Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Pasi Pagi Hari & Kabar Duka dari Desa
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden besar tidak mampu menghangatkan suasana di dalam kamar utama. Mireya berbaring menyamping dengan tubuh meringkuk, memeluk erat selimut tebal sebatas dada. Wajahnya benar-benar pucat, kantung matanya menghitam akibat tangis yang tak kunjung reda hingga menjelang subuh. Setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya, rasa perih dan lemas langsung mendominasi—sisa dari pelampiasan amarah Calix yang tanpa ampun semalam.
Di sisi ranjang yang lain, Calix sudah berdiri tegak. Pria itu sedang mengancingkan manset kemeja putihnya dengan gerakan yang kian lambat. Sepasang netra elangnya sesekali melirik ke arah pantulan cermin, menatap tubuh ringkih Mireya yang tampak begitu tak berdaya.
Ada sebersit rasa khawatir yang mendadak mencubit dada Calix melihat kondisi Mireya yang sepucat mayat. Namun, bayangan saat Mireya menangis histeris demi melindungi pemuda bernama Naren itu kembali terlintas, memicu rasa kesal yang masih bergemuruh di hatinya. Calix mengeraskan rahangnya, menepis rasa asing di dadanya. Pria tiga puluh lima tahun itu belum menyadari bahwa rasa kesal yang membakar dirinya sejak semalam adalah wujud dari rasa cemburu yang tak mau ia akui.
"Bangun dan segera bersihkan dirimu," ucap Calix datar, memecah keheningan kamar dengan suara baritonnya yang serak. "Kita sarapan di bawah."
Mireya tidak bergerak, bahkan tidak menoleh. Suaranya terdengar begitu lirih dan habis. "Aku tidak lapar. Pergilah sendiri."
Calix membalikkan badannya, melangkah mendekati ranjang dengan aura menekan. "Aku tidak menerima bantahan, Mireya. Kamu harus mengisi perutmu agar obat dan vitamin rahimmu bisa masuk. Jangan egois hanya karena emosional belaka."
Mireya tersenyum getir dalam diam. Rahim lagi. Selalu tentang rahim. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan diri untuk duduk. Kepalanya mendadak berputar hebat, membuatnya harus memejamkan mata erat-erat selama beberapa detik.
Calix yang melihat tangan Mireya gemetar saat mencengkeram seprai refleks memajukan langkahnya, hendak mengulurkan tangan. Namun, egonya yang terlanjur terluka membuat pria itu kembali menarik tangannya dan bersedekap dada. "Sepuluh menit. Aku tunggu di ruang makan."
Suasana di ruang makan megah itu terasa begitu mencekam. Hanya ada denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen milik Calix. Mireya hanya duduk diam, menatap kosong mangkuk bubur ayam di hadapannya tanpa berniat menyentuhnya sedikit pun.
Calix yang duduk di ujung meja sesekali melirik tajam. "Habiskan buburmu, Mireya. Jangan membuatku harus menyuapimu dengan paksa seperti kemarin."
"Aku mual, Calix," jawab Mireya tanpa emosi, tatapannya masih lurus menatap meja. "Setiap kali melihat makanan di rumah ini, rasanya tenggorokanku menyempit. Jadi tolong, biarkan aku tenang sejenak."
"Kamu—"
Sebelum Calix sempat menyelesaikan kalimat makiannya, suara dering nyaring dari telepon kabel yang terletak di atas meja konsol sudut ruang makan berbunyi. Suaranya yang melengking memecah ketegangan di antara mereka.
Bi Ani dengan tergesa-gesa menghampiri telepon tersebut, mengangkat gagangnya dengan sopan. "Selamat pagi, kediaman Tuan Calix David... Iya, benar. Siapa?"
Mireya tidak peduli dengan telepon itu, sampai ia mendengar suara Bi Ani yang mendadak berubah panik dan gemetar.
"A-Apa? Dari desa? Mencari Nyonya Muda Mireya? Tapi ini..." Bi Ani melirik ragu ke arah Calix yang kini menatapnya dengan kening berkerut dalam.
Mendengar kata 'desa', seluruh sensor di tubuh Mireya mendadak aktif. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia langsung menegakkan punggungnya, menatap Bi Ani dengan mata membelalak. "Bi? Siapa yang telepon? Apakah dari Nenek?"
Bi Ani tampak pucat, ia memegang gagang telepon itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Nyonya Muda... ini... ini Pak RT dari desa tempat tinggal Nenek Anda. Beliau bilang... ini panggilan darurat yang sangat penting."
Tanpa memedulikan rasa sakit dan perih di sekujur tubuhnya, Mireya langsung bangkit berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berdecit yang keras. Ia berlari kecil menghampiri Bi Ani, merebut gagang telepon itu dengan paksa.
"Halo? Halo, Pak RT? Ini Reya!" suara Mireya melengking panik, air matanya entah mengapa langsung menggenang di pelupuk mata. "Ada apa dengan Nenek, Pak? Nenek baik-baik saja, kan? Obatnya masih ada, kan?!"
Calix ikut bangkit dari duduknya. Rasa kesalnya semalam mendadak menguap, digantikan oleh rasa tegang saat melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah Mireya yang kini tampak sangat ketakutan.
Dari seberang telepon, suara berat seorang pria paruh baya terdengar dengan nada yang dipenuhi rasa duka mendalam. "Reya... Ya Allah, Nak. Akhirnya pihak rumah orang kaya ini mau menyambungkan telepon Bapak... Reya, kamu yang tabah ya, Nak..."
"Kenapa, Pak?! Nenek kenapa?!" jerit Mireya, air matanya mulai luruh membasahi pipinya yang pucat. Kedua lututnya mulai terasa lemas hingga ia harus bersandar pada meja konsol.
"Nenekmu, Reya... Nenek sudah tidak ada. Beliau meninggal dunia subuh tadi di tempat tidurnya. Semenjak kamu dibawa paksa ke kota oleh orang tuamu, kondisi Nenek terus menurun karena memikirkanmu... Beliau pergi sambil terus memanggil namamu, Reya..."
Bagai disambar petir di siang bolong.
Gagang telepon di tangan Mireya langsung terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Seluruh dunia Mireya seolah runtuh seketika. Pertahanannya, alasannya untuk bertahan di dalam mansion neraka ini, kini telah tiada. Nenek—satu-satunya orang yang tulus menyayanginya di dunia ini—telah pergi untuk selamanya karena merindukannya.
"Nenek... Nenek... enggak mungkin..." bisik Mireya lirih, napasnya mendadak sesak seolah pasokan oksigen di sekitarnya telah habis.
Tubuh ringkih itu limbung, kehilangan seluruh kekuatannya. Namun, sebelum tubuh Mireya menyentuh lantai yang dingin, sepasang lengan kokoh dengan sigap menangkapnya dari belakang. Calix dengan cekatan mendekap tubuh Mireya yang bergetar hebat.
"Mireya! Dengar aku, ada apa?!" tanya Calix panik, suaranya tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi rasa khawatir yang teramat sangat yang selama ini ia sembunyikan.
Mireya membalikkan tubuhnya, mencengkeram kemeja putih Calix dengan histeris. Ia memukul dada bidang pria itu dengan sisa tenaga yang ia miliki, menangis sejadi-jadinya hingga suaranya melengking memilukan di dalam ruang makan.
"Ini semua karena kamu, Calix! Karena kamu dan orang tuaku!" jerit Mireya di sela tangis histerisnya. "Kalian monster! Kalian mengurungku di sini! Nenek meninggal... Nenek meninggal karena memikirkan aku! Aku bahkan belum sempat pamit padanya! Lepaskan aku! Aku mau pulang ke desa! Lepaskan aku, Calix!"
Calix terpaku, hatinya mendadak mencubit perih mendengar kabar duka tersebut. Ia tidak melepaskan dekapannya, justru semakin mempererat pelukannya, membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mata dan darah yang mungkin mengalir dari luka hati Mireya.
"Doni! Siapkan helikopter pribadi sekarang juga! Kita berangkat ke desa Mireya dalam tiga puluh menit!" teriak Calix membahana, memberikan perintah mutlak pada bawahannya tanpa memedulikan rapat bisnis pentingnya hari ini.
Mireya terus memberontak di dalam pelukan Calix, namun kesedihan yang teramat sangat dipadukan dengan kondisi fisiknya yang lemah membuat pandangannya perlahan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, kalimat terakhir yang lolos dari bibirnya adalah rintihan pilu, "Nenek... maafkan Reya..."
Tubuh Mireya jatuh pingsan sepenuhnya di dalam dekapan Calix. Pria itu menunduk, menatap wajah pucat istrinya yang dipenuhi sisa air mata dengan perasaan berkecamuk yang asing. Di detik itu, Calix akhirnya menyadari satu hal: ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang lebih buruk pada gadis di pelukannya ini.
semangat terus ya Thor...