Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19. KAKEK SAKIT.
Kakek berbaring lemah di rumah sakit, matanya tertutup rapat seolah malas melihat orang-orang yang mengitarinya. Jarum infus menancap di lengannya dan slang oksigen membuat kakek lebih dalam menutup mulutnya.
Berlin mendekati kakek, ini hari kedua mereka bertemu setelah sepuluh tahun berpisah. Hari ini semua hadir karena mengira kakek mau men*nggal, rupanya kakek punya rencana lain.
"Kakek pura-pura sakit supaya aku datang dengan paman, begitu cintanya kakek kepada kami yang pernah di b*ang."
"Berlin mulutmu tajam sekali, tentu saja kakek sering sakit karena memikirkan dua orang yang tidak berguna." sahut Emely.
"Walaupun kami berdua tak berguna, kami bisa hidup mandiri tanpa minta makan dari perusahan kakek. Tidak seperti orang lain yang terus mengisap darah group Raharja, mungkin kalau tidak ada group Raharja mereka m*ti berjamaah."
"Berlin jaga mulutmu, kau seperti ibumu. Buah tidak jauh jatuh dari pohonnya." ucap Emely emosi.
"Kalian kenapa sih, selalu berdebat. Kakek lagi sakit, kalau terjadi apa-apa pada kakek saham perusahan akan anjlok."
"Paa..istri papa selalu jealous padaku, tolong papa cari istri baru saja."
"Berlin jangan bikin aku emosi!!" bentak Emely.
Mata kakek terbuka, Tangannya yang keriput sigap menyingkirkan slang oksigen.
"Berlin kau sudah datang?" suara kakek membuat perdebatan yang kurang sehat itu terhenti.
"Cucumu yang tersayang ada di dekatmu, apa kakek mau bagi warisan?"
"Berlin hormat sama kakek." Flores yang dari tadi diam mencolek Berlin.
"Paa...kakek sudah memegang tangan ku, hormat gimana lagi. Papa ada-ada saja."
"Hormat paa...anakmu yang tidak berguna minta nasehat." Ende mendekat memberi hormat.
Ia memang sudah berumur tapi masih terlihat ganteng dan wibawa. Suaranya tegas seolah sulit di ajak bercanda. Emely melirik adik iparnya, dadanya berdebar, dari dulu ia sudah mengagumi Ende, tapi laki-laki itu menolaknya.
Ia terpaksa menikah dengan Flores karena aliansi bisnis, pernikahannya dengan Flores berjalan normal, kadang ada percikan kecil tapi Flores terpaksa mengalah.
Flores selalu mengalah bukan tanpa alasan, dulu ia bersalah berselingkuh dengan sekretarisnya dan punya anak yaitu Berlin.
Nadya melahirkan dengan normal atas bantuan Emely. Itu pemikiran Flores dan suaminya itu merasa berhutang budi. Padahal sehabis melahirkan Emely menyuap perawat untuk menyuntikan racun arsenik ke infus Nadya.
Kerjanya rapi dan kakek pura-pura tidak tahu apa yang dilakukan Emely. Demi nama kluarga dan harga saham, apapun yang dilakukan Emely kakek tutup mata.
"Ende aku minta maaf padamu karena selama ini tidak memberitahumu masalah Qaisera...."
"Paa.. Stop, itu urusanku. Aku nanti yang akan menceritakan kepada adik ipar. Papa istirahatlah supaya cepat sembuh."
"Papa sudah sehat, Ende harus tahu dan perjodohan Berlin yang aku siapkan tahun ini harus terlaksana. Aku ingin Berlin dan Qai punya perusahan, kalau sahamnya di gabung."
"Paa..aku mengerti maksud papa...."
"Emely, biarkan papa melanjutkan cerita yang aku tidak tahu." sahut Ende tanpa menoleh.
Eden masih ingat Emely penentang sejati saat ia dan Melani diam-diam menikah. Ia yakin Emely dalang dibalik kemarahan kakek, sehingga papanya membuangnya ke luar negeri, tanpa uang, sehingga ia menjadi pengemis.
Untungnya ada gangster bawah tanah yang merekrut menjadikan bawahannya. Hidupnya berat di luar negeri, setelah bertahun-tahun hidup di dunia hitam, baru ia bisa mandiri dan punya bisnis sendiri.
Saat mau pulang ke Indonesia ada Berlin anak tiri Emely membuat rencananya batal. Berlin juga dibuang oleh Emely dan kakek menyetujui.
Untuk itulah ia membatalkan pulang ke Indonesia dan mendidik Berlin menjadi orang yang mandiri.
Hingga suatu hari kepulangannya tidak bisa ditunda lagi, Berlin bersalah dan dikeluarkan dari gangster bawah tanah.
Tiba-tiba Flores memanggilnya, padahal sudah sekian tahun. Kebetulan waktu utu dia sudah di Indonesia dengan Berlin. Mereka bertemu dan basa basi, intinya kakek ingin putra dan cucunya kumpul dan rukun.
Ini kali yang kedua mereka bertemu.
"Ende maafkan papa, sebenarnya kau punya anak dari Melani dan putrimu itu di asuh oleh Wijaya dan Sumiati. Ketahuilah bahwa kami selalu menyayangi putrimu, kami sudah membelikan tempat tinggal yang layak, mobil, studio televisi dan juga membiayai pendidikannya sampai sarjana." ucapan kakek pelan dan teratur, tapi Ende merasakan itu sebuah hantaman yang telak mengena jantung.
Hening seketika.
Berlin yang juga kaget memakai otaknya untuk berpikir, apakah Qai putri paman?
"Ende tenangkan pikiranmu, kami tidak pernah menyiksa putrimu. Kami sudah pernah tawarkan supaya Wijaya dan Qai tetap tinggal disini, tapi Qai tidak mau dan pergi begitu saja. Dia memusuhi kami dan menghilang tidak ada khabar sampai saat ini." ucap Emely berapi-api.
*****