NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

Jolina semakin tidak percaya saat melihat seorang adik kelas menghampiri Jeremy.

Gadis itu tersenyum cerah, memanggil namanya dengan nada manja. Dan yang membuat Jolina tercekat—Jeremy tersenyum balik. Tanpa ragu, ia menurunkan foot step motornya. Gadis itu naik ke atas motor dengan mudah, tangannya berpegangan di jaket Jeremy. Detik berikutnya, motor itu melaju menembus hujan.

Jolina terdiam.

“Wah… Jeremy bonceng siapa tuh, Jo?” bisik Audrey.

“Mana gue tau,” jawab Jolina cepat, nada suaranya dingin. “Bukan urusan gue.”

Zoya menghela napas dramatis. “Parah sih. Kakaknya ditinggal di sini, tapi dia malah ngasih tebengan ke cewek lain yang… bukan siapa-siapanya.”

Audrey menoleh tajam. “Apa jangan-jangan mereka pacaran?”

“Bisa jadi sih…”

Jolina tidak menanggapi.

Ia memilih menatap lurus ke depan, meski matanya sesekali—tanpa izin—kembali mencari bayangan motor yang sudah menghilang di balik hujan.

Bukan urusan gue, katanya dalam hati.

Namun dadanya terasa tidak nyaman.

Tiba-tiba, sebuah motor berhenti tepat di depan mereka.

“Jolina?”

Ia menoleh.

Rama.

“Kamu belum pulang?” tanya Rama ramah, membuka helmnya.

“Belum, Kak,” jawab Jolina. “Lagi nunggu jemputan.”

“Aku anterin yuk.”

Jolina refleks menoleh ke Audrey dan Zoya.

“Ga usah, Kak, gapapa. Temenku juga belum dijemput kok—”

“Eh gapapa, Jo,” potong Audrey cepat. “Lo duluan aja.”

“Iya, iya,” sambung Zoya. “Lagipula—eh tuh mobil jemputan Audrey.”

Audrey langsung menunjuk ke arah gerbang. “Gue pulang sama Audrey aja,” kata Zoya cepat. “Iya bener tuh!”

Jolina sedikit canggung. “Tapi kalian—”

“Udah, udah, gapapa,” Audrey mendorong pelan bahu Jolina. “Gas.”

Rama tersenyum kecil. “Kamu nggak bawa jaket?”

“Nggak, Kak…”

Tanpa banyak bicara, Rama melepas jaketnya.

“Pake ini.”

“Loh, Kakak gimana?”

“Ga usah khawatirin gue,” kata Rama santai. “Seragam kamu putih. Kalau basah nanti keliatan. Pake aja.”

Jolina ragu sebentar, lalu mengangguk. Ia mengenakan jaket itu—hangat, dan sedikit kebesaran.

Rama lalu memakaikan helm ke kepalanya, merapikan talinya dengan hati-hati.

“Udah?”

“Udah, Kak.”

Ia menurunkan foot step.

“Nyaman duduknya?”

“Udah kok, Kak…”

Di kejauhan, Audrey dan Zoya senyum-senyum penuh arti. Bahkan sebelum Jolina sempat protes, mereka sudah memberi isyarat ayo dengan ekspresi menggoda.

Wajah Jolina memanas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Oke, gue duluan ya,” katanya gugup.

“Iya, hati-hati, Jo!” seru Audrey.

Motor Rama melaju pelan, meninggalkan halaman sekolah yang masih basah oleh hujan.

Audrey dan Zoya masuk ke dalam mobil, masih dengan senyum yang belum hilang.

Sementara itu, Jolina duduk di belakang Rama, menahan degup jantungnya sendiri—tanpa sadar bahwa sore itu, perasaannya mulai bergerak ke arah yang sama sekali tidak ia duga.

***

Motor Rama berhenti tepat di depan rumah sesuai arahan Jolina.

“Di sini aja, Kak.”

Rama langsung menepikan motornya. Jolina cepat-cepat turun, sedikit kikuk karena hujan masih turun cukup deras. Rama sigap membantu melepaskan helm dari kepala Jolina.

“Makasih banyak ya, Kak,” ucap Jolina tulus.

“Ga masalah,” jawab Rama santai.

Ia melirik sekilas seragam Jolina yang masih lembap. “Udah, kamu masuk sana. Langsung mandi, ganti baju. Jangan sampai sakit .”

“Iya, Kak.” Jolina lalu ragu sebentar. “Tapi… kakak gimana? Ga mau mampir sebentar?”

Rama tersenyum kecil sambil menggeleng. “Ah, ga usah. Aku duluan aja. Segan juga sama keluarga kamu.”

“Oh… oke,” Jolina mengangguk. “Lain kali mampir ya, Kak.”

“Iya, Jolin,” kata Rama sambil mengenakan helm. “Kalau gitu aku duluan ya.”

“Iya, Kak. Hati-hati.”

Motor Rama kembali melaju, menembus derasnya hujan hingga sosoknya perlahan menghilang di ujung jalan. Jolina berdiri beberapa detik di teras. Senyum kecil muncul di wajahnya. Baru setelah itu ia tersadar.

“Eh—” Ia menunduk melihat tubuhnya. “Jaketnya Kak Rama?”

Ia menghela napas pelan. “Ya ampun, gue lupa lagi…”

Tangannya meremas ujung jaket itu.

“Balikin sekarang pun… ga sopan juga. Dia kan udah minjemin.”

Ia berpikir sebentar. “Yaudah deh, gue cuci aja. Besok gue balikin.”

Dengan keputusan itu, Jolina masuk ke dalam rumah. Begitu pintu tertutup, mama langsung menghampirinya dengan wajah panik.

“Ya ampun, Jolina!” seru mama. “Kamu basah kuyup begitu. Udah, cepet naik ke atas. Langsung mandi.”

“Iya, Ma,” jawab Jolina patuh.

Ia naik ke tangga menuju kamarnya. Namun baru beberapa anak tangga—Seseorang muncul dari arah berlawanan.

Jeremy.

Ia keluar dari kamarnya dengan rambut masih basah, handuk melingkar di lehernya. Kaosnya sederhana, wajahnya datar seperti biasa. Langkah Jolina spontan melambat.

Jeremy juga berhenti. Untuk sesaat, mereka berdiri saling berhadapan di tangga sempit itu. Pandangan Jeremy jatuh pada jaket yang dikenakan Jolina.

Bukan jaketnya.

Bukan jaket sekolah.

Alisnya sedikit mengernyit.

Jolina ikut menyadari tatapan itu. Tangannya refleks menarik ujung jaket, seolah baru ingat apa yang ia pakai.

Hening.

Tidak ada teguran.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada amarah.

Jeremy hanya memalingkan wajahnya, lalu melangkah turun melewati Jolina begitu saja.

Tanpa sepatah kata pun. Jolina terpaku.

Dadanya kembali terasa aneh—lebih berat dari sore tadi. Ia menoleh ke belakang, menatap punggung Jeremy yang menjauh.

Kenapa… dia benar-benar berubah begini?

Dengan perasaan yang semakin sulit ia pahami, Jolina melanjutkan langkahnya ke kamar—tanpa tahu bahwa jarak di antara mereka kini bukan lagi sekadar pertengkaran, tapi mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan menyakitkan.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!