NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

"Bagus. Jam berapa ini, Aira Maheswari?"

Suara berat itu tidak meledak, namun tajamnya sanggup mengiris keheningan ruang tamu yang luas dan dingin. Aku terpaku di ambang pintu, jemariku masih mematung di gagang pintu kayu ek yang kokoh. Di depanku, Prasetya—pria yang secara biologis adalah ayahku—berdiri membelakangi lampu gantung kristal. Bayangannya memanjang, menelan tubuhku yang terasa sangat kecil.

Bau tembakau dan aroma kayu cendana dari jaket Bara masih tertinggal di indra penciumanku, memberikan rasa aman yang semu. Namun, begitu aku melangkah masuk, aroma parfum ruangan melati yang mahal namun menyesakkan langsung menyergap, mengingatkanku bahwa aku telah kembali ke penjara.

"Aku... aku tadi ada urusan sebentar, Pa," bisikku parau. Kepalaku tertunduk, bukan karena malu, tapi karena aku tidak sanggup melihat kebencian di mata pria itu.

"Urusan apa? Urusan mencoreng muka Papa di depan tetangga?" Prasetya melangkah maju. Setiap ketukan pantofelnya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian. "Alvaro sudah cerita. Dia lihat kamu turun dari motor butut itu dengan pria berandalan. Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja ingin menunjukkan pada dunia kalau keluarga Maheswari gagal mendidik anaknya?"

"Varo cuma khawatir, Pa. Dia bilang Aira tadi... ah, aku nggak enak mengatakannya."

Suara melengking itu muncul dari balik pilar. Airin berjalan pelan, mengenakan gaun tidur sutra putih yang membuatnya tampak seperti malaikat tanpa dosa. Ia merangkul lengan Papa, menyandarkan kepalanya di sana sembari menatapku dengan binar kemenangan yang tersembunyi di balik raut wajah "prihatin".

"Katakan saja, Airin. Biar dia sadar betapa rendah kelakuannya malam ini!" bentak Prasetya.

Airin menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca—sebuah akting yang sudah dia asah selama belasan tahun. "Pa, aku tadi tidak sengaja melihat dari jendela atas. Aira... dia pelukan sangat erat dengan cowok itu di depan gerbang. Di tempat terbuka, Pa. Bagaimana kalau ada tetangga yang lihat? Bagaimana kalau keluarga Alvaro dengar? Mereka pasti pikir Aira gadis gampangan, dan aku... aku sebagai kembarannya pasti kena getahnya."

Brak!

Prasetya menghantam meja konsol di sampingnya hingga vas bunga lili terjatuh dan pecah berkeping-keping. Aku tersentak, bahuku bergetar hebat. Namun, Airin tetap tenang dalam rangkulan Papa, bahkan ia sempat memberikan senyuman miring yang sangat tipis padaku—senyum yang mengatakan bahwa aku sudah tamat.

"Pelukan di depan gerbang?! Benar-benar tidak tahu malu!" Prasetya menunjuk wajahku dengan jari yang bergetar karena amarah. "Kamu itu aib, Aira! Kamu parasit yang merusak citra keluarga ini! Papa sudah susah payah membangun reputasi, dan kamu dengan mudahnya menyeret nama Maheswari ke jalanan bersama sampah sekolah itu!"

"Pa, aku nggak pelukan, tadi cuma—"

"Cukup! Papa tidak butuh pembelaan dari mulut pembohongmu!" Prasetya memotong kalimatku dengan teriakan yang membuat telingaku berdenging. "Dengarkan Papa baik-baik. Kalau sampai Papa dengar kamu berhubungan lagi dengan preman itu, Papa tidak akan segan-segan mengeluarkan kamu dari SMA Garuda. Papa akan pindahkan kamu ke sekolah asrama di pelosok, atau sekalian Papa coret nama kamu dari kartu keluarga ini. Mengerti?!"

Aku terdiam. Dadaku sesak, seperti ada tangan raksasa yang meremas paru-paruku. Aku menatap mata pria itu, mencari setitik saja rasa sayang, namun yang kutemukan hanyalah rasa malu yang mendalam karena memiliki anak sepertiku. Tanpa kata, aku berbalik dan berlari menuju kamarku—bukan, menuju gudang belakang yang sekarang menjadi tempat tidurku.

*

Aku mengunci pintu gudang dan merosot ke lantai yang dingin. Kamar ini gelap, hanya ada cahaya bulan yang merembes lewat celah ventilasi. Namun, badai belum berakhir.

Tok, tok, tok.

Pintu gudang terbuka pelan. Mama masuk. Ia membawa segelas susu hangat, wajahnya tampak tenang, bahkan terlihat lembut di bawah temaram cahaya lampu kecil. Ia duduk di pinggir ranjang tipisku, lalu mengelus rambutku yang berantakan.

"Aira... Mama sayang sekali sama kamu," bisiknya lembut.

Untuk sesaat, aku ingin percaya. Aku ingin memeluknya dan menangis di pangkuannya. Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang dihunus tepat di hulu hatiku.

"Makanya, Mama mau kamu berubah, sayang. Jangan jadi parasit buat Airin. Kamu tahu kan, Airin itu masa depan keluarga kita. Dia cantik, berprestasi, dan dia akan menikah dengan Alvaro nanti. Itu akan mengangkat martabat kita semua." Ratna menatapku dengan mata yang dingin, meski bibirnya tersenyum. "Kalau kamu terus-menerus bertingkah seperti ini, bergaul dengan preman, kamu cuma jadi noda hitam di atas gaun putih Airin. Kasihan kembaranmu, dia harus menanggung malu karena ulahmu."

Aku menarik kepalaku dari sentuhannya. "Jadi... aku ini cuma noda buat kalian?"

Ratna menghela napas, seolah ia adalah ibu yang paling sabar menghadapi anak yang sulit. "Aira, berpikirlah realistis. Airin itu 'putri pemenang'. Dunia mencintai dia. Sedangkan kamu... kamu cuma 'putri asli' yang tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi citra keluarga. Jadi, tolong... mengertilah posisi kamu. Diamlah, jadilah bayangan, dan jangan rusak panggung Airin."

Mama berdiri, meletakkan gelas susu itu di meja kayu yang lapuk. "Minum susunya, lalu tidurlah. Jangan membuat Papa marah lagi besok."

Pintu ditutup. Hening kembali menyergap.

Aku menatap gelas susu itu. Aku tidak menangis. Anehnya, air mataku seolah sudah menguap habis. Rasa perih yang biasanya membuatku sesak kini berganti menjadi rasa hampa yang dingin. Aku menyadari satu hal yang mutlak malam ini: Di rumah ini, aku bukan anak. Aku adalah cacat produksi yang ingin mereka sembunyikan. Mereka lebih memilih memuja kebohongan Airin daripada mengakui keberadaanku.

Aku meraih tasku, merogoh bagian paling dalam di balik lipatan kain. Aku mengeluarkan sebuah ponsel kecil berlayar hitam putih yang dibelikan Bara secara diam-diam kemarin.

Drrt... drrt...

Sebuah pesan masuk. Dari "Si Berandal".

Aku membukanya dengan tangan gemetar. Bara mengirimkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan dirinya sedang duduk di meja kayu yang berantakan di kamarnya yang sederhana. Rambut hitamnya acak-acakan, ia mengenakan kaus hitam polos yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Di depannya, ada tumpukan buku pelajaran matematika dan secangkir kopi hitam yang masih mengepul.

Bara menatap kamera dengan tatapan yang sangat cool—tajam, liar, namun entah kenapa terasa begitu tulus. Di bawah foto itu, ada sebuah pesan singkat:

"Gue lagi berusaha jadi menteri buat loe, jadi loe jangan nyerah di rumah itu. Gue tahu loe lagi dikepung badai, tapi inget... Serigala nggak akan biarin mangsanya mati konyol. Tidur, Ra. Besok gue jemput, lewat jalur belakang kalau perlu."

Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat. Sebuah senyum tipis yang terasa sangat manis di tengah pahitnya malam ini. Aku bisa membayangkan bagaimana Bara yang biasanya memegang kunci inggris atau kepalan tangan, kini harus bergelut dengan rumus-rumus rumit hanya karena janji 'gila' yang aku berikan padanya.

Dia sangat tampan di foto itu. Bukan tampan yang rapi dan palsu seperti Alvaro, tapi tampan yang beringas dan nyata. Rasanya seperti mengingat cinta masa muda yang sangat manis, di mana hanya dengan satu pesan singkat, seluruh dunia yang runtuh seolah terbangun kembali.

Aku mengetik balasan dengan jemari yang terasa lebih ringan.

"Aku nggak akan nyerah, Bara. Jangan belajar terlalu keras, nanti otakmu meledak. Aku tunggu besok."

Aku meletakkan ponsel itu di bawah bantal. Aku berbaring, menatap langit-langit gudang yang suram. Tapi kali ini, aku tidak merasa takut.

Papa ingin aku diam? Mama ingin aku jadi bayangan? Airin ingin aku hancur?

Silakan. Aku akan bermain sesuai aturan mereka untuk sementara. Aku akan menjadi bayangan yang paling gelap, bayangan yang diam-diam mengumpulkan setiap serpihan bukti kejahatan Airin. Mulai dari desain yang dicuri, kebohongan masa kecil, hingga manipulasi yang dia lakukan pada Alvaro.

Aku akan menghancurkan panggung emas Airin tepat saat dia berada di puncaknya. Dan saat itu terjadi, aku ingin melihat wajah Papa dan Mama ketika mereka menyadari bahwa mereka telah membuang permata demi segumpal kotoran yang mereka poles dengan air mata palsu.

Aku memejamkan mata, membayangkan deru mesin motor Bara yang jantan. Malam ini, badai di dalam rumah Maheswari memang masih mengamuk, tapi di dalam dadaku, api perlawanan baru saja menyala. Dan api itu... tidak akan pernah padam sampai semuanya rata dengan tanah.

1
Ma Em
Wah pak Prasetya ditantang Aira untuk melakukan tes DNA malah kabur , berarti benar Aira bkn anaknya pak Prasetya .
Allea
kalo lo ga bongkar kebusukan si airin trus kpn bales kebusukannya ,enak si airin dong aman2 bae 😁
Salwa Blora
kak lantoot semangat kak😁😁
M ipan
semangat ya💪
Aletheia: thanks, atas komen dan like nya kak👍
total 1 replies
Ma Em
Prasetya , Ratna dan Airin kenapa selalu jadi duri dlm setiap ada kegiatan atau acara yg Aira adakan , kapan Prasetya , Ratna juga Airin akan dapat karmanya dan membiarkan Aira hdp bahagia tanpa diganggu ketiga iblis berbentuk manusia ini , semoga kebohongan Airin segera diketahui Alvaro bahwa anak yg dikandung Airin bkn darah daging Alvaro tapi benih dari tuan Burhan .
Aletheia: terimakasih kak atas komennya,bisa tulis di rating ya kak terus kesan novelnya di disana🤭
total 1 replies
Tetii Riiani
ceritanya seru n gak bertele tele
Aletheia: thanks kak atas ratingnya, semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
Rinrin Novani
sangat bagus
Aletheia: terimakasih kak atas ratingnya semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
andi tahang
lanjutyy
Ma Em
Semoga secepatnya Aira menikah dgn Bara jgn ditunggu lama lagi karena terlalu banyak orang yg akan menghancurkan Aira .
Ma Em
Aira kamu berani melawan dan hilangkan rasa trauma kamu Aira dan jgn sampai kamu tertipu oleh bapakmu , ibumu juga Airin yg licik itu mereka hanya mau memanfaatkan kamu Aira , Aira jgn terlalu senang dulu dgn modal yg diberikan pak Darmawan karena ada Alvaro yg sdh mengincar dan akan membuat usaha Aira gagal , Aira hrs hati hati jgn sampai lengah .
Aletheia: thanks ya kak udah komen,minta ratingnya karena besok mau up banyak
total 1 replies
Allea
sebenarnya Aira itu tangguh ga sih 😁
Ma Em
Ada hubungan rahasia antara Prasetya dgn tuan Galaksi tentang Aira yg selalu dikurung didalam gudang bawah tanah , apakah Aira bkn anak kandung pak Prasetya , tapi aku agak kecewa pada Aira sepertinya Aira msh suka pada Alvaro setelah Alvaro menyakiti dan selalu menghina Aira tetapi Aira diam saja saat dipeluk Alvaro , hati2 Aira kamu jgn mengecewakan Bara karena Bara yg sdh menolong mu dan mengangkat derajatmu sehingga jadi desainer yg hebat jadi lupakan Alvaro itu cuma masa lalu yg menyakitkan Aira jgn luluh dgn Alvaro .
Yeni Astriani
Alvaro sungguh pria tidak tahu malu dan gak punya harga diri sama sekali
Ma Em
Aira lawan jgn takut lagi sama Airin juga ibumu kasih pelajaran untuk Airin juga ibumu agar kapok dan tdk akan mengganggu Aira lagi , masa Aira sdh jauh2 belajar di Milan msh bisa ditekan dan diancam sama Airin .
Ma Em
Bagus Aira kamu jgn lupakan pengorbanan Bara yg sdh menolong dan menjadikan Aira designer yg handal , biarkan Alvaro menyesal karena kebodohan nya , mau tau juga bagaimana nasibnya Airin juga bapak dan ibunya , manusia sombong dan pilih kasih pada anak sendiri bagaimana kehidupan nya sekarang setelah ditinggalkan Aira .
Ma Em
Aira lupakan Alvaro masa kamu msh mau menerima Alvaro lelaki yg selalu menghina dan merendahkan kamu , ingat Aira kamu sdh diangkat derajatmu sama Bara dan sekarang sdh jadi designer yg hebat disekolahkan di Milan ingat itu Aira jgn melupakan jasa Bara hanya karena lelaki teman masa kecilmu yg sdh melupakanmu Aira , jgn sampai jadi manusia yg tdk bisa balas budi .
partini
dah ada filing akan macam ini ,, teringat novel th 2018 tapi luka karya siapa gitu di NT
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas
Aletheia: haha,tunggu aja ya kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh kumat lolanya aira
Allea
cari masalah si aira harusnya lgsg geser biar ngegabruk tuh si al ngapain malah bernarasi dalam hati 😅
Aletheia: haha,biar greget kak🤭🤭🙏
total 1 replies
Ma Em
Buat Maheswari bangkrut dan Airin nasibnya hancur dan tersebar semua kelakuan Airin yg sdh menjual diri demi kemewahan .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!