NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 12: Kampung Belanda dan Perjalanan Rohani

 

*Ep 12: Story WhatsApp dan Kampung Belanda*

*Jam 3 pagi. Kost Karawaci.*

Alarm Indry bunyi pelan.

Lagu rohani “Tuhan Kau Gembalaku” yang diputar Mama dulu.

Indry bangun.Doa.Meditasi Pagi.

Hari ini janji sama Meta: Misa di Katedral, lanjut liburan ke PIK 2.

Selesai doa,Baca Firman di aplikasi kalender Liturgi

“DRY! BANGUN! KITA TELAT!” suara Meta dari luar kamar udah kayak pengeras masjid.

"Ude dari kemarin kali gua bangun...emang lu kalo gak Weekend molor mulu, giliran libur baru semangat kayak Tentara mo perang aja. "

"kagak tidur donk lu bangun dari kemaren! ", Meta sambil simpen skincare di atas meja, "niiihhh pake ntar, biar kece muke lu buat story nongki cantik ntar... yang cantik, biar Zaki makin sayang "

"Paan sih, Met,... Thanks yah besty "

Indry ketawa kecil. Dia ambil HP, cek notif. Nggak ada. Tapi dia tau, jam segini Zaki pasti lagi sibuk antar orderan bahan jamu, atau lagi marut kelapa buat bahan Minyak.

*Jam 9 pagi.

Katedral Jakarta Pusat.*

Suara organ megah, wangi lilin, dingin AC. Indry duduk sebelah Meta. Rambut Meta diikat tinggi, baju putih. Indry kepang satu, baju krem. Sederhana.

Romo baca Injil. Indry nggak full fokus. Matanya sesekali lirik tas. Nggak ada notif WA. Tapi hatinya tenang. 15 tahun dia nahan. Sekarang ada “sudah makan” sama “hati-hati ya” yang bikin cukup.

Misa selesai jam 10:30. Panas Jakarta nyambar muka.

Meta langsung teriak: “DRY! HARI INI KITA CANTIK! KITA LIBURAN! KITA NONGKRONG! KITA STORY! KITA HIDUP!”

Indry ketawa. “Lu nggak kerja hari ini ya Met?”

“GUE CUTI! GUE CUTI UNTUK HIDUP!”

Mereka naik Grab Tujuan: PIK 2. Kampung Belanda.

*Jam 11 Kampung Belanda, PIK 2.*

Jembatan Belanda, bau kopi, roti bakar. Bangunan bata merah, lampu kuning. Mini Amsterdam versi Indonesia. Bule jalan-jalan. Anak muda foto-foto. Nenek minum teh.

Indry dan Meta duduk di perahu danau . Dua gelas iced latte, croissant, pisang bakar keju.

Meta langsung aktif: “DRY! STORY! STORY! FOTO KITA! SEMUA HARUS TAU KITA HIDUP!”

Indry nurut. Dia foto. Dia ketawa. Tapi matanya nggak lepas dari HP.

Jam 11:17. Notif masuk.

Zaki lihat story.

Indry ketawa pelan. Meta nyadar.

“WOY! DIA LIHAT! 3 DETIK! DIA LIHAT 3 DETIK!”

Indry pura-pura cuek. “Biasa Met. Dia emang sering lihat.”

“BIASA?! KODE LHO NDRY, NUNGGUIN BERITA LO HARI MINGGU NGAPAIN, !”

10 menit kemudian story Zaki muncul: foto kuali gede, Santan yang bentar lagi jadi minyak, caption “Panas”.

Indry balas story Zaki dengan foto croissant.

Nggak ada caption.

Zaki lihat. Selesai. Obrolan jalan lewat story. Lewat mata.

puas cuap cuap cerita di Perahu, mereka Jalan kaki keliling Kampung Belanda.* Panas sebenarnya tapi sayang rasanya kalo ngga cuci mata.

Meta heboh liat bule-bule tampan, tinggi dan sepertinya mapan.

“DRY LIHAT! ITU BULE! MATA BIRU! TINGGI! KALAU JADI SUAMI GUE, GUE NGAKUIN SURGA!”

Indry geleng-geleng. “Met, lu nggak bisa bahasa Inggris.”

“GUE BISA! HELLO! HOW ARE YOU! I LOVE YOU! CUKUP!”

Mereka masuk toko souvenir. Beli gantungan kunci, magnet kulkas, es krim.

Di tengah jalan Meta tiba-tiba berhenti.

“DRY… lu bahagia kan?”

Indry diem. Angin sepoi tiup rambutnya.

“Bahagia Met. Bahagia yang pelan. Bahagia yang nggak perlu teriak.”

Meta ngangguk. “Gue senang. Gue senang liat lu senyum lagi. Bukan senyum kerja. Senyum beneran.”

Jam 14:6 Zaki lihat story lagi.

Video Indry ketawa pegang es krim. Caption Meta: “Anak sulung lagi liburan!”

Zaki bales story dengan foto teh hangat. Caption: “Jangan lupa makan.”

Indry lihat. Senyum. Nggak bales. Nggak perlu.

*Jam 15:15 . Perjalanan rohani.*

Mereka pindah ke Gereja Katolik Santo Leo Agung. Gereja kecil, teduh, banyak pohon.

Indry duduk di bangku depan. Doa buat Mama, Ayah, Deoni, Carel, Paul, Mauba, Ogah. Nggak minta Zaki jadi miliknya. Cuma minta Tuhan jaga hati Zaki. Kasih dia kuat kalau ini bukan jalan. Kasih sabar kalau ini jalan.

Meta duduk di belakang. Doanya beda.

“Tuhan, kalau bisa kasih gue bule mata biru. Amen.”

Indry denger, ketawa dalam hati.

Mereka lanjut ke Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi. Gereja modern, kaca besar, cahaya masuk. Indry duduk lama. Inget 15 tahun lalu. Inget Deoni. Inget waktu pertama kali salah kirim chat ke Zaki.

Jam 16:20. Zaki lihat story lagi. Foto Indry di depan gereja. Caption Meta: “Perjalanan rohani. Tuhan jaga hati kami.”

Zaki bales story dengan foto Al-Quran kecil di meja . Caption: “Semoga damai.”

Indry lihat. Matanya basah.

Meta nyadar. “DRY… dia ngerti ya.”

Indry angguk. “Dia ngerti Met. Dia ngerti dari dulu.”

*Jam 17:8 sore. Pinggir danau PIK 2.*

Angin sore. Langit jingga. Perahu kecil lewat. Anak-anak lari-larian.

Indry dan Meta duduk di bangku kayu. Kaki pegal tapi hati ringan.

Meta mulai ngomong absurd.

“DRY… kalau Zaki tiba-tiba datang sekarang, pakai baju koki, bawa martabak coklat, terus bilang ‘aku kangen’, lu bakal apa?”

Indry ketawa. “Gue bakal lempar martabaknya. Panas Met.”

“Terus?”

“Terus gue bakal bilang… hati-hati ya Zak. Jalanan macet.”

Meta ,“NGGA ROMANTIS BANGET! GUE REKAM YA!”

Indry lempar sandal. “HAPUS MET!”

Mereka ngomong ngalor-ngidul. Soal bule. Soal kerjaan. Soal Ogah minta martabak. Soal Carel galak. Soal Paul pendiam. Soal Mauba pedekate sama anak pak ustadz.Soal hayalan masa depan.

Di tengah ngomong, HP Indry getar.

Zaki: “Sampai rumah hati-hati ya.”

Jam 18

Indry baca. Nggak bales cepat. Biar 5 menit. Biar nggak keliatan pengen banget.

Dia balas: “Iya. Kamu juga.”

Selesai.

Meta ngintip. “WOY! DIA CHAT! DIA CHAT LAGI! GUE KIRIM KE GRUP KAN?!”

Indry rebut HP. “JANGAN MET! INI PUNYA GUE!”

Meta ketawa. “YA UDAH. TAPI GUE SIMPEN DI HATI.”

*Jam 18:30 malam. Perjalanan pulang.*

Mereka naik busway. Capek. Kaki pegal. Tapi senang.

Meta nggak berhenti ngomong.

“DRY… gue rekam tadi ya. Percakapan kita di danau. Gue kirim ke Zaki. 30 detik. Dia udah lihat.”

Indry kaget. “MET! LU GILA YA!”

Meta nyengir. “GUE JADI JEMBATAN CINTA DONG! SEKALI-KALI! LU KAN NGGAK BERANI KIRIM VOICE NOTE! GUE KIRIMIN SUARA LU KETAWA!”

Indry diem. Marah? Nggak. Kesal? Sedikit. Tapi ada rasa lega.

Jam 7:33 malam. Zaki lihat voice note itu.

Zaki bales WA: “Suara kamu ketawa masih sama.”

Indry baca. Nggak balas. Nggak berani. Tapi dia simpan.

Busway berhenti di halte Karawaci. Mereka turun. Jalan kaki ke kost.

Sampai kost, Ogah udah nunggu. Rambut berminyak, baju bola.

“KAK! KAK! FOTO LIBURAN MANA! KIRIM!”

Indry kirim foto. Ogah balas stiker love.

Carel WA: “Kak, happy ya...asyik abnget nongkrong. Kapan kapan bareng ya.”

Paul WA: “Kak, Misa tadi lancar?”

Mauba WA: “Kak, cerita dong! Kampung Belanda kayak apa!”

Indry balas satu-satu. Pelan-pelan.

Meta masuk kamar, langsung tidur. Capek heboh seharian.

Indry duduk di kasur. Buka WA Zaki.

Story Zaki terbaru: foto langit Tegal. Caption: “Malam.”

Indry balas story dengan foto lampu kamar kos. Caption: “Malam juga.”

Zaki lihat. Selesai.

*Jam 9:47 malam. Kost Karawaci.*

Indry baru selesai berdoa. HP getar. Voice call dari Zaki.

Indry tarik napas. Geser jawab.

“Haloo…”

Zaki: “Indry… kamu capek?”

Indry: “Capek. Tapi senang.”

Zaki: “Baguslah. Jangan lupa makan.”

Indry ketawa kecil. “Udah Zak. Kamu juga.”

Mereka ngobrol 12 menit. Nggak ada yang romantis. Nggak ada yang baper. Cuma tanya kabar. Tanya Ogah. Tanya ventolin. obrolan seharian ngapain.

Tapi Indry nggak bisa tidur habis itu. Dia ulang baca chat Zaki dari pagi. Dia ulang denger suara Zaki di kepala.

Meta tidur ngorok di kamar sebelah.

Di Tegal, Zaki juga belum tidur. Dia cuci wajan terakhir. Dia lihat story Indry lagi. Foto Indry ketawa di Kampung Belanda.

*Jam 11:03 malam.*

Indry buka IG. Upload foto: tangan Indry pegang gelas teh hangat, latar lampu kamar. Caption: “Hari ini cukup.”

Zaki lihat. 1 menit.

Zaki upload story: foto tangan pengang Shuttlecock caption “Jaga.”

Indry lihat. Dia ngerti.

“Jaga hati. Jaga iman. Jaga batas.”

Indry pejam mata. Nggak balas. Nggak perlu.

Hujan kecil di Karawaci. Hujan kecil di Tegal.

Dua orang. Dua kota.

Satu story. Satu doa.

Aku kangen, Zak.

Tapi Tuhan tau.

.

*Epilog: Grup WA “Keluarga AndreBetari” meledak jam 12:15 malam.*

Meta kirim foto Indry ketawa di Kampung Belanda. Caption: “KAK INDRY BAHAGIA! KAK INDRY LIBURAN! KAK INDRY DIJAGA ZAKI LEWAT STORY!”

Carel: “KAK! JANGAN TERLALU SENANG! KAK BERHAK DAPAT LEBIH!”

Paul: “KAK, IMAN KAK JAGA YA!”

Mauba: “KAK, AKU SENANG LIHAT KAK SENYUM!”

Ogah: “KAK ZAKI MARTABAK COKLAT YA KAK!”

Indry baca semua. Nggak balas. Matiin HP. Pejam mata.

Di luar, hujan kecil masih turun.

Di hati, ada hangat yang 15 tahun nggak berani disebut nama.

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!