpa tepung itu dalam diam. Matanya yang tajam sempat menangkap kilat kecemasan di mata Rara, lalu beralih pada Fino.
Jujur, di dalam kepala Athur, badai logikanya sedang berkecamuk hebat. Pernikahan dadakan ini benar-benar di luar kendalinya.
Sebagai seorang pria dewasa dengan dunia yang jauh berbeda, menikahi seorang gadis SMA yang bahkan belum lulus adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Kemarin malam ia tak berdaya, dan pagi ini ia terbangun sebagai seorang suami dari anak sekolahan. Ada rasa bersalah yang menggelitik nuraninya ketika melihat seragam putih-abu-abu Rara yang kusam.
Athur merasa seperti telah merenggut paksa masa muda bidadari kontrakan ini, meskipun semua itu terjadi karena jebakan warga yang salah paham.
Namun, lamunan Athur terputus oleh suara dehaman yang sengaja dikeraskan.
"Ehem! Bang Athur," panggil Fino sambil menopang dagu dengan sebelah tangan, menatap Athur dengan pandangan menyelidik yang sok dewasa. "Abang tenang saja. Meskipun Rara ini bawel dan suka ngancem mau masukin aku ke pesantren, dia pintar masak kok. Jadi Abang nggak akan kelaparan, paling cuma kurus saja karena menunya begini terus."
"Fino! Mulutnya ya!" cubitan Rara sukses mendarat di lengan Fino.
"Aduh! Sakit, Kak! Tuh kan, Bang, lihat? KDRT sebelum berangkat sekolah ini namanya!" ringis Dino sengaja mendramatisir suasana, membuat Nina kembali terkekeh geli.
Athur tidak meledak marah. Sudut bibirnya justru berkedut tipis, hampir membentuk senyuman miring yang nyaris tak terlihat. Cowok 15 tahun di depannya ini menarik. Tengil, tapi punya nyali tinggi untuk ukuran anak yang tinggal di kontrakan tripleks.
"Saya tidak keberatan dengan makannya," sahut Athur datar, membuat Rara langsung menghentikan aksi mencubit Fino dan menatap suaminya dengan pipi yang mendadak bersemu merah.
Fino menyipitkan mata, lalu tersenyum puas. Ia menepuk pundak Athur dengan sok akrab sebelum berdiri dari duduknya. "Bagus deh. Berarti Abang lulus ujian pertama mertua bayangan. Ya sudah, aku sama Nina berangkat dulu. Kak Rara, hari ini aku yang bonceng Nina pakai sepeda, Kakak berangkat sendiri atau..." Fino melirik Athur penuh arti, "...mau diantar suami baru?"
"Finooo!! Cepat berangkat!" wajah Rara sudah merah padam seperti kepiting rebus.
"Hahaha! Siap, Kanjeng Ratu! Ayo Nin, kita kabur sebelum pawangnya ngamuk!" Fino menarik tangan Nina, menyambar tas sekolahnya, dan ngacir keluar pintu sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkan Rara yang salah tingkah dan Athur yang masih menatap kepergian adik ipar tengilnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah Fino dan Nina berangkat, suasana di dalam kontrakan berubah menjadi sangat canggung. Rara buru-buru membereskan piring-piring plastik di lantai untuk mengalihkan rasa salah tingkahnya. Jam di dinding yang sudah berkarat menunjukkan waktu yang semakin mepet. Rara mulai panik, mengingat hari ini dia kebagian tugas piket kelas dan harus tiba sebelum gerbang sekolah ditutup.
"Kamu mau berangkat sekarang?" suara berat Athur memecah keheningan.
Rara menoleh sekilas sambil menguncir rambutnya dengan gugup. "Iya, Mas. Eh... Kak. Aku harus buru-buru, hari ini piket."
"Saya antar," ujar Athur mutlak. Tidak ada nada tanyaan di sana, melainkan sebuah perintah halus yang tidak bisa dibantah.
Rara sempat ingin menolak karena takut mengalihkan perhatian orang-orang di sekolah, tetapi melihat tatapan tegas Athur dan menyadari kalau dia sudah benar-benar terlambat, dia akhirnya mengangguk pasrah. "I-iya, Kak. Terima kasih."
Mereka pun berangkat menggunakan kendaraan Athur. Rara sempat heran karena semalam tidak melihat adanya mobil. "Mobil siapa?"
"Oh maaf tidak memberitahu mu. Semalam mobil ku tinggal di gang sebelah. Fino juga yang membantu ambil pagi tadi meminta bantuan warga yang bisa nyetir." Jawaban itu tidak lagi membuat Rara ingin tahu lebih detail.
Sepanjang perjalanan, jantung Rara berdegup kencang bukan main. Logikanya kembali berputar-putar memikirkan nasibnya di sekolah. Jika ada satu saja guru atau temannya yang tahu dia sudah menikah siri, beasiswanya bisa dicabut dan dia bisa dikeluarkan dari sekolah. Menatap punggung tegap Athur di depannya, Rara hanya bisa berdoa dalam hati agar semuanya aman.
Beberapa menit kemudian, kendaraan Athur berhenti sekitar beberapa puluh meter sebelum gerbang SMA Garuda, agar tidak terlalu mencolok. Rara turun dengan hati-hati, membenarkan letak tas ranselnya yang terasa berat.
"Terima kasih banyak sudah mengantar, Kak," ucap Rara tulus. Mengikuti naluri barunya sebagai seorang istri, Rara meraih tangan kanan Athur, lalu mencium punggung tangan pria itu dengan takzim.
Athur sempat terpaku sesaat, merasakan kehangatan jemari gadis SMA yang kini sah menjadi istrinya. Tatapan datarnya melembut sekejap. "Belajar yang baik. Pulang sekolah tunggu saya."
Rara mengangguk, lalu berbalik dan berjalan cepat memasuki gerbang sekolah.
Tanpa disadari oleh mereka berdua, di dekat pos satpam sekolah, seorang remaja laki-laki sedang berdiri membeku. Dia adalah Alden, pria yang selama ini menyukai Rara diam-diam.
Alden memandangi pemandangan di depannya dengan mata membelalak. Dia mengenali betul postur tubuh pria tegap yang berada di atas kendaraan itu. Namun, yang membuat dadanya terasa dihantam gada besar adalah ketika melihat Rara meraih tangan pria itu dan menciumnya dengan begitu mesra dan penuh rasa hormat.
Setahu Alden, ayah mereka sudah lama meninggal dunia. Rara tidak memiliki sosok pria dewasa mana pun di hidupnya yang patut diperlakukan seperti itu, kecuali jika pria asing itu adalah... kekasihnya.
Deg.
Hati Alden mencelos. Ada rasa perih dan sedikit patah hati yang merayap di dadanya. Selama ini dia merasa sangat dekat dengan Rara. Rara selalu terbuka tentang apa pun, tetapi mengapa untuk urusan sebesar ini Rara menyembunyikannya? Siapa pria dewasa berpenampilan matang yang mengantarnya itu? Mengapa Rara yang dikenal polos bisa bersikap semanis itu pada seorang pria asing?
Alden mengepalkan tangannya di dalam saku celana abu-abunya. Rasa curiga dan cemburu menyelimuti hatinya rasa itu mulai bercampur aduk, membakar ketenangannya pagi itu.