NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 26

Leo menggeleng pelan. “Masalahnya… aku nggak merasa itu.”

Hening. Percakapan itu berhenti di sana, tapi maknanya tidak. Dan untuk beberapa saat setelahnya, mereka hanya duduk tanpa perlu banyak kata, seolah masing-masing sedang memproses sesuatu yang tidak mereka ucapkan.

Ketika waktu akhirnya benar-benar larut, Leo mengantar Ella pulang. Jalanan sudah lebih sepi, lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, dan suasana di antara mereka kembali sunyi bukan canggung, tapi lebih seperti jeda yang diperlukan setelah sesuatu yang terlalu dekat.

Mobil berhenti di depan rumah. Lampu teras masih menyala. Ella membuka pintu, tapi belum langsung turun. “Terima kasih,” katanya singkat.

Leo mengangguk. “Aku akan anggap itu bukan formalitas.”

Ella hampir tersenyum, tapi ia menahannya. Ia turun dari mobil.

Dan seperti yang sudah bisa ia duga, Bu Vero sudah berdiri di depan pintu, menunggu. Tatapannya langsung beralih dari Ella ke Leo. Membaca situasi. Menilai.

Leo keluar dari mobil, menutup pintu dengan tenang, lalu melangkah mendekat dengan sikap yang tetap sopan.

“Maaf, Bu,” katanya, suaranya lebih formal dari sebelumnya. “Saya yang mengajak. Tidak akan saya ulang sampai selarut ini lagi.”

Bu Vero tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Leo beberapa detik lebih lama, seolah mencoba memastikan sesuatu. Lalu akhirnya ia mengangguk tipis. “Pastikan begitu,” katanya singkat.

Ella berdiri di sana, merasakan kembali beban yang tadi sempat hilang perlahan kembali ke pundaknya, rumah itu, suasana itu, semua yang tadi sempat ia lupakan kini kembali nyata.

Leo melirik Ella sekilas. Tidak mengatakan apa-apa. Tapi cukup untuk mengingatkan malam itu mungkin sudah selesai, tapi permainan mereka belum.

***

Pintu tertutup pelan setelah Leo pergi, menyisakan udara yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Ella belum sempat melangkah jauh ketika suara Bu Vero menahannya dari belakang.

“Jaga dirimu baik-baik, Ella.” Nada itu terdengar lembut. Terlalu lembut.

Ella berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Ia hanya mengangguk kecil, tanpa benar-benar merespons, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Ia tahu kalimat itu bukan kepedulian, lebih seperti formalitas yang harus diucapkan agar terlihat pantas. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada kekhawatiran yang tulus. Hanya kata-kata yang dipilih dengan rapi.

Dan Ella tidak punya energi untuk berpura-pura membalasnya. Ia langsung naik ke lantai atas, langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah ingin segera menjauh dari semua itu. Tangannya mendorong pintu kamar tanpa banyak pikir, dan begitu pintu terbuka ia langsung berhenti.

Tante Rosa sudah ada di dalam. Duduk di kursi dekat jendela, dengan ekspresi yang tidak perlu dijelaskan. Marah. Tidak meledak. Tapi jelas terlihat. “Kamu akhirnya pulang,” kata Tante Rosa, suaranya datar, tapi tajam.

Ella menutup pintu perlahan di belakangnya. “Aku cuma keluar sebentar.”

“Sebentar?” ulang Tante Rosa, alisnya terangkat. “Kamu membatalkan janji dengan Niko. Tanpa penjelasan. Lalu menghilang.”

Ella menghela napas pelan. “Aku sudah kirim pesan.”

“Itu bukan penjelasan,” potong Tante Rosa cepat.

Sunyi sejenak. Ella meletakkan tasnya di meja, mencoba tetap tenang. “Aku perlu itu.”

“Kamu perlu apa?” tanya Tante Rosa, kali ini berdiri. “Pergi dengan jaksa yang jelas-jelas sedang menyelidiki kamu?”

Nada itu mulai meninggi. Ella menatapnya, tidak menghindar. “Aku harus dekat sama dia,” katanya.

Tante Rosa tertawa pendek, tanpa humor. “Itu yang kamu sebut dekat?” katanya. “Makan malam? Nonton? Jalan santai? Kamu pikir itu strategi?”

“Itu bagian dari strategi,” balas Ella, lebih tegas.

Hening. Tante Rosa melangkah mendekat. “Tidak,” katanya pelan tapi keras. “Itu awal dari kesalahan.”

Deg. Ella merasakan sesuatu di dadanya menegang, tapi ia tidak mundur. “Aku tahu apa yang aku lakukan,” katanya.

“Tidak,” ulang Tante Rosa, kali ini lebih dalam. “Kamu mulai merasa nyaman.”

Kalimat itu tepat. Dan itu yang membuat Ella kesal. “Aku nggak sebodoh itu,” katanya.

Tante Rosa menatapnya lebih lama, lalu berkata pelan, “Semua orang bilang begitu… sebelum mereka jatuh.”

Sunyi. Kali ini lebih berat. Ella mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Tante Rosa. “Aku nggak jatuh,” katanya, lebih pelan tapi tetap tegas. “Aku cuma… pakai kesempatan yang ada.”

“Kesempatan?” ulang Tante Rosa. “Dia bukan kesempatan, Ella. Dia ancaman.”

Ella menggeleng kecil. “Dia juga akses.”

Hening lagi. Dua sudut pandang. Dua cara melihat hal yang sama. “Kamu sudah terlalu jauh, Ella!” akhirnya Tante Rosa menaikkan suara, untuk pertama kalinya benar-benar menunjukkan emosinya.

Kalimat itu menggantung di udara. Ella tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Tante Rosa dengan napas yang sedikit lebih berat dari sebelumnya. “Kalau aku berhenti sekarang,” katanya akhirnya, pelan tapi jelas, “aku nggak akan pernah tahu kebenarannya.”

Tante Rosa tidak membalas. Hanya menatap. Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Lalu Ella menambahkan, lebih rendah, “Dan aku nggak bisa hidup dengan itu.”

Sunyi kembali memenuhi ruangan. Kali ini bukan karena marah. Tapi karena keduanya tahu tidak ada jalan kembali ke titik awal. Ella sudah melangkah terlalu jauh. Dan sekarang ia memilih untuk terus berjalan.

***

Jangan terburu-buru menyalahkan ketika kamu membaca kisah ini dan menemukan tokoh yang tampak terlalu bodoh, terlalu nekat, atau terlalu keras kepala dalam mengambil keputusan.

Karena pada kenyataannya, tidak semua pilihan lahir dari logika yang rapi dan pertimbangan yang sempurna; ada momen ketika seseorang tahu persis mana yang benar dan mana yang berbahaya, tapi tetap melangkah ke arah yang sama sekali tidak masuk akal.

Bukan karena ia tidak mampu berpikir, melainkan karena ada sesuatu yang lebih kuat dari itu, sesuatu yang tidak bisa diukur dengan benar atau salah, untung atau rugi.

Perasaan. Ketika hati mulai ikut berbicara, batas antara rasional dan impulsif menjadi kabur, dan keputusan yang diambil sering kali bukan yang paling aman, tapi yang paling terasa “harus” dilakukan.

Maka jika suatu saat kamu melihat seseorang tetap bertahan di tempat yang jelas-jelas bisa melukainya, atau mendekat pada seseorang yang seharusnya ia hindari, mungkin bukan karena ia tidak tahu risikonya, melainkan karena ia memilih untuk mengabaikannya. Dan di situlah cerita ini berdiri: di antara logika yang perlahan ditinggalkan, dan hati yang, entah benar atau tidak, terus dituruti.

Itu juga yang sekarang dirasakan oleh Ella. Atau mungkin kamu atau pembaca lain juga pernah begini. Sudah tahu bahaya, masih dilakoni karena terlanjur jatuh cinta.

***

Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, bukan karena cuaca, tapi karena suasana yang menggantung di dalam rumah. Ella sudah duduk di meja makan sejak tadi, mencoba terlihat biasa, menuang minum, menyentuh makanan yang nyaris tidak ia makan, sementara di seberangnya, Tante Rosa sama sekali tidak membuka percakapan. Tidak ada teguran, tidak ada nasihat, bahkan tidak ada tatapan panjang seperti biasanya. Justru diam itu yang terasa paling berat.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!