Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan di Balik Tumpukan Sampah
Matahari baru saja tenggelam di sisi barat Desa Pasir Angin, menyisakan langit dengan nuansa ungu kelam yang terlihat suram. Bagi masyarakat setempat, senja bukan hanya saat untuk bersantai, melainkan juga sinyal untuk segera pulang. Terutama bagi mereka yang bermukim di sekitar Jarian area kosong di tepi desa yang saat ini dipenuhi dengan tumpukan sampah busuk.
"Aduh, gusti... bau apa ini? Kok amisnya beda, bukan cuma bau sampah biasa. Kayak bangkai yang sengaja ditinggal berhari-hari. Sial, ini rokok saja gak bisa ngalahin baunya.” Bisik Maman.
Maman, seorang pemuda yang baru saja kembali setelah merantau ke kota, menganggap ketakutan warga adalah sekadar legenda kuno. Dengan sebatang rokok terjepit di bibirnya, dia melintasi area Jarian. Aroma menyengat dari tumpukan sampah bercampur dengan bau amis yang aneh layaknya daging mentah yang ditinggalkan terurai di bawah panasnya matahari.
”Kenapa tiba-tiba merinding gini, ya? Anginnya mendadak dingin banget. Ah, cemen kamu, Man! Baru juga merantau ke kota beberapa tahun, masa langsung ciut sama takhayul orang kampung? Orang-orang itu cuma kebanyakan nonton film horor. Hari gini masih percaya jurig jarian.”. Bisik maman merasakan suasana yang berbeda.
Namun, langkahnya terhenti. Di atas tumpukan sampah plastik dan sisa-sisa rumah tangga, ia melihat sesuatu yang aneh. Seorang anak kecil dengan rambut gimbal yang kotor duduk membelakanginya, sibuk mengais tumpukan sampah dengan kuku panjang yang hitam.
"Dek, sudah waktu maghrib. Saatnya pulang," kata Maman sambil maju melangkahkan kakinya.
Anak itu terdiam. Dia terus melanjutkan aktivitasnya. Tiba-tiba, terdengar tawa pelan, bukan suara tawa anak-anak, melainkan suara serak yang seolah bersumber dari tenggorokan yang penuh ulat.
”Sini a, main sama aku”. Anak itu perlahan menoleh.
Maman terperangah. Wajah anak tersebut tidak memiliki mata, hanya terdapat lubang hitam yang terus mengeluarkan nanah berbau busuk. Kulitnya tampak pucat keabu-abuan seperti mayat yang telah terendam. Inilah Jurig Jarian, sosok penjaga tempat pembuangan yang diyakini muncul karena kotoran hati dan lingkungan manusia.
”Gustiiii, aya juriggg”. Teriak maman sambil berlari ketakutan.
Maman berlari dengan segenap tenaga, tetapi setiap kali dia melihat ke belakang, sosok itu selalu ada di belakangnya. Dia tidak berlari seperti Maman, melainkan melompat-lompat kecil dengan gerakan yang tidak teratur di atas tumpukan sampah, seakan-akan mengikuti langkah Maman.
Sesampainya di rumah, Maman langsung mengunci pintu. Ibunya, Mak Odah, memperhatikan wajah Maman yang terlihat sangat pucat.
“Maman, kamu pasti lewat Jarian, kan?”. Tanya Mak Odah dengan nada khawatir.
“Tadi ada anak kecil, Mak. Wajahnya menyeramkan”. Suara Maman sambil bergetar ketakutan.
“Mak sudah bilang, jangan pernah lewat Jarian saat magrib. Jurig Jarian itu bukan hanya hantu, melainkan pengingat. Apa yang kita buang sembarangan, akan kembali menghantui kita.”. Mak Odah yang menasihati Maman segera mengunci pintu rumah.
Malam itu, suhu udara tiba-tiba turun drastis. Kamar Maman kini dipenuhi dengan bau busuk sampah. Tiba-tiba, terdengar suara gesekan plastik dari bawah tempat tidurnya. Srek… srek… srek…
”Kenapa bau banget ya.” Keluh Maman dalam hati.
Maman memberanikan diri untuk mengintip ke bawah. Di kegelapan kolong tempat tidurnya, sepasang mata merah menyala memandangnya. Sosok itu kini tidak lagi terlihat seperti anak kecil, tetapi lebih menyerupai tumpukan daging hitam pekat yang mirip dengan sampah basah.
”Aaaaaaaaa.”Teriak Maman terperangah ketakutan.
Keesokan harinya, warga menemukan Maman terjatuh di kamarnya dengan tubuhnya dipenuhi luka nanah yang muncul secara mendadak. Bau tubuhnya mirip dengan sampah yang berada di pinggir desa.
Pak RT dan para tokoh masyarakat segera melaksanakan ritual pembersihan desa dan membersihkan area Jarian yang selama ini diabaikan. Mereka menyadari, Jurig Jarian bukan sekadar hantu pengacau, melainkan suatu wujud dari kelalaian manusia dalam menjaga lingkungan.
"Astagfirullahaladzim... Bau apa ini? Kok... kok persis kayak bau tumpukan sampah di Jarian?" Pak RT Menutup hidung dengan kain, wajahnya pucat melihat kondisi Maman.
"Gusti nu Agung, Pak RT! Lihat badannya Maman! Itu... itu luka nanah dari mana? Kemarin sore dia masih segar bugar lewat depan rumah saya." Kang Kosim mundur beberapa langkah, ketakutan.
"Sudah saya bilang, kemarin sore si Maman nekat nerobos Jarian pas magrib. Dia sesumbar gak percaya sama penunggu sana. Ini pasti dikerjain Jurig Jarian!". Mak Emeh berbisik sambil menangis terisak.
"Sudah, jangan cuma saling menyalahkan. Kosim, cepat panggil ambulans atau bawa Maman ke puskesmas. Setelah itu, kumpulkan semua warga di balai desa. Kita harus panggil Aki Sukra." Pak RT menghela napas berat, menatap Maman yang tak sadarkan diri.
"Ini bukan sekadar perkara Maman yang lancang, Pak RT. Ini adalah teguran buat kita semua yang ada di Desa Pasir Angin." Aki Sukra sesepuh Desa berdiri di depan tumpukan sampah Jarian yang menggunung, memegang kemenyan dan air doa.
"Maksud Aki... kejadian Maman ini karena kelalaian kita?" Pak RT menunduk malu.
"Benar. Jurig Jarian itu tidak akan mengamuk kalau rumahnya tidak kotor. Kita semua yang egois! Kita biarkan tempat ini dipenuhi sampah busuk, kita abaikan baunya, kita biarkan lingkungan kita rusak. Sadar atau tidak, kitalah yang mengundang petaka itu datang." Aki Sukra mengangguk pelan, suaranya berat dan berwibawa.
"Lalu... kami harus bagaimana, Ki? Kami takut penularan luka si Maman menyebar ke warga lain.". Bisik Kang Kosim khawatir.
"Ritual terbaik bukanlah sekadar bakar kemenyan atau rapalan doa, tapi membersihkan tempat ini sampai tuntas! Jurig Jarian itu wujud dari kotornya hati dan lingkungan kita. Mari kita bersihkan Jarian sekarang juga. Kembalikan hak alam, maka alam akan menyembuhkan desa kita.". Jawab Aki Sukra dengan suara parau.