NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Harga Diri Yang Tergadai.

Ruangan kantor notaris mencekam. Hanya terdengar suara AC dan ketikan laptop.

Junee duduk kaku di kursi kulit. Di depannya ada dokumen setebal 15 halaman. Judulnya halus: Perjanjian Pra-Nikah dan Kerja Sama Sosial.

Isinya tidak halus sama sekali.

Di pasal 4, tinta hitam tebal tertulis.

"Pihak Kedua bersedia memenuhi kebutuhan biologis Pihak Pertama setiap malam (kecuali datang bulan) selama masa kontrak 1 tahun, terhitung sejak tanggal pernikahan tercatat."

Junee membaca ulang sampai 3 kali membuat tangannya berkeringat.

Gadis itu mengangkat kepala, melihat Ben yang duduk santai di seberang. Pria itu sedang membuka email di iPad, menganggap ini hanya rapat biasa. Sementara seorang pengacara pria, berdiri di samping Ben.

"Pak Ben." suara Junee pelan tetapi bergetar. “Apa tidak ada cara lain? Saya bisa kerja apa saja. Saya bisa mencicil tanah itu."

Ben tidak langsung menjawab. Ia menutup iPad, kemudian menatap Junee lurus.

"Ada. Tapi kamu hanya punya 1 minggu. Atau panti itu tetap di gusur.”

Junee menelan ludah.

Ia memikirkan Dika, anak berusia 9 tahun yang selalu memiliki pemikiran kritis. Juga Kakek Darman, 72 tahun, yang sudah jaga panti sejak awal berdiri. Junee memikirkan 28 anak lain yang tidak punya siapa-siapa selain panti itu.

Harga diri atau mereka? Tidak ada pilihan.

"Kalau... kalau saya menolak malamnya?" Tanya Junee pelan.

"Pelanggaran kontrak. Panti tetap digusur, dan kamu harus bayar denda 2 miliar.” Jawab Ben datar. Pengacara di sebelahnya cuma mengangguk.

Junee tersenyum sinis.

"Jadi ini perampok yang memakai jas."

Ben tidak marah. "Ini bisnis, Junee. Kamu yang datang meminta tolong."

Pengacara itu berdeham pelan. "Kalau kedua pihak sudah sepakat, kita bisa lanjutkan penandatanganan dan pencatatan pernikahan sipilnya dulu.”

Junee melihat pulpen di atas meja. Tangan gadis itu gemetar.

Junee teringat 10 tahun lalu. Surat yang tidak jadi ia baca. Kata "maaf" yang ia ucapkan pada Ben.

Sekarang ia harus membayar kata itu dengan cara yang tidak pernah Junee bayangkan.

Ia pun membubuhkan tanda tangannya.

Junee Maharani.

Tinta itu kering. Dan harga dirinya pun telah tergadai.

---

Pukul 20.00 - Penthouse Ben, Lantai 48. Tiga lantai di atas kantor pria itu.

Lift pribadi langsung terbuka di ruang tamu luas, jendela kaca menjulang tinggi. Jakarta terlihat kecil dari sini.

Junee berdiri di tengah ruang tamu layaknya orang asing. Koper kecilnya di lantai. Isinya cuma beberapa baju ganti, sebuah novel, dan foto anak-anak panti.

Ben keluar dari kamar. Jasnya sudah terganti dengan kaos hitam dan celana pendek. Lebih muda, lebih bahaya.

"Aturan rumah." Ucap Ben tanpa basa-basi.

"Kamu tidur di kamar tamu. Saya di kamar utama. Setiap malam, kamu datang jam 9. Tidak perlu mengetuk pintu. Tidak ada obrolan. Selesai, kamu kembali ke kamar kamu."

Junee mengangguk. Tenggorokannya kering.

"Begitu saja?"

"Begitu saja." jawab Ben. Ia melangkah ke bar, tapi berhenti sejenak.

"Jangan berharap aku jatuh cinta, Junee. Ini transaksi. Kalau kamu membawa perasaan, kamu yang rugi."

Kata itu sangat menusuk. Seperti 10 tahun yang lalu.

Junee mengangguk lagi. "Siap, Pak."

Gadis itu melangkah ke kamar tamu. Kamarnya besar, tetapi dingin. Hanya ada tempat tidur tanpa hiasan dan pajangan.

Junee duduk di pinggir ranjang. Melihat jam dinding. Pukul 20:47 menit.

13 menit lagi.

Junee melihat ke meja nakas. Ada pengaman, tisu basah, dan sebotol obat penghilang rasa sakit.

Ben sudah menyiapkan semuanya.

Pukul 21.00 tepat, Junee berdiri.

Langkahnya terasa berat ke kamar utama.

Pintunya tidak dikunci.

Ben sudah di tempat tidur. Lampu temaram. Ia melihat Junee masuk, tidak ada senyum. Tidak ada kata.

"Cepat.” Ucap pria itu pelan. "Aku ada meeting besok jam 7."

Junee mengangguk.

Perlahan melepas kemejanya. Tangan gadis itu gemetar.

Ben hanya melihat. Gadis itu melangkah mendekat. Dengan tubuh setengah polos.

“Buka.” Perintah Ben menujuk ke arah pakaian pria itu.

Junee meletakkan kotak pengaman di atas meja nakas. Kemudian memberanikan diri melepas kaos hitam yang Ben gunakan.

“Kenapa? Belum pernah membuka pakaian pria sebelumnya?” Tanya Ben, ketika Junee ragu membuka celana yang pria itu gunakan.

Junee mengangguk pelan. Membuat Ben menyeringai. Pria itu kemudian bangkit dari atas ranjang, mendorong tubuh Junee hingga jatuh di atas ranjang. Kemudian melepaskan sisa kain yang menempel pada tubuh mereka.

Junee memalingkan wajahnya, ketika Ben memasangkan pengaman pada inti tubuh pria itu.

“Aku akan membuat kamu selalu mengingat malam ini, Junee.” Ucap Ben kemudian mencium bibir Junee dengan kasar.

Tanpa pemanasan, tanpa aba - aba. Ben mendorong masuk di bawah sana. Membuat air mata Junee seketika mengalir.

Tubuhnya seakan terbelah menjadi dua.

Gadis itu hanya mampu meremat seprai putih di sisi tubuhnya, saat Ben tanpa perasaan menghujami tubuhnya.

Tidak ada kata “maaf.” Tidak pula ada pertanyaan “apa sakit?” Ben bergerak sesuka hatinya.

Tidak ada kecupan hangat setelah selesai. Ben menggulingkan tubuhnya dengan cepat. Lalu melepas pengaman, dan membuang ke tempat sampah.

Junee memaksakan untuk bangun, memungut pakaiannya, dengan tertatih menahan perih, ia pun keluar tanpa melhiat Ben.

Pria itu merasa menang.

Tapi dadanya merasa sangat sesak.

---

Pukul 06.00 - Keesokan Hari

Junee bangun lebih dulu. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Meski telah mengoleskan salep pereda nyeri, gadis itu tetap merasa tidak nyaman pada inti tubuhnya.

Setelah membersihkan diri dan bersiap, Junee pun membuat sarapan sederhana di dapur. Telur mata sapi, roti bakar, kopi hitam.

Ben keluar kamar pukul 6.30, dan melihat sarapan sudah ada di meja.

Pria itu berhenti, menatap piring itu, lalu melihat ke arah Junee yang sudah menggunakan seragam mengajarnya.

"Kamu mau sedang apa?” Tanya Ben dingin.

"Mau berangkat kerja, Pak. Sekolah mulai jam 7.” Jawab Junee pelan.

"Siapa yang suruh masak? Ini bukan tugas kamu."

"Kontrak hanya mengatakan 'memenuhi kebutuhan ranjang', Pak. Tidak bilang saya tidak boleh masak."

Suara Junee pelan, tetapi seperti ada duri kecil di sana.

Ben pun memilih duduk. Dan makan dalam diam.

Rasanya enak. Sudah lama ia tidak makan makanan selain dari chef bintang 5.

"Rasanya tidak buruk" katanya akhirnya.

“Terima kasih.” Jawab Junee. “Apa saya boleh bertanya sesuatu?”

“Tanya apa?” Ben fokus pada makanannya.

"Kenapa harus saya? Kenapa tidak mencari wanita panggilan? Lebih gampang, tidak ada drama."

Ben terdiam cukup lama.

"Karena kalau wanita panggilan, aku tidak akan membenci diri sendiri.” Ucapnya pelan.

"Kalau kamu, aku bisa mengatakan ini balas dendam. Jadi aku tidak merasa salah."

Junee terkejut. Jadi ini hanya balas dendam.

"Saya paham.”

Gadis itu hendak pergi, namun Ben menahan.

"Junee."

Junee berhenti di tempatnya.

"Kalau kamu mulai membawa drama istri sungguhan, kontrak ini batal dan panti itu akan digusur. Ingat itu."

Junee mengangguk. "Siap, Pak." Kemudian melangkah pergi.

Ben melihat piring kosong di atas meja.

Ia tidak tau kenapa, Ia ingin Junee tetap di situ.

Bukan untuk malam.

Tapi untuk sarapan.

---

1
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Hennyy exo
wow awal yg bagus thor
Naufal Affiq
gak usah dengar ocehan si arga ini ya jun,ingat jun ada ben yang selalu mencintaimu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
jangan di ingat masa lalu yang penyakit kan,entar timbul masalah baru ben,ingat ben masa depan lebih indah dari pada masa lalu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
semoga kedepan nya hubungan mu dengan suami mu lebih baik lagi ya junee
merry yuliana
crazy up ya kak
Author Amatir🍒: Satu bab lagi masih nyangkut kak..
total 1 replies
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor seru ceritanya
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!