Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Sisi Yang Malang
Aluna tersenyum!
Sisi menyipitkan matanya sedikit dan bertanya dengan ragu, "Nona Aluna, apa yang Anda tertawakan?"
"Aku menertawakanmu karena terlalu terburu-buru." Aluna menatap lurus ke arahnya.
"Nona Aluna, apa maksud Anda? Saya kurang mengerti." Sisi tersenyum dengan kaku, tetapi tatapannya terlihat menajam dan mengunci wajah Aluna.
“Kamu tahu betul kalau aku tidak menyukai Gavin, dan aku tidak akan melarangmu untuk tidur dengannya. Tapi setidaknya, tunggulah sampai aku pergi dari sini. Kamu terang-terangan mencoba menghancurkan hubunganku dengan Gavin hanya agar kami bertengkar, lalu kamu bisa mengambil keuntungan dari situasi itu.”
Senyum di wajah Sisi langsung lenyap, digantikan oleh kilatan kejam yang terlihat jelas. Ia bertepuk tangan pelan sambil mencibir, "Nona Aluna, ternyata mulutmu tajam juga. Aku benar-benar meremehkanmu selama ini."
"Terserah." Aluna malas berlama-lama meladeni pelayan itu dan langsung memotong, "Ke mana Adrian pergi?"
"Apa?" Sisi mengerjap, berpura-pura bingung. Namun, ia segera menangkap arah pertanyaan Aluna. Ia mengangkat alisnya dan menyahut sinis, "Oh, pria itu? Jadi namanya Adrian. Nama yang bagus, tapi nasibnya... ck ck, agak tragis!"
Hati Aluna mencekam. Rasa khawatir terhadap keselamatan Adrian membuat dadanya sesak. Ia mengernyitkan dahi dan menegaskan suaranya, "Aku tanya sekali lagi, ke mana dia pergi?"
"Samarinda. Kudengar Tuan Gavin bertindak dengan kejam. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menghajar pria itu habis-habisan sebelum mengusirnya keluar dari kota ini."
Aluna membayangkan kekerasan yang menimpa Adrian, dan rasa bersalahnya semakin menumpuk. Di saat yang sama, amarah di dadanya ikut berkobar. Ia mengepalkan jari-jarinya erat-erat hingga memutih dan menggigit bibir bawahnya. Gavin, aku benar-benar membencimu.
Tepat pada momen itu, suara langkah kaki yang ringan terdengar dari arah koridor. Aluna tahu betul siapa pemilik langkah kaki itu. Gavin!
Alis Aluna bergerak sedikit. Ia tiba-tiba bangkit berdiri dari ranjang, mengerahkan seluruh kekuatannya, dan melayangkan tamparan keras tepat di wajah Sisi. Karena sama sekali tidak siap, Sisi kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terhuyung hampir jatuh ke belakang.
Sebelum Sisi sempat bereaksi atau membalas, Aluna langsung menunjuk wajahnya dan berteriak lantang, "Sisi! Aku tidak pernah mengusikmu selama tinggal di sini, kenapa kamu terus-menerus menjebakku?!"
“Aku sedang mengandung anak dari Tuanmu. Meskipun kami belum menikah secara sah, secara posisi aku adalah nyonyamu di rumah ini. Kamu berani membentakku saja sudah keterlaluan, dan sekarang kamu bahkan berniat mencelakai janin di perutku? Kamu benar-benar tidak tahu sopan santun!”
"Lagi pula, pria yang tempo hari itu adalah teman lama yang kebetulan berpapasan denganku. Kami sama sekali tidak punya hubungan khusus! Kamulah yang berulang kali menjebak dan merekayasa keadaan agar Kak Gavin salah paham. Licik sekali rencanamu!"
"Tapi Nona, sa...."
Brak!
Pintu kamar rawat didobrak dengan kasar dari luar, membuat ucapan Sisi berhenti seketika.
Secercah senyum puas melintas sekilas di wajah Aluna sebelum akhirnya disembunyikan. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan sikap patuh dan tenang.
Sementara itu, Gavin yang masuk dengan amarah yang meluap langsung mengunci pandangannya pada Sisi. Sepasang netra hitamnya yang setajam elang menatap pelayan itu dengan kilat murka. Bibir Sisi seketika pucat dan bergetar tanpa henti, sementara keringat dingin mulai bercucuran di pipinya.
"Tuan Muda, Nona Aluna telah memfitnah saya. Dia mengarang semua cerita itu. Saya tidak pernah..." Sisi mencoba membela diri demi mengambil hati Gavin, suaranya terdengar bergetar hebat karena ketakutan.
Namun, sebelum kalimat itu selesai, Gavin melangkah maju tanpa mengucap sepatah kata pun dan langsung melayangkan tendangan keras tepat di perut Sisi.
Bruk!
Tubuh Sisi terhempas kasar ke lantai marmer hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Melihat Sisi yang mengerang kesakitan dan tidak mampu lagi untuk bangkit berdiri, pupil mata Aluna mendadak menyempit.
Menyaksikan kekejaman pria justru membuat rasa takutnya terhadap Gavin semakin berlipat ganda.
"Bima, masuk. Seret wanita ini keluar," perintah Gavin dingin ke arah pintu.
Mendengar instruksi tersebut, Bima bersama seorang pengawal segera masuk ke dalam kamar. Tanpa sedikit pun rasa iba, mereka mencengkeram lengan Sisi dan menyeret tubuh pelayan itu keluar dari kamar rawat layaknya sebuah barang rongsokan.
"Ingat, berikan dia pelajaran yang setimpal di luar," tambah Gavin sebelum pintu ditutup.
"Baik, Tuan."
Kilatan tajam yang mematikan terpancar jelas dari mata Gavin. Aluna yang menatap wajah pria itu langsung merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Pria di hadapannya ini terasa begitu asing dan mengerikan.
Setelah Sisi diseret pergi, atmosfer di dalam kamar rawat inap ini mendadak menjadi sunyi senyap. Keduanya saling mengunci pandangan dalam keheningan yang menyesakkan, tanpa ada satu pun yang mau membuka suara.
Hingga akhirnya, ketegangan yang mencekam itu perlahan surut. Bibir tipis Gavin bergerak, mengeluarkan kalimat yang selama ini terpendam rapat di dalam dadanya. "Aluna, aku mencintaimu."
"Mungkin sudah sejak lama, aku jatuh cinta kepadamu. Hanya saja, saat itu kamu masih terlalu muda dan belum mengerti apa-apa tentang perasaan ini."
Sembari berucap demikian, Gavin mendudukkan dirinya di kursi kayu yang berada di samping ranjang Aluna. Untuk pertama kalinya, sebuah senyuman tipis yang terlihat getir terukir di wajahnya. Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, lalu bergumam lirih meratapi kebodohan sikapnya sendiri.