NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Trauma Masa Depan

Malam kian larut dan pekat ketika Doni Salman melangkah keluar dari ruko warnet yang pengap.

Rintik hujan gerimis mulai turun dari langit Jakarta yang hitam tanpa bintang, membasahi kemeja biru seragam PT Mitra Kilat yang melekat tipis di tubuh mudanya.

Air dingin mulai menetes dari ujung rambutnya, mengalir melewati pelipis dan pipinya, namun Doni sama sekali tidak mempercepat langkah kakinya.

Ia berjalan dengan ritme yang sangat konstan dan lambat, menyusuri trotoar jalanan aspal yang retak-retak di pinggiran kawasan industri yang mulai sepi.

Pikirannya saat ini sedang tidak berada di jalanan Jakarta tahun 2006.

Di dalam benaknya, sebuah pertempuran batin yang luar biasa hebat sedang berkecamuk.

Ia sedang berperang melawan musuh yang jauh lebih sulit, jauh lebih tidak kasat mata daripada kelicikan Andreas atau keserakahan Amanda Santoso; ia sedang berperang dengan traumanya sendiri yang tertinggal dari masa depan.

Setiap kali Doni mencoba mengedipkan mata terlalu lama atau membiarkan pikirannya kosong selama beberapa detik, rekaman memori malam kematiannya di usia empat puluh enam tahun selalu datang melesat menghantam kesadarannya bagai palu godam.

Rasa sesak yang luar biasa di dada, sensasi organ dalam yang meleleh akibat cairan racun saraf VX, suara tawa melengking Amanda yang penuh kebencian, serta seringai kemenangan di wajah Andreas seolah-olah masih melekat erat di dinding sel otaknya.

Tiba-tiba, di bawah sebatang tiang lampu jalan yang bergoyang ditiup angin malam, tubuh muda Doni mendadak berhenti melangkah.

Tangan kanannya mulai bergetar hebat tanpa bisa dikendalikan.

Jari-jemarinya melengkung kaku, persis seperti gejala awal kelumpuhan motorik yang ia alami di lantai tertinggi Menara Salman dua puluh tahun yang akan datang.

Keringat dingin seketika bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya, membuat napasnya mendadak memburu dengan cepat dalam ritme yang kacau.

Ini adalah serangan panik psikologis, sebuah manifestasi fisik dari trauma maut yang belum sepenuhnya mampu diterima oleh sistem saraf tubuh mudanya.

"Tenang... tubuh ini sehat."

"Saraf ini tidak rusak,"

Doni berbisik dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai desisan napas yang tercekik.

Ia mencengkeram lengan kirinya yang bergetar dengan tangan kanannya yang kokoh, menekannya dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih.

Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya selama beberapa hitungan di dalam paru-parunya yang masih berfungsi dengan sangat prima, lalu mengembuskannya perlahan lewat mulut.

Ia mengulangi proses itu berulang-ulang kali di bawah guyuran gerimis yang kian menderu.

Doni tahu, sebagai seorang pria yang pernah menggenggam kekuasaan absolut atas ribuan karyawan dan triliunan aset, terjebak kembali di dalam wadah seorang pemuda miskin yang tidak memiliki kekuatan hukum atau finansial adalah sebuah siksaan mental yang luar biasa.

Di masa depan, satu jentikan jarinya atau satu tanda tangan di atas kertas bermeterai bisa membekukan rekening bank musuh-musuhnya atau menghentikan ratusan truk kontainer.

Namun sekarang, di tahun 2006 ini, ia harus menahan diri, menurunkan ego besarnya, dan berpura-pura menjadi sebutir debu yang tidak berarti di papan catur kehidupan.

Ia harus melatih kembali mentalnya untuk tidak bertindak terburu-buru.

Dendam yang terlalu membara dan tidak terkontrol justru bisa menjadi bumerang yang membakar dirinya sendiri sebelum ia sempat menyentuh para musuhnya.

Balas dendam terbaik membutuhkan kepala yang sedingin es, kalkulasi yang presisi, dan kesabaran seorang pemburu yang rela mengintai mangsanya selama berbulan-bulan di dalam semak belukar.

Setelah getaran di tangannya mereda dan detak jantungnya kembali stabil, Doni membuka matanya.

Sorot mata yang tadinya dipenuhi ketakutan akan trauma kini kembali berubah menjadi sepasang mata yang dingin dan menusuk. Ia melanjutkan langkah kakinya yang basah.

Saat melewati sebuah toko elektronik kecil yang terletak di sudut perempatan jalan, langkah kaki Doni kembali terhenti sepenuhnya.

Toko itu sudah tutup, namun sebuah televisi tabung berukuran dua puluh satu inci di dalam etalase kaca depannya masih menyala, menampilkan siaran berita bisnis lokal paruh waktu dari stasiun televisi swasta.

Di layar kaca yang berkedip-kedip itu, tampak sosok seorang pria paruh baya bertubuh tegap mengenakan setelan jas safari mewah berwarna biru dongker.

Pria itu sedang tersenyum lebar ke arah kamera, memegang sebilah gunting emas untuk memotong pita dalam sebuah acara peresmian proyek pembangunan jalan tol lingkar luar Jakarta yang baru.

Di bagian bawah layar televisi, tertera sebuah teks berjalan berwarna putih:

"Direktur Utama PT Santoso Karya, Devan Santoso, Optimis Proyek Infrastruktur Selesai Tepat Waktu."

Melihat wajah pria paruh baya di layar kaca itu, rahang Doni seketika mengatup dengan sangat rapat.

Sendi rahangnya berbunyi linu karena tekanan yang begitu kuat. Di kehidupan pertamanya, Devan Santoso ayah kandung dari Amanda adalah sosok yang selalu berpura-pura menjadi mertua yang bijaksana, penuh wibawa, dan selalu memberikan nasihat-nasihat bisnis yang manis di masa-masaman awal pernikahan Doni dengan Amanda.

Namun, di balik topeng malaikat pelindung itu, Devan Santoso adalah arsitek utama di balik seluruh penderitaan hidup Doni.

 Devan-lah yang memerintahkan Amanda untuk mendekati Doni setelah Zahra tewas, Devan yang menyusun strategi untuk menyusupkan Andreas ke dalam jajaran direksi Salman Group, dan Devan pula yang secara perlahan merancang pengalihan aset-aset logistik serta perbankan milik Doni ke dalam gurita bisnis keluarga Santoso melalui skema utang-piutang fiktif yang rumit.

"Kau terlihat sangat terhormat di dalam kotak kaca itu, Devan,"

kata Doni dengan suara yang sangat rendah dan datar, matanya menatap tajam ke arah layar televisi dari balik kaca etalase yang basah oleh rintik hujan.

Aura membunuh yang sangat pekat seolah memancar dari tubuh muda Doni, membuat atmosfer di sekitar perempatan jalan yang sepi itu mendadak terasa mencekam.

"Kau tidak pernah tahu bahwa jalan tol yang sedang kau banggakan dan kau potong pitanya hari ini..."

"kelak dalam waktu lima tahun ke depan, akan menjadi salah satu aset berharga pertama yang akan aku sita secara paksa dari tangan keluargamu melalui jalur kepailitan hukum yang mutlak,"

lanjut Doni dengan seulas senyuman dingin yang mengerikan terukir di wajah tirusnya.

Doni membalikkan badannya dengan satu gerakan mantap, memunggungi toko elektronik tersebut dan kembali berjalan menembus kegelapan malam yang dingin.

Trauma masa depannya kini tidak lagi membuatnya lemah atau gemetar.

Melalui benturan visual dengan wajah Devan Santoso malam ini, Doni berhasil mengubah sisa-sisa rasa takut dan rasa sakit akibat dikhianati menjadi bahan bakar amunisi spiritual yang luar biasa masif di dalam jiwanya.

Jiwa sang singa kini telah sepenuhnya membendung traumanya, mengkristalkannya menjadi tekad baja yang siap melumat siapa saja yang berani menghalangi jalannya di kehidupan kedua ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!