Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIPSTIK ALAMI BUATAN TANGAN
Malam itu, Eng Sok merapikan sisa-sisa belajar membuat gincu.
Botol-botol kecil berisi bahan setengah jadi berjejer di meja. Cetakan sabun masih menunggu. Tube-tube lipstik berjajar. Ada 23 buah. Yang satu sudah di Ah Me. Dia belajar bikin lipstik. Pewarnanya beli pewarna natural bunga kering bubuk dari kebun herbal di belakang studio. Dia sudah cek tren warna 8 tahun terkahir di HP dan berharap jiwa seninya agak cocok sama tren pasar. Dia ogah beli gincu lain yang dia endors. Tapi agak kurang sreg sama warnanya.
Ia menghela napas.
Harusnya malam ini ia selesai membuat: gincu, kondisioner natural, shampoo natural, dan shampoo bar natural.
Tapi... kegocek mesin jahit.
"Niat hati mau belajar kosmetik, eh malah asyik jahit," omelnya pada diri sendiri. Tapi sudut bibirnya naik. Tidak benar-benar kesal.
---
Setelah membereskan semua peralatan — dicuci, dikeringkan, disusun rapi — ia mengecek kotak antibiotik.
Tinggal satu butir.
Besok habis.
Ia lega.
Jujur saja, waktu dia nanya dokter tentang antibiotik — dan dokter bilang membunuh kuman biar gak infeksi — ia terkesiap.
Infeksi, baginya, adalah urusan serius. Bisa meninggal. Obatnya dulu pun keras-keras.
Sudah keras. Manjur juga kagak.
Dokter sampai geleng-geleng. "Kalo dapat artis... biasanya ilmu sains kurang. Sampai hal remeh macem antibiotik mesti dijelaskan pelan."
Dokter tidak tahu. Di depannya juga ada saintis dari zaman kuno. Yang sudah meracik ramuan sebelum dokter itu lahir. Eng Sok tidak marah. Pura-pura bego. Daripada ditangkap gara-gara kasus penduduk gelap. Lagian beda zaman, pikirnya. ---
Setelah semua beres — alat rapi, meja bersih, antibiotik siap untuk besok pagi — Eng Sok sikat gigi.
Lalu rebahan.
Matanya terpejam.
Pikiran tentang Ah Chio — tentang senyumnya, tentang matanya yang sayu, tentang caranya menunduk saat minta maaf — masih terbayang.
...
Dia tidak sadar kapan tertidur. Dalam mimpinya, ia berpelukan dan mencium Ah Chio di kebun teh. Ciuman yang panjang dan lama. Yang buyar kena gempa. Ia mimpi menggendong Ah Chio walaupun adanya menggendong guling.
Yang ia sadar: tiba-tiba badannya bergoncang.
“Gempaaaa!”, teriaknya.
Dan Ah Me menangis di sampingnya.
"Koh Sioh Bu... bangun... bangun...udah jam setengah sembilan pagi.", teriak Ah Ti sambil menggoncang bareng Ah Me.
Eng Sok membuka mata. Wajah Ah Me basah. Matanya merah.
"Ah Me... kenapa?"
"Kamu... kamu tidur nyenyak banget. Ah Me panggil-panggil gak bangun. Malah nyium guling" Ah Me terisak. "Ah Me kira kamu... kamu..."
Sekarat.
Eng Sok duduk. Tangannya meraih bahu Ah Me — menepuk pelan.
"Aku hanya lelah, Ah Me. Bukan sekarat.",bisik Eng Sok dengan wajah masih merah. Semua mengira dia demam atau akan demam. Tapi Eng Sok cuma menelan ludah, dia gak merasa akan demam.
"Tapi kamu kerja terus! Libur pun masih belajar macam-macam!", bisik Ah Me sambil terisak-isak.
Eng Sok tidak menjawab. Ah Me khawatir. Wajar. Dia baru saja sembuh dari kanker. Tidak mau kehilangan anak lagi — meskipun anak ini bukan anak kandungnya.
Ah Ti muncul dari balik pintu. Di tangannya, sekotak nasi hangat yang sama Ah Me dibeli dua hari lalu.
"Ini steak Teriyaki, Koh," kata Ah Ti. Suaranya pelan — tidak ceria seperti biasa.
Eng Sok menerima kotak itu.
Tapi ia bingung.
Ada sendok dan garpu.
Selama ini, ia hanya pakai sumpit saat makan. Di istana dulu, sendok dikenal tapi garpu tidak dikenal. Bahkan di dunia modern, ia terbiasa dengan sumpit — karena Ah Me dan Ah Ti juga pakai sumpit kadang sendok dan garpu.
Tapi lapar membuatnya mengakses memori Sioh Bu dengan efisien.
Ia mengambil sendok. Lalu garpu.
Memotong steak. Mengunyah.
Enak.
Ia makan dengan sopan — seperti CEO di meja kecil yang biasa ia pakai menyajikan sarapan untuk Ah Me saat masih sakit berat beberapa waktu lalu.
Ah Me lega. Ah Ti lega.
Setelah makan, Eng Sok minum air.
Rasanya aneh.
Asin. Asam.
Ia melotot ke arah Ah Me.
"Ini air elektrolit," kata Ah Me cepat. "Ah Me nyetok. Soalnya kamu kan otot-ototnya sakit. Takutnya tengah malam... kejang atau apa..."
Matanya berkaca-kaca lagi.
Eng Sok mengangguk.
"Terima kasih, Ah Me."
Ia menghabiskan satu gelas. Lalu minta tambah.
---
Sesudah makan, Ah Ti membereskan piring dan gelas. Eng Sok mandi — air hangat, sampo natural, sabun dari lerak.
Setelah mandi, ia membuka laptop. Video tutorial kursus online masih berjalan. Ia putar ulang bagian yang kemarin terlewat.
Sampai siang.
Proses campur-mencampur selesai. Botol-botol kecil berisi sampel terisi. Cetakan sabun didiamkan.
Ia memberi label tanggal di selotip kertas — kapan dibuat, kapan bisa dipotong, kapan siap pakai.
Setelah itu, ia mematikan laptop. Membiarkannya di atas meja — seperti kebiasaan Sioh Bu.
Ah Ti, yang sejak tadi rebahan di kasur dan tertidur pulas di atas komik Pendekar Bun mengigau, mengendus-endus udara.
"Ko, kamar jadi wangi. Gua mau sabunnya satu.", igaunya
Eng Sok menengok ke sekeliling. Aroma sabun — wangi khas dari minyak kayu manis dan kulit jeruk — menyebar dari meja kerjanya.
"Enak," kata Ah Ti. "Biasanya aku gak betah di kamar."
Eng Sok tidak menjawab. Tapi dadanya sedikit membusung.
---
Setelah makan siang — nasi goreng beku yang dipanaskan yang sudah ada telur dadar, dan kerupuk — Eng Sok menghampiri Ah Me yang sedang membordir di ruang tamu.
"Ah Me, perkara gincu..."
Ah Me menoleh. Matanya menyipit.
"Lipstik," potongnya. "Tolong lah, mbok jangan kuno amat kalo ngomong!"
Eng Sok mengerjap. "Lipstik ini... kalo menurut Ah Me gimana?"
Ah Me mengambil salah satu botol kecil dari meja. Membuka tutup. Mengoleskan tipis-tipis di punggung tangan.
Warna Merah oranye — tidak terlalu merah, tidak terlalu oranye.
"Enak," kata Ah Me. "Ini Ah Me pake!"
Eng Sok melihat bibir Ah Me. Ia baru sadar kalo Ah Me lagi pakai lipstik dia.
"Bagus, loh, Sioh Bu. Tadi Ah Cim toko kelontong depan nanya harga pas Ah Me duduk-duduk di teras. Gua bilang belum dijual.”, kata
Sioh Bu melayang di samping wajahnya sedikit memerah, "Ah Me, pamit ke RS ya... besuk."
Ah Me mengangguk. "Jangan lama-lama."
Ah Me pusing. “Ah Chio, gua bukan ga setuju tapi kan dia pasien psikiatri… kalo ngamuk?”, batinnya. Ah Me bingung dan mulai membayang-bayangkan perkawinan Eng Sok. “Udah umur 33 kalo kata AI, sih. Duda tanpa anak”, bisiknya dalam hati.
---
Eng Sok keluar gang. Mencari bus.
Ia bersyukur: di samping Rumah Sakit dan Apotek, satu-satunya jasa yang diizinkan di hari libur nasional adalah transportasi. Tidak ada toko. Tidak ada mall. Tidak ada hiburan.
Tapi bus jalan.
Ia naik.
---
Di Rumah Sakit Umum Chhai Lian Hoe Po, suasana lebih tenang dari biasanya.
Ruang rawat inap psikiatri — tempat Ah Chio dirawat — juga sepi. Hanya beberapa pasien dengan keluarga yang menjenguk.
Eng Sok mendekati meja perawat.
"Mau besuk Nona Hok Hiang Chio," katanya.
Perawat itu mengecek daftar. "Ah, Chio. Ruang 207. Silakan."
Ia berjalan ke ruang 207. Mengetuk pintu.
"Masuk."
---
Ah Chio duduk di ranjang. Rambutnya sudah disanggul rapi. Wajahnya tidak pucat lagi. Matanya — masih sayu, tapi tidak kosong.
Ia tersenyum begitu melihat Eng Sok.
"Koko... Sioh Bu."
Eng Sok duduk di kursi plastik di samping ranjang.
"Gimana lengan Koko?" tanya Ah Chio. Matanya beralih ke perban coklat yang masih membalut lengan kanan Eng Sok. Tapi kali ini, perbannya lebih kecil — tidak separo lengan. Hanya dari siku sampai pergelangan.
"Masih lecet-lecet," kata Eng Sok. "Tapi sudah kering. Kena obat sakti Tih Ta Iu Cheng."
Ia menggerak-gerakkan jari-jarinya.
"Sakitnya kayak dianiaya tentara Cia Agung."
Ah Chio tertawa. Tidak pelan. Tidak isak. Tawa lepas — seperti orang yang sudah lama tidak tertawa.
"Obat antibiotik gimana?" tanya Ah Chio balik.
Eng Sok menarik napas.
"Antibiotik udah habis. Ga usah disambung — karena ga ada demam atau gejala memberat." Ia menunjukkan bungkus Antibiotik di tangannya yang tinggal satu.
"Besok paling cuma minum obat 9 Naga. Biar ga bengkak. Tapi stok gua habis, lupa beli."
Ah Chio mengangguk.
Ah Chio ingat sesuatu. Ia merogoh laci kecil di samping ranjang.
"Ini... aku ada obat 9 Naga. Buat Koko."
Ia menyodorkan satu botol agak besar — belum dibuka, segel masih utuh.
Eng Sok menerimanya. Memastikan komposisinya.
Eng Sok membuka tutup botol. Mencium. Wangi. Lebih wangi dari obat 9 Naga biasa. Pilnya juga lebih padat — tidak mudah hancur. Ukurannya hampir seragam — tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar.
Setelah yakin, matanya tertumbuk pada merk di label.
"Heh? Merk Sam Hok Liong?"
Ah Chio tersenyum. "Iya. Itu punya keluarga kita."
Ia menarik kursi lebih dekat. Lalu mulai cerita.
---
"Kakakku tiga orang. Kakak pertama dan kedua — laki-laki — kuliah di luar negri. Farmasi dan Herbal. Kerja di luar negri."
Ia berhenti sebentar.
"Perusahaan mereka tutup. Balik ke sini. Akhirnya jualan obat 9 Naga sama herbal lain. Sebagian dijual di toko Ah Pa. Mereka masuk bisnis farmasi herbal— dengan formula lebih baik, sedikit teknik barat agar lebih manjur. Minyak orang-aring udah kagak cuan waktu itu. Cuma mereka ogah nutup. Karena sebagus itu produknya kan, kurang pemasaran.", kata Ah Chio disambut anggukan Eng Sok.
"Bagus," katanya.
"Kakak perempuan — satu tahun di atasku — juga kuliah di luar. Dapat suami orang kaya. Gak pulang."
Suara Ah Chio sedikit bergetar di kalimat terakhir. Tapi ia tersenyum — pura-pura tegar.
Eng Sok tidak berkata apa-apa. Tidak menghakimi.
Dia hanya mendengar — seperti kebiasaannya mendengar keluhan rakyat di istana dulu, setiap tanggal kelipatan sepuluh.
Ah Chio tidak perlu nasihat. Dia hanya butuh didengar.
---
Setelah Ah Chio selesai cerita — tentang kakak-kakaknya, tentang orang tuanya, tentang tekanan untuk jadi "anak yang berbakti" — Eng Sok merogoh tas kecilnya.
Ah Chio nanya keluarga Eng Sok. Dia cerita cuma sama Ah Me, ngebiayain adiknya yang beda 18 tahun. Ah Me udah remisi kanker beberapa hari gara-gara beli herbal di toko Ah Pa si Ah Chio.
Ia mengeluarkan tiga tube kecil jadul.
Tube alumunium dengan ukiran burung Hong (Phonerix atau Feng). Tutup biru navy. Label putih polos ditulis kaligrafi di atas isolasi kertas— hanya bertuliskan: "Lipstik Natural — Merah Oranye", "Merah Muda", "Merah Marun".
Ah Chio melongo dan keceplosan,”lipstik nenek gue gini!”
Eng Sok menyipit, tangannya gemetar. Dengkulnya resah. Matanya berkedut. Dia ngomeli dirinya dan menyumpah dalam hati. Kenapa dari banyak tube lipstik kosong di toko sebrang studio, dia milih model ginian. Padahal udah diberi tau kalo itu tube nenek -nenek atau buat syuting Zaman kolonial.
"Ini gua buat sendiri," kata Eng Sok. "Ada tiga warna. Bahannya natural."
Ah Chio belum selesai mendengar kalimat itu. Ah Chio lihat isinya. Baginya sebagai wanita, warna lipstik lebih penting dari pada kemasannya.
Ia sudah sibuk.
Membuka tutup tube pertama — Merah Oranye. Mengoleskan di punggung tangan. Memutar-mutar tangan — melihat warna di cahaya.
Membuka botol kedua — Merah Muda. Mengoleskan di bibir bawah — sedikit, lalu meratakan dengan jari. Menatap cermin kecil di samping ranjang. Mencobanya untuk blush on. Hapus lagi pake cairan dari laci dan kapas.
Mencampur Merah Muda dengan Merah Marun di punggung tangan — ombre.
Mencoba di kelopak mata — eye shadow.
Lalu mencium aroma lipstik itu — wangi kayu manis dan sedikit jeruk. Ada yang aroma Mawar dengan kenanga.
Eng Sok menyipit.
"Dasar wanita!" omelnya dalam hati.
Tapi ia tersenyum. Tidak terlihat.
---
Setelah agak lama — Ah Chio selesai bereksperimen.
"Warnanya bagus tau!" cerocos Ah Chio. "Gua suka ini — dari pada yang liptint Gin Choe."
Eng Sok melongo.
Gin Choe — produk yang ia endorse. Bayarannya sudah masuk. Kontraknya sudah ditandatangani.
Tapi Ah Chio lebih suka buatan tangan — dari bahan yang Eng Sok racik sendiri di kamar kontrakan.
"Shade liptint yang Koko promosiin itu... dua yang paling bagus," kata Ah Chio malu-malu. "Terracotta dan Coral Pink. Yang Rosewood juga bagus — tapi agak gelap untuk aku. Yang ini warnanya beda banget sama itu. Lebih masuk ke kulit aku.", katanya sambil mengacungkan 3 lipstik.
Eng Sok tidak menjawab mulutnya terbuka sambil menunjuk liptint Gin Choe di tangan Ah Chio.
Ah Chio menunduk.
"Sejak video Koko viral... gua jadi nonton semua Mikrodrama Koko. Gua nonton live Koko sambil dirawat di sini juga. Itu yang bikin gua pingin cepet sembuh. Supaya kalo mungkin… kita pemotretan lagi?"
Jantung Eng Sok berdegup kencang.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
“Nonton yang mana?”, tanya Eng Sok asal.
"Dari yang Pangeran Eng Sok" jawab Ah Chio menunduk, pipinya merah.
"Sampe kuno pas Koko jadi perampok di Serial Pendekar Bun bareng Ah Bwee."
Eng Sok diam. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis mengejar sesuatu.
Hatinya melayang.
Ia tidak tahu perasaan apa itu.
Tapi ia harus pergi sebelum makin rawan — sebelum mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Mimpinya subuh tadi terbayang. Ia melihat Ah Chio dalam balutan Tng Sa Marun dan bohiong peach dan …. Ia menggeleng, menelan ludah. Jakunnya naik turun. Ia pura-pura tersedak dan minum air dari tas.
"Sore udah hampir datang," kata Eng Sok. "Aku pulang dulu."
Ah Chio mengangguk. "Iya, Koko."
---
Eng Sok melambaikan tangan. Lalu keluar ruangan.
Di koridor, ia berjalan pelan. Pikirannya masih di ruang 207.
Jantungnya masih berdegup kencang.
---
Di ruang 207, Ah Chio berbaring di ranjang.
Matanya menatap langit-langit.
Lalu, dengan gerakan cepat — seperti anak kecil yang takut ketahuan — ia merogoh di bawah bantal.
Mengeluarkan satu lembar foto.
Eng Sok — sedang syuting. Rambut panjang tersanggul. Kipas di tangan. Mata menatap tajam ke kamera.
Foto curian. Diambil dari belakang kru — saat Eng Sok tidak sadar.
Ah Chio mencium foto itu.
Pelan.
Lama.
Kreeek.
Pintu terbuka.
Ah Chio kaget. Foto itu terjatuh dari tangannya.
Perawat — dengan handscoon di tangan, jarum suntik berisi obat — berdiri di ambang pintu.
Matanya beralih ke Ah Chio. Lalu ke foto yang jatuh di lantai. Lalu ke Ah Chio lagi.
Pipi Ah Chio merah.
Pipi perawat yang berwajah seram ikut juga merah, bibirnya yang selalu kaku jadi sedikit tersenyum.
Perawat itu batuk kecil.
"Maaf... Nona. Saya... mau suntik."
Ah Chio mengambil foto itu cepat-cepat. Menyembunyikan di bawah bantal lagi.
"Iya... silakan."
Perawat tua bertampang galak itu mendekat. Menyiapkan suntikan. Tangannya sedikit gemetar — tapi ia tidak berani bertanya. Senyumnya merekah lebar seperti emak-emak yang bahagia anaknya dilamar.
"Oh Asmara," bisik perawat tua itu pelan sambil menyuntik.
---
BERSAMBUNG
---
Lipstik buatan tangan yang lebih disukai dari produk endorse.
Obat 9 Naga merk Sam Hok Liong — racikan kakak-kakak Ah Chio.
Foto di bawah bantal yang dicium diam-diam.
Dan perawat yang pura-pura tidak melihat.
Malam ini, dua orang — di tempat yang berbeda — tidak bisa tidur.
🪷👩❤️👨💐