NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Paviliun Harta Surgawi

​Setelah rombongan Keluarga Wang menghilang dari balik gerbang utama, alun-alun kediaman Keluarga Lin masih dilingkupi keheningan yang canggung. Angin berhembus, menerbangkan serpihan debu dari 'Surat Pemutusan' yang telah dihancurkan oleh Wang Xue'er.

​Patriark Lin Zhentian membalikkan badannya, menatap Lin Chen dengan tatapan rumit. Di satu sisi, pemuda ini baru saja menampar wajah Keluarga Wang dan menyelamatkan harga diri Keluarga Lin. Namun di sisi lain, kesombongannya nyaris memicu perang antar klan.

​"Lin Chen, kau terlalu gegabah," tegur Lin Zhentian dengan nada berat, meski tidak ada niat membunuh dalam suaranya. "Turnamen Kota bukanlah tempat bermain. Di sana, para jenius dari seluruh klan akan bertarung mati-matian, dan keluarga tidak bisa melindungimu jika kau berada di atas arena."

​Lin Chen menepuk debu dari lengan jubahnya dengan santai. "Patriark tidak perlu mengkhawatirkan hidup dan matiku. Aku hanya punya satu permintaan hari ini."

​Lin Zhentian mengernyit. "Apa itu?"

​"Mulai hari ini, aku menginginkan perlakuan dan sumber daya yang setara dengan Murid Inti," ucap Lin Chen tanpa basa-basi. "Sebagai gantinya, di Turnamen Kota bulan depan, aku akan memastikan nama Keluarga Lin berdiri di atas bangkai Keluarga Wang."

​Mendengar permintaan arogan itu, Tetua Pertama Lin Hai yang masih menahan sakit di tangannya langsung menggeram. "Kau bermimpi! Murid Inti adalah pilar masa depan keluarga, kau pikir hanya dengan mengalahkan Lin Tian kau berhak mendapatkan—"

​"Cukup!" Lin Zhentian mengangkat tangannya, membungkam Lin Hai. Ia menatap mata Lin Chen lekat-lekat, mencoba mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan sedalam lautan.

​Patriark itu akhirnya menghela napas dan melempar sebuah medali perunggu berukir naga ke arah Lin Chen.

​Lin Chen menangkapnya. Itu adalah Token Murid Inti.

​"Pindahkan barang-barangmu ke Halaman Angin Musim Gugur di pusat kediaman. Jatah bulananmu akan ditingkatkan sepuluh kali lipat," putus Lin Zhentian, suaranya bergema ke seluruh alun-alun, meresmikan kebangkitan status "Sampah Terbesar" menjadi salah satu pilar generasi muda.

​Lin Chen mengangguk singkat, menyarungkan sisa gagang pedangnya yang patah, dan berbalik pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Di matanya, ini bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi haknya.

​Dua hari kemudian.

​Lin Chen duduk bersila di kamar barunya yang mewah di Halaman Angin Musim Gugur. Energi spiritual di halaman ini jauh lebih padat dibandingkan dengan gubuk kumuhnya yang dulu, namun bagi kultivator Sutra Pedang Kehampaan, ini masih terasa seperti menghirup udara di ruangan yang pengap.

​Ia membuka matanya dan menatap puing-puing pedang besi fana di atas mejanya.

​"Untuk Turnamen Kota, aku tidak bisa menggunakan ranting kayu atau pedang rongsokan. Pedang biasaku hancur hanya karena menahan benturan Qi Tingkat 7. Aku butuh Senjata Spiritual setidaknya tingkat rendah, dan juga beberapa herbal untuk tahap tempering tubuh selanjutnya."

​Tanpa menunda lagi, Lin Chen mengenakan jubah hitam bersih, memakai sebuah topi bambu bercadar untuk menyembunyikan identitasnya, dan melangkah keluar dari kediaman Keluarga Lin menuju pusat Kota Daun Musim Gugur.

​Tujuannya hanya satu: Paviliun Harta Surgawi.

​Paviliun Harta Surgawi adalah pusat perdagangan terbesar di kota, yang didukung oleh faksi misterius berskala benua. Di sini, selama seseorang memiliki cukup koin emas atau batu spiritual, mereka bisa membeli apa saja—mulai dari pil, senjata, hingga budak kultivator.

​Begitu melangkah masuk, aroma harum dari berbagai herbal tingkat tinggi langsung menyapa hidung Lin Chen. Lantai pertama paviliun itu dipenuhi oleh ratusan etalase kaca yang dijaga oleh pelayan-pelayan cantik berpakaian sutra merah.

​Lin Chen berjalan menuju meja konter panjang di sudut ruangan. Seorang pelayan pria menatapnya dari atas ke bawah. Melihat pakaian Lin Chen yang tidak memiliki lambang klan mana pun dan hanya jubah hitam biasa, pelayan itu memasang senyum profesional namun dingin.

​"Ada yang bisa kubantu, Tuan?" tanyanya tanpa banyak minat.

​"Aku butuh beberapa herbal," suara Lin Chen terdengar berat dan serak di balik cadar bambunya. Ia menyodorkan secarik kertas.

​Pelayan itu mengambil kertas tersebut dan membaca isinya.

​3 Porsi Rumput Tulang Besi (Usia 50 Tahun)

​1 Buah Teratai Api (Tingkat 2)

​Darah Binatang Buas Elemen Tanah (Tingkat 4)

​Alis pelayan itu terangkat. "Tuan, bahan-bahan ini sangat keras dan biasanya digunakan untuk meracik cairan penempa tubuh ekstrem tingkat lanjut. Total harganya adalah 50 Batu Spiritual Tingkat Rendah, atau setara dengan 5.000 Koin Emas. Apakah Anda membawa mata uang yang cukup?"

​Pelayan itu sengaja menekan kata 'cukup', meragukan kemampuan bayar pria misterius di depannya.

​Lin Chen tidak berbicara. Ia hanya mengeluarkan sebuah kantong penyimpanan abu-abu—hasil jarahan dari para tentara bayaran di Hutan Bayangan—dan menuangkan isinya ke atas meja.

​Klotak! Klotak! Klotak!

​Sebanyak 80 Batu Spiritual Tingkat Rendah dan tiga Inti Binatang Buas Tingkat 3 menggelinding memenuhi konter, memancarkan cahaya energi yang menyilaukan mata.

​Sikap pelayan itu langsung berubah 180 derajat. Punggungnya membungkuk dalam-dalam dengan senyum yang sangat lebar. "M-maafkan kelancangan saya, Tuan! Saya akan segera menyiapkan pesanan Anda! Mohon tunggu sebentar!"

​Sambil menunggu pelayan itu mengumpulkan herbalnya, pandangan Lin Chen mengembara ke deretan senjata yang dipajang di dinding belakang. Matanya menyapu pedang-pedang yang berkilauan dan dihiasi permata mahal. Namun, insting Kaisar Pedangnya mengatakan bahwa senjata-senjata itu hanyalah mainan cantik yang rapuh.

​Tiba-tiba, pandangannya terkunci pada sebuah pedang hitam legam yang diletakkan sembarangan di rak paling bawah, tertutup lapisan debu tebal. Pedang itu tidak memiliki sarung, bilahnya lebar dan terlihat tumpul, seolah terbuat dari sebongkah besi tua yang gagal ditempa.

​Namun, di dalam lautan jiwa Lin Chen, Sutra Pedang Kehampaan mendadak bergetar hebat!

​"Energi ini... ada aura kehancuran purba yang tertidur di dalam logam rongsokan itu!"

​Jantung Lin Chen berdetak lebih cepat. Ia menunjuk ke arah pedang hitam tersebut sesaat setelah pelayan tadi kembali membawa kotak herbal pesannya.

​"Pedang hitam berdebu di rak bawah itu... berapa harganya?" tanya Lin Chen.

​Pelayan itu menoleh dan tertawa canggung. "Oh, pedang itu? Tuan, sebaiknya Anda memilih yang lain. Itu adalah barang cacat yang ditemukan oleh kelompok pemburu di dasar jurang tahun lalu. Senjata itu sangat berat, bilahnya tidak bisa diasah, dan sama sekali tidak bisa dialiri energi spiritual. Kami meletakkannya di sana hanya sebagai pengganjal rak."

​"Aku tanya harganya," potong Lin Chen dingin.

​"Ehh... Jika Anda mau, Anda bisa membawanya dengan harga 5 Batu Spiritual saja," jawab pelayan itu ragu-ragu.

​"Bungkus."

​Tepat ketika Lin Chen hendak menyerahkan batu spiritualnya, sebuah kipas lipat bergagang emas tiba-tiba terjulur dan menahan tangannya.

​"Tunggu dulu," sebuah suara arogan terdengar dari belakang punggung Lin Chen. "Pedang hitam busuk itu terlihat cocok untuk dijadikan mainan anjing peliharaanku. Aku akan membelinya seharga 10 Batu Spiritual."

​Lin Chen menoleh perlahan dari balik cadar bambunya. Berdiri di belakangnya adalah seorang pemuda tampan berpakaian mewah dari kain sutra emas, dikelilingi oleh empat pengawal berwajah bengis. Lambang di dada pemuda itu berbentuk harimau putih.

​Pelayan di konter langsung berkeringat dingin dan buru-buru memberi hormat. "T-Tuan Muda Zhao! Selamat datang di Paviliun Harta Surgawi!"

​Pemuda itu adalah Zhao Feng, Tuan Muda dari Keluarga Zhao, salah satu keluarga tiran yang menguasai bagian selatan Kota Daun Musim Gugur.

​Zhao Feng melipat kipasnya dan menatap Lin Chen dengan tatapan meremehkan. "Hei, orang aneh bertopi bambu. Pedang itu milikku sekarang. Ambil batu spiritualmu dan pergilah selagi aku masih berbaik hati."

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!