Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Suasana ruang makan mulai sedikit sepi setelah sarapan selesai. Zelia dan Zevanya sudah pergi ke ruang keluarga sambil masih bercanda satu sama lain. Sementara Kiandra membantu beberapa pelayan membereskan meja makan, Adam sudah lebih dulu berangkat ke kantor.
Tinggal Zayyan dan Alin yang masih duduk berdampingan.
Alin memainkan jemarinya sendiri di atas meja. Sejak tadi sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia katakan, tetapi dia masih ragu untuk menyampaikannya. Sesekali matanya melirik Zayyan yang sedang meminum kopi dengan tenang.
Pria itu tampak jauh lebih santai dibanding malam sebelumnya. Bahkan aura dinginnya sedikit demi sedikit mulai menghilang ketika berada di dekat Alin.
Setelah menarik napas pelan, akhirnya Alin memberanikan diri berbicara.
"Zay..."
"Hm?" sahut Zayyan sambil menoleh.
Alin tampak sedikit gugup. "Boleh tidak aku ke rumah nenek? Aku mau ambil barang-barangku dulu."
Tatapan Zayyan langsung melembut. Dia pikir Alin akan meminta sesuatu yang sulit, ternyata hanya ingin kembali sebentar ke rumah neneknya.
"Boleh saja sayang, aku tidak akan melarang mu ke rumah nenek," jawab Zayyan tenang.
Mata Alin langsung berbinar kecil.
"Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum manis menatap suaminya.
Senyuman itu membuat Zayyan ikut tersenyum kecil tanpa sadar.
Jujur saja, dengan menikah dengan Alin, ada banyak hal yang perlahan berubah dari dirinya. Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan ekspresi seseorang, tapi sekarang hanya melihat Alin tersenyum saja rasanya suasana hatinya ikut membaik. Tidak ada ada lagi bayangan Lolly di pikirannya.
Zayyan terkekeh pelan lalu mengusap pipi lembut istrinya dengan punggung tangannya.
"Mau aku antar sekalian?" tawarnya.
Alin langsung menggeleng pelan."Tidak usah, aku bisa naik taksi. Kamu juga harus ke kantor kan."
Nada suaranya terdengar lembut dan penuh pengertian. Alin tidak ingin merepotkan suaminya hanya karena urusan kecil seperti mengambil barang.
Namun Zayyan justru menghela napas kecil.
"Tidak apa-apa. Aku bisa antar kamu dulu, setelah itu baru ke kantor."
Alin menatap pria di depannya cukup lama. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan ketika mendengar Zayyan dengan santai memprioritaskan dirinya.
Padahal sebelumnya dia sempat takut pernikahan mereka hanya akan menjadi hubungan yang kaku tanpa perhatian. Tetapi ternyata Zayyan jauh lebih lembut daripada yang terlihat dari luar.
"Kalau begitu...merepotkan tidak?" tanya Alin hati-hati.
Zayyan mengangkat sebelah alisnya."Mengantar istri sendiri bukan merepotkan."
Kalimat sederhana itu sukses membuat jantung Alin berdegup sedikit lebih cepat. Pipinya kembali memerah tipis.
"Ya sudah kalau begitu. Aku ke kamar dulu," jawab Alin akhirnya sambil tersenyum kecil.
Zayyan mengusap kepala istrinya pelan. "Aku tunggu di sini. Tolong sekalian ambilkan jasku, sayang"
Tak jauh dari sana, ternyata Zelia dan Zevanya diam-diam menguping dari balik dinding ruang keluarga.
"Wah..." bisik Zelia sambil menahan senyum jahil.
"Kak Zayyan sekarang manis banget," sahut Zevanya pelan.
"Iya, padahal kalau sama kita ngeselin banget."
Mereka berdua kembali mengintip pelan ke arah ruang makan.
Saat itu Zayyan sedang berdiri sambil membantu Alin bangkit dari kursinya dengan hati-hati.
"Pelan-pelan," ucap pria itu.
Alin langsung salah tingkah karena diperlakukan terlalu lembut di depan banyak orang. Namun perhatian kecil itu justru membuat kedua adik Zayyan makin gemas sendiri.
"Cepat sekali dia move on nya" gumam Zelia dramatis.
Zevanya sampai tertawa kecil mendengarnya.
Sementara itu di ruang makan, Kiandra yang memperhatikan interaksi putra dan menantunya hanya bisa tersenyum tipis.
Dulu dia sempat khawatir Zayyan akan menjadi suami yang terlalu sibuk dengan luka hatinya dan sulit menunjukkan perhatian.
Tapi sekarang... Cara pria itu memandang Alin sudah cukup menjelaskan semuanya. Ada rasa sayang yang mulai tumbuh di sana. Dan Kiandra bisa melihatnya dengan jelas.
Tak lama kemudian Alin dan Zayyan pamit untuk pergi. Zayyan mengambil kunci mobilnya sementara Alin berjalan pelan di sampingnya.
Saat mereka melewati ruang keluarga, Zelia langsung berseru jahil. "Hati-hati di jalan pengantin baru!"
Alin langsung malu dan menundukkan wajah. Sedangkan Zayyan hanya menggeleng pasrah.
"Kamu tidak capek gangguin orang terus?"
"Tidak," jawab Zelia cepat sambil tertawa.
Zayyan akhirnya merangkul bahu Alin pelan lalu membawa istrinya keluar rumah menuju mobil.
Begitu pintu mobil tertutup, suasana mendadak menjadi lebih tenang.
Alin memasang seatbelt-nya pelan sementara Zayyan menyalakan mesin mobil. Beberapa detik mereka sama-sama diam.Sampai akhirnya Zayyan melirik istrinya sekilas.
"Kamu nyaman?"
Alin menoleh bingung.
"Nyaman kenapa?"
"Tinggal di rumahku."
Pertanyaan itu membuat Alin terdiam sejenak. Lalu perlahan senyum kecil muncul di bibirnya.
"Nyaman kok. rumah mu ramai."
Jawaban singkat itu entah kenapa membuat hati Zayyan terasa hangat. Pria itu tersenyum tipis sebelum akhirnya mulai menjalankan mobil meninggalkan halaman rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan menuju rumah nenek Alin memakan waktu cukup lama. Jalanan Jakarta pagi itu benar-benar padat. Deretan kendaraan memenuhi hampir setiap ruas jalan, suara klakson bersahutan di mana-mana.
Mobil yang dikendarai Zayyan beberapa kali harus berhenti cukup lama karena kemacetan. Namun anehnya, suasana di dalam mobil justru terasa nyaman.
Alin duduk tenang di kursi penumpang sambil sesekali melirik ke arah suaminya yang fokus menyetir. Sementara rambut panjangnya bergerak pelan terkena hembusan AC mobil.
Sesekali mereka berdua mengobrol tentang rumah, tentang keluarga, tentang barang-barang Alin yang belum sempat dipindahkan. Meskipun percakapan mereka sederhana, tapi suasananya terasa hangat. Sudah tidak canggung lagi seperti sebelumnya.
Di lampu merah, Zayyan sempat melirik istrinya sekilas."Itumu masih sakit?" tanyanya tiba-tiba.
Alin langsung tersedak ludahnya sendiri, wajahnya memerah seketika.
"Kamu kenapa tanya begitu..." gumamnya malu.
Zayyan justru terkekeh kecil."Aku cuma khawatir."
Alin langsung menunduk sambil menggigit bibirnya pelan."Sudah mendingan."
"Hm."Zayyan kembali fokus ke jalan, tapi sudut bibir pria itu tampak terangkat samar.
Alin diam-diam melirik suaminya dengan jantung berdegup sedikit lebih cepat. Kadang dia bingung sendiri. Zayyan bisa terlihat sangat dingin, tapi di waktu yang sama juga sangat perhatian. Dan itu membuat Alin perlahan merasa nyaman berada di dekat pria tersebut.
Setelah melewati area macet Jakarta yang cukup melelahkan, akhirnya mobil hitam milik Zayyan memasuki kawasan rumah nenek Alin.
Rumah sederhana dengan halaman kecil itu terlihat tenang seperti biasanya.
Begitu mobil berhenti di depan pagar, Alin langsung menoleh ke arah suaminya.
"Kamu mau mampir dulu nggak?" tanyanya lembut.
Zayyan tidak langsung menjawab. Dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir siang, sementara ada beberapa rapat penting yang harus dia hadiri di kantor. Sepertinya daddynya memang benar-benar sudah menunggunya.
Zayyan menghela napas kecil."Sepertinya tidak, sayang. Aku harus buru-buru ke kantor, daddy sudah menunggu," ucapnya pelan.
Alin mengangguk paham. Dia tidak ingin menahan Zayyan lebih lama lagi."Kalau begitu kamu hati-hati ya," ucap Alin sambil menatap suaminya. "Jangan ngebut-ngebut."
Zayyan tersenyum tipis mendengar itu.
"Iya, sayang."
Entah kenapa mendengar Alin mengkhawatirkannya seperti itu membuat hati pria itu terasa hangat."Salam buat nenek," lanjut Zayyan. "Maaf aku tidak bisa mampir."
Alin tersenyum kecil.
"Nenek pasti mengerti."
Zayyan mengangguk pelan. Tangannya terangkat mengusap pipi istrinya lembut sebelum akhirnya dia mendekatkan wajahnya.
Cup.
Pria itu mencium kening Alin singkat. Namun setelah itu, tanpa diduga, Zayyan juga mengecup bibir istrinya sekilas.
Deg.
Mata Alin langsung membulat kaget. Wajahnya berubah merah dalam hitungan detik. Sementara Zayyan justru terlihat santai meskipun sebenarnya jantungnya ikut berdetak sedikit lebih cepat.
"Kok bengong?" godanya pelan.
Alin langsung salah tingkah.
"K-kamu..."
Zayyan terkekeh kecil melihat reaksi istrinya yang masih mudah malu. "Cepat masuk sana."
Alin mengerucutkan bibirnya pelan sebelum akhirnya membuka pintu mobil.
Saat turun, dia masih sempat menoleh ke arah suaminya. "Kamu jangan lupa makan siang."
"Iya."
"Dan jangan terlalu capek."
"Kamu cerewet juga ternyata."
Alin langsung tersenyum malu.
"Itu karena aku khawatir."
Kalimat sederhana itu membuat tatapan Zayyan melembut. Untuk beberapa detik pria itu hanya menatap wajah istrinya diam-diam.
Zayyan kemudian mengangguk kecil.
"Aku pergi dulu."
"Hati-hati."
Setelah memastikan Alin masuk ke dalam halaman rumah neneknya, Zayyan baru kembali menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan tempat itu.
Sementara Alin masih berdiri beberapa saat di depan pagar sambil memperhatikan mobil suaminya menjauh.
Tanpa sadar senyum kecil terus menghiasi bibirnya.
Baru sehari menjadi istri Zayyan... Namun perlahan pria itu mulai mengisi ruang kecil di hatinya.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥