NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26 pakta darah dan tiga penguasa bayangan

Tujuh hari tujuh malam berlalu di dalam ruang bawah tanah rahasia kediaman Keluarga Shen. Ruangan yang terbuat dari batu kedap energi itu dipenuhi oleh uap panas yang menyesakkan. Di tengah formasi perlindungan yang menyala redup, Lin Chen duduk bersila layaknya sebuah arca kuno yang telah membatu selama ribuan tahun.

Di bahu kanannya, Lengan Logam Abadi berwarna perak kehitaman itu sesekali mengeluarkan bunyi dengungan rendah. Pola *rune* purba yang terukir di sepanjang lengan tersebut berkedip-kedip seirama dengan detak jantungnya. Proses asimilasi artefak semi-ilahi ini telah memasuki tahap akhir. Esensi logam tidak lagi meronta menolak tubuh fananya, melainkan telah menyatu sepenuhnya dengan sumsum tulang, otot, dan aliran Qi di dalam meridiannya.

Pemuda itu menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya membawa percikan abu vulkanik halus. Ia perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi kelelahan di sorot matanya yang sekelam malam tanpa bintang. Dantiannya berputar dengan kestabilan mutlak di Tahap Kondensasi Qi Tingkat Enam. Kepadatan energinya kini cukup untuk menahan tekanan hukum alam Dunia Tengah tanpa harus mengorbankan organ dalamnya.

Lin Chen mengangkat lengan kanannya. Ia menggerakkan jari-jari logam itu. Rasanya jauh lebih ringan, namun setiap gerakannya mengandung potensi daya hancur yang mampu meratakan sebuah bangunan berlantai tiga.

"Pemulihan hampir sempurna," gumam Lin Chen. Luka dalam akibat benturan frontal dengan Tuan Kota Yan Wu telah sembuh berkat regenerasi gila dari *Napas Karang Esensi* dan perisai pasif dari lengan barunya. Ia mengambil jubah hitam bersih yang telah disiapkan Shen Yu dan mengenakannya, memastikan Lengan Logam Abadi itu tersembunyi rapat di balik lipatan kain.

Tepat saat ia berniat berdiri, pintu batu ruang rahasia itu terbuka dengan kasar.

Shen Yu berlari menuruni tangga batu dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal-sengal. Gaun birunya sedikit kusut, dan ada bekas tamparan kemerahan yang sangat jelas tercetak di pipi kirinya. Mata gadis itu dipenuhi air mata kepanikan.

"T-Tuan Lin Chen... maafkan aku mengganggu kultivasi Anda!" isak Shen Yu, langsung berlutut di lantai batu yang dingin. "Keluarga kami... kami telah dikepung. Nona Muda dari Keluarga Xue memaksa masuk ke aula utama. Mereka menyandera ayahku dan berniat mengambil alih seluruh sertifikat jalur perdagangan Keluarga Shen!"

Mata Lin Chen menyipit tajam. "Keluarga Xue. Faksi pesaing yang kau sebutkan tempo hari?"

Shen Yu mengangguk dengan cepat. "Benar! Xue Ziyan, Nona Muda mereka, membawa dua pengawal di ambang batas True Immortal. Ayahku tidak berdaya. Jika kami menolak menyerahkan cap keluarga, mereka mengancam akan 'menemukan' barang selundupan terlarang di gudang kami dan melaporkannya pada pengawal Tuan Kota."

Lin Chen berdiri. Ekspresinya tidak menunjukkan simpati, melainkan perhitungan yang sangat matematis. Keluarga Shen adalah aset intelijen satu-satunya yang ia miliki di Kota Batu Hitam saat ini. Membiarkan mereka dihancurkan sama dengan membutakan mata dan menutup telinganya sendiri di wilayah musuh.

"Hapus air matamu. Air mata tidak memiliki nilai tukar di kota ini," perintah Lin Chen dingin. "Bawa aku ke aula utama."

Di Aula Utama Kediaman Shen, suasana terasa sangat mencekik. Perabotan kayu antik telah dihancurkan dan berserakan di lantai. Shen Chang, kepala keluarga Shen, berlutut dengan lutut gemetar di tengah ruangan. Di lehernya, sebuah pedang besar yang memancarkan hawa dingin menempel dengan ancaman mematikan.

Di kursi utama yang seharusnya menjadi tempat duduk Shen Chang, duduklah seorang wanita muda dengan postur yang luar biasa anggun namun memancarkan arogansi yang tidak tertutupi. Wanita itu adalah Xue Ziyan.

Xue Ziyan mengenakan gaun sutra berwarna ungu pekat yang ditenun dengan benang spiritual, menonjolkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Rambut hitam legamnya disanggul tinggi ke atas, dihiasi oleh tusuk konde giok hijau berbentuk burung hong. Wajahnya sangat cantik—hidung mancung, bibir merah tipis, dan sepasang mata berbentuk almond yang menatap dunia seperti menatap papan catur. Fluktuasi energinya berada di Tahap Transformasi Fana Awal; tidak terlalu tinggi, namun kecerdasannya diakui sebagai salah satu yang paling tajam di distrik perdagangan.

Di sisi kiri dan kanannya, berdiri dua orang pengawal bertubuh tegap yang memancarkan aura mengerikan. Mereka adalah algojo bayaran Setengah Langkah True Immortal.

"Waktuku sangat berharga, Paman Shen," ucap Xue Ziyan, suaranya merdu namun setajam silet. Ia memutar sebuah cincin giok di jari telunjuknya. "Menolak untuk menandatangani akta penyerahan ini adalah tindakan bodoh. Tuan Kota Yan Wu sedang dalam suasana hati yang sangat buruk akhir-akhir ini. Pasukannya memburu 'Iblis Satu Tangan' siang dan malam. Jika aku mengatakan bahwa Keluarga Shen menyembunyikan pemberontak... seluruh garis keturunanmu akan digantung di alun-alun besok pagi."

Shen Chang menggertakkan giginya hingga berdarah. "Kau meludah sembarangan, Xue Ziyan! Keluarga Shen tidak pernah mencampuri urusan Tuan Kota!"

Xue Ziyan tertawa pelan, tawa yang merendahkan. "Kebenaran adalah milik mereka yang bisa membeli suara penjaga kota, Paman. Bunuh dia jika dia menolak bicara."

Pengawal di sebelah kanan mengangkat pedang besarnya, bersiap memenggal kepala Shen Chang.

*TAP.*

Suara langkah kaki yang sangat pelan terdengar dari arah pintu belakang aula.

Xue Ziyan mengerutkan keningnya, melirik ke arah lorong. Seorang pemuda berjubah hitam pekat dan memakai topeng besi kelabu melangkah masuk ke dalam aula. Posturnya santai, namun udaranya mendadak berubah menjadi sangat berat.

"Siapa kau? Berani sekali masuk tanpa izin ke tempat Keluarga Xue sedang bernegosiasi!" bentak salah satu pengawal Xue Ziyan.

Lin Chen tidak memedulikan gonggongan tersebut. Ia menatap Xue Ziyan dari balik celah topengnya. "Keluarga Shen adalah milikku. Kau berani menyentuh propertiku, Nona Xue?"

Xue Ziyan menyipitkan matanya. Otaknya yang brilian bekerja dengan kecepatan kilat. Topeng besi kelabu. Jubah hitam. Lengan kanan yang disembunyikan di balik kain. Dan sebuah aura membunuh yang sedingin dasar Jurang Kehampaan. Deskripsi ini sangat cocok dengan buronan nomor satu di Kota Batu Hitam.

"Iblis... Iblis Satu Tangan?" bisik Xue Ziyan, wajahnya yang angkuh sedikit memucat. Jantungnya berdebar kencang. Ia adalah pedagang yang cerdik, bukan petarung garis depan. Jika rumor tentang pemuda ini benar—bahwa ia berhasil memukul mundur Tuan Kota Yan Wu—maka dua pengawalnya hanyalah ranting kering di depannya.

"Bunuh dia! Cepat!" teriak Xue Ziyan seketika, insting bertahan hidupnya mengambil alih. Jika ia bisa membawa kepala buronan ini ke Tuan Kota, Keluarga Xue akan naik kasta menjadi faksi elit.

Kedua pengawal Setengah Langkah True Immortal itu menerjang maju secara serempak. Mereka memicu seni bela diri pamungkas mereka, meledakkan energi pedang yang menyapu seluruh lantai aula.

Lin Chen bahkan tidak mengangkat lengan kanannya yang tersembunyi.

Pemuda itu memutar Dantiannya. Ia mengangkat tangan kirinya ke depan dada. *Telapak Penghancur Bintang* memancarkan pusaran cahaya Yin dan Yang yang sangat menyilaukan.

Ia tidak menghindar. Ia melesat menyongsong kedua pengawal itu menggunakan *Langkah Bayangan Iblis*. Tiga bayangan ilusi tercipta di udara.

*BAM! BAM!*

Dua suara ledakan teredam bergema berturut-turut. Lin Chen menempelkan telapak tangan kirinya ke dada kedua pengawal itu dalam waktu kurang dari satu detik.

Kedua algojo bertubuh besar itu membeku di tempat. Mata mereka melotot keluar. Senjata mereka terlepas dari genggaman. Tanpa ada darah yang menetes ke lantai, organ dalam mereka telah diremukkan menjadi debu halus oleh kompresi energi ekstrem. Tubuh mereka rubuh bersamaan layaknya boneka yang talinya diputus.

Hanya butuh satu detik. Dua pengawal tingkat tinggi tewas tanpa perlawanan berarti.

Xue Ziyan berdiri dari kursinya dengan kaki bergetar hebat. Wajah cantiknya kini kehilangan seluruh warnanya. Ia melangkah mundur hingga punggungnya menabrak pilar kayu aula. Ia akhirnya melihat sendiri perbedaan antara rumor dan kenyataan absolut.

Lin Chen berjalan perlahan mendekati wanita itu. Setiap langkahnya terdengar seperti ketukan palu maut.

Saat Lin Chen berjarak dua langkah dari Xue Ziyan, layar cahaya biru Sistem Pilihan Takdir berdenting tajam, membekukan waktu di sekitarnya sesaat.

**[Situasi Konflik Intelijen Terdeteksi: Penemuan Identitas oleh Faksi Musuh.]**

**[Target: Xue Ziyan (Nona Muda Keluarga Xue). Wanita ini memiliki informasi krusial dan jaringan logistik bawah tanah.]**

**[Silakan tentukan metode penyelesaian taktis Anda:]**

**[Pilihan 1: Bantai Xue Ziyan di tempat ini juga. Hancurkan mayatnya tanpa sisa.

Hadiah: Keamanan absolut dan rahasia terjamin. Risiko: Hilangnya potensi aset jaringan bisnis yang kuat di Kota Batu Hitam.]**

**[Pilihan 2: Gunakan teknik 'Kutukan Segel Darah' (Pengetahuan tersedia) pada Xue Ziyan. Paksa dia menjadi pion ganda Anda yang bekerja di balik bayang-bayang.

Hadiah: Anda mengendalikan faksi Keluarga Xue secara rahasia. Memperluas mata dan telinga Anda melampaui Keluarga Shen. Risiko: Menuntut konsentrasi spiritual untuk menjaga segel tetap aktif.]**

**[Pilihan 3: Culik dia, sandera di ruang bawah tanah, dan peras Keluarga Xue untuk memberikan ribuan Kristal Abadi.

Hadiah: Anda mendapatkan kekayaan instan. Risiko: Memicu penyelidikan besar-besaran oleh pengawal Tuan Kota yang sedang mencari orang hilang.]**

Mata Lin Chen memindai opsi-opsi tersebut dengan cepat. Sistem tidak memaksanya pada pilihan ketiga seperti biasanya; format simulasi acak ini menguji kemampuan analitiknya. Pilihan pertama membuang aset berharga. Pilihan ketiga terlalu berisik dan berpotensi menarik perhatian Yan Wu. Pilihan kedua adalah taktik penaklukan paling elegan yang pernah digunakan oleh para penguasa bayangan. Menjadikan musuh yang cerdas sebagai pion jauh lebih mematikan daripada pedang apa pun.

"Pilihan kedua," putus Lin Chen dalam pikirannya.

Waktu kembali berjalan normal. Xue Ziyan menatap Lin Chen dengan napas terengah-engah. Ia mencoba menjaga martabatnya. "Jika... jika kau membunuhku, jimat jiwaku di kediaman Xue akan pecah. Ayahku akan segera melapor pada Tuan Kota Yan Wu!"

Lin Chen mengangkat tangan kirinya. Ia tidak mencekik wanita itu, melainkan mencengkeram rahang Xue Ziyan dengan cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa memalingkan wajah, namun tidak sampai mematahkan tulangnya. Wajah cantik Xue Ziyan berada sangat dekat dengan topeng besi kelabu Lin Chen.

"Kematian adalah hukuman yang terlalu ringan bagi seseorang yang memiliki otak tajam sepertimu, Nona Xue," bisik Lin Chen, suaranya sedingin es yang meresap ke dalam gendang telinga wanita itu.

Lin Chen menggigit ujung lidahnya sendiri, memanggil setetes Esensi Darah Spiritual miliknya yang telah tercampur dengan aura api bumi. Ia meludahkan setetes darah kemerahan bercahaya itu, mengarahkannya tepat ke tengah dahi Xue Ziyan.

Darah itu menempel di kulit putih Xue Ziyan, lalu seketika mendidih dan meresap masuk menembus tengkoraknya.

"AAAKKHH!" Xue Ziyan menjerit tertahan. Matanya membelalak lebar saat ia merasakan sebuah benang api gaib membelilit jiwanya di dalam lautan spiritualnya. Sensasinya sangat mengerikan; ia merasa seolah nyawanya kini tidak lagi menjadi miliknya, melainkan digenggam erat oleh tangan pemuda di depannya ini.

"Kutukan Segel Darah," ucap Lin Chen melepaskan cengkeramannya pada rahang wanita itu. "Jika aku mati, jiwamu akan ikut meledak bersamaku. Jika kau memiliki niat untuk mengkhianatiku, aku hanya perlu menjentikkan jariku, dan otakmu akan terbakar menjadi abu dalam hitungan detik. Apakah kau memahami posisi barumu, Nona Xue?"

Xue Ziyan jatuh terduduk di lantai, memegangi kepalanya yang berdenyut menyakitkan. Ambisi dan kesombongannya hancur berkeping-keping. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan campuran antara kebencian, ketakutan, dan rasa tunduk yang dipaksakan. Wanita cerdas ini tahu kapan ia kalah dalam permainan.

"A-aku mengerti... Tuan," ucap Xue Ziyan parau, menundukkan kepalanya.

"Bagus," Lin Chen mundur selangkah. "Mulai hari ini, invasi Keluarga Xue terhadap Keluarga Shen dibatalkan dengan alasan negosiasi damai. Keluarga Xue dan Keluarga Shen akan bekerja sama menyuplai informasi untukku. Sebagai imbalannya, setelah aku mengambil kepala Tuan Kota Yan Wu, kalian berdua akan menjadi faksi komersial penguasa Kota Batu Hitam."

Janji itu membuat Shen Chang yang sedari tadi berlutut terbelalak tak percaya. Bahkan Xue Ziyan mengangkat wajahnya dengan kilat ambisi yang kembali menyala. Mengambil kepala Tuan Kota? Kata-kata itu adalah makar absolut, namun diucapkan oleh pria ini, terdengar seperti sebuah rencana yang pasti terjadi.

"Tuan Lin Chen," Xue Ziyan bersuara, kali ini dengan nada yang jauh lebih kooperatif setelah menyadari potensi keuntungan dari persekutuannya. "Jika Anda benar-benar bermusuhan dengan Tuan Kota Yan Wu, Anda harus tahu bahwa dia sedang menyiapkan 'Jaring Langit Hitam'."

"Apa itu?" tanya Lin Chen.

Xue Ziyan berdiri, merapikan gaun sutranya dengan sisa-sisa martabatnya. "Itu adalah artefak pelacak level kota. Saat ini Yan Wu sedang dalam masa penyembuhan akibat luka di bahu kirinya. Begitu ia pulih dalam waktu tiga hari, ia akan mengaktifkan artefak itu. Jaring itu akan memindai seluruh kota untuk mencari anomali Qi. Formasi ruang bawah tanah Keluarga Shen ini tidak akan mampu menyembunyikan Anda darinya."

Mata Lin Chen menyipit dari balik topengnya. Tiga hari. Waktu yang terlalu sempit untuk melakukan konfrontasi langsung dengan seorang True Immortal Menengah dan ribuan pasukan kota yang bersenjata lengkap.

"Apakah ada cara untuk mengacaukan artefak tersebut?" tuntut Lin Chen.

"Ada," jawab Xue Ziyan cepat. "Tuan Kota tidak memegang kendali artefak itu sendirian. Energi Jaring Langit Hitam dikendalikan oleh inti magnetis. Sebuah alat pengganggu, *Mutiara Ilusi Bayangan*, mampu mendistorsi gelombang pelacakannya. Masalahnya, benda itu sangat langka."

Wanita bergaun ungu itu menatap Lin Chen lekat-lekat. "Namun, kebetulan yang sangat menguntungkan... malam ini, Paviliun Bayangan Bulan akan mengadakan pelelangan bawah tanah. *Mutiara Ilusi Bayangan* adalah salah satu barang utama yang akan dilelang. Jika Tuan membutuhkan akses masuk, aku memiliki token VVIP pelelangan tersebut."

Lin Chen terdiam sejenak. "Paviliun Bayangan Bulan. Siapa pengelolanya?"

Shen Chang yang sejak tadi diam kini ikut berbicara dengan nada penuh peringatan. "Tuan Lin, Paviliun itu adalah zona netral yang bahkan tidak berani disentuh oleh Tuan Kota Yan Wu. Pemiliknya adalah Nyonya Hua, atau Hua Ruge. Seorang wanita yang luar biasa misterius dan mematikan. Rumor mengatakan ia memiliki hubungan dengan sekte tingkat tinggi di pusat Dunia Tengah. Ia berada di Tahap True Immortal Awal, namun ilmu racun dan ilusi miliknya tidak tertandingi di kota ini."

"Hua Ruge," gumam Lin Chen. Sebuah tantangan baru yang harus ia hadapi malam ini. "Nona Xue, serahkan token itu padaku. Kita akan melihat apakah Nyonya Hua ini lebih suka berbisnis, atau bermain dengan darah."

Malam itu, distrik hiburan Kota Batu Hitam dipenuhi oleh lentera berwarna merah dan emas. Di balik gang-gang sempit yang dijaga ketat oleh preman bayaran tingkat tinggi, sebuah bangunan megah menyerupai istana bawah tanah memancarkan pesona magis. Itulah Paviliun Bayangan Bulan.

Lin Chen melangkah mendekati gerbang utama. Ia masih mengenakan jubah hitam dan topeng besi kelabunya. Lengan kanannya tetap disembunyikan. Di pintu masuk, dua penjaga wanita bertubuh atletis dengan pedang melengkung menghalanginya.

Tanpa berbicara, Lin Chen melemparkan kepingan giok ungu berukir bunga teratai malam—token VVIP milik Xue Ziyan.

Penjaga wanita itu memeriksa token tersebut, lalu membungkuk hormat. "Silakan masuk, Tuan VVIP."

Interior paviliun itu luar biasa mewah. Lantainya terbuat dari marmer es yang memancarkan kabut tipis. Aroma dupa langka yang merangsang saraf spiritual memenuhi udara. Di aula utama, ratusan kultivator berpakaian mewah dan menyembunyikan wajah mereka sedang berkumpul di sekitar meja bundar, menikmati hiburan dan tarian sebelum pelelangan dimulai.

Lin Chen dipandu menuju sebuah balkon pribadi di lantai dua yang memberikan pandangan luas ke seluruh aula dan panggung utama. Ia duduk di sana dalam diam, menolak minuman yang disajikan oleh pelayan. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan, mengukur kekuatan setiap entitas di sana. Sebagian besar adalah praktisi Transformasi Fana Puncak; ini benar-benar tempat berkumpulnya elit kota.

Tiba-tiba, suara tepukan tangan yang sangat pelan terdengar dari arah tirai manik-manik di belakang balkonnya.

"Sangat jarang melihat token Nona Xue Ziyan digunakan oleh seorang pria dengan aura sekeras baja dan sedingin mayat."

Suara itu terdengar seperti belaian sutra yang sangat menggoda, namun membawa tekanan aura spiritual yang menggetarkan udara di sekitarnya.

Lin Chen tidak menoleh. Ia tetap duduk tenang, matanya menatap lurus ke depan. "Jika seorang pemilik paviliun memiliki kebiasaan menyelinap ke bilik tamunya, maka reputasi tempat ini sangat diragukan."

Dari balik tirai manik-manik, melangkah keluar sesosok wanita yang mampu menghentikan detak jantung pria mana pun. Hua Ruge, Nyonya Hua.

Ia mengenakan gaun berwarna merah darah dengan belahan tinggi yang memamerkan kaki jenjangnya. Kulitnya seputih porselen, kontras dengan bibirnya yang semerah mawar. Di tangannya yang dihiasi kuku-kuku panjang berwarna perak, ia memegang sebuah pipa rokok ramping terbuat dari giok, mengepulkan asap beraroma opium spiritual. Wajahnya yang cantik disembunyikan sebagian oleh cadar merah tipis. Matanya yang berbentuk rubah memancarkan kelicikan, pesona, dan kekejaman absolut secara bersamaan. Tahap True Immortal Awal menguar dari tubuhnya dengan keanggunan seorang predator.

Hua Ruge berjalan meliuk mendekati kursi Lin Chen, aroma harum bunganya semakin pekat. Ia membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan telinga pemuda itu.

"Topeng besi kelabu, jubah hitam, lengan kanan yang... disembunyikan, namun tidak lagi lumpuh," bisik Hua Ruge, suaranya sangat rendah. Asap dari pipanya ditiupkan pelan ke arah leher Lin Chen. "Rumor mengatakan Iblis Satu Tangan berhasil melukai Yan Wu lalu menghilang di bawah tanah. Tapi mata Paviliun Bayangan Bulan melihat lebih dari sekadar rumor. Kau berhasil memadukan Esensi Logam Abadi, bukan? Aroma logam purba itu terlalu kuat untuk disembunyikan dari penciumanku."

Mata Lin Chen menyipit berbahaya. Wanita ini memiliki jaringan informasi yang lebih menakutkan daripada yang ia bayangkan. Menghadapi ancaman ini, Lin Chen tidak menunjukkan kepanikan.

Tangan kiri Lin Chen bergerak kilat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Hua Ruge yang memegang pipa giok tersebut. Kecepatan dan kekuatannya membuat senyum menggoda di wajah wanita itu sedikit menegang.

"Informasi yang kau miliki bisa menjadi pedang yang memotong lehermu sendiri, Nyonya Hua," ucap Lin Chen datar. Fluktuasi energi Tingkat Enam Puncak miliknya, ditambah hawa membunuh murni dari ratusan nyawa yang telah ia cabut, memancar keluar membentuk benturan aura dengan energi True Immortal milik wanita tersebut.

Hua Ruge tidak memberontak. Ia justru tertawa pelan, tawa yang merdu namun menyimpan duri. Ia menghembuskan asap terakhirnya.

"Jangan tegang, Tuan Iblis," bisik Hua Ruge, mencondongkan tubuhnya lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. "Paviliun ini adalah zona netral. Aku seorang pebisnis, bukan anjing peliharaan Yan Wu. Jika Tuan Kota tahu kau ada di sini, dia pasti sudah menghancurkan atap paviliunku. Fakta bahwa aku menyimpan rahasiamu membuktikan itikad baikku."

Lin Chen perlahan melepaskan cengkeramannya, tidak termakan oleh pesona murahan tersebut. "Apa yang kau inginkan?"

Hua Ruge menegakkan tubuhnya, merapikan gaun merahnya dengan anggun. Ia berjalan ke pinggir balkon, menatap panggung pelelangan di bawah.

"Kau datang kemari untuk *Mutiara Ilusi Bayangan*, bukan? Yan Wu pasti akan menggunakan Jaring Langit Hitam segera. Sayangnya, benda itu sangat diminati malam ini. Kepala Fraksi Pasir Hitam dan utusan keluarga bangsawan dari ibu kota ikut menawarnya. Kau mungkin tidak memiliki cukup Kristal Abadi untuk memenangkannya secara adil."

Wanita itu menoleh, matanya berkilat licik. "Namun... aku bisa memberikan mutiara itu kepadamu secara gratis, dan bahkan memberikan perlindungan penuh di paviliunku saat Yan Wu mengamuk."

"Bayarannya?" Lin Chen tahu tidak ada makan malam gratis di Dunia Tengah.

Hua Ruge tersenyum penuh arti di balik cadar merahnya. "Sederhana. Di Dunia Tengah, hukum dipegang oleh yang terkuat. Aku membutuhkan seekor anjing penjaga yang cukup gila untuk menghancurkan Yan Wu sepenuhnya, sehingga Paviliun Bayangan Bulan dapat memonopoli seluruh tambang di Kota Batu Hitam tanpa campur tangan Tuan Kota. Sebagai gantinya, aku akan memastikan perjalananmu menuju Tahap Transformasi Fana dan aksesmu ke Kota Pusat Dunia Tengah tidak akan terhambat."

Sebuah penawaran aliansi dari penguasa dunia bawah tanah. Hua Ruge ingin menggunakan kemampuan bertarung Lin Chen untuk memperluas kekaisarannya, sementara Lin Chen membutuhkan perlindungan dan sumber dayanya untuk bertahan dari badai yang akan datang.

Dua predator bayangan kini saling mengukur ketajaman taring masing-masing di dalam kegelapan balkon VVIP.

"Aku bukan anjing penjaga siapa pun," ucap Lin Chen pelan, bangkit berdiri dan menatap lurus ke dalam mata rubah Hua Ruge. "Tapi aku akan mengambil tawaranmu, Nyonya Hua. Berikan mutiara itu padaku, dan aku akan membawakan kepala Yan Wu sebagai hadiah kerja sama kita. Namun ingat..."

Lin Chen memiringkan kepalanya sedikit, aura membunuh yang dingin membekukan kehangatan ruangan itu. "...jika kau mencoba menusukku dari belakang, aku akan meratakan Paviliun ini menjadi abu, sama seperti aku menghancurkan Ngarai Tulang Hitam."

Hua Ruge tertegun sesaat oleh intensitas kengerian yang memancar dari pemuda itu, sebelum akhirnya senyum kemenangannya kembali mengembang. Permainan catur di Kota Batu Hitam baru saja memunculkan bidak rajanya yang baru, dan malam ini, kesepakatan iblis telah ditandatangani dengan tinta darah yang tak terlihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!